Penulis Harus Siap Dikritik

Penulis Harus Siap Dikritik

Share This:

Dalam menjalani profesinya, penulis harus siap dikritik. Tentunya, di sini kritik yang sebenarnya, bukan kritik singkong, apalagi kritik pisang.

Tentang penulis harus siap dikritik ini, saya pernah punya pengalaman. Waktu itu, saya masih tinggal di Jogja. Tahunnya saya juga lupa, mungkin sekitar 2004-2005, saat masih jadi mahasiswa, bukan mahasiswi.

Hobi menulis saya memang sejak kelas 5 SD. Berlanjut hingga ke jenjang perguruan tinggi. Saya dulu kuliah di Fisipol UGM selama lima tahun. Sebenarnya bisa lulus dalam jangka waktu empat tahun lebih sedikit, tetapi saya genapi saja menjadi lima tahun. Tanggung soalnya.

Alhamdulillah, lulus dengan IP yang cukup memuaskan. Tidak sampai cumlaude sih. Saya memang membiarkan saja teman yang cumlaude, mengalah.

Bedah Buku

Ada teman kampung saya dulu itu yang bingung dengan istilah “bedah buku”. Dia memang sama sekali tidak suka baca buku, meskipun tinggal di Jogja yang notabene kota pelajar dan notabene kota banyak warung. Kalau yang warung ini jangan notabene, tetapi lebih pas namanya notawarung.

Teman saya itu menyangka bedah buku maksudnya bukunya dirobek-robek begitu. Dipreteli sekrup dan bautnya. Mirip mesin motor. Dibedah, apa isi dalamnya? Tentunya isi buku ‘kan memang ilmu, jika dibedah fisiknya, ya, cuma kertas yang ada tulisannya.

Baca Juga: Mencari Recehan Dunia, Aduhai Asyiknya

Ada satu bedah buku yang menarik perhatian saya. Ini bukan bedah buku yang biasanya menyatu di acara pameran atau bazar buku. Lokasi acaranya di toko buku MP Book Point, berada di Jalan Kaliurang, kilometer bawah. Toko buku itu menerapkan poin-poin tertentu bagi yang membeli. Mungkin bisa ditukar hadiah, diskon, asal bukan cincin. Itu bukan acara menikah yang pakai acara tukar cincin ya.

Bedah buku yang saya maksudkan adalah sebuah cerpen. Lebih tepatnya buku cerpen karangan Edgar Allan Poe. Penulis ini memang terkenal dengan cerita-cerita kriminal dan thriller. Mengerikan cerita-ceritanya.

Kalau difilmkan mungkin akan lebih mengerikan. Oh, ya, meskipun namanya berakhiran Poe, tetapi dia sama sekali tidak punya kaitan saudara dengan Tinky Winky, Dipsy, dan Lala ya? Itu mah Teletubbies.

Pembedah utama di acara itu adalah penulis yang pernah menjadi cerpenis terbaik Kompas. Namanya Joni Ariadinata. Cerpen-cerpen beliau juga seperti gelap begitu. Pernah saya baca kalimat pembuka cerpennya berbunyi begini: Adzan menyilet. Begitu saja.

Kalimat-kalimat selanjutnya pendek. Mungkin maksimal hanya lima kata. Jadi, kesan mistisnya cukup terasa. Sementara kalau makan roti tawar, lebih bagus memang missisnya yang terasa, apalagi missis Ceres.

Sebagai salah satu penggemarnya dulu atau orang yang ingin belajar dari beliau, saya membawa dua bukunya. Tentang panduan menulis cerpen. Dua edisi. Saya bawa supaya bisa minta tanda tangannya.

Akhirnya, berhasil juga. Setelah acara, saya menemuinya sambil menyodorkan buku untuk ditandatangani. Tanggapannya waktu itu, “Wah, ini buku-buku saya nih!”

Saya cuma tersenyum. Beliau meneruskan, “Nanti Mas kalau ada waktu, datang saja ke rumah saya kalau mau belajar bikin cerpen.”

Wah, kesempatan bagus nih! Kapan lagi belajar cerpen langsung dari penulis senior? Saya pun mencatat nomor HP-nya. Minta alamatnya. Beliau tinggal di Kabupaten Bantul. Berarti dari rumah saya ke arah selatan. Okelah.

Kunjungan yang Hem…

Oleh karena ada kesempatan belajar, maka saya membawa hasil printout cerpen-cerpen saya. Jelas saya lupa total ada berapa cerpen yang saya bawa, yang jelas lebih dari satu dan kurang dari seribu cerpen!

“Pak, ini saya bawa contoh cerpen-cerpen saya. Bisa dibaca, Pak?”

“Oh, ya, boleh. Mana sini?”

Saya tunggu beberapa menit. Beliau membaca, membolak-balik, dari cerpen satu ke cerpen lainnya. Selesai. Kembali ke halaman awal.

“Bagaimana, Pak?” Tanya saya dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.

Apa jawabannya? Beliau menjawab dengan singkat, tetapi pedas di telinga, “Jelek semua!”

Tidak cuma itu, tulisan-tulisan itu juga dibuang di dekat saya. Dilempar begitu saja. Untunglah tidak sampai ke lantai. Hanya di bangku panjang tempat kami duduk. Ini sih makin pedas di hati.

Baca Juga: Mendidik Versi Kurikulum Para Binatang

Beliau bangkit dari duduknya, menuju ke dapur. Entahlah, mungkin beliau muntah atau apa, agak cukup lama saya ditinggal sendiri. Pas balik, beliau pun memberikan wejangan-wejangannya.

Katanya, kalau mau penulis cerpen yang bagus, baca cerpen orang lain yang juga bagus. Tidak cuma sekali baca, terus selesai, tetapi harus diulang-ulang.

“Kalau mau bagus, baca cerpen orang lain itu minimal seratus kali!” Kata beliau.

Wah, seratus kali! Mengerikan juga. Tapi, sejak saat itu, saya jadi sadar bahwa itulah proses belajar. Menjadi penulis yang baik memang harus belajar dari penulis yang lebih baik juga. Kalau baca sampai seratus kali, saya coba menerapkannya, tetapi kok berat ya? Mungkin maksimal sepuluh kali saja, lah. Kan bisa ditambah membaca tulisan orang lain.

Pada akhirnya, dari hasil belajar sendiri, saya berhasil menjuarai beberapa lomba cerpen tingkat nasional. Salah satu jurinya adalah Gus tf Sakai. Orang Riau, yang menulis puisi dan cerpen.

Beliau ini lebih hebat daripada Joni, karena lebih banyak penghargaannya. Paling tidak saya menghibur diri, bahwa tidak semua orang yang membaca tulisan kita itu akan mengatakan jelek, bisa juga orang lain lagi yang mengatakan, “Jelek sekali!”

Waduh!

Kejadian Baru Saja

Kemarin, dalam tantangan Lagerunal, saya menulis tentang berhubungan suami istri yang belum tentu membatalkan puasa. Kalau mau baca, bisa ke sini ya.

Alhamdulillah, tanggapannya cukup bagus dari para pembaca. Saya lihat di dashboard WordPress, mencapai lebih dari 160 pembaca. Yah, saya anggap cukup banyak, lah.

Respons yang positif itu, saya bawa ke sebuah grup lagi yang isinya para blogger juga. Namanya grup Warung Blogger. Adanya di Facebook. Saya post tulisan di situ, dengan linknya tentu saja.

Grup itu sebenarnya sepi-sepi saja lho! Meskipun 7.000 orang lebih anggotanya, tetapi tanggapan maupun komentar sepi banget. Lebih ramai kuburan malahan, apalagi menjelang bulan Ramadhan sama pas Idul Fitri. Ya, iyalah. Orang ramai ziarah kubur.

Seperti apa link postingan saya? Ini dia linknya.

Saya siap dong menerima like, komen, maupun share seandainya ada. Pagi tadi, Jum’at (16/04), saya posting di grup tersebut.

Eh, tidak disangka dan diduga, ada seseorang yang tidak jelas, kenal juga tidak, mengatakan begini: Tulisan terjelek yang pernah saya baca.

penulis-harus-siap-dikritik-1

Menghadapi orang semacam itu, saya pun memberi komentar, “Makasih!” Sambil memasang emoticon tertawa.

Yah, ada baper juga sih, apakah dia sudah baca seluruh tulisan saya? Kalau memang jelek, di mana jeleknya? Biar saya belajar juga.

Terus, saya balas komentarnya lagi, “Coba bikin yang lebih bagus Mas, biar saya baca juga.”

Eh, komentar yang itu, termasuk komentarnya tadi dihapus semua. Untunglah, saya sempat screenshot komentar pertamanya tersebut. Soalnya ini bahan yang luar biasa bagus untuk menulis selanjutnya.

Dalam tulisan saya itu, saya sih setuju berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadhan tersebut memang terlarang. Tapi ‘kan, berhubungan yang bagaimana dulu? Kalau yang namanya berhubungan intim, hubungan seksual, oh, sudah jelas itu sangat terlarang dilakukan siang hari di bulan Ramadhan. Tapi, ada jenis berhubungan lain. Boleh deh simak lagi di sini ya!

Berarti, komentar-komentar positif selama ini yang saya terima, mesti juga dong bersiap dengan komentar buruk, atau setidaknya kurang sesuai dengan perasaan. Dan, itu sudah konsekuensi, bahwa penulis harus siap dikritik. Mau dikritik dari pemilihan judul, paragraf pertama, antarparagraf, ide tulisan, cara penulisan, dan lain sebagainya.

Jika ada penulis yang tidak siap dikritik, maka berarti kurang kuat mentalnya. Selalu saja ada orang yang pro dan kontra dengan kita. Kalau pro, dia minum procold, kalau kontra, dia minum pil kontrasepsi. Walah, apaan sih ini?

Kesimpulan

Tidak ada kesimpulan. Intinya, penulis harus siap dikritik. Hem, baru sekarang, saya tulis kesimpulannya begini. Walah..

Baca Juga: Narsis dan Eksistensi Kita

penulis-harus-siap-dikritik-1

Share This:

6 Comments

  1. Ya betul, sepedas apapun,demi perbaikan, lebih baik lagi kalau ada pembetulan nya,hehehe emang skripsi.

  2. Meskipun sejatinya kita menulis untuk diri sendiri, tetapi kalau sudah dibagi artinya harus siap untuk diapresiasi. Apa pun bentuknya.

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!