Tiga Bersahabat dalam Cinta: Buka, Buku, dan Baku

Tiga Bersahabat dalam Cinta: Buka, Buku, dan Baku

Share This:

Tersebutlah sebuah kisah fiktif, tentang persahabatan tiga orang gadis. Namanya adalah Buka, Buku, dan Baku. Seperti apa kisahnya?

Mereka bertemu secara tidak sengaja di sebuah perpustakaan daerah B. Buka ini adalah seorang gadis yang cukup tomboy. Rambutnya seperti laki-laki, hobinya beladiri, bahkan dia pun kadang merokok.

Buka termasuk mahasiswi yang pintar. Dia kuliah di jurusan Teknik Mesin, tentunya bukan mesin cuci, apalagi mesin jahit.

Dari dulu hobinya seputar mesin. Mulai dari sepeda motor, sampai mobil. Sedangkan mesin kereta api, pesawat terbang, sampai pesawat ulang alik belum pernah diutak-atiknya.

Tongkrongannya di bengkel tetangga. Ketika kecil, sering tangannya belepotan oli. Bapak dan ibunya awalnya marah, namun akhirnya maklum juga.

Ingin Meminjam Buku

buka-buku-baku-1

Hari itu, Kamis, Buka mendapatkan tugas untuk menyusun makalah seputar mesin listrik. Ternyata, di kampusnya sedang ada penelitian tentang mobil listrik. Meskipun namanya mobil listrik, tetapi pengemudinya aman kok. Tidak sampai tersetrum di dalam.

Cari di internet sudah, tetapi dirasa masih kurang lengkap. Makanya, dia mau singgah di perpustakaan daerah. Di daerah B, koleksi bukunya sangatlah lengkap. Gedungnya saja sampai 15 lantai. Itu benar-benar lantai, bukan berarti gedung yang terdiri dari 15 ubin saja.

Buka beberapa kali ke situ, nyaman juga, karena ber-AC. Dingin jadinya. Ya, iyalah, namanya juga AC.

Setelah meletakkan tas di rak penyimpanan, mengambil HP, sebuah pulpen, dan buku catatan kecil, Buka langsung meluncur ke rak bagian teknik. Begitu banyaknya buku, dia melihat katalog yang ada. Hem, sepertinya tidak ada atau susah ditemukan, Buka mencoba mencari di komputer. Mengetikkan kata kunci, ketemulah buku yang dia cari. Meluncur lagi ke rak tempat buku tersebut.

Ketika mengambil di rak yang agak tinggi, ternyata buku tebal itu jatuh. Sialnya, jatuh menimpa kepala seorang gadis juga di sisi seberang rak. Dia langsung mendatangi Buka sambil menyerahkan buku itu.

“Lain kali hati-hati mengambil buku, Mbak!” Saran gadis itu.

“Maaf, nggak sengaja, Mbak.” Buka tersenyum kecil.

Gadis itu sempat membaca judulnya, terus bertanya, “Ini kuliahnya Pak Darsono, ya?”

“Eh, kok Mbak tahu?” Buka merasa heran.

“Iya, saya pernah ikut kuliahnya.” Gadis itu tersenyum.

“Wah, Alhamdulillah! Bisa tanya-tanya langsung nih, Mbak?”

“Hem, boleh. Tapi sebagai konsekuensi kesalahanmu tadi, aku minta ditraktir dong!”

Awalnya Buka merasa kaget, orang di depannya ini kok tanpa malu-malu minta makan. Namun, akhirnya mau sengaja atau tidak, Buka telah menimpakan buku ke kepala gadis itu. Untunglah bukan lemarinya yang ikut jatuh.

“Bisa juga, Mbak. Ada kantin di dekat sini. Kalau aku sudah selesai, kutraktir Mbak.”

“Oke, kalau begitu. Tapi kemana-mana aku selalu bawa sahabatku. Masa aku ditraktir, sahabatku tidak?”

Buka lebih kaget lagi, ada sahabatnya? Berapa orang? Jangan-jangan sekampung?!

“Berapa orang, Mbak? Tidak banyak toh?” Tanya Buka.

“Nggak dong. Kalau banyak namanya teman. Sementara kalau sahabat itu cukup satu saja.”

Buka mengangguk-angguk. Ya, ya, dia mengerti.

“Oh, ya, Mbak, belum kenalan,” Buka menjulurkan tangan kanannya.

“Oh, ya, namaku Buku.” Jawab gadis itu dengan cukup tegas.

“Buku? Kok namanya Buku?” Buka melongo.

“Ya, begitulah namaku. Sebenarnya ada nama lengkapku, tapi aku suka dipanggil Buku saja.” Buku menyebutkan nama lengkapnya.

“Mirip namaku, Mbak. Kalau aku namanya Buka.”

“Wah, betulan mirip! Siapa nama lengkapmu?” Buku bertanya kepada Buka.

Buka pun menyebutkan nama lengkapnya. Kemiripan nama itu menjadikan mereka mulai akrab.

“Oh, ya, Mbak Buka, nama sahabatku juga mirip dengan kamu.”

“Hem, panggil Buka saja, Mbak Buku. Kalau aku dipanggil Mbak, kesannya jadi formal banget.”

“Oke, Buka. Tapi, kenapa juga kamu panggil aku Mbak?” Buku pura-pura marah.

“Oh, ya, lupa,” Buka tertawa sambil menutup mulutnya. Biasanya perempuan tertawa sambil menutup mulutnya seperti itu, apa takut mulutnya jatuh dan terlepas ya?

“Nanti kamu akan tahu nama sahabatku ketika di kantin. Sekarang dia tidak sedang di sini.” Kata Buku.

“Sip, kalau begitu. Aku mau kembali ke mejaku dulu, Buku. Oh, ya, nomor hape kamu berapa?”

Buku menyebutkan nomor HP-nya kepada Buka. Nomor HP yang juga nomor Whatsapp. Mereka saling tersenyum. Kini Buka mendapatkan teman baru bernama Buku. Dan, Buku terpikir untuk menjadikan Buka sebagai sahabatnya juga.

Saat di Kantin Dekat Perpustakaan

Meskipun pernah ke perpustakaan, tetapi untuk singgah di kantinnya baru sekali itu bagi Buka. Biasanya, setelah meminjam buku, dia langsung pergi. Entah ke kampus lagi atau ke rumahnya. Ada juga hikmahnya dimintai Buku untuk menraktirnya, karena Buka jadi makan di kantin.

Kantinnya ada beberapa, dengan menu yang sangat beragam. Buku mengajak Buka ke kantin langganannya. Menu utamanya adalah Coto Makassar. Kata orang, kalau di Jawa namanya soto, sedangkan di Makassar namanya coto. Kalau di Jawa, soto terbuat dari daging sapi, sementara di Makassar coto terbuat dari daging capi. Halah..

“Katanya, mau mengajak sahabatmu, Buku?” Tanya Buka setelah memesan makanan. Tentu saja karena menu utamanya adalah coto, Buka memesan itu. Minumnya es teh manis.

Kalau Buku, minumnya es jeruk manis. Cuaca panas kota B memang sudah terjadi beberapa pekan. Makanya, es yang dingin dan segar membuat tenggorokan jadi segar juga. Wah, bagaimana sih ini kalimatnya?

“Iya, tunggu sebentar. Dia akan datang.” Jawab Buku.

Memang tidak lama, Buka melihat sesosok gadis dengan jilbab lebar. Mukanya sangatlah putih, teduh, tetapi segar. Apalagi balutan busana muslimah itu terlihat anggun. Warnanya pas. Tidak menerawang, tipis, dan norak. Buka langsung menyukai penampilan seperti itu, meskipun dia masih belum pakai jilbab.

“Nih, kenalin. Ini sahabatku, namanya Baku.” Buku mempersilakan Baku untuk menyalami Buka.

“Assalamu’alaikum, saya Baku,” manis sekali senyum Baku.

“Eh, wa’alaikumsalam, saya Buka.”

Ketiganya jadi tertawa. Kenapa nama mereka jadi mirip-mirip ya? Padahal awalnya pertemuan tidak sengaja antara Buka dengan Buku, kini ditambah dengan Baku.

Dari pertemuan itu, mereka menjalin pertemuan-pertemuan lagi. Akhirnya jadi sering nongkrong bareng, begitulah istilah anak muda.

Dari wisata kuliner, jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, pergi ke pantai untuk menyelam, dan lain sebagainya. Namun, ada satu tempat yang belum pernah didatangi bertiga, yaitu: masjid.

Baku adalah seorang muslimah yang rajin mengikuti taklim. Dia pun mengajak Buka untuk ikut serta. Buka pun menyanggupi. Tapi, dia masih kurang PD untuk datang, karena belum pakai jilbab. Baku memberikan solusi. Dia mau meminjamkan gamis dan jilbabnya untuk Buka.

Begitu Buka memakainya, eh, Buka merasakan sensasi yang sangat berbeda. Terasa adem banget. Meskipun baju itu menutupi badannya secara sempurna, tetapi tidak terasa panas sama sekali. Apalagi melihat wajahnya sekarang yang dibalut jilbab panjang. Dia bolak-balik di depan cermin besar di kamar Baku. Melihat Buka seperti itu, Baku dan Buku ikut terpesona.

“Masya Allah, Buka. Kamu tampak anggun sekali memakai gamis itu.” Buku memuji sambil mengacungkan dua jempol. Begitu juga dengan Baku, “Iya, cantik sekali, seperti bidadari yang turun dari surga.”

“Ah, kalian bisa saja sih,” wajah Buka memerah, malu-malu. Dia senang sekali mendapatkan pujian dari dua sahabatnya.

“Kini, kita siap untuk ke taklim, karena Buka sudah tampil jadi muslimah sempurna.” Kata Baku.

“Bener, Baku, yuk, kita segera berangkat. Jangan sampai terlambat. Taklim Ustadz Boko tidak pernah terlambat, kecuali beliau sedang sakit.” Tambah Buku.

“Sip, yuk, sahabatku semua, kita berangkat!” Seru Buka sambil mengangkat tangan kanan.

Buku dan Baku tertawa mendengar seruan itu.

Hingga Suatu Ketika

Buka, Buku, dan Baku akrab dengan istri Ustadz Boko. Kalau istri ustadz tersebut selain selalu bergamis dan jilbab lebar, dia juga bercadar. Wajarlah istri ustadz kondang begitu penampilannya.

Suatu ketika, istri Ustadz Boko tersebut mengundang Baku lewat telepon untuk datang ke rumahnya. Baku ingin agar tidak cuma dia, tetapi mengajak juga Buka dan Buku.

Tadinya istri ustadz yang biasa dipanggil Ummu Buki itu keberatan. Namun, melihat ke mana-mana mereka selalu bersama, maka dia pun mengizinkan.

“Jadi begini, Baku,” Ummu Buki memulai percakapannya secara serius setelah bercanda-canda tadi dengan mereka bertiga.

“Iya, kenapa Um?” Tanya Baku penasaran.

“Begini, muridku tersayang,” Ummu Buki memuji keistiqomahan Baku, “Ada yang tertarik untuk melamarmu. Dia termasuk laki-laki yang saleh. Muridnya ustadz juga. Hafal 20 juz Al-Qur’an. Kamu mau apa tidak?”

Baku cukup terkejut dengan tawaran itu. Dia pun melihat kedua sahabatnya yang duduk di samping dan depan. Wajah mereka menampakkan kegembiraan karena sebentar lagi Baku akan mendapatkan jodoh.

“Hem, mau melamar saya ya, Um?” Baku bertanya untuk lebih memastikan.

“Iya, Baku. Dia minta dicarikan jodoh. Menurutku, dari biodata yang ada, kriteria yang diinginkan, rasa-rasanya kamu yang cocok bersanding dengannya.”

Baku terdiam. Agak lama terdiam. Ummu Buki menantikan jawaban Baku.

“Sepertinya tidak bisa, Um.”

“Hah, kenapa, Baku?” Ummu Buki kaget.

“Saya tidak ingin menikah.” Jawaban Baku tegas.

“Tapi, kenapa kamu tidak ingin menikah? Ini yang datang bukan laki-laki sembarangan lho, Baku. Ustadz Boko yakin bahwa laki-laki ini saleh di matanya. Kenal betul Ustadz sama dia. Bukan laki-laki kaleng-kaleng,” Ummu Buki tersenyum, geli sendiri mengucapkan kata “kaleng-kaleng”. Memangnya kaleng susu?

“Betul, Um, saya tidak ingin menikah. Tepatnya, saya tidak ingin menikah SENDIRIAN.”

“Wah, apa maksudmu, Baku? Ini yang datang seorang laki-laki. Atau jangan-jangan…?”

“Iya, betul, Um. Saya tidak ingin menikah sendiri. Saya ingin menikah juga bersama kedua sahabat terbaik saya ini, Buka dan Buku.”

“Hem, berarti poligami itu?” Tanya Ummu Buki.

“Iya, Um, lebih tepatnya poligami. Saya tidak ingin egois. Saya ingin selalu bersama kedua sahabat saya ini. Kalau cuma saya yang menikah, apalagi menikah duluan, bagaimana dengan jodoh mereka? Apakah mereka bisa cepat juga dapat jodoh? Kalau saya menikah duluan, rasa-rasanya saya jadi orang yang egois, tidak memikirkan keinginan Buka dan Buku.”

Ummu Buki menggeleng-geleng. Ini sudah keinginan yang sangat aneh. Baku yang mau dilamar, tetapi maunya Buka dan Buku diikutsertakan. Berarti laki-laki tersebut harus menikahi tiga orang sekaligus. Wah, wah, baru pertama kali terjadi nih!

Buka dan Buku memegang tangan Baku. Mereka berdua tersenyum sambil mengangguk. Tanpa komentar, mereka berdua memeluk Baku.

“Kita memang harus selalu bersama, Baku,” kata Buku sambil mencium kepala Baku.

“Iya, Buku sayang. Kita sudah berkomitmen sejak awal, sejak ketemuan-ketemuan kita, bahwa kita tidak boleh terpisahkan, kecuali kematian.”

“Aku tidak menyangka, Baku dan Buku. Dulunya aku sendirian saja jadi cewek, kini setelah aku menjadi muslimah yang berbusana syar’i, aku jadi tidak mau kehilangan kalian.”

Mereka berpelukan lagi dengan erat. Menyaksikan komitmen dan keinginan kuat dari ketiga gadis itu, Ummu Buki terdiam sejenak. Ini proses yang sangat tidak mudah. Dia harus segera menyampaikan kepada suaminya, dan tentu saja ke laki-laki saleh itu.

Suaminya nanti juga harus melakukan pendekatan kepada keluarga Buka, Buku, dan Baku. Pernikahan yang langsung poligami sangat jarang terjadi. Apakah keluarga ketiga gadis itu mau menerima?

Namun, keinginan memang harus diperjuangkan, apakah hasilnya sesuai atau tidak, itu urusan nanti.

Bagaimana caranya ya? Ummu Buki masih terdiam, lalu berkata, “Baiklah kalau keinginanmu begitu, nanti saya sampaikan ke ustadz. Semoga prosesnya mudah dan lancar.” Ummu Buki berdiri, lalu menuju ke ruang tengah.

Suaminya ada di sana, menunggu juga hasil pembicaraan istrinya dengan Baku. Kini, suaminya harus bersiap dengan alternatif pilihan yang mungkin akan membuat hatinya terguncang.

Selesai.

kamis-menulis

Share This:

18 Comments

    1. Yap, terpikir baru tadi pagi menjelang siang, Ambu. Cukup sulit tantangan ini sebenarnya, tapi akhirnya selesai juga.

    1. Nama panjangnya rahasia dong, Pak. Kenapa rahasia? Soalnya saya sendiri juga tidak tahu nama lengkapnya, haha..

  1. Wah…cerita fiktifnya luar biasa ok. Tapi ga kebayang poligami demi persahabatan. Kira2 ada ga ya dlm dunia nyata? Hm…kayaknya ga rela….

  2. Waaw..cerita menarik.da.n…seribu satu orang yang berjiwa seperti baku… Gmn dengan kira kaum hawa.sudah siapkah suami kita untuk poligami…? Hehe

  3. Inilah andung yang mengundang banyak tafsiran. Membuka ruang diskusi….artinya masih menyisakan ruang kosong. Saya cuma mengutip orang ngomong itu yg dinamakan “teori ruang kosong” dalam sastra. Jika mereka.menikah endingnya berarti selesai tidak ada ruang kosong…..kecuali gudang padi hehehe

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.