Hari Ibu dan Makna yang Tersembunyi

Hari Ibu dan Makna yang Tersembunyi

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

Kemarin, seperti kita tahu, diperingati sebagai Hari Ibu. Tanggal 22 Desember. Meskipun begitu, kemarin juga hari mati lampu. Terbukti di tempatku, mati lampu dari jam 9-an sampai sore.

Sebelum bicara lebih jauh, yah, jauhnya tidak sampai Jakarta sih, bagaimana sih sejarah Hari Ibu? Ternyata, hal itu lahir dari sebuah Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta. Dari situ menjadi tonggak sejarah perjuangan kaum perempuan yang tentu saja ingin merdeka juga. Kongres itu berlangsung dari tanggal 22-25 Desember 1928.

Diorama Kongres Perempuan

Fenomena Medsos

Hari Ibu menjadi momen untuk ingat ibu. Aneka rupa meme atau twibbon membanjiri lini media sosial. Ada yang foto dengan ibunya. Ada yang berpelukan mungkin atau selfie, atau yang lainnya. Nah, selfienya itu tentu ketika si anak sudah dewasa ya? Tidak mungkin sewaktu bayi pegang hape sendiri terus berselfie dengan ibunya.

Ketika banyak postingan seputar ibu itu, ada juga counternya. Ada juga “perlawanannya”. Misalnya, peringatan Hari Ibu dianggap gaya-gayaan saja. Soalnya disuruh cuci piring juga tidak mau. Lho, bukannya cuci piring tidak mau, tapi ‘kan ibu sudah membersihkannya. Masa mau dibersihkan ulang? Haha…

Ada pula gambar kartun. Anak-anak ramai datang di dekat ibu. Mereka berselfie ria dengan harapan foto ibunya juga muncul di gambar. Eh, setelah tanggal 22 Desember, mereka pergi semua. Ibunya ditinggalkan sendiri.

Hari Anak Kurang Ajar

Saya menulis subjudul itu karena melihat sebuah story di Facebook milik teman saya. Dan, saya yakin bukan teman saya yang bikin. Dia cuma ambil dari orang lain. Katanya, kemarin adalah hari anak kurang ajar! Ibunya sudah mengandungnya selama 9 bulan, tetapi ingatnya cuma satu hari! Waow, makanya namanya hari anak kurang ajar!

Sepintas, benar juga ya! Ikut-ikutan memperingati Hari Ibu, tetapi dalam keseharian, berbuat kurang ajar dengan ibu. Tidak berbakti kepada ibu. Begitu kok mengaku senang dengan Hari Ibu?

Padahal, untuk mengingat ibu itu tidak perlu hari khusus. Atau membawakan hadiah cuma pas Hari Ibu. Hari lainnya tidak. Kasih uang juga tidak.

Apalagi lokasinya berdekatan. Bahkan masih satu rumah dengan ibunya. Justru kesempatan untuk berbakti itu sangatlah banyak. Namun, kok ya tidak dimanfaatkan dengan baik gitu lho!

Memang Beruntung

Saya tinggal di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Sementara ibu saya tinggal di Jogja. Kalau ingin berkomunikasi, lebih bagus memang lewat video call.

Sering yang menjadi masalah itu adalah sinyalnya yang ongol-ongol. Gambar jadi tidak terlalu jelas, suara pun putus-putus.

Namun, tetaplah saya syukuri. Masih bisa menatap wajah kedua orang tua meskipun jauh di seberang laut sana. Beruntunglah yang masih dekat lokasinya dengan orang tua. Apalagi mereka tinggal dengan kita. Dan, kita pun bisa merawat mereka.

Saya teringat dengan om saya. Waktu ibunya alias nenek saya sakit tua hingga kurus kering, om saya itu yang merawatnya. Memandikan, memakaikan baju, pokoknya sangat berbakti, lah.

Hingga akhirnya ibunya meninggal dunia. Ya, nenek saya meninggal dunia. Om saya jelas bersedih sekali. Namun, dia pasti merasa senang karena bisa berbakti di saat-saat terakhir. Bapaknya sudah meninggal dunia lama. Tinggal ibunya. Itulah kesempatannya untuk mendapatkan surga.

Dibalik Begini

Jika dalam kondisi anak-anak cuma ingat ibunya pas Hari Ibu, terus pergi meninggalkan, maka sebetulnya tidak bisa disalahkan anak 100%. Mungkin saja, mungkin lho ya, dulu ketika masih kecil, anak-anak juga dikasari oleh ibunya. Diperlakukan tidak bagus. Akhirnya, anak-anak semacam itu menyimpan semacam “dendam” yang terbalaskan di masa dewasanya.

Seorang dosen membuat status di Facebook tentang Hari Ibu. Apakah dalam peringatan Hari Ibu itu, banyak ibu yang mengevaluasi diri bagaimana dia mendidik anak-anaknya? Kok Hari Ibu kesannya satu arah saja. Maunya ibu yang diistimewakan. Sementara mengistimewakan orang tua itu terjadi karena banyak faktor.

Mungkin juga, ketika dulu ibunya marah, dia langsung melontarkan doa yang buruk kepada anaknya. Kata-kata seperti, “Dasar anak nakal!”

Atau seperti, “Dasar anak bodoh!”

“Anak durhaka!”

Ingat, doa yang cepat terkabul adalah doa orang tua kepada anaknya. Lebih cepat lagi adalah doa ibu kepada anaknya.

Saya teringat dengan kisah nyata tentang Syekh As-Sudais, imam Masjidil Haram. Ini sebuah kisah masa kecil beliau yang cukup mengharukan.

Suatu ketika, As-Sudais kecil bermain-main di dekat makanan yang baru saja dihidangkan oleh ibunya. Oleh karena iseng, dia taburkan pasir di atas makanan itu. Mungkin sambil tertawa juga, karena merasa lucu.

Sang ibu ketika melihat hal itu tentu saja marah. Yah, mana sih ibu yang tidak marah melihat masakannya diperlakukan sembarangan oleh anaknya?

Namun, ibu tersebut tidak mengatakan yang jelek-jelek kepada anaknya. Ibu tersebut marah sambil mengucapkan, “Semoga kamu jadi imam di Masjidil Haram!”

Doa yang dilakukan sambil marah juga bisa terkabul lho. Dan betul, As Sudais tumbuh menjadi pemuda yang cinta dengan Al-Qur’an. Dia terus belajar dan semakin meningkatkan hafalannya. Alhamdulillah, beliau menjadi imam Masjidil Haram betulan. Sampai sekarang beliau masih hidup.

Syekh As-Sudais

Kata teman saya, seorang ustadz pengelola pondok pesantren, meskipun Syekh As-Sudais sudah berusia lebih dari 50 tahun, raut wajahnya tetap terlihat segar dan muda. Teman saya tersebut mengatakan bahwa hal itu karena Syekh As-Sudais rutin melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Raut muka dan mulutnya membaca dengan bacaan yang benar. Hal itu seperti senam bagi wajah. Ujungnya, wajah jadi diberkahi oleh Allah sehingga tampak menyenangkan ketika dilihat.

Masih Bisa

Surga masih terbuka bagi yang ingin berbakti kepada ibu dan ayah, lho! Hari Ibu yang sebenarnya nanti adalah suatu hari, ketika kita, ibu, dan bapak kita bisa berkumpul bersama kembali di surga. Itulah hari yang paling baik di antara semua hari. Insya Allah. Begitu pula harapan saya. Semoga terkabulkan semua. Aamiin..

kamis-menulis

Jika Dirasa Tulisan Ini Bermanfaat, Share Ya!

9 Comments

  1. Tergantung prmahaman masing-masing memaknai hari ibu. Tiap waktu tetap harus cinta ibu. Tapi gak salah juga bila satu hari dianggap sangat spesial untuk memberi penghargaan kepada ibu. Memberi perhatian yg lebih dr hari2 biasanya. Sy sbg ibu sangat bahagia mendapatkan perhatian lebih di hari istimewa ini. Apalagi mendapat hadiah sesuatu yg tdk kesampaian kalo beli sendiri, hihihi..
    Namun doa anak tentu melebihi segalanya..

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.