Manfaat Mendongeng Untuk Anak, Bahkan Sejak Kandungan

Manfaat Mendongeng Untuk Anak, Bahkan Sejak Kandungan

Share This:

Mendongeng untuk anak? Penting nggak sih? Di antara gempuran HP yang luar biasa sekarang ini, rasa-rasanya kebutuhan mendongeng anak jadi kurang diperhatikan. Betul apa betul?

Apa sajakah manfaat membaca dongeng? Mungkin kamu tahu jawabannya, karena cerita dalam dongeng itu sering lengket pada diri anak kecil. Sebuah cerita imajinasi yang ringan serta ada banyak nilai moral yang cocok didengarkan oleh mereka.

Ketika kita dulu masih kecil, mungkin kita mendengar dongeng dari orang tua atau guru. Dongeng sebelum tidur. Ketika dongeng dibacakan, entah siapa duluan yang tertidur? Anaknya atau orang tuanya? Atau malah buku dongengnya? Halah…

Kalau di sekolah, mendongeng untuk anak dilakukan oleh guru. Biasanya, anak-anak kecil yang masih TK atau SD kelas awal, dongeng dibacakan oleh guru perempuan. Apakah tidak ada guru laki-laki? Ada sih, tapi biasanya untuk tingkat yang lebih tinggi. Bukankah guru perempuan lebih sabar menghadapi anak kecil dibandingkan laki-laki?

Karakter Perempuan yang Lembut Membuat Anak Merasa Terhanyut

Seorang pendongeng Indonesia yang menjadi pendiri Komunitas Ayo Dongeng Indonesia, Ariyo Zidni atau Kak Aio ini telah menceburkan diri di dunia dongeng-mendongeng selama 20 tahun. Wah, lama juga ya! Menurutnya, dongeng itu tepat sekali untuk mengedukasi anak.

“Dongeng itu jadi tools yang mudah dan manfaatnya besar untuk anak-anak. Kita mau mendorong orang-orang itu untuk ‘ini loh, sebenarnya mendongeng itu semudah ini’. Tidak harus pakai boneka, ada activity crafting apa, hasil kreasinya bisa dibikin cerita apa,” tutur Ariyo saat pentas Festival Cerita Nusantara dan Dunia pada Sabtu, 14 September 2019.

Penelitian menunjukkan, manfaat dongeng menurut para ahli adalah dapat berpengaruh pada intelegensi, kemampuan berbahasa, kreativitas dan imajinasi anak. Pesan yang tersembunyi di setiap cerita akan memancing anak untuk mengolah dan berpikir tentang nilai tersebut sehingga melatih daya pikir pada anak. Kreativitas anak jelas makin terasah, karena anak bisa meniru contoh-contoh perilaku dari cerita dongeng ke dalam kehidupan nyata.

Hubungan kita sebagai orang tua dengan anak sedikit renggang, kaku seperti rengginang? Cobalah mendongeng untuk anak kamu sendiri. Sebab, dongeng justru bisa lebih meningkatkan hubungan positif ke anak lho!

Baca Juga: 5 Negara dengan Jumlah Buku Paling Banyak Setiap Rumah

Ada satu orang tua, Hera, sering membacakan dongeng kepada anaknya dimulai dari umur dua tahun. Ternyata, hubungan dia ke anaknya jadi lebih dekat sebab kerapkali membacakan cerita sebelum tidur. Anak juga dirasakan kemampuan berbahasanya meningkat.

“Itu melatih mata, melatih ketelitian membaca. Kan anak saya kebetulan kelas tiga nih, secara tidak langsung melatih dia untuk mengenal ini tanda-tanda baca, bentuk kalimat tanya, seperti itu sih,” jawab Hera saat diwawancarai di Perpusnas.

Belum banyak diketahui, sebenarnya dongeng anak sudah bisa mulai dibacakan semenjak masih dalam kandungan. Hah, beneran? Ariyo memberikan saran pembacaan dongeng dapat dilakukan sedini mungkin, terutama saat trimester terakhir.

“Dari bulan ke tujuh, delapan, sembilan, itu sudah baik karena indranya ‘kan sudah terbentuk sempurna, jadi dari indra pendengaran dan indra perasanya. Meskipun dia belum bisa memahami kata-katanya, tapi dia akan bisa merasakan getaran suara yang sering dia dengar,” kata Ariyo.

Pada janin yang sudah terbiasa terdengar oleh janin disinyalir akan membuat dia jadi nyaman. Rasa nyaman tersebut akan membuat kuat ikatan cinta dari mulai dalam kandungan dan memudahkan komunikasi saat lahir.

“Nanti juga dia akan cepat belajarnya, karena kan anak proses belajarnya paling dekat kan dari orangtuanya. Dia akan lebih mudah menyerap dan mendengar suara itu karena sudah nyaman, akhirnya dia akan lebih cepat menyerap apapun yang disampaikan,” tambah Kak Aio lagi.

Teknik Mendongeng Untuk Anak

Mungkin ada beberapa orang tua atau guru yang merasa bingung, bagaimana sih cara penyampaian dongeng yang pas. Ternyata, menurut Ariyo, tidak ada teknik mendongeng untuk anak yang benar seutuhnya. Namun, ada beberapa tips yang dapat dijalankan orang dewasa agar manfaat dongeng untuk anak itu bisa terserap lebih maksimal.

“Nah, kalau misal mau mendongeng, pasti nomor satu jujur dan lakukan sepenuh hati. Jujur itu dalam arti, kalau memang tidak bisa, terlalu banyak cerita yang enerjik dan mengganggap tidak bisa seperti itu ya tidak usah, tapi tetap dilakuin dengan apa yang kita bisa. Jadi jujur aja,” tutur Ariyo.

Jika jujur dan tulus itu dilakukan dengan benar, maka akan membuat yang membacakan dan mendengarkannya jadi lebih nyaman dan fokus. Selain itu, Ariyo juga memberikan masukan agar orangtua atau guru memilih cerita yang membuat mereka nyaman terlebih dahulu. Setelah itu, baru sesuai dengan anak. Kalau orang tua atau gurunya saja tidak nyaman atau malah bingung sendiri dengan cerita dongengnya, ya, percuma dong!

“Jadi, tidak perlu memilih cerita yang nilai moralnya seperti apa. Yang penting, kita suka dulu. Kalau kita udah suka, nanti juga akan bagus ceritainnya,” ujarnya lagi.

Agar bisa menanamkan nilai moral dari cerita, pendongeng juga disarankan untuk tidak menjelaskan dengan gamblang kesimpulan dan cerita. Diskusi kecil dan sedikit dengan anak dilakukan jika mau melihat apakah anak sudah bisa memahami nilai cerita atau belum?

“Yang boleh dilakukan itu kita diskusi, jadi kayak dibiasakan anak untuk recalling memory-nya, kemudian dia menganalisa sendiri, nah itu mengembangkan kemampuan berpikir anak sebenarnya. Jadi, pas kita sudah selesai bilang ke anak ‘nah kayak gitu ceritanya, menurut kamu gimana ceritanya, bagian mana yang kamu suka, kenapa kamu suka yang itu’, begitu,” kata Ariyo.

Baca Juga: Hubungan Antara Dampak Rokok dengan Berita Balita Memeluk Jenazah Ayahnya

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
Share This:
error: Content is protected !!