X-Men dan X-Women: Sebuah Refleksi Kehidupan

X-Men dan X-Women: Sebuah Refleksi Kehidupan

Share This:

Mungkin kita yang sudah dewasa ini pernah menonton kartun X-Men ya? Tapi, tidak cuma kartun, mungkin juga manila. Lho, malah bahas kertas? Maksudnya film begitu.

X-Men adalah kumpulan para mutant, istilahnya. Mereka diberikan kekuatan khusus untuk bisa melawan musuhnya. Ini bagi tokoh protagonisnya. Sedangkan antagonisnya, ya, punya kekuatan juga untuk melawan si pahlawan.

Biasanya, tokoh-tokoh yang diangkat dari wajan, waduh salah, diangkat dari kartun, mempunyai ciri khas badan besar dan berotot. Itu sudah rahasia umum. Lengan berotot adalah simbol dari kekuatan seorang pria. Ketika dia bertarung, wuih, rasanya luar biasa mengagumkan. Pukulannya mantap, tendangannya juga. Bertarung demi membela kehidupan bumi.

Bagaimana dengan yang perempuan? Sebaliknya, meskipun tokoh dari kartun, harus bisa menarik bagi orang dewasa juga. Makanya, dipakaikan penampilan yang seksi. Bajunya seksi dan terbuka sebagian tubuhnya. Banyak laki-laki yang menyukai tokoh film seksi seperti itu. Padahal, istrinya ketika menjadi seksi konsumsi, kok tidak disukai ya?

Terpaku pada Istilahnya

Saya tidak akan mengungkapkan tentang masing-masing tokoh X-Men. Menurut Ustadz Syaiful, dai terkenal di Sulawesi Tenggara, Amerika membuat tokoh-tokoh rekaan semacam itu karena pada dasarnya mereka tidak punya pahlawan yang real. Pahlawan yang nyata melakukan perjuangan sejati. Sebagian besar malah menjadi penjajah atau mengganggu negara lain. Begitu pula dengan Eropa.

Bandingkan dengan para pahlawan Islam. Sangat banyak ditemukan pahlawan tangguh. Contohnya: Khalid bin Walid radhiyallahu anhu yang dalam memimpin pertempuran tidak pernah kalah, baik ketika beliau masih beragama jahiliyah, maupun setelah masuk Islam.

Suatu kali, mereka ditantang meminum racun paling mematikan oleh Ratu Persia, kalau tidak salah. Beliau membaca doa, lalu racun tersebut diminum sampai habis. Masya Allah, tidak terjadi apa-apa. Badannya tetap sehat. Luar biasa memang pedang di antara pedang-pedang Allah yang satu ini.

Jika kita membaca sejarah Islam, akan sangat banyak tokoh pahlawan yang mestinya menjadi super hero bagi anak-anak muslim kita. Bukan dengan menceritakan tokoh-tokoh kartun buatan Amerika. Tokoh-tokoh fiktif yang adanya di dunia imajinasi. Namanya juga fiktif! Sementara para pahlawan Islam memang aslinya ada. Sejarahnya ada. Bahkan, di negara kita, para pahlawan nasional juga termasuk pemimpin jihad, mengusir penjajah dari Indonesia dan Jepang.

Nah, dari istilah X-Men itu menurut saya artinya adalah laki-laki bekas. Lebih pas istilahnya adalah mantan. Tidak adil dong X-Men itu bagi perempuan, sementara bagi laki-laki namanya adalah X-Women.

Begitu Jeleknya Mantan?

Sering saya temukan dalam postingan-postingan di media sosial, mantan dianggap sesuatu yang menjijikkan. Kalimat seperti: “Buanglah mantan pada tempatnya!” Atau yang semisalnya, cukup gampang ada di internet.

Begitu juga jika ada sebuah video mesin penggiling yang bisa melumatkan segala sesuatu. Ada yang berkomentar, “Kalau mantanku dimasukkan situ, hancur juga nggak ya?”

Mantan di situ lebih cocok adalah bekas pacar. Hubungan pacaran yang berakhir tragis, kita yang diputuskan pacar atau pacar yang memutuskan kita, maka istilah mantan ini muncul. X-Men dan X-Women muncul.

Padahal, adanya mantan itu karena kita juga ‘kan? Memulai pacaran dengan seseorang. Mungkin pas kita melakukannya, lupa bahwa ada pertemuan ada perpisahan. Ada pertemuan RT, ada perpisahan SMA. Lho, nggak nyambung.

Hubungan pacaran adalah hubungan yang rapuh. Hubungan yang tidak didasari dengan akad dan itikad yang jelas. Namun, rasa-rasanya seperti hubungan pernikahan saja. Seakan-akan dunia itu harus tahu tentang pacaran tersebut, tentang pacar kita.

Munculnya mantan semestinya membuat kita bersyukur kepada Allah, bahwa kita tidak menjalani kehidupan itu lagi. Kita berusaha mencari cinta yang halal dan legal. Kalau regal, memang nama biskuit.

X-Men dan X-Women tidak selamanya buruk, selama itu menjadi pengingat kita untuk kebaikan. Kita pernah punya masa lalu dengan si dia dalam pacaran, sekarang menikah sama orang lain. Dahulu ketika pacaran, kita bisa sayang sepenuh hati dengannya, jalan ke mana-mana mau kok, kini sudah punya pasangan yang jelas, suami atau istri kita.

Mestinya harus lebih sayang dong! Lebih cinta dong! Lha wong pacaran saja begitu mesranya, kok sekarang hilang? Mesra, bukan mesran. Kalau mesran itu oli motor.

Mantan pacar dijelek-jelekkan karena hubungan pacaran yang ditinggal pas masih sayang-sayangnya, eits tunggu dulu! Betulkah itu sayang yang sejati? Paling hanya ucapan di lisan, di hati berbeda. Apalagi jika si laki-lakinya terkenal sebagai playboy. Dia akan memunculkan sejuta jurus menaklukkan perempuan, melebihi jurus-jurus kungfu, dan bukan kungflu, karena yang terakhir itu lebih dekat kepada nama penyakit.

Sesayang apapun kita terhadap pacar, itu belum tentu jodoh. Malah, sering yang terjadi, pacaran sejak SMP, misalnya. Lanjut ke SMA, lanjut ke SMK, lanjut ke Madrasah Aliyah. Tunggu, tunggu, kok lanjutnya sederajat? Nah, malah salah ‘kan, yang betul itu dari SMA/SMK/MA, lanjut ke perguruan tinggi. Begitu maksudnya.

Menjagakan jodohnya orang, itulah istilah yang pas untuk pacaran sebelum menikah. Kita jaga dia baik-baik, diperlakukan dengan istimewa. Karena satu dan lain hal, hubungan pacaran itu putus, kita menikah dengan orang lain. Mantan kita juga menikah sama orang lain. Dan, kita pun diundang ke acara pernikahannya.

Khusus yang itu, ada sebuah video, seorang pengantin perempuan menangis tersedu-sedu memeluk laki-laki lain yang bukan suaminya. Laki-laki itu naik ke panggung pelaminan untuk menyalami dan mengucapkan selamat, tetapi justru dipeluk oleh si pengantin perempuan. Seakan-akan perempuan itu berkata, “Mas, aku masih sayang kamu! Aku menikah ini karena pilihan orang tua, Mas. Sejatinya aku adalah milikmu.”

Halah, itu mah tangisan gombal. Justru kasihan suaminya yang sudah resmi menjadi laki-laki halal untuk si perempuan. Bayangkan betapa hancurnya laki-laki menyaksikan istrinya memeluk tamu laki-laki. Memeluk si X-Men.

Dalam Lagu-lagu Sok Cinta

Bagi yang masih suka mendengarkan lagu-lagu, maka akan menemukan begitu banyak lagu yang bicara tentang patah hati, tentang X-Men dan X-Women ini. Lagu dengan nada yang mendayu-dayu, membuat hati kita yang mendengarkan seketika ingat dengan masa muda. Terutama masa muda yang dihabiskan dengan pacaran.

Sebenarnya, itulah yang menurut saya, tidak mendidik, tidak membangun bangsa ini agar lebih kuat lagi. Anak-anak mudanya mendengarkan lagu yang melankolis, lagu yang sedih, lagu yang sama sekali tidak mengajarkan semangat atau move on. Setelah dari hubungan pacaran yang menyesatkan, justru dimunculkan lagi dalam lagu-lagu semacam itu. Buat apa sih?

Lha mbok sudah. X-Men maupun X-Women cukuplah menjadi teman kita, atau kita pernah kenal dia, dan tidak perlu diulas lagi dalam lagu-lagu. Kenangan kita bersama pacar adalah kenangan masa lalu. Kenangan saat menjalani cinta yang palsu. Cinta yang hanya berlandaskan hawa nafsu. Diminta menikah, malah pakai seribu alasan.

Anak muda kita harus bangkit dan jangan larut dengan perasaan yang sejatinya hanyalah fatamorgana. Kalau nyatanya sedang pacaran, lebih bagus menikah saja. Hubungan cinta itu akan lebih awet atau langgeng.

Ada perumpamaan yang pas nih! Ketika masih hubungan pacaran, mau mojok saja, mesti bersembunyi. Mesti mencari semak-semak. Hanya demi melakukan sesuatu yang lebih pantas dilakukan oleh pasangan suami istri.

Pasangan pacaran itu memuaskan hawa nafsu, dan akhirnya merusak masa depan masing-masing, terutama si perempuan, atau si gadis. Bukankah itu sama saja dengan kucing yang dapat ikan goreng? Saat dia mencuri ikan di meja makan, memakannya di bawah meja, maka dia akan merasa gusar. Merasa takut, jangan-jangan yang punya rumah muncul, marah, lalu mengusir si kucing. Masih mending sekadar diusir, bagaimana jika sampai dipukul? Atau disiram air? Tentulah si kucing akan menderita.

Bandingkan dengan kucing yang diberi ikan resmi dari pemilik rumah. Ikan tersebut diberikan dengan rasa sayang yang luar biasa. Kucing pun bisa makan dengan lahap. Dia tidak perlu takut dimarahi, tidak perlu khawatir diusir. Pokoknya, hatinya tenang dan bahagia mendapatkan ikan gratis. Selama ini tidak pernah ada kucing yang membeli ikan toh?

Kalau kucing saja bisa seperti itu, apalagi manusia, ya ‘kan?

Penutupnya, kalimat begitu saja ya? Iya, dong! 

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.