[Membahas Toleransi Antarumat Beragama] Filosofi Kopi dan Teh

[Membahas Toleransi Antarumat Beragama] Filosofi Kopi dan Teh

Share This:

Sebelum bicara tentang toleransi antarumat beragama, ada sebuah pertanyaan: Mungkin di antara kamu ada yang pernah ke warung makan ya? Meskipun namanya warung makan, di sana tidak cuma makan tok. Kamu juga boleh minum kok. Dan, namanya tidak usah menjadi warung makan dan minum.

Semirip dengan itu, ada yang namanya kafe. Ini biasanya sajian khasnya adalah kopi. Antara kafe dengan kopi memang cocok karena kopi kan dari kafein. Begitu toh?

Nah, kalau ke warung makan atau kafe, kamu biasanya sama siapa? Suami? Istri? Teman? Atau malah selingkuhan? Dengan siapapun, maka itu tergantung dari kamu sendiri, tapi yang jelas ada satu tandanya. Apa itu?

Pesan Masing-masing

Selera orang memang berbeda-beda. Bahkan orang kembar sendiri pun bisa punya menu kesukaan yang tidak sama. Ambil contoh, kamu bersama suami/istri memesan minuman. Kamu pilih kopi, pasanganmu pilih teh. Kok kopi sama teh, Mas? Ya, soalnya ini sesuai dengan judul di atas. Gimana sih kamu? Hehe…

Baca Juga: Perlu Cara Cerdas Pakai Media Sosial, Karena Sejatinya Kita Memang Cerdas

Kopi ada macam-macam, teh juga begitu. Mungkin kamu yang traktir dia, bisa juga sebaliknya. Yang jelas, minumannya masing-masing. Gelasnya berbeda. Cangkirnya tidak sama.

Sambil menyeruput kopi atau teh tersebut, pernah tidak terbayang tentang toleransi? Itu lho yang sering diributkan orang ketika hari raya, baik punya sendiri maupun orang lain. Ini jelas beda dengan telor asin lho! Meskipun ada miripnya. Hem, darimana miripnya sih?

Perkara mengucapkan Selamat Hari Natal, ada yang membolehkannya dengan dalil toleransi. Bahkan, ada pula yang kebablasan, sampai ada ponpes yang tampil di acara gereja. Itu sebenarnya toleransi model apa toh? Kok sampai segitunya?

Kembali ke kopi dan teh tadi. Sebetulnya – sambil meneguk lagi – itulah toleransi yang sebenarnya. Kamu pesan kopi, dia pesan teh, apakah minuman kalian berdua mau dicampur? Seperti apa rasanya itu kira-kira kalau dicampur?

Kita juga tidak perlu belajar toleransi antar umat beragama lebih dalam lagi kok, karena sudah diajarkan di pelajaran agama atau PPKn waktu di sekolah. Tentang menghormati pemeluk agama lain. Sudah sangat jelas di situ. Kecuali memang kamunya yang sering bolos di pelajaran itu. Lha wong pelajarannya tidak susah-susah amat kok, masih membolos juga?! Hadeh…

Kalau dengan filosofi kopi dan teh seperti di atas yang bisa saling menikmati minuman masing-masing, tanpa saling mengganggu, maka betapa indahnya. Ya ‘kan? Kamu nikmat dengan kopi, dia enjoy dengan teh. Lalu, di mana masalahnya?

Hari KORPRI

Lho, Mas, kok tiba-tiba malah bahas hari Korpri? Sabar dulu dong! Soalnya ada yang menarik di pagi ini dan masssooooookkkkkk pak eko di tulisan ini pula.

Ada seorang pengguna FB membuat status kira-kira begini: Kalau mengucapkan selamat hari Korpri, apakah otomatis akan langsung jadi PNS? Status ini memang ada kaitannya yang lalu dengan mengucapkan Selamat Hari Natal. Ya apa ya?

Jelas, kalau dari status itu jawabannya memang tidak! Tapi, kalau mengucapkan selamat hari raya ke pemeluk agama lain, apakah akan menjadi kafir?

Baca Juga: Mencari Recehan Dunia, Aduhai Asyiknya

Wah, ini perkara yang berat, tentang mengkafirkan orang! Dan, itu pun domainnya ulama. Namun, sebenarnya apa sih untungnya kita bahas orang itu kafir atau tidak? Cukuplah kita katakan bahwa sesuai dengan kaidah ajaran Islam, maka yang di luar Islam itu kafir.

Hal tersebut harus diyakini dalam hati, bahwa agama yang kita peluk memang yang paling benar. Agama lain salah. Sesat. Ancamannya neraka menurut agama kita sendiri. Ini saja dulu. Kalau ini sudah diyakini, maka pendapat mengucapkan selamat hari raya untuk pemeluk agama lain atau tidak, akan lebih mudah.

Kita perlu ingat salah satu perkataan Cak Nun. Kira-kira begini: Kalau agama lain juga benar, maka kita akan mudah pindah agama. Bahkan, tiap hari agamanya akan berbeda-beda. Tapi, apakah ada orang yang seperti itu? Hari ini Islam, besok Kristen, lusa Katholik dan seterusnya. Pekan depan kembali ke Islam lagi. Apakah ada?

Seandainya kita mengerti filosofi kopi dan teh ini, niscaya tidak perlulah kita masuk di ranah milik orang lain. Toh di ranah kita sendiri belum tentu bisa kita jalankan dengan benar, bagus atau sempurna. Kita mau rayakan hari raya sendiri, dia juga begitu, silakan saja. Jangan saling mengganggu! Rebes kan…? Ingat selalu akan toleransi antar umat beragama ya..!

Jadi, selamat menikmati kopi dan teh kamu di pagi, siang, sore atau malam ini. Tunjukkan bahwa meminum pilihan masing-masing itu indah, tidak perlu dicampur-campurkan. Eko? Eh, oke?

Baca Juga: Narsis dan Eksistensi Kita

Share This:
error: Content is protected !!