Antara Komentar dan Pikiran Sendiri

Antara Komentar dan Pikiran Sendiri

Share This:

Sebenarnya, untuk berkomentar itu butuh yang namanya berpikir apa tidak sih?

Kalau pakai berpikir, kok banyak komentar yang terlihat ngawur dan nyatanya bisa muncul dari seorang manusia ya?

Bagi si pengomentar sendiri, kira-kira komentarnya akan berpengaruh di dirinya atau orang lain sih?

Tanya ke Guru

Alkisah, ada seorang murid bertanya kepada gurunya. Entah tidak disebutkan ini di mana, muridnya punya nama siapa? Dan, gurunya juga punya istri berapa? Sama sekali tidak disebutkan dan buat apa disebutkan coba?

“Wahai Guruku…”

Kalau ada sapaan begitu, gurunya tidak perlu menjawab, “Wahai…”

“Guru, kenapa sih hidup ini kok banyak masalah?”

Guru tersebut berpikir terlebih dulu. Ini penting sebelum dia berkomentar atau menyatakan pendapatnya.

“Sebenarnya bukan hidup ini yang banyak masalah. Yang jadi masalah adalah pikiranmu sendiri yang bermasalah!”

“Apa maksudnya itu, Guru?”

“Menurut guru, kamu itu sering berprasangka buruk kepada apa saja dan siapa saja. Bahkan levelnya sudah selalu. Selalu berpikir buruk, itulah masalahmu yang sebenarnya.”

“Lho, Guru, ” murid tersebut berhenti sejenak mengambil napas. Napasnya ada di situ juga kok, tidak perlu sampai ke belakang buat mengambilnya, “kenyataannya, aku memang selalu dapat masalah dalam hidupku sendiri.”

Guru tersebut berdehem. “Sebetulnya, setiap kejadian dalam hidup ini sifatnya netral. Normal. Tapi, pikiranmu sendiri yang bisa menilai hal tersebut bermasalah atau justru menguntungkan.”

“Mungkin lebih dijelaskan dengan lebih konkrit, Guru?”

“Hem, baiklah. Kita coba dengan lebih jelas. Menurut kamu sendiri, hujan itu bermasalah atau malah menguntungkan?”

Murid tersebut langsung menjawab, “Kalau bagi saya bermasalah, Guru. Sebab, kalau hujan ‘kan saya jadi basah kuyup, apalagi naik motor karena lupa bawa mantel atau jas hujan, Guru.”

“Oke, itu menurutmu. Sekarang kalau bagi tukang bakso sama tukang payung, hujan itu bermasalah atau malah menguntungkan?”

Si murid serasa mendapatkan pemahaman yang berbeda. Dia tetap harus menjawab, “Hujan itu bagi tukang bakso dan tukang payung akan menguntungkan, Guru. Sebab, dari situlah rezeki mereka bermula.”

“Berarti,” Guru melanjutkan, “yang masalah itu sebenarnya hujannya ataukah orangnya?”

Tidak bisa ditolak, murid tersebut menjawab, “Orangnya, Guru.”

Prasangka dan Hasil yang Tak Disangka

Antara prasangka dan pikiran dalam diri itu menentukan yang terjadi nanti, lho! Masa sih? Kalau berpikir mukanya ganteng, padahal aslinya tidak, apakah akan benar-benar ganteng? Wah, kalau yang ini sih, susah dijawab!

Prasangka baik, hasilnya baik. Prasangka buruk, hasil juga buruk.

Bila ada orang merasa terus dapat pengalaman negatif dan tidak menyenangkan, maka itu karena pikirannya yang bermasalah.

Ada kemungkinan, ketika kita dapat masalah, maka Allah bisa jadi membantu kita untuk memperbaiki pola dan cara berpikir kita. Tujuannya, agar hidup kita tidak selalu dirundung masalah.

Contoh Penerapan yang Lain

Tadi sudah disebutkan contoh tentang hujan. Adakah contoh lainnya? Oh, silakan cek di bawah ini! Yang mana sering kita rasakan?

1. Orang Lain Naik Jabatan

Bagi orang positif: “Saya akan menggali ilmu yang bermanfaat dari dia.”

Bagi orang negatif: “Dia naik jabatan begitu pasti sikut kanan, kiri, injak bawah, jilat atas.”

2. Orang Lain Pergi Liburan ke Luar Negeri

Bagi orang positif: “Semoga saya bisa seperti dia nanti.”

Bagi orang negatif: “Halah, fotonya paling cuma mau pamer saja.”

3. Baca Status di Whatsapp atau Facebook

Bagi orang positif: “Wah, infonya sangat bermanfaat! Makasih ya!”

Bagi orang negatif: “Basi infonya! Saya sudah pernah tahu sebelum yang bikin status itu lahir.”

4. Status Humor di Medsos

Bagi orang positif: “Luar biasa! Bikin aku semangat karena senyum pagi-pagi.”

Bagi orang negatif: “Bener-benar nggak lucu! Garing lu!”

5. Dapat Gaji Bulanan

Bagi orang positif: “Alhamdulillah, yang ditunggu-tunggu sudah tiba! Pertama, disedekahkan. Lanjut untuk belanja kebutuhan lain.”

Bagi orang negatif: “Gajian terus, jumlahnya gak cukup-cukup juga. Bagaimana ini pemerintah, kok nggak perhatian sama saya sih?”

6. Pejabat Pakaian Sederhana

Bagi orang positif: “Masya Allah. Meski sudah jadi pejabat, tetap hidupnya sederhana ya!”

Bagi orang negatif: “Palingan pencitraan saja. Pejabat kok pakaiannya lusuh dan kayak orang desa begitu.”

7. Punya Suami yang Baik

Bagi orang positif: “Alhamdulillah, mau berapapun gaji suamiku, tetap aku bersyukur kepada Allah.”

Bagi orang negatif: “Suami baik saja gak cukup. Mana gajinya kecil lagi?!”

Kesimpulan

Jelas masih banyak contoh lainnya. Contoh yang menyajikan persepsi berbeda antara orang yang positif pikirannya dengan negatif.

Sampai di sini, mau pilih yang mana?

 

 

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!