Sebuah Kisah Fiktif Tentang Belajar, Mengajar, dan Kolaborasi

Sebuah Kisah Fiktif Tentang Belajar, Mengajar, dan Kolaborasi

Share This:

Tersebutlah sebuah kisah fiktif, tentang seorang duda bernama Heru. Dia mempunyai anak yang masih SD, tepatnya kelas 4. Istri Heru sudah meninggal dua tahun yang lalu.

Sampai sekarang, istri Heru belum pernah kembali lagi. Yah, Heru berprasangka, mungkin istrinya sudah kerasan di sana, makanya sombong tidak mau menengok diri dan anaknya. Tidak juga kirim chat kabar-kabar begitu. By the way, itu Heru tersambet jin apa sih? Hehe…

Berat Dirasakan

Bayangkan saja yang harusnya sepasang sayap, menjadi satu saja, apakah masih bisa terbang? Tentu dong, kalau naik pesawat. Tapi, bukan itu kuteks, eh, konteksnya. Heru yang berpasangan dengan istrinya bagaikan dua sayap, terutama dalam mendidik anak, kini sayap satunya sudah patah. Heru merasa kehilangan. Heru merasakan kesedihan.

Namun, Heru harus tetap melanjutkan hidup. Kematian istrinya tidak lantas menjadikan dirinya harus ikut-ikutan mati. Apalagi anaknya masih kecil, butuh sentuhan orang tua. Butuh juga uang jajan. Mana mungkin ibunya kasih uang jajan lagi bukan?

Masuk Pandemi

Istri Heru memang meninggal karena corona. Penyakit istrinya juga asma, yang diderita sejak lama. Virus cina itu memperparah asmanya hingga tak tertolong lagi di rumah sakit.

Ketika meninggal dan dikuburkan pun, Heru dan anaknya tidak bisa dekat-dekat. Semua dilakukan oleh petugas khusus berpakaian APD yang mirip astronot itu. Heru dulu punya cita-cita waktu kecil ingin jadi astronot. Namun, kini cita-cita itu tidak ada lagi, karena Heru sudah besar!

Seperti keluarga lain, pendidikan anak Heru terselimuti belajar online. Wuih, bahasanya pakai terselimuti! Maksudnya, belajar online juga.

Dalam bahasa Indonesia, online itu artinya daring. Sementara yang sering bilang “darling” itu biasanya cuma berani lewat online. Walah, apa lho dibahas ini?

Oh, ya, mau tahu anak Heru siapa? Saya sendiri sih tidak. Tapi kalau kamu mau tahu, baiklah saya sebutkan. Namanya adalah Heri. Apakah sengaja Heru memberi nama anaknya Heri? Ya, jelas sengaja, lah! Masa tiba-tiba menyebut nama begitu?

Antara Heru dan Heri biar lebih cocok dipasangkan. Sementara istrinya yang sudah meninggal, namanya adalah Hera. Lho, Mas, kok mirip-mirip? Ya, bebas saja dong! Namanya juga cerita fiktif, hehe..

Guru Heri

SD tempat Heri sekolah adalah sekolah yang berbasis Islam. Oleh karena itu, gurunya adalah seorang akhwat alias muslimah yang berjilbab besar. Pakai cadar pula. SD tersebut sudah banyak mendapatkan penghargaan. Meskipun SD swasta, tetapi sudah berprestasi. Yah, SD swasta, tapi ‘kan berada di negeri Indonesia. Jadi, bisa dikatakan SD negeri juga dong? Ya apa iya?

Nama gurunya adalah Hanna. Masih gadis. Lho, kok Heru tahu? Iya, soalnya dia kenal dengan kepala SD. Ibu kepala sekolah yang bilang ke Heru kalau gurunya Heri masih gadis ting-ting.

Komunikasi antara Hanna dan Heru terjalin cukup intens. Eits, ini di dalam forum kelasnya lho alias di grup WA. Hanna membuat sebuah grup khusus di WA, isinya para orang tua murid. Di situ, Hanna memberikan tugas kepada para murid, melalui HP orang tua.

Secara daring, Hanna mengajar ke anak-anak. Sering, dia memfoto sebagian halaman buku. Tentunya itu buku pelajaran ya, Bro, bukan buku tabungan Hanna! Ngapain juga difoto, ya ‘kan?

Sering juga, Hanna mencantumkan link YouTube yang isinya video anak-anak dan relevan dengan tugas. Heru cukup mengikuti tugas-tugas tersebut. Tidak pernah terlambat untuk menyetor.

Tugas hari itu, setor hari itu. Bahkan, kalau perlu, sebelum tugas besok disampaikan, Heru ingin menyetor juga. Wah, bagaimana ini Heru?

Hanna merasa senang dengan Heru yang rutin mengirim tugas anaknya. Tiap Heru mengirimkan foto, rekaman suara, atau rekaman video anaknya, Hanna selalu merespons. Entah itu memberikan jempol, bilang “syukron”, atau “terima kasih, Pak”. Dan, kalimat-kalimat lain. Intinya, menghargai usaha keras Heru untuk mendidik Heri.

Ternyata, seperti yang dirasakan oleh orang tua lain, untuk mengajar memang tidak mudah. Dari situ, Heru pun belajar lebih cermat lagi. Dia juga membaca buku-buku seputar pendidikan anak agar mengajarnya ke Heri lebih tepat sasaran. Apalagi jika Heri sedang bosan, jenuh, malas, maka Heru perlu menerapkan strategi-strategi khusus.

Belajar online memang mesti kolaborasi antara guru dan orang tua. Akan tetapi, Heru kok terpikir mau berkolaborasi dalam bentuk lain ya? Bagaimana langkah-langkahnya?

Mengungkapkan

Dalam kesendirian di kamarnya, saat Heri sudah dipeluk mimpi, Heru membayangkan hal-hal yang akan terjadi di masa depan. Hem, apakah di masa depannya itu adalah kedatangan alien dari Planet Jupiter? Oh, tentu tidak. Sebab, yang naik Jupiter sudah sangat banyak di muka bumi, terutama di Indonesia, ya ‘kan?

Mendidik anak dirasakan berat. Heru selain berperan sebagai suami, dia juga berperan sebagai istri, atau tepatnya ibu untuk Heri. Sampai kapan dia akan seperti itu terus? Sementara gajinya sudah lumayan. Tunjangannya sudah oke. Jodoh berikutnya yang belum oke.

Tiba-tiba, Heru terpikir dengan Hanna. Guru itu adalah seorang muslimah yang tampak baik dan ramah. Dia belum ada jodohnya. Sedangkan Heru juga dalam tahap mencari jodoh.

Namun, Heru belum pernah melihat wajahnya. Apakah Hanna cantik, secantik istrinya dahulu? Jangan-jangan wajahnya tidak cantik? Heru memang mencari yang cantik agar dia betah di rumah dan menatap wajah istrinya terus-menerus.

Malam itu, Heru terus dilanda pikiran yang tidak menentu. Sudah lama dia tidak punya istri. Teman-teman kantor menjodohkan dengan si ini dan si itu, tetapi Heru sama sekali tidak tertarik.

Meskipun wajah si anu, yang ditawarkan teman-temannya itu terlihat cantik dan menggoda, tetapi Heru tetap tidak mau. Untuk sekadar menyenangkan pandangan mungkin iya, tetapi untuk dibawa ke jenjang pernikahan, Heru menolak dengan keras.

Dalam hati, Heru merasa bahwa yang disodorkan teman-temannya itu sudah dinikmati kecantikannya oleh orang lain. Bahkan, fotonya ada di mana-mana. Tiap hari mereka posting foto-foto selfie. Siapa tahu, sudah banyak yang simpan, bukan?

Sedangkan Hanna, tidak ada fotonya sama sekali di media sosial. Sangat eksklusif. Heru berteman dengan Hanna di FB, IG, dan Twitter. Yang diposting Hanna adalah seputar dakwah dan pendidikan, bahkan pendidikan anak. Gambar-gambar yang ada berupa bunga, pohon, rumah, anak kecil, dan lain sebagainya. Di situlah, Heru makin tertarik.

Meskipun hanya lewat online, tetapi kalimat-kalimat singkat bin pendek dari Hanna membuat hatinya berdesir. Apalagi Heri juga terlihat senang dengan gurunya itu. Kini, apakah Hanna mau? Apakah Heri mau nanti punya ibu lagi, yaitu: Hanna? Heru makin keras berpikir.

Setelah Dicabut

Beberapa hari kemudian, pemerintah daerah mencabut larangan belajar tatap muka. Kini, daerah tempat Heru tinggal sudah membolehkan untuk belajar di sekolah. Alangkah senangnya Heru. Bebannya di rumah jadi lebih berkurang, karena sekarang Heri bisa menemukan belajar yang sebenarnya di sekolah.

Hari pertama mulai belajar tatap muka, Heru mengantar Heri menggunakan mobil Ferrari. Halah, fiktifnya kok berlebihan ya? Mobil biasa saja, lah.

Mobil diparkir di depan gerbang sekolah. Heru menggandeng tangan Heri sampai ke depan kelas. Di situlah… Heru melihat Hanna yang berdiri di dekat pintu.

“Assalamu’alaikum, Ananda Heri…” Sapa Hanna.

“Wa’alaikumsalam, Bu Guru Hanna…” Heri mencium tangan Hanna. Heru menyaksikan pemandangan itu sambil menelan ludah. Hanna tampil dengan gamis dengan warna coklat muda. Roknya juga senada dengan jilbabnya. Cadar dengan warna coklat menghiasi wajahnya. Tampak Hanna tersenyum kepada Heru dari matanya, membuat hati Heru makin berdesir.

“Saya antar anak saya, Bu Guru..” Kata Heru malu-malu. Dia biasa menghadapi perempuan di kantor atau tempat lain, tetapi berhadapan langsung dengan Hanna semacam ini, ada sensasi lain. Sensasi Sprite seperti di iklan itu tidak ada apa-apanya.

“Iya, Pak, terima kasih,” Hanna menangkupkan tangannya ke depan dada. Aihh, Heru makin terbang ke awan.

Pulang dari situ, Heru merasa berjalan tidak langsung di atas tanah. Kakinya terasa melayang. Ya, iyalah, kan dia pakai sepatu, pigimana sih?

Ketika masuk ke dalam mobilnya, Heru masih berbunga-bunga. Dia menatap kelas anaknya di kejauhan, Hanna sudah tidak terlihat lagi. Meskipun begitu, Heru tetap tersenyum. Ada rona kebahagiaan tersendiri yang tersirat dari matanya tadi, lalu turun ke hatinya.

Kini, dia menjalankan mobil dengan pelan-pelan. Langkah selanjutnya bagaimana? Apakah Heru akan serius dengan Hanna? Kita tunggu saja kelanjutan dari cerita ini yang sepertinya memang tidak akan dilanjutkan!

kamis-menulis

Share This:

8 Comments

  1. Ditunggu kelanjutan ceritanya, seru he..he… bapak jago banget ya bikin cerita… duh iri saya pak… seandainya saya bisa… he..he.. sukses selalu bapak…

  2. Saya suka alur ceritanya mengalir begitu saja. Ciri khas lainnya bikin senyam-senyum sendiri karena cukup menghibur. Keren…

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.