Cerita Sekolahku, SMA 6 Yogyakarta, Antara Tawuran dan Semangat Ingin Menang

Cerita Sekolahku, SMA 6 Yogyakarta, Antara Tawuran dan Semangat Ingin Menang

Share This:

“Mlayuuu!!! Ana tawuran!!!” Para murid berlarian masuk ke dalam sekolah. Suasana panik sudah makin mencekik. Aku sendiri berada di lantai atas. Menyaksikan mereka yang sedang ketakutan.

Sekolahku, SMA 6 Yogyakarta, telah diserang. Pelakunya adalah dari banyak sekolah. Ya, sekolahku memang banyak musuhnya. Hampir semua sekolah membenci. Hari itu, mereka melakukan pembalasan.

Para guru tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak berkutik. Kaca-kaca jendela di bagian depan sekolah pecah. Namun, perlawanan segera dilakukan. Setahuku, ada cukup banyak alumni sekolah itu yang datang membantu.

Anak-anak penyerang yang sekarang dibuat kocar-kacir. Ada cerita temanku, dia membawa balok kayu lumayan besar, langsung dihantamkan di wajah lawan. Mengerikan pokoknya.

Aku sendiri berlindung di dalam musholla saja. Mengaji, bersama temanku yang juga ketakutan. Lebih aman di situ kurasa. Entah sampai jam berapa? Aku ingin segera pulang.

Sudah Terkenal

sma-6-yogyakarta-4 (2)

Ketika aku masuk menjadi murid di sana, tahun 2000, SMA 6 Yogyakarta atau yang dikenal dengan Namche memang hobi sekali tawuran. Mereka cukup rutin klithih atau berkeliling naik motor ke sekolah-sekolah lain demi menebar ketakutan.

Anak-anak yang suka tawuran itu mempunyai geng bernama GNB. Banyak versi atau arti dari GNB itu. Akan tetapi, aku dengar dari seorang kakak kelas, arti sebenarnya adalah Gerakan Namche Belakang.

Musuh utamanya adalah SMA Kolese De Britto. Sekolah itu isinya laki-laki semua. Namun, kebanyakan adalah keturunan Tionghoa. Jadi, untuk berkelahi, sepertinya tidak terlalu berbakat deh.

Kalau rombongan Namche ada di jalan, sekolah lain cukup ketakutan. Di situlah, teman-temanku merasa bangga dan puas, karena ditakuti sekolah lain.

Ternyata, kebencian mereka kepada sekolahku sudah sangat memuncak. Mengumpulkan kekuatan, mereka nekat menyerang.

Akan tetapi, sekolahku tidak tinggal diam. Mereka diserang, pertamanya mundur, tetapi mulai maju perlahan. Mulai membalikkan serangan. Kok bisa ya? Padahal sekolah musuh jauh lebih banyak.

Aku mengira, sekolah lain itu sebenarnya sangat ketakutan dan nekat sekali mau ke situ. Mereka hanya modal banyak orang, tetapi nyalinya masih ciut.

Besoknya, dari sekolahku kembali mendatangi sekolah-sekolah yang ketahuan menyerang. Pokoknya, menurut teman-temanku, SMA 6 Yogyakarta haruslah jadi urusan nomor satu, untuk urusan tawuran! Tepuk jidat, deh!

Dimulai dari Ospek

Anak-anak kelas atas, misalnya 2 atau 3 mencari darah-darah segar penerus mereka untuk tawuran, sejak Ospek. Kami kelas 1, menunggu Ospek di depan kelas, lantai dua. Mirip rombongan kambing yang siap untuk disembelih.

Begitu peluit kencang berbunyi, pertanda Ospek dimulai, para panitia segera berlari. Naik lewat tangga, berteriak ke seluruh peserta Ospek.

“Ayo, cepat, cepat, Dik…!!!!”

“Jangan lambat, Dik!! Kayak kambing aja kalian lambat!!”

“Ayo, ayo, segera turun!! Turun semua, cepatttt!!!!”

Teriakan mereka dekat sekali dengan telingaku dan teman-teman. Bagaimana kami mau cepat, sementara kami harus mengantri untuk turun? Harus jalan pelan-pelan. Masa mau melompat dari lantai dua?

Kami digiring ke aula. Dibariskan sesuai kelas masing-masing. Diteriaki lagi, dimarahi lagi. Kalau ada peserta yang dianggap melanggar, langsung disuruh push-up.

Pernah ada yang lucu, peserta dihukum push-up bersama panitia.

“Ayo, kamu push up sama saya!”

Hitungan 10 atau berapa begitu, ditanya lagi, “Kamu masih kuat?”

“Masih, Kak,” jawab si peserta.

Padahal panitianya ngos-ngosan. Dia mengatakan, “Ya, sudah, kamu kembali ke barisan!”

Hahaha…

Perintah untuk semua peserta Ospek adalah, “Tunduk pejam mata Dikkkk!!! Tunduk pejam mata, jangan ada yang melek sedikitpun!”

Kami disuruh untuk tidak melihat yang dilakukan oleh para panitia di depan. Mungkin agar kami tidak boleh mengetahui yang akan dilakukan oleh panitia selanjutnya. Melek sedikit, ketahuan, langsung disuruh push-up.

Pada hari terakhir, panitia sudah mengetahui bakat-bakat terpendam kelas 1 untuk jadi penggiat literasi, eh, penggiat tawuran. Mereka bisa menganalisis dari wajah, sifat, kelakuan, fisik, dan lainnya. Mulai terbentuk pasukan penghancur sekolah lain.

Budaya Sekolah

sma-6-yogyakarta-5

Aku merasakan aneh memang, Namche punya budaya yang tidak ada di sekolah lain. Demi keakraban, kakak kelas menyuruh kelas 1 untuk membelikan rokok. Kadang dengan uang si kakak kelas, kadang pula dengan uang sendiri si anak kelas 1.

Pernah ada seorang anak yang menolak. Dia tidak mau membelikan rokok karena memang menganggap rokok itu haram dan tidak boleh dikonsumsi.

Ternyata, dia diincar oleh anak-anak kelas 2 dan 3. Pada hari Jumat, pulang sekolah, dia dan satu anak kelas 1 lainnya, “diculik” ke kawasan UGM. Selanjutnya, dipukuli oleh kakak-kakak kelas itu.

Puas dipukuli, para kakak kelas itu meminta maaf. Bersalaman. Seakan-akan kejadian barusan tidak pernah muncul. Mereka anggap itu sebagai sarana untuk keakraban saja.

Hadeh. Padahal muka sudah babak belur, dikira cuma main-main.

Budaya lain ketika acara Kartinian. Tiap tanggal 21 April, para murid diharuskan untuk memakai pakaian adat. Terserah mau pakaian adat apa.

lapangan-sma-6-yogyakarta

Ada dua orang kelas 1 yang tidak masuk. Satunya beralasan sakit, sedangkan satunya ikut kegiatan Kartinian juga di kampungnya.

Ketika mereka sudah masuk sekolah, diforum. Artinya diinterogasi oleh teman-temannya sendiri di ruangan sempit aula. Diberi tahu bahwa ada konsekuensi tidak ikut Kartinian.

Apakah konsekuensi itu? Cukup berat, bahkan sebenarnya sangat berat. Mereka ditelanjangi di tengah lapangan sekolah. Lapangan tersebut berada di depan sekolah.

Hanya menggunakan celana dalam, mereka dipertontonkan sedemikian rupa. Baju-baju seragam mereka dilepas. Bahkan ada yang main-main, baju seragam itu dipasang di tiang bendera, layaknya bendera Merah Putih.

Satu anak kelas 1 yang jadi korban menganggap itu seru-seruan saja. Sedangkan satunya, yang tidak ikut Kartinian dengan alasan sakit, menangis waktu dipanggil di kantor guru. Nah, guru juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka ketakutan menghadapi muridnya sendiri.

Demo yang Salah

sma-6-yogyakarta-6

Demokrasi dikenal di SMA 6 Yogyakarta, tetapi penerapannya kurang tepat. Ada satu murid terancam mau dikeluarkan dari sekolah. Dia melakukan pelanggaran yang berat.

Lucunya, teman-teman segangnya atau anak-anak yang nakal malah menuntut guru, terutama kepala sekolah. Caranya mereka mengajak semua murid untuk berdemo di aula.

Memang sih tidak membawa spanduk layaknya mahasiswa, tetapi mereka hanya berkumpul dan meneriakkan tuntutan.

Demo yang dipaksakan itu “menyerang” sebuah kelas yang sedang pelajaran. Pak Bahrun, guru Matematika, terganggu karena murid-murid yang sedang diajarnya dipaksa untuk keluar kelas dan menuju aula.

Beberapa anak membuat keributan di luar kelasnya. Memukul pintu dengan cukup keras. Pak Bahrun jelas tidak terima. Beliau berteriak, “Siapa tadi yang pukul pintu?!”

Tidak ada yang mau mengaku.

“Sini kalian! Saya berani hadapi kalian! Saya akan berjihad menghadapi kalian-kalian ini!”

Mendengar kata “jihad” dari Pak Bahrun, anak-anak nakal itu ketar-ketir juga. Mereka agak ketakutan karena ternyata Pak Bahrun juga bisa marah seperti itu! Akhirnya, mereka tidak jadi mengeluarkan murid dari kelasnya.

Oh, ya, demo itu berhasil menghadirkan kepala sekolah. Dari raut wajahnya, beliau tampak sangat ketakutan. Gemetar memegang mikropon. Aduh, Pak, kok jadi begitu sih?

Ada di Balik Itu

Meskipun sebagian besar anak-anak SMA 6 Yogyakarta nakal waktu itu, tetapi ada kisah menarik juga. Ada dua kakak kelasku yang seperti mutiara terpendam.

Keduanya pernah ikut tawuran. Namun, di balik itu, tersimpan kepandaian di otaknya.

Satunya, dengan kulit yang sawo matang, adalah kakak kelasku di SMP 5 Yogyakarta, SMP paling favorit di kota pelajar itu. Dia memang cukup pintar di sekolah tersebut.

Saat SMA, ikut larut dalam pergaulan yang salah, perokok, berubah menjadi semakin rajin di kelas 3. Waktu kelas 2, dia sering membawa buku pelajaran ke mana-mana.

Sering sholat Dhuha di musholla sekolah, sebelumnya meletakkan buku Biologi waktu itu kulihat. Pada akhirnya, dia berhasil masuk kelas 3 IPA.

Lulus sekolah, dia menembus juga jurusan Teknik Geologi UGM! Mantap juga itu.

Namun, ada yang lebih mantap. Kalau yang ini, kulitnya putih, kepalanya sering dicukur plontos.

Dia juga beberapa kali ikut tawuran kalau tidak salah. Perokok lumayan berat. Akan tetapi, berkat motivasi dari seorang guru Matematikanya, dia bangkit dari keterpurukan.

Dia belajar lebih rajin dan semakin rajin. Masuk kelas 3 IPA juga. Lulus, masuk Teknik Planologi ITB, ilmu tentang perencanaan kota! Ini sih lebih keren menurutku karena ITB gitu lho!

Sudah Berubah

Sekarang, keadaannya sudah jauh berbeda. SMA 6 Yogyakarta sudah tidak lagi tawuran atau terdengar kabar lagi melakukan kekerasan dengan sekolah lain. Manajemennya sudah berubah, iklimnya sudah lebih kondusif.

Penataan di sana-sini dilakukan. Hasilnya, sekolah ini mampu bersaing dengan sekolah lain dari segi prestasi. Bahkan menjadi sekolah berbasis research atau penelitian. Tidak luput juga dengan kewirausahaan.

Aku sebagai bagian dari alumnusnya merasa bangga juga dong. Masa sekolah kok dikenal di masyarakat sebagai sekolah tukang tawuran? Malu juga, lah.

SMA 6 Yogyakarta sudah menang dari anak-anak nakal yang ingin merusak sekolah. Mereka sudah kembali ke habitatnya dan semoga semakin baik saja.

Itulah cerita sekolahku. Silakan dikomentari dan ditunggu juga cerita sekolahmu ya!

kamis-menulis

Share This:

24 Comments

  1. Wah, terbayang mumetnya kalo jd guru di SMA 6 saat itu. Syukurlah sudah berubah. Pasti ada orang “kuat yg hebat” di balik perubahan tersebut.

  2. Alhamdulillah. Ngeri di awalnya, menyejukkan akhirnya. Ternyata ada di Yogyakarta yang terkenal kota pelajar, siswa tawuran sebegitu serunya.

  3. Wah…. membaca kisahnya jadi ngos-ngosan…..habis tegang terus. . tawuran. Ancam sana sini. Syukurlah endingnya berubah lebih baik napas.ini seperti melompat tidak beraturan…..kok seperti.ada paragraf melompat ya pikir saya. Mungkin gambarnya hilang……tapi tetap seru kok. Mantap Bung Rizky .. salam berkelahi…. eh.. literasi

  4. Luar biasa… Master Rizki, tulisannya sangat mengispirasi kita. Ternyata kota Pelajar yg terkenal masih ada juga tawuran. Sangat menyedihkan… Pelajar2 lebih sedang tawuran daripada mencari sesuatu yg lebih baik

  5. Proses kehidupan yang bernama perubahan terjadi di sekolah ini.
    Bukti jika yang salah bisa diperbaiki, bukti yang buruk bisa berubah menjadi prestasi.

    Sehat selalu Pak Rizky

  6. Selalu terpesona gaya tutur Mas Rizky yang jenaka runtut dan detail. Bisa menyaingi Mas Tere Liye. Novel baru kutunggu ya. Aku preorder 1 deh.

  7. Buat pelajaran kita Oak Rizky… Jangan memandang sesuatu dengan apa yang nampak. Di balik kebrutalan mereka ternyata ada mutiara terpendam yang pd akhirnya memberikan hal teristimewa.

  8. Kisah yg sama dengan yang saya alami, bedanya tahun 2000 saya sudah jadi guru dan harus menghadapi siswa yang selalu tawuran. Cape banget , tiap hari jumat semua guru harus siaga demi menjaga sekolah. Guru laki-laki melakukan sweping dijalan pokoknya ngeri banget. Alhamdulillah sejak tahun 2010 semua sudah berubah.

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.