Kena Sakit Atas dan Bawah

Kena Sakit Atas dan Bawah

Share This:

3 Juni 2021, belum berubah, itu adalah hari Kamis. Dan, belum berubah pula, karena itu sudah lewat. Tidak bisa putar balik. Jalurnya searah.

Apa yang istimewa dari hari Kamis itu? Apakah ada kaitannya dengan malam Jum’at kliwon? Ah, bahas yang begitu, tidak perlu terlalu serius. Hantu-hantu ke luar pada malam Jum’at kliwon, kalau ketemu, tinggal diajak saja baca Surah Al-Kahfi. Sebab itu sunnah dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Diajak juga banyak bersholawat kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Intinya begitu. Kalau ketemu, sekali lagi kalau ketemu, jangan ngacir duluan!

Donor Darah

Melalui sebuah grup dakwah, seorang teman saya, laki-laki, dia membutuhkan darah A untuk keluarganya. Katanya, ada ibu mau melahirkan, HB rendah, perlu stok darah cadangan.

Wah, membaca itu saya langsung tertarik! Jelas, tertarik pertama karena saya memang golongan darah A. Kedua, saya sudah cukup lama belum donor lagi. Terakhir kalau tidak salah, bulan Februari 2021. Jadi, bila mau donor rutin, tiga bulan sekali. Seharusnya sih akhir Mei, tapi ini sudah masuk Juni. Tidak apa-apa, lah.

Malam itu, saya putuskan untuk pergi ke rumah sakit. Istri tidak ikut. Saya pergi dengan dua anak laki-laki saya. Satunya kelas 2 SD, umur 7 tahun, satunya belum sekolah, umur 4 tahun. Mereka memang suka sekali pergi-pergi bersama saya. Naik motor maupun naik mobil. Bagi mereka, mungkin jalan-jalan bersama saya mendatangkan petualangan tersendiri.

Begitu tiba di rumah sakit, sudah ada kayaknya beberapa pendonor. Saya juga bertemu dengan teman saya tersebut. Di rumah sakit itu, sinyal internet sangatlah jelek. Untuk menelepon, juga tidak kuat banget. Mungkin karena di situ kumpulan orang sakit, makanya sinyal jadi ikut sakit.

Saya tanya, “Bagaimana, sudah ada pendonor?”

Dia bilang, “Ya, ditunggu dulu ini pemeriksaan, cocok apa tidak?”

Sebelum ke situ, saya sudah membeli susu beruang dua buah di Indomaret. Sebagai nutrisi dan suplemen langsung setelah donor darah. Merek itu sangat efektif untuk mengembalikan stamina atau energi setelah darah kita disedot sekitar 250 CC.

Jam menunjukkan pukul 22.30 WITA. Sudah malam, saya mulai mengantuk. Begitu juga anak saya yang pertama. Dia memang tidur cepat, beda dengan adiknya yang bisa begadang sampai tengah malam. Yang terakhir meniru bapaknya ini kayaknya.

Saya pikir, saya mau pulang saja deh. Sebab, teman saya bilang nanti mau dihubungi lagi kalau jadi. Begitu mau ke luar, saya bertemu dengan tetangga satu kompleks. Rupanya, dia mau mendonor. Oh, saya pikir lagi, berarti sebenarnya sudah cukup ini untuk golongan darah A. Baiklah, saya bulat untuk pulang saja.

Kembali Sabtu

Sekarang, saya ingin donor sukarela. Sudah saya tanya teman, seorang emak-emak, bisa kok jadi donor sukarela, tanpa harus diminta oleh orang lain terlebih dulu. Sabtu siang saya rencana ke sana. Habis makan siang. Tentunya tadi malam juga tidak begadang. Pokoknya, saya yakin kondisi saya fit 100 %.

Datang ke sana, lagi-lagi tidak jadi. Saya tanya petugasnya, ternyata stok untuk darah A masih cukup banyak. Bisa sih donor sukarela, tetapi kondisinya belum memungkinkan. Ada lemari es khusus untuk menyimpan darah sedikit mengalami kerusakan. Suhunya tidak teratur. Pokoknya, lagi bekerja tidak baik, lah. Ya, sudah, saya bulat untuk pulang saja.

Eh, ketika sore hari, saya merasakan ada yang berbeda. Rasanya kok jadi oleng-oleng ya? Terasa pusing dan berat di kepala. Saya mencoba untuk berbaring. Benar saja, begitu saya berbaring, langit-langit rumah terasa berputar-putar. Akhirnya, saya pejamkan mata. Begitu buka mata lagi, dinding kamar di samping kasur, juga ikut berputar-putar. Waduh, saya pejamkan mata lagi! Mencoba untuk tidur.

Kondisi tersebut pernah saya alami waktu bersafar naik motor bersama istri dari Kendari ke Kabupaten Bombana. Perjalanan sekitar empat jam. Merasa pusing, saya singgah di sebuah warung makan kecil di depan pemancar TVRI, kalau tidak salah. Ada tempat baring, dan berputar-putar juga. Alhamdulillah, beristirahat sejenak, lanjut perjalanan, sampai juga di Bombana, dengan selamat.

Kali ini, terjadi beberapa kali. Saya coba cek di Google, gejala apa ini? Ada yang mengatakan itu adalah vertigo. Solusinya apa? Bagaimana cara menanganinya? Saya membaca di situ, harus banyak minum air putih. Oh, pantas, mulut juga terasa kering. Baiklah, jika memang itu salah satu solusinya, maka saya minum beberapa gelas. Ternyata, berefek positif juga. Pandangan berputar-putar mulai berkurang dan Alhamdulillah, hilang ketika saya menulis ini.

Namun, muncul sakit berikutnya!

Lutut Bengkak

Yang satu ini, saya bingung, kok bisa terjadi ya? Ada luka sedikit di lutut kiri. Luka dengan darah mengering. Pas terasa gatal, saya garuk. Mungkin di situlah muncul infeksi. Apalagi kuku tangan sedang kotor, pas kuman masuk ke dalam luka.

Lutut kiri bengkak dan terasa empuk ketika dipegang. Konsekuensinya, untuk berdiri sakit, untuk sholat juga sakit. Ketika di masjid, untuk gerakan dari i’tidal ke sujud, tidak selincah dulu, perlu hati-hati untuk turun. Termasuk, dari sujud ke duduk di antara dua sujud, lutut langsung nyeri.

Tapi, saya mencoba sholat tetap dengan berdiri. Sebab, di situlah pahala bisa sempurna, Insya Allah. Beda dengan sholat sambil duduk, pahalanya hanya setengah.

Oh, bengkak itu mulai terasa lumayan pas hari Ahad kemarin, 6 Juni. Puncaknya waktu sholat Isya. Saya merasa sangat mual. Terasa ingin muntah saja. Seperti mau pingsan. Tapi, saya tahan-tahan saja, jangan sampai muntah di masjid, lah.

Waktu siang, sepulang dari pasar, saya telepon guru saya yang juga penjual herbal, apa obat yang cocok untuk lutut bengkak? Beliau langsung bilang, “Apa itu namanya? Renner, apakah?”

Oh, Renner Hand Moist. Ya, ya, saya ingat itu. Dulu pernah dikasih oleh teman saya. Tapi, saya ragu, di rumah masih ada apa tidak ya? Saya rasa barang itu ditaruh sembarangan. Jadi, saya putuskan untuk mencarinya dulu di rumah. Hasilnya? Sesuai perkiraan saya, tidak ada! Hilang!

Saya keluarkan sejumlah uang, cukup lumayan besarnya, untuk membeli lagi. Semoga yang ini bisa saya jaga sepenuh hati, lah.

Baru Bisa Setelah Maghrib

Barang baru ready di tangan saya setelah Maghrib. Kata penjualnya, barang tersebut ada di kios temannya. Si temannya itu, ya, teman saya juga, adalah penjual barang sepatu, sandal, kaos kaki, dan beberapa piranti rumah tangga. Jika guru saya ingin mendapatkan barang, misalnya dari Makassar dalam jumlah sedikit, maka dialamatkan ke kios teman saya itu.

Alhamdulillah, sambil menunggu sholat Isya, saya semprotkan Renner ke lutut saya. Tentu dong, di kompleks pesantren yang ada masjidnya itu, saya cari tempat agak tersembunyi. Soalnya lutut ini ‘kan termasuk aurat laki-laki. Makanya, mohon maaf ya, tidak bisa ditampilkan fotonya di sini.

Terasa nyes dan basah rupanya waktu saya semprot. Ya, iyalah, namanya juga bentuk cairan. Total sampai malam menjelang sudah empat kesempatan disemprot.

Tadi malam, banyak berbaring saja, soalnya mau jalan sakit. Dan, ketika ke kamar mandi, jongkok untuk buang air kecil, juga sama. Posisi badan jadi agak miring.

Izin Tidak Masuk Kantor

Hari ini, Senin, tanggal 7 Juni 2021, saya izin ke bos untuk tidak masuk kantor dulu. Biasanya, ada apel pagi tiap jam 08.00. Saya pikir, kalau masuk kantor, akan jadi tambah sakit dan kurang waktu istirahat saya. Jadi, manfaatkan waktu di rumah saja. Sambil menahan sakit, eh, sambil menulis juga di blog kesayangan saya ini, hehe…

Kalau sudah sakit begini, apa yang saya harapkan? Tentu saja sebagai manusia normal adalah kesembuhan yang tidak lagi mendatangkan sakit. Namun, hal itu kadang tidak bisa cepat. Tidak bisa kilat. Seperti yang saya alami pagi ini. Meskipun Renner sudah banyak kesaksian positif, tetapi semua itu ‘kan butuh proses.

Ternyata, produk tersebut belum bisa meredakan sakit di lutut saya ini. Atas saran teman, lebih baik saya periksa saja di Puskesmas. Yang terdekat adalah Puskesmas Kecamatan Rumbia Tengah. Sekitar jam 10 pagi, saya ke sana bersama anak bungsu saya.

 

Tentu dengan jalan sambil terpincang-pincang, saya menuju ruangan pendaftaran terlebih dulu. Mengeluarkan kartu BPJS berwarna hijau. Masih ibu-ibu yang itu si penerima pendaftaran.

Dokter yang memeriksa namanya Rosita, makanya dipanggil Dokter Rosita. Terpaksa deh, saya membuka celana sampai di atas lutut. Memperlihatkan bengkak di situ. Lalu, apa katanya?

“Oh, itu bisul, Pak.”

Nah, ketahuan deh, ternyata hanya bisul. Wah, saya sudah berpikir yang macam-macam! Kalau bisul, Insya Allah dalam beberapa hari bisa sembuh atau kempes, lah.

Saya pun diberi obat dari dokter tersebut. Menggunakan resep berbahan kertas yang disodorkan dari balik penutup plastik di atas meja.

Bagaimana? Kamu bisa baca tulisan di resep tersebut? Hehe..

Semuanya bisa saya dapatkan di apotek Puskesmas, kecuali salep yang bermerek Nisagon itu. Saya membelinya di apotek lain, di klinik seorang dokter yang membuka praktik sendiri. Otomatis, karena membelinya di luar, jadinya bayar sendiri. Hanya dengan 25 ribu rupiah saja, tidak sampai 25 juta rupiah. Memangnya itu uang panaik yang dipakai untuk menikah di kalangan Bugis itu? Hehe…

Menunggu Sembuh

Tidak ada yang lebih indah dalam kondisi sekarang selain bersabar. Karena sakit itu memang bagian dari upaya untuk menggugurkan dosa. Rasa nyut-nyut di lutut ini, semoga jadi menghilangkan dosa, meskipun sudah terlalu banyak dosa saya. Dan semoga juga, sabar yang coba saya lakukan, bisa menjadi pahala tersendiri.

Bagi kamu yang saat ini sedang sakit, bersabar saja ya! Soalnya, sabar itu adalah memang obat yang terbaik.

Share This:

Silakan tinggalkan komentar

Email aktif kamu tidak akan ditampilkan. Tapi ini mesti diisi dengan benar.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.