Tentang Pengeboman Gereja Katedral di Makassar, Pilih Mati kok di Gereja?

Tentang Pengeboman Gereja Katedral di Makassar, Pilih Mati kok di Gereja?

Share This:

Pada hari Ahad (29/03), telah terjadi kasus pengeboman gereja katedral di Makassar pukul 10.29 WITA. Wah, fitnah apalagi ini? Apakah ditujukan ke oknum orang Islam?

Kasus pengeboman gereja katedral di Makassar tersebut memang menimbulkan kegemparan, tidak hanya di Sulawesi Selatan, tentunya juga di seluruh wilayah Indonesia. Mungkin dunia juga sama. Dan, nyatanya, kasus itu berlanjut hingga muncul sebuah screenshot yang menyerang muslimah lainnya. Seperti ini gambarnya:

pengeboman-gereja-katedral-di-makassar

Nah, kalau sudah seperti itu, apakah si pelaku bom bunuh diri mau bertanggung jawab? Tentunya tidak bisa, karena mereka sudah bablas ke alam sana. Apakah masuk surga seperti keinginan mereka? Hem, entahlah, kalau mati bunuh diri sih yang jelas ada dalilnya akan masuk neraka Jahannam. Naudzubillah min dzalik.

Selalu Dituduh Teroris

Islam memang agama yang luar biasa sempurna. Hal ini karena yang melindungi langsung adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Betapa banyak fitnah dan caci maki yang ditujukan ke agama Islam, beserta pemeluknya. Bahkan sang pembawa Islam saja, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga tidak luput dari fitnah. Beliau disebut penyihir, orang gila, atau pembohong.

Kalau nabi saja diperlukan seperti itu, apalagi kita? Ya ‘kan? Namun, lihatlah. Semakin besar fitnah tersebut kepada Islam, justru pesonanya makin kelihatan. Makin direndahkan, justru Islam makin tinggi. Makin dihina, justru Islam makin mulia.

Baca Juga: Listrik: Hidup Segan, Mati Sudah Pasti

Tidak jarang, saat agama Islam ini diserang oleh musuh-musuhnya, justru orang luar malah tertarik. Dia ingin tahu, seperti apa sih Islam? Kok sampai dihina-hina seperti itu? Pada akhirnya mereka memang tertarik masuk. Mempelajari Islam. Mengucapkan dua kalimat syahadat. Hingga menjadi muslim atau muslimah yang taat.

Kita bisa temukan lebih banyak orang kafir yang masuk Islam, daripada orang Islam yang menjadi kafir. Orang yang sampai ke luar dari Islam, maka sejatinya dia bodoh betul. Betul-betul bodoh! Lha wong agama sudah sangat sempurna ini, masih dianggapnya kurang juga? Lalu, ke luar, terus mencari agama lain yang lebih sempurna? Waduh, Bambang, mau dicari sampai bintang Aldebaran sana yang besarnya jauh melebihi bumi, agama yang lebih mulia daripada Islam tidak akan pernah ada!

Sempurnanya Islam karena mengatur semua aspek kehidupan manusia. Seperti kata orang lain, Islam mengatur dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan tidur itu sendiri, semuanya ada dalam Islam. Coba cari agama lain yang bisa mengatur sedetail itu? Demi Allah, tidak ada dan tidak pernah ada.

Sekarang, ketika Islam dituduh teroris lagi, agama ini kembali diuji. Pemeluknya kembali dilihat. Apakah sanggup untuk melalui ujian ini? Bisa melewati fitnah ini?

Sebenarnya, fitnah-fitnah semacam ini, sudah pernah kita hadapi. Menimpakan kesalahan kepada laki-laki yang berjenggot dan bercelana cingkrang, sedangkan perempuannya berjilbab besar dan bercadar warna hitam, sudah pernah kita alami. Pasangan suami istri yang menjadi pelaku itu, kalau benar, langsung dicap teroris. Padahal, masih banyak yang lebih teroris, tidak dianggap teroris. Kamu tahu kelompoknya ‘kan?

Apakah kita jadi percaya dengan kenyataan itu? Sebagian dari kita mungkin akan percaya, lalu menasihati anak-anaknya yang memilih model pakaian seperti itu.

“Nak, kamu pakaiannya biasa-biasa saja. Tuh, yang ngebom saja penampilannya juga kayak kamu. Bapak nggak mau kamu nanti dicap teroris.”

Anaknya pun diuji, apakah langsung ikut perkataan bapaknya atau tidak? Apakah tetap istiqomah atau tidak? Kalau istiqomah dengan model pakaian mengikuti Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka itu sangat bagus. Namun, jika hanya karena ikut-ikutan teman, lalu kembali ke penampilan awal. Penampilan sebelum hijrah.

Saya pernah punya teman waktu saya masih kuliah. Waktu itu, ada acara pendidikan dasar Koperasi “Kopma” UGM. Pertama ketemu, Masya Allah, penampilannya sangatlah ustadz. Bercelana cingkrang, baju gamis, selalu pakai songkok, jenggot tipis, dan ada satu yang hilang pada kebanyakan muslim sekarang, yaitu: murah senyum. Teman saya itu jadi kelihatan menyenangkan karena senyumnya memang ramah betul.

Jika tidak salah ingat, ketika itu saya masih semester 3. Dia adalah adik angkatan saya. Beda fakultas, beda jurusan. Tapi tidak beda jenis kelamin, halah.

Eh, waktu ketemu lagi beberapa tahun atau bulan setelahnya, di koperasi mahasiswa itu, Subhanallah, dia berubah penampilan. Rambutnya trendi banget, kaosnya ngejreng dan tampak gaul, sepertinya keluaran distro, sepatu kets, celana jins, pokoknya anak muda banget, lah.

Kok saya tidak terpikir untuk bertanya ya? Kenapa dia berubah penampilan? Kenapa celananya sekarang di bawah mata kaki? Harusnya saya bertanya, ada masalah apa? Biasanya ada masalah, bukan? Setiap orang Islam pastilah punya masalah. Tapi, mereka kembalikan ke Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara berdoa. Meskipun doanya belum dikabulkan sesuai kemauan mereka, tetapi Allah bisa saja membalasnya dalam bentuk lain.

Padahal Berpendidikan Lho!

Okelah, seandainya dari hasil penyelidikan benar, bahwa pelaku bunuh dirinya adalah orang-orang yang berpenampilan sunnah, lalu mencap dan menggenalisir bahwa semua orang Islam itu teroris, maka ini yang sangat perlu diluruskan. Pelakunya itu hanyalah oknum, tidak bisa disamakan semua muslim seperti itu.

Para orang tua juga mesti sadar dan paham bahwa penampilan anaknya menjadi tanggung jawab pribadi juga. Anak yang sudah tumbuh dewasa mempunyai hak untuk menentukan sendiri penampilannya. Saya pernah mendengar cerita yang disiarkan lewat radio Islam, tentang seorang muslimah yang sampai dibakar baju-baju gamis dengan cadarnya oleh bapaknya sendiri. Muslimah tersebut juga diusir dari rumah karena orang tuanya tidak setuju dengan penampilan si anak.

Lah, itu ‘kan sangat lucu. Anaknya diceritakan sudah menempuh kuliah, bapaknya masa tidak? Apakah bapaknya tidak berpendidikan sama sekali? Terpengaruh ajaran liberalisme dan feminisme hingga timbul kebencian kepada orang-orang yang menggunakan penampilan Islami, bahkan terhadap anaknya sendiri? Sekali lagi, apakah bapak tersebut tidak berpendidikan? Kalau berpendidikan, dulunya sekolah di mana?

Baca Juga: Sepertinya Masuk Surga Lebih Mudah Daripada Masuk PNS

Jika seorang muslimah dikatakan sebagai teroris karena penampilannya yang berhijab dan bercadar, maka semestinya setiap yang berdasi dan berjas rapi itu dicap sebagai koruptor. Atau cewek yang berpenampilan seksi langsung saja dikatakan sebagai pelacur. Ya ‘kan? Sekalian saja disamakan semua, biar adil. Jangan hanya muslimah bercadar dikatakan teroris karena kasus ini, lalu yang lain teroris semua?

Sedikit Perenungan

Setiap dari kita pastilah akan mati. Tidak ada yang abadi di dunia ini, kecuali Allah. Mati sudah pasti, tetapi memilih mati di mana itu bagian dari cita-cita lho!

Muslim yang baik dan berpikir jernih akan berangan-angan untuk meninggal di tempat yang mulia. Contohnya adalah masjid. Lebih ingin lagi mungkin meninggal di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi saat umroh atau ibadah haji. Meninggal dalam keadaan sholat, dalam keadaan bersujud, itu adalah kematian yang sangat-sangat indah. Insya Allah husnul khotimah. Meninggalkan dunia dengan husnul khotimah menjadi awal perjalanan akhirat yang bagus.

Terus, si pelaku bom bunuh diri seperti dalam kasus pengeboman gereja katedral di Makassar itu kok memilih mati di gereja? Mati di tempat ibadahnya orang Nasrani? Ini bagaimana? Di mana pikirannya? Jangan-jangan nanti ditanya malaikat, dianggap orang Nasrani karena memilih mati di gereja? Hehe…

Apalagi meninggalnya karena mengebom lagi! Mencelakakan orang lain, termasuk dirinya sendiri. Terus, kalau sudah seperti itu, akibat positifnya apa coba? Apa orang Nasrani akan berbondong-bondong masuk Islam? Begitu maksudnya? Hem, itu jelas logika yang sangat bodoh.

Jangan mengebom bunuh diri, mengacungkan senjata saja ke orang lain, dalam Islam itu terlarang kok! Sebaliknya, menyingkirkan duri di jalan demi kemaslahatan orang lain itu termasuk amalan yang istimewa. Bahkan, dapat menyebabkan si pelaku penyingkir duri itu masuk surga.

Apa dengan cara bom bunuh diri itu agama Islam tidak akan dijadikan bulan-bulanan? Nyatanya, sekarang terjadi. Apalagi dari orang-orang yang sudah lama memusuhi Islam. Mereka mendapatkan angin segar untuk kembali melontarkan kata-kata pedasnya untuk agama Allah ini. Momennya ada, mungkin dari situ, mereka mendapatkan transferan dananya. Yah, namanya juga buzzer agama, maksudnya buzzer yang menyerang agama, tetapi mereka sendiri tampak tidak beragama.

Kasus pengeboman gereja katedral di Makassar tersebut akan menyebabkan berbagai ormas Islam kelimpungan. Hubungan baik yang selama ini terjalin mesra dengan pemeluk agama lain, termasuk antarmuslim sendiri, akan menjadi retak. Ormas-ormas Islam akan sibuk untuk memikirkan langkah selanjutnya, seperti mencegah kader-kadernya untuk tidak berkomentar yang sembarangan, demi menjaga situasi agar tidak semakin kacau.

Kesimpulan

Ajaran yang menganjurkan untuk bunuh diri dengan mencelakai agama lain, itulah yang sangat perlu diwaspadai. Untuk anak-anak kita yang sedang bersemangat belajar agama, perlu dicek, belajarnya di mana, ustadznya siapa, ajarannya bagaimana? Jangan sampai, asal ikut kajian saja, tetapi ujung-ujungnya berpaham Khawarij, yang memusuhi pemerintah yang sah sekaligus sampai mengkafirkan sesama muslim. Kalau muslim lain sudah gampang dicap kafir, maka orang kafir sendiri akan makin dibenci dan dimusuhi.

Baca Juga: Temukan 5 Manfaat Ketika Berhasil Menemukan Kepribadian Anda

Share This:

Silakan tinggalkan komentar ya!

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi ya!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!