Kisah Fiktif: Tetap Optimis, Meskipun Menghadapi yang Ceriwis

Kisah Fiktif: Tetap Optimis, Meskipun Menghadapi yang Ceriwis

Share This:

Sebagai seorang pekerja kantoran, Seno, sebut saja begitu, rajin datang pagi dan pulang sore. Meskipun menghadapi kemacetan setiap hari di Jakarta, dia tetap berusaha untuk sabar. Baginya, kesyukuran masih punya pekerjaan.

Dari hasil pekerjaan itu, dia bisa memberikan sebagian gaji untuk istri tercintanya. Istri yang sudah memberikannya anak empat, berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Tidak suka keluar rumah, jika keluar pun hanya ke rumah tetangga yang dekat-dekat. Makanya itu, Seno merasa beruntung, karena istrinya pandai menjaga diri juga.

Tapi, Hari Itu

Hari itu, lupa hari apa, istrinya mulai berubah. Dari yang awalnya tidak banyak bicara, sekarang mulai ceriwis. Apa saja diomongkan Lisa, istri Seno itu? Tentang rumah, tetangga, anak-anak, acara TV, keadaan Jakarta, kondisi politik, ekonomi, segala macam. Bahkan, ayam bertelur di negara Swiss pun masuk dalam pembicaraannya.

Lisa di rumah sambil berselancar di dunia maya. Yang dilihat, didengar, ditonton, dibicarakan semua ke suaminya. Nah, Seno yang biasanya pulang menjelang Maghrib, atau setelah Isya, jelas capek, tetapi masih saja harus mendengar keceriwisan dari istrinya.

“Mas, tahu nggak, kenapa proklamasi kemerdekaan kita tanggal 17 Agustus?”

Seno menggeleng. Mana sempat mau ingat begitu?

Lalu istrinya menceritakan secara runtut. Detail dan lengkap banget. Seno mengangguk, mendengar, pura-pura paham.

Lain waktu, istrinya bercerita tentang film-film bioskop yang akan rilis di tahun ini. Meskipun pandemi, ternyata film-film tetap keluar. Itu para bintang filmnya tidak takut kena corona, kok sampai mau kumpul-kumpul buat syuting?

Setiap Hari

Sejak hari itu, Lisa berubah menjadi istri yang sangat ceriwis. Amunisi kata-katanya betul-betul luar biasa. Seandainya senapan mesin bisa menangis, maka akan menangis karena kalah dibandingkan peluru kata-kata Lisa.

Awalnya, Seno sih senang-senang saja mendengar muntahan kalimat dari sang istri. Namun, tahu sendirilah, kondisi psikologis manusia bisa berubah. Apalagi tuntutan pekerjaan Seno makin banyak. Bosnya baru, posisi Seno juga baru, pekerjaan bertambah.

Kondisi badan yang sudah sangat capek, begitu pulang, masih terus mendengar istrinya ceriwis, dia mulai emosi. Mulai panas kupingnya. Mulai bergejolak ginjal, eh, jantungnya. Seno pun menggebrak meja!

“Kamu bisa diam nggak sih?! Ceriwis terus!”

Istrinya kaget, anak-anaknya kaget, bahkan presiden pun kaget. Walah, ini presiden mana lagi coba yang kaget?

“Dari kemarin-kemarin, aku capek, kerja terus, sekarang posisi baru, datang di rumah dengar kamu cerita terus, ceriwis terus, kupingku panas tahu nggak? Aku ini butuh istirahat, Lisa!”

Lisa yang masih terpatung kaget, diam saja, bibirnya bergetar, mau bicara lagi, tetapi terkunci di dalam. Betul-betul tidak menyangka suaminya akan berbuat seperti itu.

“Coba kurangi bicaramu! Jangan kamu terus bicara! Aku ini mau tidur, mau menikmati suasana di rumah, masih juga dengar kamu ceriwis macam begitu!”

Tiga kalimat dari Seno sudah cukup membuat hati Lisa terluka. Seperti perempuan pada umumnya, air matanya mulai jatuh. Keluar pelan-pelan dari sarangnya. Dia mulai sesenggukan.

“Sekarang kamu nangis lagi! Apa memang perempuan itu selalu hobinya menangis? Menangis, menangis, menangis terus! Tadi, kemarin ceriwis, ceriwis, ceriwis terus! Nggak bisakah kamu ceriwis sama tembok sana!”

Ditambah satu kalimat lagi, fix membuat Lisa betul-betul menangis. Dia tinggalkan meja makan, lalu lari ke kamar. Masuk, dobrak pintu! Tersakiti betul oleh kata-kata suaminya.

“Udah, menangis sana! Masuk kamarmu sana! Nggak sudi malam ini aku sekamar denganmu, Istri Ceriwis!”

Sebenarnya, selain bicara tentang rumah, istrinya juga suka komentar untuk Seno sendiri. Misalnya, dari mana, apa saja yang dikerjakan di kantor tadi, ketemu siapa saja, lalu jawaban Seno, dikomentari lagi panjang lebar. Seno menghadapi seperti itu tiap hari, sebelum dan sesudah pulang kerja. Betul-betul sudah capek batin dan pikiran Seno.

Menonton Cuplikan Video

Besoknya, ketika hari libur, Sabtu, Seno ingin keluar rumah. Bersama teman-temannya, rencana mau hangout. Pergi ke kafe atau restoran yang enak makanannya. Tentunya dengan menjaga protokol kesehatan dong.

Sambil menunggu makanan datang, Seno membuka-buka Facebook. Dilihat status istrinya, ternyata belahan hatinya itu juga ceriwis di media sosial. Ada postingannya yang sampai ratusan komentar. Untungnya, sebagian besar adalah teman-teman perempuannya. Tidak ada laki-laki bermodus yang masuk di akun Lisa. Jika ada laki-laki mau add istrinya atau inbox, selalu Seno diberitahu.

Saat melihat Facebook di bagian video, dia lihat ada cuplikan sebuah video dari seorang ibu, namanya dr. Aisyah Dahlan. Membahas tentang hubungan suami dan istri. Wah, menarik ini! Apalagi baru saja ada masalah antara Seno dengan istrinya, siapa tahu ada solusi di situ, pencerahan di situ.

“Perempuan itu memang punya kemampuan kata-kata yang luar biasa,” Begitu kira-kira kata dr. Aisyah Dahlan. “Tiap hari, perempuan itu bisa menghabiskan sampai 8.000 kata, sedangkan laki-laki cuma 2.000 kata.”

Hah, betulkah? Iyakah? Seno baru tahu hal itu. Dokter yang juga memberikan terapi antinarkoba tersebut juga mengatakan, “Jadi kalau istri Bapak ceriwis di rumah, anggap saja dia sedang menghabiskan stok. Dia harus kejar setoran.” Kira-kira begitulah.

Wah, Seno makin kaget! Betul juga yang dikatakan praktisi hubungan suami istri itu. Pantas saja istrinya ceriwis minta ampun, karena dia harus menghabiskan 8.000 kata setiap hari.

Seno mengangguk-angguk. Paham. Mengerti. Ketika mengangguk-angguk begitu, salah seorang temannya bertanya, “Hey, Sen, ngapain ngangguk-ngangguk! Kayak boneka anjing di mobil lu!”

Pedas juga gurauan dari teman Seno itu. Namun, Seno sadar bahwa itu hanyalah teman. Meskipun yang lain tertawa, dia tidak tersinggung. Lah, sementara istrinya kok bikin dia tersinggung ya?

Kajian Online

Ketika pindah tongkrongan ke tempat lain, Seno melihat di Facebook lagi. Kali ini ada video dari seorang ustadz terkenal. Seno tahu ustadz tersebut dan menyukainya juga. Makanya, dia menyimak baik-baik potongan video tersebut.

“Wajar, Pak, jika istri kita sering bicara sama kita. Apalagi kalau dia cuma di rumah saja. Tidak ada siapa-siapa kecuali anak. Orang yang dia temui hanya Anda, suaminya. Dia cerita tentang rumah, anak-anak, atau apapun kepada Anda para suami, karena Andalah orang yang paling akrab dengannya.”

Seno terpukul lagi dengan nasihat itu. Kalau tadi dari tokoh perempuan, sekarang laki-laki.

“Dengarkan saja ketika istri Anda bicara banyak. Sebab, jika suami sudah tidak mau mendengar istrinya sendiri, maka si istri akan melampiaskannya di medsos. Anda mau istri bongkar rumah tangga Anda di media sosial? Tidak mau bukan?”

Seno scroll layar HP. Dia pandangi jalan. Dua nasihat dari dua orang yang berbeda, kini menyusup masuk ke relung hatinya. Dia tersadarkan bahwa kemarin dia salah besar kepada istrinya. Sang istri yang tidak pernah berbuat aneh-aneh, tidak selingkuh, tidak berzina, hanya setia dengan suaminya, tidak suka keluar rumah, kini harus disakiti seperti itu hanya gara-gara ceriwis?

Laki-laki itu pasti akan marah seandainya Lisa kemana-mana, bertemu dengan banyak laki-laki asing, berbicara dengan mereka, berakrab-akrab, pasti Seno akan cemburu. Sangat cemburu. Istri yang sangat dicintainya dulu juga pernah bekerja kantoran. Namun, Seno memintanya resign saja agar lebih fokus di rumah, mengurus dirinya dan anak-anak.

Ah, Seno pun langsung pamit dari kumpul-kumpul tidak jelas dengan teman-temannya itu. Buat apa berlaku baik dengan mereka sementara dengan istri sendiri malah buruk? Harusnya, kalau sudah baik dengan teman, dengan istri harus lebih baik lagi. Seno tersadarkan. Ya, dia sudah tahu sekarang.

Dalam perjalanan pulangnya, dia merasa memang salah, memang keliru, memang khilaf. Namun, dalam perjalanan itu pula, dia menyuntikkan semangat bahwa dia bisa dan mampu menjadi suami yang terbaik. Harus tetap optimis! Pasti mampu menjadi pendengar yang baik bagi istrinya. Sebab, kalau bukan dia, siapa lagi? Kalau bukan jadi sekarang, kapan lagi?

kamis-menulis

Share This:

26 Comments

  1. Betul… dengarkan saja ketika istri berkoar-koar pada suaminya, daripada berkoar-koar di medsos, karena sebetulnya si istri hanya ingin ada yg mendengar keluh kesahnya五五

  2. Baca cerita depan sudah teringat materi Ibu Aisyah Dahlan. Eh ternyata itu yang dibahas. Klop. Terima kasih pengingat materinya pak Rizky. Laki-laki dan perempuan memang berbeda.

  3. Wah mahal ya ilmu mengerti isteri……….untung jiwa optimisnya muncul. Segera pulang….. mantap Bung cerpennya. Salam Literasi…..masih lucu lagi…..

  4. 8000 kata dalam sehari yaaa..
    Perempuan bisa jadi penulis yang handal dan publik speking jempolan.

    Tulisan Pak Risky selalu terselip pembelajaran dalam berumah tangga, Terimakasih
    Sehat selalu Pak

  5. Wow, cerita yg bikin ketawa terbahak-bahak, tp sangat edukatif. Dikemas apik dan cantik dalam rangkaian kata yg menggelitik.. Cantiik.. eh cakeeep Mas Rizky..

  6. Benar ya istri itu lebih talkative. Tpi cepat cemberut jg klo gak direspon atau dicuekin hi hi hi aku bgt tuh.

  7. Wahhhh,,, Pa Rizky ini,,, ini tulisannya sangat mewakili perasaan suamiku. Dan ceritanya sangat real banget, senyum-semyum sendiri nih aku bacanya. Aku termasuk istri ceriwis he,,he,,tapai kalau aku lagi malas ngomong, malah suami sama anak-anak binggung, bahkan suka bilang “Ibu lagi sakit ya, kok diam aja” he,,he,,he

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.