Hanca dalam Dua Keadaan

Hanca dalam Dua Keadaan

Share This:

Baru tahu, ada kata dalam bahasa Indonesia yang berbunyi “hanca”. Ternyata, artinya adalah pekerjaan yang tertunda. Ada tulisan tentang ini? Oh, ada dong, simak di bawah ini ya!

Munculnya hanca itu memang ada penyebabnya. Saya coba mencari artikel lain tentang hal ini. Ada memang beberapa penyebab. Namun, menurut saya, penyebab hanca itu karena kita memang punya pekerjaan! Coba tidak ada pekerjaan, pastilah tidak akan tertunda bukan?

Ini yang Paling Sering

Menurut saya lagi, hanca yang paling sering terlihat adalah menunda-nunda sholat. Wah, kalau yang satu ini sudah dianggap sangat wajar dan menjadi kebiasaan yang sangat mengakar! Banyak sekali orang yang lebih memilih pekerjaan lain daripada sholat. Padahal sholat tidak sampai lima menit, tetapi sulit sekali untuk diwujudkan.

Bisa dilihat dari kita, keluarga, tetangga, atau teman-teman. Saat adzan berkumandang, eh, ada saja alasan untuk menunda sholat. Mau itu merokok dulu, lah, minum kopi dulu, lah, tidur dulu, lah, dan lah-lah lainnya.

Apalagi jika waktu sholat yang terasa panjang. Isya misalnya. Banyak orang mengira bahwa waktu sholat Isya itu sampai Subuh. Ternyata tidak. Waktu sholat hanya sampai tengah malam. Makanya, sering orang terjebak, nanti saja sholat Isya, eh, baru bangun menjelang Subuh. Ini yang tidak benar.

Kalau sholat dijadikan hanca alias selalu ditunda-tunda, jangan-jangan rezekinya ikut tertunda, lho! Bisa saja ‘kan? Katanya ingin dapat rezeki yang banyak dan berkah, tapi kok tidak mau sholat? Menunda-nunda sholat hingga di akhir waktu atau bahkan melewati waktunya.

Saya pernah punya teman kuliah. Bila dilihat dari wajah dan pembawaannya, memang baik sih. Waktu itu, dia datang ke kost teman saya yang lain. Masih sama satu kelas, jurusan, dan angkatan. Dia datang sudah sangat sore. Langsung sholat Ashar. Rupanya, begitu salam, terdengar adzan Maghrib! Astaqfirullah…

Seperti itulah contoh dari hanca dalam sholat. Ada sebuah kalimat yang dirasa cocok, yaitu: Bagaimana jika sedang sholat, pikirannya ke mana-mana? Ada jawabannya, lebih bagus ketika sholat pikirannya ke mana-mana, daripada ke mana-mana tidak sholat! Hem, betul juga sih!

Kenangan Hanca Ketika Muda

Tentang hanca yang masih saya ingat sampai sekarang, waktu saya masih tinggal bersama orang tua di Jogja. Saya masih SMP, kalau tidak salah kelas dua. Ada tugas dari guru Seni Rupa, membuat kerajinan yang dijahit dan dihias. Saya lupa, membentuk orgamen atau gambar wajah dengan bahan tersebut. Seingat saya juga, bahan kerajinan dibeli di sekolah.

Ada waktu pengerjaan tugas tersebut. Namun, entah kenapa, saya malas-malas mengerjakannya. Mungkin waktu itu, saya sering main-main, atau bikin sesuatu yang lain. Sampai akhirnya, waktu pengumpulan makin dekat. Tinggal besok dikumpulkan. Waduh, pekerjaanku belum jadi ini!

Saya merasa sedih. Jangan sampai saya dikasih nilai jelek! Jangan sampai pula saya dimarahi bu guru! Sepertinya saya hampir menangis ketika itu. Namun, seseorang datang ke kamar saya. Beliaulah ibu saya.

“Kenapa kamu, Nak, jam segini belum tidur?”

“Saya kerjakan ini, Bu. Tinggal besok dikumpulkannya.”

“Lho, nggak dari kemarin-kemarin?”

“Nggak tahu juga, Bu, banyak kerjaan lain.”

“Walah, kerjaan lain! Gayamu!”

Saya tertawa dibercandai begitu.

“Terus, itu mau kamu kerja sampai kapan?” Ibu melihatku menguap beberapa kali.

“Ya, sampai selesai, Bu.”

“Tapi kamu sudah mengantuk begitu.”

“Iya, Bu, sudah ngantuk banget. Hoaammmm…” Saya menguap lebar.

“Sini Ibu bantu.”

“Jangan, Bu, biar saya sendiri!”

“Sudah, kamu tidur saja sana! Besok bangun pagi.”

“Nggak apa-apa kok, Bu.”

“Kamu pasti nggak bisa kerjakan kalau mengantuk begitu. Sudah sini, ajari Ibu saja gimana caranya?”

Saya pun menyerah. Ibu saya ajari pengerjaannya seperti yang diajarkan oleh bu guru Seni Rupa. Ibu mulai mengambil jarum, benang, dan kerajinan saya yang masih jauh dari selesai itu.

Rasa kantuk yang terus menyerang membuat saya benar-benar tidak tahan. Saya berbaring di kasur sebelah Ibu. Kulihat beliau mulai bekerja. Makin lama, pandangan saya makin buram. Mata mulai menutup. Dan akhirnya bablas, masuk ke alam mimpi.

Hasilnya?

Ketika bangun keesokan harinya, ibu menyerahkan hasil pekerjaannya ke saya, “Nih, sudah jadi!”

“Wah, bagus, Bu!”

“Iya, memang bagus. Sana di bawa ke sekolah sana!”

“Aduh, terima kasih banyak, Bu.”

“Iya, lain kali jangan tunda-tunda pekerjaan lagi ya!”

“Ya, Bu!”

Karya seni itu saya bawa ke sekolah. Nilainya lumayan, lah. Ah, sebenarnya nilai itu bukanlah untukku, melainkan untuk ibuku. Beliau yang merampungkan hingga betul-betul sesuai yang diinginkan oleh bu guru.

Kenangan bersama ibu itu masih saya bawa sampai sekarang. Kenangan yang betul-betul tidak akan pernah saya lupakan. Alhamdulillah, kedua orang tua masih hidup. Mudah-mudahan, ada kesempatan yang lebih baik untuk ke Jogja kembali, menengok mereka berdua.

Saya juga tidak tahu, jam berapa ibu tidur? Sampai jam berapa mengerjakan tugas saya? Seandainya tidak saya hanca, pastilah ibu tidak perlu repot-repot membantuku. Siapa tahu beliau juga sedang capai dengan segala pekerjaan rumah tangga? Ah, saya kok jadi anak yang kurang baik ya?!

Aku jadi semakin tahu efek dari hanca. Merugikan di akhirnya gara-gara menunda-nunda pekerjaan. Meskipun begitu, jangan sampai hanca yang pertama tadi deh! Menunda-nunda sholat dan mencari alasan yang dibuat-buat. Sholat dulu, agar hati jadi lebih tenang. Oke?

kamis-menulis

Share This:

13 Comments

  1. Pengalaman tentang hanca yang sangat berkesan. Itilah seorang ibu. Tak akan tega membiarkan anaknya dalam kesusahan. Biarlah dia yang susah, asalkan anaknya aman.

  2. Beragam contoh hanca dalam kegiatan sehari-hari. Yang terakhir, mengesankan. Ibu selalu ada untuk kita.

  3. Btw, Ambu pernah menyelesaikan hanca PR kerajinan anak, kasihan gak keburu waktunya. Persis selagi anak tidur hehe.. memang gmn gitu hawatir terhadap anak, gak ingin ia mendapat masalah di sekolahnya.

  4. Hmmm, bener nih. Menunda salat jadi penyakit. Kayaknya diembus lagi sama setan. Jadi hancanya makin kuat. Hehe

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.