Sanggupkah Memboikot Produk-produk Unilever Karena Dianggap Dukung LGBT?

Sanggupkah Memboikot Produk-produk Unilever Karena Dianggap Dukung LGBT?

Share This:

Kemarin, saya sempat membaca sebuah postingan atau tulisan di sebuah grup menulis. Tentang ancaman memboikot produk-produk Unilever. Berbagai komentar bermunculan, tetapi intinya adalah sanggupkah kita benar-benar melakukan hal itu?

Fenomena memboikot produk-produk perusahaan semacam itu memang sudah lama dirasakan. Sejak saya dulu masih mahasiswa, atau di bawah tahun-tahun itu, sudah ada ide atau wacana untuk memboikot produk-produk orang kafir. Dulu, pernah muncul boikot HP Nokia. Unilever juga dimunculkan. Cocacola, Sprite dan Fanta masuk pula. Apalagi ya? Pokoknya banyak, lah.

Alasan dari ide pemboikotan adalah perusahaan-perusahaan tersebut mendukung Yahudi atau Israel menduduki tanah Palestina. Sebagai bentuk solidaritas terhadap kaum muslimin di sana, maka kita harus menghentikan membeli produk-produk mereka. Yang beranggapan pemboikotan itu mesti dilakukan karena setiap rupiah yang kita belanjakan ke perusahaan-perusahaan tersebut, digunakan untuk membeli peluru yang membunuh warga Palestina.

Kalau yang kasus sekarang muncul ini bagaimana?

Ketahuan dari Instagram

Melalui akun resmi Unilever di Instagram, tercantum tulisan seperti ini: We’re committed to making our LGBTQI+ colleagues as proud of us as we are of them. That’s why we’re taking action this Pride month by:

  • Signing the Declaration of Amsterdam to ensure everyone in Unilever has access to a truly inclusive workplace.
  • Joining Open for Business to show we mean business on LGBTQI+ inclusion as part of a global coalition.
  • Asking Stonewall to audit our policies and benchmark how we’re progressing on our actions.

These initiatives are just the beginning. Our diversity as people is what makes us stronger. Inclusion for all is what will make us better.

Membaca berbagai kalimat pernyataan tersebut, memang pantas untuk kita mengucapkan: Astaqfirullahal adzim, naudzubillah min dzalik. 
Apalagi setelah tahu artinya adalah: “Kami berkomitmen untuk membuat kolega LGBTQI + kami bangga dengan kami seperti kami. Itu sebabnya kami mengambil tindakan bulan Pride ini,” tulis Unilever di Instagramnya pada tanggal 19 Juni 2020.
Komentar-komentar yang ada dari warganet seperti ini:
“Tolong unilever Indonesia beri tanggapan ttg unilever dukung LGBT. Krn sangat menentukan buat saya n yg lainnya apa masih mau memakai produk” nya. Krn kami mencari keberkahan.”
“apa bener unilever mendukung LGbT… jika bener, maaf ya saya akan mengurangi atau mengganti smua produk unilever yg saya gunakan setiap hari”

“Menakut kan kalo Unilever bener bener mendukung LGBT.. dari sekarang harus lebih selektif jangan menggunakan produk Unilever.”

“Di Indonesia produk kamu laris dan Indonesia melarang LGBT. Jadi.. Keuntungan dari pembelian kami,kalian donasikan untuk LGBT? Astagfirullahal adzim.. Ditunggu tanggapanya..”

Dan, masih banyak aneka komentar lain. Kalau dituliskan di sini, wah, bisa panjang sekali!

Apakah Mesti dengan Boikot?

Memang banyak di antara kita yang tidak setuju dan menolak keras LGBT itu. Bagaimana tidak, penyakit itu adalah warisan dari kaum Nabi Luth yang disebut kaum sodom. Laki-laki berhubungan intim dengan laki-laki, begitu pula perempuan. Azab dari Allah terhadap kaum Nabi Luth adalah dibalikkan tanahnya, lalu dilempari bertubi-tubi dengan batu yang terbuat dari tanah yang terbakar, sebagaimana disebutkan dalam Surah Huud ayat 82. Naudzubillah min dzalik.

Jelas dong, menerima adzab yang super mengerikan seperti itu, pastilah mereka hancur. Akan tetapi, ajarannya masih ada. Pemikirannya masih ada. Bahkan pada waktu seperti ini, seakan makin mendapatkan tempat yang istimewa di dunia, termasuk Indonesia.

Lucunya, di grup menulis yang saya sebutkan tadi, ada yang belum tahu kepanjangan LGBT. Wah, langsung saya jawab saja dengan bercanda, bahwa LGBT itu kepanjangan dari Longsor Gempa Banjir Tsunami! Bisa jadi, itulah adzab yang ditimpakan Allah ke muka bumi jika satu daerah sudah melegalkan praktek LGBT semacam itu.

Sebelum menyatakan mau memboikot produk-produk Unilever yang termasuk perusahaan raksasa ini, kita perlu lihat dulu pangsa pasarnya. Menurut data PT Unilever Indonesia, Tbk (“Perseroan”) mengumumkan laporan keuangan interim Perseroan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2019 (tidak diaudit). Pada paruh pertama tahun ini, Perseroan mencatat penjualan bersih sebesar Rp 21,5 triliun, terdiri dari penjualan domestik sebesar Rp 20,5 triliun dan ekspor Rp 1 triliun.

Mungkin banyak di antara kamu yang belum pernah pegang uang sebanyak 20 triliun. Satu triliun saja mungkin belum pernah pegang, apalagi memiliki. Akan tetapi, perusahaan raksasa Unilever sudah membukukan keuntungan sebesar itu cuma dalam periode tahunan.

Berarti, kalau omzet atau keuntungan sampai triliunan, maka produk-produknya diminati masyarakat. Sebab, Unilever memang menembak sektor barang kebutuhan rumah tangga, yang perputarannya juga cepat karena hampir dipakai tiap hari. Nah, apa saja sih produk Unilever itu?

Fast Moving Product

Kita mulai dari makanan saja dulu ya! Ada Kecap Bango, Royco, Sariwangi, Blue Band, es krim Wall’s, Lipton Ice, Buavita, Paddle Pop dan lain-lain. Dari produk rumah tangga, ada Pepsodent, Vixal, Wipol, Zwitsal, Molto, Super Pell, Axe, Domestos Nomos (yang dulu diplesetkan pelawak Jogja menjadi Domestos Mrongos), Lifebuoy, Sunsilk, Pond’s, Rexona, Vaseline, Citra, Rinso dan lain sebagainya.

Dari berbagai produk tersebut, sudah terlihat ‘kan memang sering kita konsumsi? Dan, tidak mudah lho, untuk tiba-tiba beralih ke produk perusahaan lain jika memang sudah menggemari. Contohnya, mungkin orang tua kita, yang sudah cocok dengan pasta gigi Pepsodent. Sudah nyaman di gigi, tidak pas dan sreg mau ganti pasta gigi, apalagi kembali pakai batu bata merah.

Kenyataan seperti itu menunjukkan bahwa untuk memboikot produk-produk Unilever cukup sulit. Sebab, Unilever sudah berbisnis di Indonesia lebih dari 50 tahun. Terus, kalau mau diboikot, gantinya apa? Atau tidak mandi lagi, tidak sikat gigi lagi atau mencuci baju lagi, begitu?

Sekarang, seandainya boikot dilakukan dan banyak yang mendukung, lalu bagaimana dengan para karyawannya? Bagaimana dengan jutaan orang yang menggantungkan hidup lewat produk-produk Unilever? Bagaimana dengan warung-warung kecil di pinggir jalan yang mungkin 80-90 % isinya produk Unilever? Sedangkan warung itu sangat diandalkan untuk sedikit memenuhi kebutuhan hidup sebagian masyarakat kecil.

Okelah, boikot bisa dilakukan jika kamu memang punya alternatif untuk pindah produk. Itu sah-sah saja. Namun, yakinlah bahwa boikot itu tidak akan bisa berlangsung lama. Sebab, perusahaan ini punya nilai kapital yang luar biasa. Selalu saja akan ada inovasi produk kebutuhan rumah tangga dan itu sangat menggoda untuk dibeli.

Apalagi mereka terus jor-joran dengan iklan. Tidak hanya di televisi, tetapi masuk juga ke jagat media sosial. Produk mereka masih nangkring dengan manis di jagat marketplace terkemuka di Indonesia. Peminatnya masih sangat tinggi. Masih sangat banyak.

Khawatirnya, memboikot produk-produk Unilever itu jadi seperti hangat-hangat tahi ayam. Terasa semangat di awal, tetapi selanjutnya melempem macam biskuit di kemasan yang tidak ditutup rapat.

Terus, seandainya benar-benar terjadi memboikot produk-produk Unilever, apakah kamu berani untuk memboikot hubungan dengan keluargamu seandainya ada yang kerja di sana? Misalnya, dia jadi karyawan tetap di Unilever, distributor, pedagang atau sekadar sales produk yang keliling naik motor ke warung-warung itu. Apakah kamu berani memboikot mereka dan menganggap penghasilan atau uang mereka jadi haram? Hayo, berani nggak?

Semestinya jika mau memboikot, harus total dong! Jangan setengah-setengah, jangan juga seperempat-seperempat, apalagi kurang dari itu.

Alternatif Selain Boikot

Ketika saya menjadi jomblo imut, saya pernah ikut diskusi kecil dengan dua teman saya. Satunya pengusaha rempah dengan skala usaha yang sudah besar, satunya mahasiswa biasa, sepertinya. Saya agak lupa. Si mahasiswa persis sama mengatakan bahwa untuk menghadapi Israel dan membantu Palestina, maka kita harus memboikot produk-produk Yahudi.

Si pengusaha muda itu tersenyum, lalu diberikan pemikiran lain. “Kalau misalnya solusinya adalah kita jadi kaya raya, terus membeli saham perusahaan-perusahaan Yahudi, terus keuntungannya untuk membantu Palestina, gimana menurut kamu?”

Eh, si mahasiswa culun itu menjawab, “Wah, itu sulit! Gak bisa! Gak mungkin, lah!” Kira-kira seperti itu jawabannya.

Nah, dari situ saja sudah kelihatan, bahwa si mahasiswa yang katanya bersemangat dan berapi-api untuk membela Palestina dengan cara memboikot produk-produk Yahudi, rupanya melempem ketika diajak berpikir besar. Dia melihat dirinya kerdil dan tidak mungkin bisa mencapai itu. Lha wong, berpikir mau membeli saham perusahaan Yahudi saja dia tidak berani, apalagi actionnya. Ya nggak?

Ketika status tentang boikot produk Unilever, saya komentari mirip dengan perkataan teman saya yang pengusaha rempah, si pembuat status tidak bisa menjawab. Mungkin dia kira, ini sih lain sendiri jawabannya. Dia mengira pilihannya cuma dua, mau ikut boikot apa tidak?

Dari sejarah, kita juga melihat bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bertransaksi dengan orang Yahudi. Padahal orang Yahudi ketika itu mungkin saja uangnya dari yang haram. Namun, ketika bermuamalah dengan nabi, uang mereka tetap diterima. Tidak perlu ditanya, uang ini dari mana saja?

Selain dengan orang Yahudi, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam juga bermuamalah dengan orang Nasrani dan kaum musyrik lainnya. Padahal secara logika, itu membantu perekonomian mereka. Ya ‘kan? Akan tetapi, nabi tetap tidak melarang bertransaksi jual beli dengan mereka, selama jual beli tersebut tidak melanggar syariat. Misalnya ada penipuan, ada satu pihak yang dirugikan dan sebagainya.

Sejatinya, kita boleh bertransaksi atau bermuamalah jual beli dengan orang manapun. Tidak hanya dengan Yahudi dan Nasrani, tetapi juga dengan penyembah api, air, angin, pohon beringin atau hal lainnya. Aqidah mereka yang menyimpang tidak menghalangi kita untuk berjual-beli, selama itu tetap dalam kaidah Islam.

Kalau nabi kita yang mulia saja tidak mendorong untuk boikot produk Yahudi atau menghindari bertransaksi dengan mereka, lalu mengapa sekarang muncul wacana seperti itu? Apakah umat Islam sendiri sudah sanggup untuk tidak membeli produk mereka dan diganti dengan produk sendiri? Teman saya saja yang aktif di JT, pernah bilang bahwa produk herbal kebutuhan sehari-hari yang mirip dengan Unilever, harganya cukup mahal. Katanya produk untuk umat Islam, kok malah lebih mahal?

Kesimpulan

Inilah tantangan yang dihadapi oleh umat Islam sekarang, terlebih bagi generasi mudanya. Orang Islam masih tergantung dengan produk-produk yang dibuat oleh orang Yahudi atau nonmuslim lainnya. Untuk bikin produk sendiri, apalagi yang bisa menyaingi Unilever, masih sangat jauh dari harapan.

Untuk berpikir besar, masih banyak yang belum sanggup. Masih banyak yang merasa rendah diri. Jangankan untuk membeli saham Unilever, untuk mengumpulkan uang nikah saja banyak yang belum sanggup kok. Apalagi mau menikah di Sulawesi yang notabene butuh kira-kira minimal 30 juta. Itupun masih dianggap murah dan wajar saja.

Perkara boikot-memboikot itu sejatinya memang berada di tangan pemerintah. Dan, pemerintah mestinya lebih tahu apa manfaat dan mudhorot dari pemboikotan terhadap produk negara tertentu. Namun, jika dikembalikan ke diri sendiri, mau boikot untuk diri sendiri dan keluarga, maka itu hak masing-masing.

Termasuk pilihan untuk menggunakan produk dalam negeri atau orang Islam, juga kembali ke masing-masing. Jika semuanya mau diboikot dan mengkampanyekan seperti itu, maka itu berada dalam kewenangan pemerintah.

Akan tetapi, ketika saya bertanya kepada seorang ustadz,beliau mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam bermuamalah dengan orang Yahudi, rupanya dengan orang Yahudi yang tidak memusuhi Islam. Orang Yahudi biasa. Nah, kalau sekarang, Yahudi mungkin kebanyakan sudah memusuhi kaum muslimin. Maka semestinya boikot pun bisa dilakukan, apalagi yang terang-terangan pada Unilever yang mendukung LGBT.

Perkara LGBT memang harus kita tolak dan lawan, tetapi dengan cara-cara yang lebih elegan. Sebab, era sekarang adalah perang pemikiran. Kalau kita tidak mewarnai, maka kita yang ikut diwarnai. Sama dengan pelangi yang dijadikan lambang LGBT. Apakah kita lalu menyalahkan pelangi ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang bentuknya sudah seperti itu atau menyalahkan kelompok yang menggunakannya untuk kebatilan?

Saya juga masih berpikir sampai sekarang, itu yang protes mau boikot produk Yahudi, tapi protesnya lewat Facebook. Bukankah Facebook itu media sosial yang dibuat oleh …?

Kalau dibilang bahwa Facebook itu dibuat oleh orang Yahudi, memang benar. Terus, tidak memakainya begitu? Ini yang perlu sedikit diluruskan. Kita menggunakan media tersebut karena masuk ke dalam perkara darurat. Bahkan, medsos itu seperti sarang musuh. Kalau kita tidak masuk di dalamnya, maka musuh akan makin merajalela.

Jadi, apakah tetap akan memboikot produk-produk Unilever? Yuk, kita lakukan saja! Jika memang ada alternatif produk lain, apalagi milik kaum muslimin, maka Insya Allah itu yang lebih baik.

Share This:
error: Content is protected !!