Resensi Buku Jejak Digital Motivator Andal Hadiah Grup WA Lagerunal

Resensi Buku Jejak Digital Motivator Andal Hadiah Grup WA Lagerunal

Share This:

Alhamdulillah, saya pernah mendapatkan hadiah buku dari sebuah grup guru menulis yang namanya Cakrawala Blogger Guru. Yang mengirimkan adalah Pak D Susanto. Nah, baru sekarang ada resensinya.

Kok bisa sekarang baru ada resensinya? Padahal Pak D Susanto sudah meminta alamat lengkap saya pada tanggal 26 Maret 2021. Hem, jawabannya menurut saya sih, lebih baik sekarang, daripada menunggu nanti bulan Desember! Apalagi menunggu tahun depan, jelas lebih lama lagi.

Selain itu, kesibukan saya untuk mengikuti beberapa lomba blog. Ada yang nyangkut, ada pula yang terhempas, bahkan untuk pemenang hiburan sekalipun. Begitulah siklus kehidupan. Bagaikan roda pedati bukan? Kadang di atas, kadang pula di bawah, eh, kadang pula menginjak kotoran hewan di depannya. Waduh, parah kalau yang terakhir ini!

Buku dengan judul Jejak Digital Motivator Andal ini mempunyai kaver Dra. Sri Sugiastuti, M. Pd. Kuratornya adalah Aam Nurhasanah, S. Pd. Bagaimana isi dalamnya? Yuk, kita simak!

Tentang Jejak Digital

jejak-digital

Apa yang pembaca tahu tentang jejak digital? Biasanya sih jejak digital itu kesannya negatif. Muncul kesan negatif itu bukan berarti kesan harus diswab dulu, baru keluar hasil negatif. Bukan begitu. Maksudnya, lebih berkonotasi jelek kalau jejak digital.

Misalnya, tentang hal-hal yang berbau jorok, komentar seputar dunia politik, hinaan, cercaan, makian di media sosial. Video yang aneh-aneh dan lain sebagainya. Kata orang, ketika kita menggunakan media sosial, maka setiap kita pasti meninggalkan jejak digital. Kata orang pula, jejak digital itu tidak akan pernah hilang. Sifatnya abadi. Kata orang pula, kalau habis makan itu bisa kenyang lho! Halah, ini orangnya siapa sih?

Dalam buku ini, jejak digital itu dipersepsikan yang positif saja. Yang bagus-bagus saja. Lewat dunia literasi atau tulisan. Jejak digital yang tertuang lewat internet, sekarang diubah menjadi media buku. Pastilah akan berbeda ketika membaca tulisan lewat HP dan lewat buku. Yang jelas, silakan pilih, mau baca lewat HP bisa, lewat buku bisa, asal membaca jangan numpang lewat saja ya!

Nah, agar buku ini bisa mempunyai rima dan irama Bahasa Indonesia, maka dibuat akhiran yang sama. Jejak digital dan motivator andal. Yang benar adalah andal, bukan handal, apalagi sandal. Menampilkan sosok-sosok guru yang punya minat yang tinggi tentang dunia menulis atau literasi itu tadi. Guru-guru yang andal.

Dilihat dari kaver belakangnya, sudah membuat penasaran. Mulai dari para guru yang tergabung dalam kelas menulis bersama Om Jay atau Wijaya Kusumah, M. Pd, guru blogger nasional. Ada pula bimbingan maupun motivasi dari Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd atau yang biasa dikenal dengan Bu Kanjeng.

Berapa penulis dalam buku antologi ini? Oh, ternyata ada 28 penulis. Luar biasa! Lumayan banyak untuk penulis satu buku antologi. Padahal, semestinya kalau buku antologi itu yang menulis satu orang saja, namanya Anto. Halah..

Mau tahu siapa saja penulisnya? Baik akan saya coba tuliskan. Ida Afriliana, Ahsanuddin, Tini Sumartini, Asikin Widi Jatnika, Marinan, Simon Anunu, sebentar-sebentar. Kok masih banyak yang belum ya? Jadi agak pegal nih, hehe.. Ini saja fotonya ya:

jejak-digital-2

Identitas Buku

Saya mencoba membuka buku, eh, ternyata tidak digembok lho! Walah, memangnya kotak suara?!

Editornya ditulis Susanto atau Pak D Susanto. Oh, berarti orang yang sama dengan pemberi buku ini untuk saya. Terima kasih, Pak! Penerbitnya berasal dari Sukoharjo, yaitu: CV. Oase Pustaka.

Masuk di halaman rumah orang, wah salah, masuk di halaman v, ada kata pengantar dari Om Jay, founder kelas belajar menulis PGRI, penggiat literasi, dan penulis buku. Om Jay cocok sebagai penggiat literasi, kalau orang lain mungkin yang cocok adalah penikmat sambal terasi! Aduh, tidak nyambung sama sekali.

Prakata juga dimunculkan dari Sri Sugiastuti, pada bulan Desember 2020. Berarti buku ini memang terbit di masa pandemi, alias masih cukup gress dan fresh. Yess.

Menurut Bu Kanjeng, 28 penulis dalam buku ini memang ingin berbagi pikiran dengan para pembacanya. Harapannya buku ini bisa menjadi inspirasi. Tentunya yang utama adalah motivasi untuk menulis juga. Soalnya kadang juga sih, menulis itu tergantung mood. Kecuali orang yang sudah merasa kalau tidak menulis, pasti ada yang kurang. Orang yang macam begini nantinya bisa jadi penulis produktif. Sebab, sehari-hari menulis, menulis, dan menulis. Mantap!

Para penulis menurut Bu Kanjeng juga dianggap sangat kooperatif. Artinya mudah untuk diajak kerjasama sehingga naskah ini bisa selesai. Dan, kooperatif akan sangat berbeda nilainya dengan murid-murid yang sedang ujian. Mereka tidak boleh kooperatif dulu karena peraturan melarang hal itu. Kalau menurut Kelik Pelipur Lara, pelawak Jogja, ada sistem yang namanya CBSA. Menurutnya, itu kepanjangannya: Contek Bila Situasi Aman! Walah…

Judul Tulisan

Meskipun mengambil materi yang hampir sama dari Bu Kanjeng, tetapi masing-masing penulis mempunyai judul yang berbeda. Tulisan pertama dengan judul Menjemput Impian ditulis oleh Ida Afriliana, ST, M. Kom. Penulis ini menceritakan masa kecilnya waktu menulis diari saat duduk di bangku SD kelas 6. Beliau mencari buku diari di toko buku kadang mencari yang wangi tertentu. Wajar, namanya juga anak perempuan, selalu suka yang harum-harum.

Hobi menulis tampak pada buku catatan sekolahnya. Semuanya bisa dicatat, bahkan bisa menulis cepat dengan menulis simbol-simbol terlebih dahulu.

Ida Afriliana masuk ke kelas menulis Om Jay dengan pengetahuan sangat minim tentang dunia blog. Padahal, syarat mengikuti kelas tersebut adalah harus memiliki blog. Namun, beliau tidak mau menyerah. Belajar sana-sini hingga punya blog dan bisa mengikuti kelas dengan baik.

Hal yang spesial memang dari kelas belajar menulis bersama Om Jay dan Bu Kanjeng adalah ketika kelas berlangsung, setiap peserta menulis resume dari materi oleh pemateri. Macam-macam materinya. Ada tentang motivasi menulis, mencari ide, membuat judul, mengirimkan ke penerbit, dan lain sebagainya. Bahkan, peserta bisa juga mengetahui seluk-beluk dunia penerbitan karena menghadirkan orang penerbit langsung.

Kelas lewat Whatsapp atau WA menjadi pilihan terbaik karena sekarang siapa sih yang tidak punya WA? Saya rasa hanya orang meninggal yang tidak punya akun WA. Aplikasi chat paling populer itu digunakan untuk sarana berbagi ilmu. Antara pemateri dengan peserta, maupun peserta dengan peserta. Ada pemateri yang mengetik materinya lewat chat. Ada juga melalui rekaman suara. Peserta tinggal merangkum, lalu dituangkan di blog masing-masing.

Kalau sudah jadi, masuk di list. Dari situ, saling berkunjung atau blogwalking. Ini memang sangat mengasyikkan, ibaratnya berkunjung dari rumah ke rumah. Namun, berkunjung ke blog orang tidak mendapatkan makanan maupun minuman yang sebenarnya. Makanan yang ada adalah makanan literasi, memperkaya kosakata, kalimat, cara bertutur, sudut pandang, maupun teknik penulisan.

Memang sih, ada peserta yang copy paste begitu saja ketikan dari pemateri. Tanpa diubah sedikitpun. Bahkan kesalahan penulisan juga diangkut ke dalam blognya. Mestinya ‘kan diedit dulu, diperbaiki dulu.

Akan tetapi, itu bagian dari proses juga sih. Dari yang awalnya copas, nantinya tinggal kipas-kipas. Wah, panas ya?

Tentang Bu Kanjeng

Sri Sugiastuti, M.Pd atau Bu Kanjeng itu lahir pada tanggal 8 April 1961. Memulai karir menulis justru setelah berusia 50 tahun atau setengah abad. Usia begitu biasanya orang sudah berpikir mau pensiun, mau santai-santai, mau leha-leha, tetapi Bu Kanjeng justru masih on fire. Masih terus tancap gas untuk menjadi orang yang makin berilmu.

Mengenai asal namanya, yaitu: Bu Kanjeng, rupanya dijelaskan pada halaman 249. Tulisan dari Nurin Nuzulia, S.Pd.AUD, M. Pd.

Nama Bu Kanjeng itu mencuat saat tahun 2009 ketika beliau aktif menulis di Kompasiana dan sering menulis tentang suami yang gayanya seperti borjuis semu nyinyir, banyak komen dan paling benar sendiri, bisa sebagai pengamat apa saja. Sejak itu teman-teman memanggil Bu Kanjeng.

Ibu yang satu ini sudah menghasilkan buku yang cukup banyak. Luar biasa, termasuk penulis produktif. Dari kenyataan tersebut, menjadi inspirasi yang besar di buku Jejak Digital Motivator Andal ini. Sebabnya, yang tua saja bisa kok, masa yang muda kalah? Ya ‘kan?

Tips-tips yang ditulis di buku antologi ini berasal dari Bu Kanjeng. Contohnya, langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk menjadi seorang penulis? Di antaranya adalah: banyak membaca, praktik menulis di komputer, buku harian, atau media sosial, terakhir adalah mengirimkan tulisan ke media atau penerbit buku.

Agar dapat menulis sampai selesai, tentunya membutuhkan ide. Kalau Edi itu adalah teman sekantor saya. Hem, siapa juga yang tanya ya?

Ide dapat ditemukan, kata Bu Kanjeng, di mana-mana. Membaca sebanyak mungkin buku, pergi ke tempat lain yang belum pernah dikunjungi, cari referensi di media sosial, dan lain sebagainya.

Kaitannya dengan membuat buku, Bu Kanjeng menyarankan untuk mengirimkan tulisan kita ke penerbit. Kiat-kiatnya adalah menyiapkan naskah yang rapi, mencari penerbit yang cocok, memperhatikan ketentuan naskah yang akan diterbitkan, jangan lupa untuk menyiapkan sinopsis.

Menjelajah Pikiran

jejak-digital-3

Keunggulan dari buku ini memang kita bisa masuk ke jalan pikiran para penulisnya. Itulah kelebihan dari buku antologi, karena yang menulis tidak hanya satu orang. Apalagi kesan yang ditulis berbeda-beda tentang Bu Kanjeng. Yang jelas, kesan yang ada tetaplah positif, seperti saya tulis di awal tadi.

Uniknya lagi, kita dapat juga membaca sekelumit latar belakang dari para penulis. Bagaimana awalnya saat mereka membuat blog? Saat menulis pertama kalinya di blog diulas di buku ini. Meskipun yang dipakai adalah blog gratisan, tetapi tulisan, ilmu atau ide yang ada cukup mahal lho!

Namun, buku ini juga menyimpan kekurangan. Menurut saya, kekurangan yang ada materi dari Bu Kanjeng terlalu sering diulang-ulang. Jadi, bisa muncul kebosanan ketika membaca karena materinya memang sama. Misalnya tentang disiplin menulis, mencari ide menulis, membuat buku lewat penerbit, dan seputar itu.

Langkah Selanjutnya

Para guru di buku ini tergabung dalam kelas menulis bersama Om Jay gelombang 16 dan saya ditunjuk sebagai ketuanya. Isi dari buku ini memang memberikan semangat, cinta, dan semangat lagi untuk berbagi lewat tulisan. Berkat bimbingan dari Bu Kanjeng, Aam Nurhasanah, dan Om Jay, mereka bisa berhasil, bahkan mempunyai buku sendiri. Hebat!

Terima kasih yang sudah membaca. Buku yang saya dapatkan ini gratis, tetapi jelas banyak yang bisa didapatkan, terutama ilmu dan pengalaman para guru dalam dunia literasi. Buku dengan total 281 halaman, cocok dibaca saat santai di halaman rumah, maupun saat di kampung halaman. Eh, lagi PPKM ya? Jadi, ya, tidak bisa kemana-mana. Badan boleh di sini, tetapi pikiran boleh kemana-mana bukan? Apalagi kalau bukan lewat membaca buku.

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.