Ketika Dianggap Tidak Berpenampilan Rapi dan Menarik serta Persepsi Lainnya

Ketika Dianggap Tidak Berpenampilan Rapi dan Menarik serta Persepsi Lainnya

Share This:

Apakah kamu pernah mengalami dikritik karena dianggap tidak berpenampilan rapi dan menarik? Kisah di bawah ini, mungkin bisa menjadi sedikit inspirasi.

Sebut saja seorang laki-laki bernama Ridwan. Nama ini memang berasal dari malaikat penjaga surga. Tentu, harapan dan doa dari orang tuanya agar si anak bisa masuk surga.

Tapi, ada juga lho nama seperti Sunarko. Kalau dalam bahasa Jawa, “su” itu artinya baik. Sedangkan “narko” berasal dari kata “neraka”. Berarti, diartikan saja menjadi: neraka yang baik. Hehe, maaf lho yang punya nama ini.

Penampilan adalah Bagian dari Prinsip Hidup

Kalau orang sudah dewasa, mau dia berpenampilan rapi dan menarik atau bukan, sebenarnya terserah dia. Kan dia sudah dewasa, sudah mampu menentukan jati dirinya sendiri.

Beda memang dengan anak kecil, terlebih balita, terlebih bayi. Pasti pakaian-pakaiannya diatur oleh orang tuanya. Baju-baju yang imut dan lucu, diberi bedak, bahkan bedaknya dijadikan satu setelah dibedak pantatnya, dibedak pula mukanya. Halah…

Pakaian bayi dan balita diatur karena memang tidak bisa mengatur sendiri. Bahkan, untuk anak kembar, juga begitu. Biasanya sih pakaiannya sama. Yang tidak sama itu adalah anak kembar dengan dirinya sendiri. Lho, lho, tunggu! Kembar dengan dirinya sendiri???

Baca Juga: Hari Senin? Kok Banyak yang Tidak Ingin?

Sebagai bagian dari prinsip hidup, penampilan itu memang memperlihatkan ciri khas. Orang yang terbiasa dengan kemeja, tanpa kekursi, celana panjang dari kain, cenderung identik dengan berpenampilan rapi dan menarik.

Sedangkan yang suka pakai baju kaos, celana selutut, malah ditambah dengan sandal jepit, terlihat penampilan yang semrawut. Hal itu ditambah juga mukanya yang semrawut. Misalnya, jerawatnya kurang menampakkan pola yang artistik. Wah, memangnya manusia bisa mengatur jerawatnya sendiri?

Nah, penampilan tentunya juga menyesuaikan tempat. Tidak perlu dong, kita pakai setelan jas, dasi, bahkan sepatu kantoran hanya demi ke WC untuk buang air kecil. Setelah ke luar dari WC, dilepas lagi. Kan aneh, ya toh?

Penampilan seperti itu lebih pas jika ada acara-acara resmi. Formal. Dihadiri oleh orang-orang penting. Baru pas.

Tapi, saya pernah menemukan ada salah satu dosen saya, mengajar ilmu komunikasi di UGM, pakaiannya saat mengajar di kelas malah kaos oblong putih dan celana jins warna biru. Pertama kali melihatnya, ini dosen kok kurang sopan ya? Sementara mahasiswanya ada yang mengenakan kemeja, lebih rapi daripada dia.

Yah, begitulah. Mungkin dia punya semacam kekuasaan sendiri, bisa menentukan pakaian dan penampilannya sendiri. Apalagi dia seorang doktor. Ya, doktor gitu lho!

Intinya, penampilan memang kembali kepada diri sendiri. Ada yang menggunakan penampilan tertentu karena ingin terlihat menarik. Bisa dengan warna-warna yang cerah, misalnya: merah. Ada juga yang berpenampilan rapi dan menarik sebatas karena kenyamanan saja. Mungkin warnanya tidak cerah, tetapi pas dan cocok di badannya.

Ketika Penampilan Dikritik

berpenampilan-rapi-dan-menarik-1

Wajar kok orang memberikan kritik dan saran kepada kita yang memilih suatu penampilan. Hal itu tentu saja karena orang tersebut punya mata untuk menilai. Punya mulut dan lidah untuk menilai juga. Bahkan, punya wewenang juga untuk menegur. Contohnya: orang tua kepada anaknya.

Seorang laki-laki, oh, yang tadi saja ya, Ridwan, memutuskan untuk memelihara jenggot sejak lama. Dia melakukan itu karena ingin mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Awal memasang jenggot, duh, memasang lagi, maksudnya awal memelihara jenggot, ayahnya tidak setuju. Menurut sang ayah, laki-laki itu wajahnya mesti bersih. Lebih khusus lagi, wajahnya tidak ada kumis maupun jenggot.

Sebenarnya, Ridwan sudah berkali-kali menjelaskan, bahwa dia memilih berjenggot tentu ada alasannya. Tapi ayahnya juga punya alasan menegur si Ridwan. Menurut sang ayah, Ridwan adalah seorang pegawai. Mestinya, dia berpenampilan rapi dan menarik di depan orang lain.

Kumis dan jenggot dianggapnya tidak mencerminkan dua hal itu. Apalagi jenggot Ridwan memang tampak kurang rapi, bagi ayahnya.

Selain itu, ayahnya juga mengkritik Ridwan yang selalu berpenampilan dengan celana di atas mata kaki. Mestinya, penampilan itu seperti umumnya saja, lah. Orang pakai celana panjang sampai melebihi mata kaki, ya sudah, begitu saja. Seperti ayahnya itu yang selalu dengan celana panjang hingga ke sepatu.

Ridwan terpikir untuk membalas ayahnya dengan cara mendebatnya. Namun, lama dia berpikir sekaligus merenung, tidak ada gunanya juga berdebat dengan ayahnya. Nanti, ujung-ujungnya ayahnya bisa marah. Lebih ujung lagi, Ridwan bisa dianggap anak durhaka. Wah, berabe itu!

Pada akhirnya, Ridwan mengiyakan saja saat ayahnya terus mengkritik untuk mencukur kumis dan jenggot yang memang mulai panjang itu. Sekadar mengiyakan saja, tetapi untuk melaksanakan saran ayahnya itu, dia tidak mau. Sama sekali tidak mau. Ridwan adalah laki-laki dewasa yang berhak menentukan penampilannya sendiri. Baginya, berpenampilan rapi dan menarik itu bisa berbeda antara Ridwan dengan ayahnya.

Persepsi Ridwan

Tadi Ridwan mengatakan bahwa berpenampilan rapi dan menarik itu tetap memelihara jenggot. Kalau kumis sih bagusnya diperpendek saja. Kalau jenggot jangan. Lalu, menurut Ridwan, penampilan yang tidak rapi dan menarik itu seperti apa?

Jawabannya adalah seorang perokok. Itu adalah simbol laki-laki yang tidak berpenampilan rapi dan menarik. Lha, kok bisa?

Bayangkan saja, seorang perokok itu ke mana-mana membawa sampah, yaitu: abu rokoknya. Dia bisa membuang abu itu di sembarang tempat. Jadi sampah juga.

Ketika rokok itu dihisap, menimbulkan bau yang sangat tidak sedap di mulutnya. Dia sudah tampil rapi, sudah gosok gigi tadi, tetapi akhirnya dikotori oleh bau dari filter rokok.

Begitu juga dengan jari-jarinya, terutama jari yang dipakai untuk menggenggam rokok. Sama sekali tidak bisa dikatakan harum. Jarinya berbau.

Saat orang merokok, dia menyebarkan asapnya ke segala arah, ke semua tempat di sekitarnya. Menimbulkan polusi udara. Membuat orang lain jadi merasa kotor. Membuat orang jadi merasa bau juga.

Itu adalah alasan Ridwan menganggap seorang perokok itu tidak berpenampilan rapi dan menarik. Nah, bagaimana dengan kamu sendiri? Setuju dengan pendapat Ridwan atau punya pendapat lain? Tulis di kolom komentar ya!

Baca Juga: Kamu Cocok Jadi Atasan Atau Bawahan?

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!