Cakrawala Muslim, Radio di Bombana dengan Frekuensi 100 FM, Nasibmu Kini

Share This:
radio-cakrawala-muslim-100-fm

Sudah sejak lama, sejak remaja, saat jerawat masih sering datang bertamu dan meninggalkan cinderamata, saya sudah sering mendengarkan radio. Namun, ketika di Bombana ini, saya sempat mengenal Radio Cakrawala Muslim dengan frekuensi 100 FM. Radio apa ini?

Radio Hibah

Awalnya radio Cakrawala adalah radio umum. Radio yang menghadirkan musik, acara hiburan, penyiar wanita, dan lain sebagainya. Pendengar radio ini cukup banyak sekitar tahun 2005. Sebab, hanya satu-satunya radio di Kabupaten Bombana.

Nah, Alhamdulillah, atas hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pemilik radio ini, Ashari Usman, S.Pd, M.Si, yang sekarang menjadi anggota DPRD Kabupaten Bombana, menghibahkan untuk DPD Wahdah Islamiyah Bombana, salah satu ormas Islam yang sudah cukup besar di negeri ini. Radio tersebut diubah menjadi radio dakwah. Siaran-siarannya pun full agama Islam.

Oleh karena formatnya adalah radio dakwah, maka namapun diganti menjadi Radio Cakrawala Muslim. Frekuensinya tetap 100 FM. Berada di kompleks pesantren Al-Wahdah, Bombana. Padahal tadinya berada di Talabente, sekitar 2-3 kilometer dari kompleks pesantren tersebut. Alhasil, karena dipindah semua peralatannya, menara pemancarnya juga dicopot dan dibangun ulang.

Acara Cukup Variatif

Yang dimaksud di sini, acara dakwahnya cukup variatif. Memutarkan rekaman-rekaman suara para ustadz terkenal dengan berbagai macam materi. Tauhid ada. Ibadah, oke. Muamalah, sip. Tentang puasa, mantap. Selain itu, ada juga kajian live. Dari ustadz lokal. Bahkan pernah pula menghadirkan ustadz lokal sih, tetapi tempat tinggalnya di seberang lautan. Masih wilayah Kabupaten Bombana kok.

Ustadz tersebut melakukan live dengan telepon. Waktu itu, belum terlalu ngetren gadget, telepon pintar, atau gawai itu. Jadi, masih pakai HP biasa. Istilahnya adalah HP communitor atau dibaca komunikater. HP untuk komunikasi, juga senter.

Menjadi Station Manager

Minat saya yang besar terhadap radio waktu masih tinggal di Jogja, ditambah dengan saya pernah menjadi penyiar radio kampus, maka saya diangkat menjadi station manager di Radio Cakrawala Muslim. Jabatan itu seperti direktur utama dalam suatu perusahaan. Mengatur jadwal, memanajemen penyiar, sekaligus melakukan evaluasi.

Meskipun jabatan itu cukup besar bagi saya, nyatanya saya tetap menyiar juga. Pagi sebelum ke kantor, saya mengisi acara berita-berita Islami, dari luar negeri maupun dalam negeri.

Malam hari, ada acara Qur’an by request. Para pendengar boleh menghubungi kami lewat SMS maupun telepon untuk request surat yang ingin didengarkan, dari juz 29 dan 30, yang dibawakan oleh para qari terkenal dari Timur Tengah.

Cukup banyak yang mengikuti acara ini. Apalagi ditambah dengan kirim-kiriman salam kepada keluarga atau teman si pendengar. Asal, jangan kirim salam buat pacar saja, karena kurang pas kalau di radio dakwah. Apalagi kirim salam buat pacarnya orang lain. Walah…

Dan, Endingnya

Suatu pagi, saya lupa tanggal berapa, datang petugas dari Kemenkominfo yang berlokasi di Kendari, beserta para petugas polisi dari Polda Sultra. Mereka mencurigai Radio Cakrawala Muslim sebagai radio ilegal. Radio yang tidak berizin, makanya mereka akan menyita peralatan-peralatan siaran kami.

Namun, radio tersebut bukan ilegal murni, melainkan semi ilegal memang. Sudah ada izin resminya dulu, tetapi belum diperpanjang. Ternyata, untuk mengelola radio, terutama radio komersil meskipun formatnya dakwah, tetap butuh perusahaan sekelas PT atau Perseroan Terbatas. Sementara di tempat tersebut, belum ada PT sesuai yang diinginkan. 

Akhirnya, radio tersebut mendapatkan peringatan. Disuruh membuat surat pernyataan, dan saya yang bertanda tangan di situ. Isinya, bersedia untuk mengurus izin sampai selesai. Kemungkinan sih, mengurusnya sampai di Kendari. Hem, sepertinya cukup berat. Apalagi ada keterbatasan finansial dan SDM yang ada. 

Ashari Usman sendiri belum bisa membantu banyak juga karena cukup sibuk dengan pekerjaannya sebagai anggota dewan. Dari pihak kami juga belum menghubungi beliau. Sampai saat ini, Radio Cakrawala Muslim 100 FM mengalami mati suri. Menara pemancarnya masih ada, sebagian peralatan juga masih ada. Namun, menara tersebut menjadi tempat menggantungkan TOA, untuk menyiarkan suara azan dengan lebih kencang lagi.

Saya dan beberapa teman merindukan bisa siaran lagi di radio tersebut. Termasuk juga banyak pendengar lainnya. Katanya sih, suara saya dulu khas, medok orang Jawa, rata-rata ‘kan orang Sulawesi di tempat saya dengan logat Bugis.

april-challenge-huruf-C
Share This:

18 Comments

  1. Sebagai mantan anak radio, membaca ini kok rasanya nyesek juga, Pak. Senasib sama radio tempat saya dulu. Sekarang mati suri. Bukan perkara perizinan bedanya, tapi operasional. Semoga badai segera berlalu, Pak.

    1. Sama-sama, Pak, meskipun radio adalah media tradisional, kehadirannya tetap dibutuhkan pada masa sekarang.

  2. Ikut prihatin. Kenapa mesti sulit begitu yah aturannya? Semoga bisa diurusin dg mudah dan siap mengudara kembali..

    1. Soalnya itu menyangkut legalitas Bu, apalagi untuk pembukaan frekuensi radio baru ‘kan tidak tiap tahun. Lima tahun sekali kalau tidak salah.

  3. Rasanya, radio masih jadi pilihan dari derasanya informasi melalui sosial media. Sayangnya di hape siaran radio FM lokal baru bisa ditangkap jika ada headset sebagai antena. Mengapa frekuensi radio tidak bisa ditangkap langsung tanpa adanya penguat sinyal semisal headset, ya?

  4. Waah sayang radio dakwah tapi bisa mati suti..
    Semoga bisa di urus perijinannya dan bisa aktif dan siaran lagi…aamiin

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.