Ternyata Perjalanan Itu Adalah Sebuah…?

Ternyata Perjalanan Itu Adalah Sebuah…?

Share This:

Mungkin kamu pernah mendengar istilah “mesin waktu”? Katanya, itu adalah mesin yang bisa melempar kita ke masa lalu, maupun masa depan. Apakah memang benar begitu?

Mesin waktu bisa muncul dalam film Back to The Future. Seorang kakek yang cerdas dan memiliki mobil canggih. Mobil itulah yang bisa membawa si kakek melanglang buana ke berbagai masa.

Mungkin kita merasa, “Wah, enak ya! Bisa mengulang kembali masa silam!” Atau “Wuih, kita bisa melihat masa depan, yang belum terjadi di zaman ini!” Ya, iyalah, namanya juga masa depan, pasti belum ada sekarang.

Sebenarnya, kita sudah memiliki mesin waktu itu sendiri. Apa itu? Tentu saja, mesin waktu itu adalah jam tangan kita! Bisa juga, jam dinding yang melengket di tembok rumah. Itulah mesin waktu yang terlihat.

Lalu, mungkin kita jadi bertanya, okelah, mesin waktu namanya jam, tetapi bagaimana menciptakan mesin waktu yang tidak rumit? Tidak butuh komponen aneh-aneh layaknya mesin pada umumnya. Ini berkat bantuan mesin terbaik di dunia saat ini. Namanya adalah otak.

Belajar Dari Sang Petualang

Kalau disebut petualang, ini ada berbagai macam. Yang mungkin sering didengar adalah petualang cinta. Lompat dari hati ke hati, kadang menimbulkan luka, sering pula meninggalkan derita. By the way, kalau itu sih namanya playboy. Hadeh…

Kita jelas tidak akan membahas itu. Yang dibahas di sini adalah seorang petualang yang telah banyak menjelajahi negara di luar Indonesia. Waow! Terlihat luar biasa bukan? Apakah kita bisa luar biasa seperti beliau?

Pada resume ke-19 pelatihan atau belajar menulis bersama Om Jay dan PB PGRI ini, berikut adalah bannernya:

perjalanan-1

Menurut informasi yang saya terima dari narasumber, Aam Nurhasanah, Taufik Hidayat atau yang dikenal dengan nama pena Taufik Uieks, adalah seorang dosen. Eits, tidak cuma dosen biasa, karena sudah berkeliling ke 70 negara dan 5 benua. Jangan dibalik ya!

Sebenarnya, saya masih penasaran, nama aslinya Taufik Hidayat, kok terlempar jauh jadi Taufik Uieks ya? Ada yang tahu jawabannya? Tulis di kolom komentar ya!

Menyibak Misteri di Luar Negeri

perjalanan-3
Ini sih bukan misteri, melainkan orang yang ingin bertamu secara tidak halal, hehe…

Bosan dengan hantu-hantu khas Indonesia macam kuntilanak, kuntilbapak, sundeng bolol, eh, sundel bolong, pocong, genderuwo, wewe gombel dan tuyul? Coba sekali-kali kita merambah ke luar negeri untuk bertemu dengan hantu khas sana.

Tentu saja, hantu-hantu di sana ada yang pintar bahasa Inggris. Tapi, janganlah dijadikan guru privat kita. Sebab, kita sebenarnya lebih pintar kok daripada mereka!

Taudik Uieks punya kisah misteri arwah yang gentayangan di Broadway, Manhattan, Amerika Serikat. Dibuka saja di situs risalahmisteri.com.

Begitu saya baca, ternyata hantu atau uka-uka semacam itu, tidak cuma ketika suasana sepi layaknya di Indonesia. Bahkan di tempat ramai, bisa juga terlihat.

Apakah hal itu terpengaruh budaya orang Amerika yang suka keramaian? Sementara orang Indonesia lebih sering sepi-sepian di tempat sepi? Hem, silakan direnungkan sendiri.

Melawan Misteri

Kalau dalam film-film jadul, hantu itu dilawan dengan bacaan Al-Qur’an. Atau ada orang mengaji, gangguan dari jin tersebut hilang.

Sebenarnya tidak cuma di dunia film sih. Bahkan di kehidupan nyata juga begitu. Ada yang namanya ruqyah.

Orang yang terindikasi terkena jin, bisa diruqyah dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dimulai dari Al-Fatihah, Al-Baqarah ayat 1-5, Ayat Kursi, dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah, hingga tiga Qul, yaitu: Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas.

Saya sendiri pernah meruqyah seorang pemuda. Dia terlihat linglung begitu. Rambutnya keriting, badan lumayan tinggi.

Bukan karena saya ini orang yang sholeh. Sebenarnya tiap orang muslim bisa meruqyah diri sendiri kok. Namanya ruqyah mandiri.

Eh, ketika diruqyah, dia malah tolah-toleh, pandangannya ke sana ke mari, tidak fokus dengan ayat-ayat yang saya baca. Nah, awalnya dia linglung, akhirnya saya yang jadi linglung. Bingung.

Rupanya, dia memang membawa penyakit kejiwaan. Jadi, mau diruqyah sekeras apapun, kurang massookk Pak Eko! Perlu pertolongan medis. Yah, begitulah salah satu kisah saya.

Mencari Masjid

Ketika kita di luar negeri (memangnya pernah?), maka kemungkinan besar kita akan sulit mencari masjid. Apalagi negara-negara barat yang sebagian orang mengatakan sebagai negara kafir karena muslim minoritas di sana.

Bangunan masjid bisa jadi tidak seperti di tempat kita yang terlihat kubah, tangga-tangga, tiang depan, maupun menara tinggi tempat speaker untuk adzan, iqomah, ceramah, khutbah atau sekadar tes-tes mikropon. “Tes, tes, cek, cek, 1, 2, 3, dicoba.”

Kerinduan muslim di sana cukup besar, untuk mencari rumah Allah, mencari masjid. Hem, beda dengan di sini. Masjid sangat banyak, tetapi mencari orang yang mau sholat, tidak mudah. Ya ‘kan? Setuju ‘kan dengan pendapat saya?

perjalanan-2

Gambar di atas adalah beberapa buku dari Taufik Uieks. Ada pula yang bercerita tentang usaha mencari masjid di luar negeri, di negara yang dikunjunginya.

Tahap Menulis

Sebenarnya tips-tips menulis itu hampir sama sih. Selama ini yang saya amati dari resume-resume yang ada, tidak jauh berbeda.

Taufik Uieks memberikan tips menulis atau cara menghasilkan tulisan perjalanan, di antaranya: mengamati, memfoto, wawancara, mengoleksi informasi tambahan, mencari keunikan, dan terakhir menjadikannya tulisan yang menarik.

Kalau melihat tahapan semacam itu, sebenarnya semua orang yang melakukan perjalanan, bisa melakukannya, tetapi mengapa cuma sedikit orang?

Bahkan saya pun termasuk yang kurang cermat. Padahal, satu atau dua tahun lalu, saya lumayan banyak melakukan perjalanan dinas.

Pergi ke Makassar, Manado sampai dua kali, Banjarmasin, Balikpapan, Makassar, Ambon, Surabaya, Jakarta sudah cukup banyak, Bandung, Jogja dan Kendari. Kalau yang terakhir ini memang paling dekat.

Meskipun tidak ke luar negeri seperti Taufik Uieks, tetapi saya sebenarnya bisa menjadikannya tulisan perjalanan. Waktu itu, saya juga sudah punya blog ini. Namun, kok tidak ditulis?

Jawabannya bisa jadi karena saya seperti kebanyakan orang, terlalu mudah melupakan momen penting. Kurang serius untuk menjadi penulis.

Sebenarnya, ketika kita dalam hati sudah berniat ingin menjadi penulis, maka tanamkan tekad untuk mencari hal-hal unik dan menarik serta tidak banyak diperhatikan orang.

Seorang penulis selalu berusaha mencari sisi-sisi lain di luar pemikiran banyak orang atau istilahnya adalah common sense.

Kalau kata-kata maupun tulisannya sama dengan orang lain, lalu buat apa jadi penulis? Mesti tampil beda dong! Ya ‘kan?

Menulis hal-hal yang sama dengan orang lain itu sejatinya bukan penulis, melainkan netizen. Warganet. Tanpa harus banyak berpikir, tulis saja yang ada. Beda dengan seorang penulis.

Itulah yang dirasa berat bagi sebagian orang. Apalagi ketika melakukan perjalanan. Memang sih menyenangkan, mengasyikkan, sekaligus melelahkan, tetapi justru di situlah ada hal-hal yang perlu diceritakan ke orang lain.

Bukan untuk ajang pamer lho bahwa kita sudah ke sana, ke tempat sana, ke daerah sana, makan di sana, dan lain sebagainya.

Namun, lebih kepada dokumentasi pribadi. Lebih kepada aktualisasi diri. Bahkan termasuk mensyukuri nikmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Saat kita melakukan perjalanan atau rihlah dalam istilah bahasa Arab, sering bukan kita foto-foto? Atau bisa juga video, baik itu video rekaman maupun siaran langsung.

Nah, apakah terpikir untuk menjadikannya tulisan? Saya rasa masih sedikit.

Lebih Memilih yang Mana?

perjalanan-4

Antara vlogger atau blogger lebih memilih mana untuk mendokumentasikan perjalanan? Sepertinya kedua hal itu akan selalu dibandingkan, selama bumi ini masih ada.

Dilihat dari hasil jadinya, lebih menarik konten video. Kalau cuma foto, memang dianggap masih kurang.

Adanya video dari suatu perjalanan jauh, membuat orang yang menonton sangat merasa tertarik dan ingin sekali berada di sana.

Apalagi jika video-video tersebut dibuat dengan bagus, cahayanya pas dan pintar menangkap angle yang ada.

Biasanya, video semacam itu diunggah di YouTube. Itu kalau agak panjang. Lebih pendek, lewat TikTok. Ditambah dengan efek-efek khusus, hem, jadi lebih gimana gitu.

Okelah, itu pilihan orang. Bagaimana dengan blogger sendiri seperti Taufik Uieks yang menulis di blog maupun membuat buku cetak? Apakah kurang menarik?

Begini, jawaban untuk hal ini, lebih cocok dan pas dibandingkan dengan membaca novel. Apakah novel itu banyak gambarnya? Wah, kalau itu lebih pas namanya komik!

Apakah novel itu berisi gambar-gambar bergerak alias video? Kalau itu, lebih cocok mirip dengan buku-buku pelajaran atau koran harian di film Harry Potter.

Novel, setahu saya, masih lebih banyak tulisan daripada gambar. Bahkan, gambar hanya di bagian depan alias cover.

Begitu pula di sampul belakang, gambar juga cuma sedikit. Sering saya lihat, justru tidak ada gambarnya, tulisan juga.

Ada satu keunggulan dari menceritakan perjalanan dalam bentuk tulisan. Salah satunya adalah kekuatan imajinasi. Inilah yang tidak atau sulit didapatkan ketika kita menonton konten video.

Seorang vlogger menampilkan video, maka mata dan pikiran kita akan sesuai dengan realita dari si pembuat video. Video tentang Lembang, Bandung, ya, begitu, pas dengan yang dilihat si vlogger.

Namun, ketika bentuknya tulisan, maka pikiran kita akan berusaha untuk membayangkan, bagaimana sih Lembang itu? Bagaimana sih Bandung itu?

Si blogger bercerita tentang perjalanannya dari hotel, melewati jalanan Bandung yang macet, naik ke bukit, cuaca mulai dingin, hem, rasanya lebih maknyus daripada sekadar video.

Ambil contoh saja, gambar yang berbicara dengan tulisan yang berkata-kata. Dalam novel Habiburrahman El-Shirazy dengan judul “Ayat-ayat Cinta”. Banyak sekali orang yang mengagumi. Banyak orang yang memuji tokoh Fahri yang begitu baiknya kepada Aisha dan Maria.

Alangkah kecewanya orang ketika menonton filmnya. Aduh, hancur-hancuran, deh! Jelek sekali. Saya juga seperti itu. Film tersebut sangat jauh mutu daripada novelnya.

Seperti itulah kondisi yang mirip. Makanya, novel Tere Liye yang laris manis dicegah oleh para pembacanya untuk dijadikan film. Khawatirnya kecewa dan bikin muntah.

Lebih pas jadi bacaan saja. Persepsi tentang tokoh, tempat dan nilai-nilai yang ada, diserahkan kepada masing-masing pembaca saja.

Kesimpulan

Membaca tulisan-tulisan Taufik Uieks tentang perjalanannya ke berbagai negara dan benua, mungkin membuat kita ingin begitu juga.

Jelas dong, jalan-jalan ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, siapa juga yang tidak mau?

Hal tersebut akan menjadi masalah bagi seorang penulis pemula. Misalnya, dia ingin membuat tulisan tentang Jepang. Apakah harus langsung pergi ke sana dulu baru bikin tulisannya?

Ternyata, tidak juga. Tidak harus seperti itu. Banyak kok penulis yang bisa meramu cerita tentang luar negeri dan hasilnya detail juga.

Itu didapatkan dari berbagai sumber. Baik itu tulisan orang, foto maupun video seputar negara tersebut.

Tulisan Taufik Uieks juga bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang ingin menulis tentang negara lain. Cukup lengkap isinya dan sudah memenuhi pengambilan berbagai sudut pandang.

Hal yang cukup sulit juga bagi seseorang untuk menceritakan perjalanannya dalam tulisan adalah bagaimana cara mengolah kata-katanya? Bagaimana menyusun kalimat-kalimatnya? Bagaimana mengatur paragraf-paragrafnya?

Kalau cuma divideokan atau difoto itu sih gampang. Anak saya yang masih kecil juga bisa. Tapi, apakah anak saya yang umur tiga tahun itu bisa menulis seperti Taufik Uieks. Hem, jelas belum, lah.

Justru karena kesulitan itu, bisa menjadi tantangan. Bisa menjadi peluang untuk memasuki wilayah yang jarang dilirik orang. Ketika orang berbondong-bondang ke konten video, kita tetap setia dengan tulisan. Tidak apa-apa. Toh, menjadi blogger itu akan terus ada sampai hari nanti kok.

Dan, sesuai judul di atas, perjalanan itu adalah sebuah apa sih? Meskipun menulis di dalam kamar, sendirian, tidak ke mana-mana atau belum pernah ke mana-mana, tetapi pada dasarnya itu adalah sebuah perjalanan juga.

Lho, kok bisa, Mas? Ya, apalagi kalau bukan perjalanan dari orang yang ingin tahu menjadi orang yang lebih tahu? Dari orang yang kurang cerdas menjadi orang yang lebih cerdas.

Membaca buku itu memang membuat cerdas. Namun, dengan menulis, kecerdasan kita akan meningkat berkali-kali lipat. Tidak percaya? Coba saja sendiri! Praktik lebih mumpuni daripada sekadar teori.

Share This:

10 Comments

  1. taufi uieks , sayapun sama penasarannya dengan anda. saya tebak aja sih beliu alumni Universitas Indonesia disingkat UI, EKS bermakna alumni.jadilah UIEKS he he

  2. Mantap 👍 saya baca habis pak awal hingga akhir. Pengalaman pak Taufik unik. Saya suka ending yang BPK tawarkan. Menulis tanpa jalan jalan juga bisa disebut sebuah perjalanan👋🙏👍

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

four + one =

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!