Hidup adalah Perjuangan

Hidup adalah Perjuangan

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Motivasi bisa berasal dari sebuah kalimat. Namun, dalam tulisan ini, saya menulis tentang dua buah kalimat motivasi. Apa saja itu? Mari kita ganti paragraf. Dan tidak perlu sampai ganti parabola.

Dua kalimat tersebut ditulis begini:

Hidup adalah perjuangan. Selalu ada suka dan duka di dalamnya.

Apa yang bisa kita ambil dari dua kalimat tersebut? Tentunya, kita tidak bisa mengambil uang dari dua kalimat tersebut, memangnya ATM?

Mari coba kita bahas makna dari dua kalimat di atas. Sebelum membahas makna, kamu sendiri sudah makna malam belum? Nanti lapar lho!

Dua Makna

Dalam kalimat pertama, hidup adalah perjuangan. Hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan partai politik, lho! Apalagi menyangkut mematikan mikropon. Eits, beda sama sekali.

Hidup selalu dipenuhi dengan perjuangan-perjuangan. Ada yang mudah diraih, ada juga yang sulit. Mudah kalau tahu caranya, tidak banyak halangannya, waktunya lebih pendek biasanya, dan sudah ada contoh berhasilnya. Makanya, tinggal dicontek saja. Meskipun mencontek, jangan seperti prinsip murid dengan CBSA. Lho, apa itu CBSA? Artinya adalah Contek Bila Situasi Aman! Halah..

Kalau perjuangan yang susah, biasanya itu hasilnya lebih besar. Hidup ini adil kok. Mau yang mudah, mungkin cepat sekali perginya. Yang susah, itu lebih bertahan lama.

Kita lihat saja dalam audisi-audisi menyanyi. Hanya dalam tempo beberapa bulan, mereka sudah menjadi artis. Menghuni layar kaca kita. Padahal, yang lebih suka menghuni layar kaca itu bukanlah manusia, melainkan semut. Hayo, kalau tidak ada siarannya, pasti banyak semutnya toh?

Namun, lihatlah kini! Ke mana mereka? Lebih banyak yang tenggelam. Menjadi artis karbitan, hilangnya pun cepat nian. Sementara artis yang membangun karir dari nol, tentu saja pas masih anak-anak atau remaja, bukan sejak bayi, mereka lebih dapat berada dalam ingatan masyarakat. Agak lama pula.

Oleh karena itu, jika ada yang mengatakan sukses bisa lebih cepat, maka itu nonsense. Overdome. Sukses selalu berbanding lurus dengan perjuangan. Sementara kegemukan berbanding lurus dengan banyaknya makan. Ups!

Makna lainnya, selalu ada suka dan duka di dalamnya. Ini juga jelas karena kita memang masih berada di dunia. Belum pernah ada yang baca ini sampai ke negeri akhirat. Kan di sana memang ada dua, kalau bukan surga, ya, neraka.

Kalau di surga itu bahagia terus. Sementara di neraka, tersiksa terus. Dunia adalah perpaduan keduanya. Tidak akan mungkin orang akan bahagia terus maupun sedih terus. Keadaan pastilah berbalik. Hidup ini seperti roda pedati. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang menginjak kotoran.

Wajar, ketika keadaan bahagia, maka kita menjadi suka. Sedangkan saat keadaan tidak sesuai harapan, maka kita sedih. Kita merasa duka. Suka dan duka menjadi bagian dari romantisme kehidupan. Sedangkan suku dan duku menjadi nama identitas dan satunya nama buah.

Contoh Nyata

Berkaitan dengan hidup adalah perjuangan, selalu ada suka dan duka di dalamnya, lebih lengkap kalau ada contohnya. Hem, contoh nyatanya di pagi hari, deh!

Seorang muslim diwajibkan untuk salat Subuh. Bagi yang laki-laki, banyak ulama menyatakan hukumnya wajib salat Subuh berjamaah di masjid. Sedangkan bagi yang perempuan, bisa salat di rumah, bisa juga di masjid.

Tinggal pilih yang mana lebih bagus untuk perempuan? Kalau tidak menimbulkan fitnah, maka akan lebih bagus ke masjid. Sedangkan kalau bisa menimbulkan fitnah, maka lebih baik di rumah. Jangan karena berpotensi timbul fitnah, lalu kita ke tempat fitness. Nggak nyambung kalee…!

Jika belum terbiasa, maka sungguh sebuah perjuangan untuk bisa bangun pagi. Kalau bangun pas adzan Subuh itu biasa, maksudnya masih standar. Nah, bila bangunnya sebelum Subuh, ini yang dikatakan luar biasa. Apalagi jika dia salat Tahajud dulu. Waow, lebih mantap lagi tuh!

Mengacu kepada sukanya, jelas salat Subuh itu nilainya besar sekali. Dalam sebuah hadits, salat dua rakaat sebelum Subuh itu nilainya lebih tinggi daripada dunia dan seisinya. Itu baru salat sunnah lho, apalagi yang salat fardhu betulan. Masya Allah, lebih dahsyat lagi!

Pahala yang sedemikian besar akan disia-siakan begitu saja oleh orang-orang yang di hatinya ada bakat kemunafikan. Dia tidak suka dengan syariat Islam, contohnya adzan Subuh yang dirasa “mengganggu” waktu tidur mereka. Itu menjadi duka baginya. Bisa menambah dosa kepadanya. Dan, ada orang yang pernah seperti itu. Memprotes speaker masjid yang mengarah ke rumahnya. Padahal, hem, rumahnya memang dekat sekali dengan masjid. Hanya terpisah jalan kecil.

Tidak Perlu Galau

Kalau ingin sukses, lupakan alasan. Kalau ingin alasan, lupakan sukses. Tinggal dibolak-balik saja ini, kayak martabak.

Sudah tahu hukumnya bahwa hidup ini penuh perjuangan, ada suka dan duka, maka semestinya memang tidak perlu galau. Sebab galau itu adanya di cerita cinta, yaitu: Galau dan Ratna. Eh, kalau itu Galih dan Ratna deng! Hehe…

Jika tidak mau menempuh perjuangan, maka tidak apa-apa juga. Namun, ya, konsekuensinya tidak menjadi apa-apa. Menjadi orang yang biasa-biasa saja, bahkan di dalam biasa, soalnya lawannya adalah orang luar biasa. Jadi, orang bisa jadi luar biasa, dia sendiri dalam biasa. Begitu ‘kan lawan katanya?

Namun, tetap perlu diingat juga, perjuangan itu ada suka dan dukanya. Jadi, tidak hanya duka atau kesusahan semata, setelinga, sehidung, dan serambut, tetapi juga sukanya.

Temukan sukanya seperti itu, perbanyak sukanya, maka perjuangan akan terasa lebih mudah. Perjuangan akan terasa lebih indah. Apalagi panggilannya memang Indah. Ah, kalau itu teman kantor saya yang masih cewek.

kamis-menulis

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

8 Comments

  1. Oke deh, saya tidak perlu galau. Tidak mau berjuang ya tidak apa-apa, konsekuensinya tidak mendapat atau menjadi apa-apa. Huh, meohok sekali. Santai tetapi mengena. Salam, Pak Rizki.

  2. Iya nih pak. Rumahku dekat dengan musola tapi sering nggak ke musola saat subuh. Hiks…hiks…butuh perjuangan memang..m

    1. Yah, sama-sama saling mengusahakan, Pak. Saya juga pernah terbangun kesiangan, jadi terlewat salat Subuh di masjid.

  3. Pemaknaan yang santai diakhiri dengan indah. Semoga kita bisa mendapatkan keberhasilan yang bukan karbitan.

    1. Ya, nggak juga sih Ambu, penulis karbitan itu biasanya cerita-ceritanya memang tidak bermutu, hehe..

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.