Selamat Hari Ibu yang Terjepit Waktunya!

Selamat Hari Ibu yang Terjepit Waktunya!

Share This:

Hari ini, tanggal 22 Desember 2019, adalah Hari Ibu. Ada yang mengucapkan Selamat Hari Ibu, ada pula yang tidak. Terus, kalau semua mengucapkan Selamat Hari Ibu, bukankah masih ada bapak sama anak? Kapan ucapkan juga untuk mereka?

Persoalan pengucapan Selamat Hari Ibu memang biasa, menimbulkan polemik. Ini terutama dalam ranah medsos. Lho, bukankah di medsos itu memang ramai dan penuh dengan polemik? Kalau tidak polemik, ya, jangan main medsos. Tahu ‘kan kalau medsos itu artinya media sok-sokan? Hehe…

Sebelum melangkah lebih jauh membahas Hari Ibu, tentu akan lebih afdhol dong tahu dulu sejarahnya! Kok bisa sih diperingat Hari Ibu pada tanggal 22 Desember? Padahal ini tanggal agak tua lho? Kenyataannya ‘kan masih banyak ibu yang tergolong muda. Ini, apa hubungannya coba?

Sejarah Hari Ibu

Mungkin di antara kamu memang pernah tahu, bahwa Hari Ibu itu berkaitan dengan Kongres Perempuan Indonesia I. Ini digelar pada tanggal 22-25 Desember 1928. Berarti, tanggal segitu cuma beberapa pekan setelah Kongres Pemuda II atau Sumpah Pemuda ya? Benar juga sih.

Saya ambil sumber dari buku Biografi Tokoh Kongres Perempuan Indonesia Pertama (1991). Buku tersebut ditulis oleh Suratmin dan Sri Sutjiatiningsih. Kongres perempuan tersebut diselenggarakan di Yogyakarta. Lebih tepatnya di Ndalem Joyodipuran. Wah, di kota kelahiran saya nih! Tapi kini, gedung itu digunakan sebagai Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, berada di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. Ini juga dekat rumah orang tua saya.

Tidak kurang dari 600 perempuan dari puluhan perhimpunan wanita yang terlibat hadir dalam kongres tersebut. Mereka jelas dari beraneka latar belakang suku, agama, pekerjaan, tidak lupa usia.

Susan Blackburn di dalam buku Kongres Perempuan Pertama (2007) telah menggoreskan catatan bahwa sejumlah organisasi perempuan, antara lain: Wanita Oetomo, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyiyah, Wanita Moeljo, Darmo Laksmi, Wanita Taman Siswa, juga sayap perempuan bermacam organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam, Jong Java, Jong Islamieten Bond, dan lain-lain hadir di situ.

Termasuk, para perwakilan dari perhimpunan pergerakan, parpol, maupun organisasi pemuda juga berpartisipasi ke Kongres Perempuan Indonesia perdana ini. Ada wakil dari Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Partai Nasional Indonesia (PNI), Jong Java, Jong Madoera, Jong Islamieten Bond, dan lain sebagainya.

Orang yang memimpin Panitia Kongres Perempuan Indonesia I adalah R.A. Soekonto yang didampingi oleh dua wakil. Mereka adalah Nyi Hadjar Dewantara dan Soejatin. Dalam sambutannya, menurut buku karya Blackburn, R.A. Soekonto mengatakan: “Zaman sekarang adalah zaman kemajuan. Oleh karena itu, zaman ini sudah waktunya mengangkat derajat kaum perempuan agar kita tidak terpaksa duduk di dapur saja. Kecuali harus menjadi nomor satu di dapur, kita juga harus turut memikirkan pandangan kaum laki-laki sebab sudah menjadi keyakinan kita bahwa laki-laki dan perempuan mesti berjalan bersama-sama dalam kehidupan umum.”

“Artinya,” lanjut R.A. Soekonto, “perempuan tidak [lantas] menjadi laki-laki, perempuan tetap perempuan, tetapi derajatnya harus sama dengan laki-laki, jangan sampai direndahkan seperti zaman dahulu.”

Pidato atau orasi tentang kesetaraan atau emansipasi wanita yang disampaikan para tokoh perempuan, kongres ini juga melahirkan keputusan untuk membentuk gabungan organisasi wanita. Namanya adalah Perikatan Perempuan Indonesia (PPI).

Slamet Muljana di dalam buku Kesadaran Nasional: Dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan (2008), menyatakan bahwa dua tahun pasca kongres pertama itu, gerakan wanita adalah bagian dari pergerakan nasional. Artinya, perempuan wajib ikut serta atau berjuang untuk meraih martabat nusa dan bangsa.

Presiden Sukarno melalui Dekrit Presiden RI No.316 Tahun 1953 menetapkan tanggal pertama kongres ini sebagai Hari Ibu. Jadi, sudah jelas sejarahnya ya? Lalu, kalau mengucapkan Selamat Hari Ibu, bagaimana hukumnya? Apakah boleh atau tidak ya?

Upacara Hari Ibu

Karena hari ini adalah hari libur, maka ada sebagian instansi pemerintah yang menggelar upacara Hari Ibu besok, Senin (23/12). Pakaiannya bisa batik, baju KORPRI atau baju hitam putih, tergantung perintah dari atasan melalui surat resmi. Bagi pegawai teladan, maka biasanya akan berniat setulus hati untuk ikut upacara. Mungkin saja cuaca besok tidak panas, karena kan sudah masuk musim hujan. Atau, mau hujan sekalian? Hehe…

Namun, yang perlu diperhatikan adalah rupanya hari Senin itu adalah hari kejepit nasional! Lusa sudah cuti bersama untuk Natal. Wah, kira-kira masih semangat yang mau ikut upacara itu? Atau masuk kantor secara umum, lah. Kita lihat saja besok ya!

Peran Ibu yang Terjepit

Bila mengacu kepada sosok seorang ibu, memang tidak lepas dari sosok seorang perempuan. Ya, iyalah. Menanggapi yang begini, kita mesti ingat bahwa wanita atau perempuan itu tercipta dari tulang rusuk. Nah, tulang rusuk itu pastilah bengkok, dan yang paling atas, itulah yang paling bengkok. Ustadz Firanda menyebutkan dalam salah satu ceramahnya bahwa yang paling atas paling bengkok itu adalah mulutnya atau bicaranya. Silakan direnungkan sendiri ya!

Kodrat perempuan yang bengkok itu belum tentu dipahami oleh semua laki-laki lho, bahkan suaminya sendiri. Adanya KDRT dan menimpa perempuan, menandakan bahwa kaum perempuan belum dipahami sepenuhnya. Ketika suami menegur istrinya dan tidak terlalu ditanggapi atau tidak dilaksanakan, maka suami haruslah bersabar. Karena pada dasarnya istrinya bengkok, diluruskan akan patah.

Cobalah untuk mengerti bahwa perempuan itu memang kurang akal dan kurang agamanya.  Dan, kembali ke penciptaannya dari tulang rusuk tadi, perempuan itu seharusnya mesti dilindungi. Karena dia dekat di hati. Dekat untuk dipeluk. Dan dekat pula untuk bersandar di dada suaminya. Cieh, ehem, ehem.

Makanya, ketika ada istri yang dipukul, waduh, kasihan sekali! Dia adalah kaum yang lemah, tenaganya tidaklah seperti laki-laki. Toh, masih dipukul juga, apa daya dia mau melawan?

Di sinilah mulai kelihatan bahwa seorang ibu itu mengalami posisi yang terjepit. Ketika dia mengalami penderitaan fisik maupun batin menghadapi suaminya, maka dia mesti mengambil dua pilihan. Apakah mau bertahan ataukah berpisah? Keduanya memiliki konsekuensi masing-masing.

Bertahan biasanya karena pengaruh anak-anak. Kasihan jika sampai orang tuanya berpisah. Pastilah keadaan akan jauh berbeda dibandingkan orang tuanya masih serumah.

Saat memutuskan untuk berpisah, maka dia nanti akan jadi janda. Sekarang ini, fitnah seorang janda dirasa lebih berat daripada gadis lho! Kalau gadis, maka dia masih bisa berlindung dengan orang tuanya. Sedangkan janda lebih susah karena sebenarnya dia sudah mempunyai rumah tangga sendiri. KK-nya saja beda. Setelah cerai, maka dia butuh naungan. Inilah yang menjadi incaran laki-laki dengan sok-sokan memberikan naungan.

Termasuk yang Satu Ini

Apa sih, termasuk yang satu ini? Nah, jawabannya adalah poligami. Ini dia yang membuat posisi istri itu jadi seperti terjepit betulan.

Mungkin banyak suami yang tidak suka dengan istrinya, lalu mengancam akan menikah lagi. Menakut-nakuti dengan poligami. Akhirnya, istri pun dibuat menderita. Bukan karena poligaminya, melainkan membawakan poligami itu yang masih kurang tepat.

Bahkan ada yang menikah diam-diam dengan memalsukan KTP. Pada statusnya, duda. Kenyataannya, anaknya sudah lebih dari tiga. Wah, kok sampai segitunya ya!

Saat istri aslinya tahu, jelas marah besar dong! Dibohongi begitu. Meskipun pada akhirnya, istri pertama dengan kedua bisa berbaikan. Lho, kok bisa? Sudah sukses berarti suaminya? Sukses bagaimana?! Suaminya itu sudah meninggal dunia kok! Ohh, pantas, sudah melupakan “tragedi” itu.

Ibu Sang Motivator

Kalau tidak salah, dulu saya pernah dengar sebuah ceramah. Lupa nama ustadznya. Intinya kira-kira begini, bahwa seorang perempuan itu memang memegang peranan yang sangat penting bagi suaminya. Seorang suami bisa korupsi karena didorong oleh istrinya. Suami juga bisa jadi baik karena istrinya. Mungkin itulah perumpamaan wanita adalah tiang negara. Dari para perempuan, mempengaruhi laki-laki sebagai pemimpin, maka kondisi negara ini ditentukan selanjutnya.

Jadi, masih mau mengucapkan Selamat Hari Ibu? Untuk menjawab pertanyaan ini, alangkah lebih baiknya, dikembalikan ke masing-masing orang. Saya sendiri memilih untuk tidak mengucapkan. Toh, buat apa? Semestinya kan berbakti kepada ibu itu tiap hari. Jangan dibatasi waktunya dengan cuma di Hari Ibu atau Hari Kartini.

Namun, yang jelas, besok itu atau hari Senin adalah hari kejepit nasional. Mungkin perlu juga dipersiapkan tentang mengisi dua hari libur setelahnya. Bagi yang Nasrani, jelas mereka akan merayakan Natal. Masa orang Islam mau ikut merayakan?

Kesimpulan

Dua pendapat, satunya membolehkan, satunya melarang mengucapkan Selamat Hari Ibu, akan selalu ada sampai menjelang hari kiamat nanti. Antara yang pro dan kontra akan selalu ada. Tergantung kita sekarang, mau pilih yang mana?

Jika kamu memilih bersayang-sayangan, sambil mengucapkan Selamat Hari Ibu, jangan sampai, jangan sampai nih ya, ibumu jadi merasa sayangnya kamu ke beliau cuma sehari saja. Besoknya, cuek bebek lagi. Kan tidak bagus toh? Ya opo ya?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1
Share This:
error: Content is protected !!