Menyikapi Demonstrasi Mahasiswa 11 April 2022

Menyikapi Demonstrasi Mahasiswa 11 April 2022

Share This:

Tanggal 11 April yang lalu, saya tidak masuk kerja. Alasannya karena sakit pinggang. Sakit ini, entah karena apa, kemungkinan ada kaitannya dengan salah duduk, atau bahkan vaksin booster Sabtu lalu.

Saya pada hari ini bertemu dengan salah seorang staf. Kami membahas tentang demonstrasi mahasiswa yang terjadi kemarin. Termasuk Ade Armando yang dihujani pukulan, tendangan, dan kemaluan, eh, pokoknya perlakuan yang membuat dia malu sekeluarga!

Staf tersebut mengatakan, “Sebenarnya demonstrasi yang dituntut kemarin itu apa sih? Kan sudah selesai. Pemerintah mengatakan bahwa fix tidak ada tiga periode.”

Saya mulai mengangguk. Dia meneruskan, “Kalau pun sampai lima periode, ‘kan tidak masalah juga. Yang pilih nanti ‘kan masyarakat. Jika memang maju lagi, tapi tidak dipilih masyarakat, kan tidak bisa juga.”

Saya menimpali kalimatnya, “Mungkin yang ditakutkan atau dikhawatirkan masyarakat itu adalah amandemen UUD. Di situ dijelaskan bahwa presiden bisa terpilih lagi untuk dua periode.”

“Tapi memang mengubah UUD itu tidak gampang.” Katanya lagi.

Saya mengangguk, pertanda setuju. Bahkan saya tambahkan kalau mengubah UU itu cukup sehari saja.

Tentang Pertamax

Berikutnya yang menjadi sorotan demonstrasi itu adalah naiknya harga Pertamax. Dia punya pendapat begini, “Sebenarnya, kalau Pertamax naik itu memang wajar. Karena Pertamax itu konsumsi untuk orang kaya. Nah, orang kaya pasti lebih memilih Pertamax daripada Pertalite. Masa Pertamax mau disubsidi juga?”

Oh, ya, benar juga ya? Pertamax mau naik jadi 50 ribu perliter itu sebenarnya juga tidak usah dipermasalahkan. Karena toh bukan konsumsi semua orang.

Pada awalnya saya berpikir masyarakat adalah pengguna Pertamax. Iya, benar, tapi masyarakat yang mana dulu? Saya yakin sebagian besar masih menggunakan Pertalite. Dan, bensin jenis tersebut tidak naik sama sekali.

Tapi Memang

Suasana demonstrasi pastilah muncul yang namanya psikologi massa. Satu orang berbuat atau memulai suatu perbuatan, bisa ditiru oleh banyak orang lainnya.

Makanya, dalam hal ini adalah kasus yang menimpa Ade Armando. Saya lihat wajahnya yang dipukuli dan ditelanjangi, Subhanallah. Banyak yang menyatakan rasa gembira ketika dia dapat perlakuan yang semacam itu. Kalau saya sih, hem, sama juga! Hehe…

Kejadian itu menjadi wanti-wanti sekaligus kehati-hatian bagi buzzer yang berjiwa sampah, bahwa masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim pasti tidak akan rela agamanya dihinakan. Tidak ada ikhlas ketika agama yang mulia ini diinjak-injak. Karena pada akhirnya, yang menginjak-injak agama, itulah yang akan diinjak-injak pula.

Tentang demonstrasi mahasiswa kemarin itu juga, saya merasa cukup salut dengan mereka yang masih menjalankan ibadah puasa. Sungguh berat, bahkan sangat berat, situasi panas, berdesak-desakan, terlalu banyak berdiri, berteriak-teriak, berjalan-jalan, dan sebagainya, tetapi terus menuntut pemerintah. Yah, memang sudah begitu, lah. Ketika pemerintah memutuskan untuk memakai sistem demokrasi, maka siap-siaplah menerima demonstrasi.

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.