Kelas Jadi Istri Batch #13 masih berlangsung dan ini sudah memasuki hari kedua. Tadi malam, Selasa (29/7/2025), dimulai jam 20.00 WIB atau 21.00 WITA. Membahas tentang mengobrol tidak hanya sekadar mengeluarkan 20.000 kata. Wah, bagaimana tuh?
Pembicara yang dihadirkan adalah Ayu Momalula, founder Muslimah Bangkit. Saya juga baru pertama kali mendengar namanya. Saya mengikuti melalui Zoom Meeting. Ini lebih utama daripada YouTube yang juga disediakan oleh panitia, karena Zoom bisa lebih interaktif.

Acara Kelas Jadi Istri #13 ini masih disponsori oleh Masjid Nurul Ashri, Deresan, Jogja. Masjid yang kreatif dalam membagi ilmu kepada masyarakat, utamanya mengungkit dan mengangkat tentang persoalan rumah tangga, keluarga, dan semacamnya itu.
Mungkin kamu perlu tahu, siapa sih Ayu Momalula, termasuk profilnya. Nah, ini dia profilnya.

Beliau juga seorang penulis buku, kamu bisa mengeceknya di sini, plus akun media sosialnya.

Problem Ketika Mengeluarkan 20.000 Kata
Sebagaimana kita tahu bahwa perempuan itu mengeluarkan 20.000 kata setiap hari, sedangkan laki-laki cuma sekitar 7.000 kata. Namun, dari 20.000 kata itu, apa saja yang diucapkan? Apa saja maknanya?

Apakah dari 20.000 kata yang diucapkan itu justru untuk menyakiti pasangan? Untuk mengkritik suami? Untuk menjelek-jelekkan suami? Itu berarti mengeluarkan 20.000 kata yang tidak benar. Itu berarti bukan mengobrol yang baik.
Lalu, apa yang dimaksud ngobrol itu? Rupanya dan ternyata, ngobrol itu bukan sekadar ngomong. Ngobrol itu adalah komunikasi dua arah. Dalam ngobrol itu harus saling memahami,

Ada memang beberapa bentuk bicara. Kalau bicara yang satu arah itu namanya monolog. Seperti yang dilakukan oleh narasumber saat sedang menyampaikan materi. Beliau bicara satu arah karena kesempatan tanya jawab memang belum dibuka.
Beda ngobrol, beda pula pula ngomel. Jika ngomel itu adalah marah atau mengkritik. Ngomel itu bicara sesuatu, seperti kritik dan protes, dan kalau dibalas, malah yang mengomel itu akan tambah marah.
Sedangkan interogasi itu tidak memberikan waktu lawan bicara untuk memberikan pemahaman. Sedangkan yang berikutnya adalah detok, itu artinya tidak terhubung. Misalnya ada orang sedang ngomong, kita malah main HP atau lebih fokus menonton televisi. Seperti itulah.
Contoh kalimat yang bisa menyakiti orang lain, terutama pasangan, bisa kamu lihat di bawah ini:

Kalau pasangan diserang kemampuan, karakter, ditambah dengan diserang juga masa lalunya, maka itu akan sangat-sangat menyakiti. Mungkin yang melontarkan tidak sampai berpikir sejauh itu, tetapi efeknya akan menancap di dalam hati. Dan, bisa jadi akan bercokol di situ dalam jangka waktu yang lama atau bahkan seumur hidup, meskipun sudah dimaafkan.
Nah, menyangkut mengeluarkan 20.000 kata, hati-hati jika yang terucap justru kalimat-kalimat negatif. Kalimat-kalimat yang asal ucap, tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Contohnya seperti ini:

Salah satu tanda dari mengeluarkan 20.000 kata yang tidak pada tempatnya adalah curhat bukan kepada orang yang dibutuhkan. Jika curhat kepada orang yang salah, apalagi niatnya untuk menjatuhkan suaminya, maka laki-laki tersebut akan merasa tidak berharga.
Begitu juga, menjelekkan pasangan bukan di depan orang lain, melainkan malah di depan kita sendiri. Ditambah dengan banyak melihat postingan orang lain. Akhirnya jadi menuntut pasangannya untuk juga seperti itu.
Misalnya, ada suami yang selalu memasakkan makanan lezat untuk istrinya. Sedangkan dalam kenyataannya, punya suami tidak seperti itu. Padahal, dalam konten atau postingan orang lain tersebut, si suami bisa jadi memang koki. Jelas toh kalau koki itu pandai memasak.
Mengangkat Kisah Nyata

Ayu mengungkapkan kisah-kisah nyata tentang komunikasi antara suami dan istri ini. Namun, sebelumnya, beliau mengatakan bahwa jika komunikasi tidak bisa menyatukan, maka berarti ada yang salah di situ.
Kisah nyata yang dimaksud Ayu adalah ada yang sudah menikah selama 3 bulan, tetapi belum tumbuh cinta kepada pasangannya. Apakah pernikahan itu karena dipaksa? Karena dijodohkan oleh orang tuanya? Lalu, apakah memang tidak ada usaha sama sekali agar saling cinta?
Agar cinta bisa tumbuh, maka solusinya adalah dengan sering ngobrol. Ada pula kisah nyata lain, istrinya suka ngobrol, tetapi suaminya tidak terlalu suka ngobrol, bahkan cenderung lebih banyak diam.
Akhirnya, si istri jadi cari pelarian sana-sini. Kalau sudah begitu, maka rasanya ada suami atau tidak ada suami, sama saja. Hal itu terjadi karena problemnya tidak dibenahi. Dianggap lebih mudah cari pelarian daripada memperbaiki masalah.
Masalah lain adalah ketika rumah tangga dipenuhi dengan omelan, maka itu karena salah satunya merasa sendirian. Jika seperti itu, rumah tangga jadi terasa kosong. Tidak sampai bercerai sih, tetapi rasanya hampa.
Jika Jarang Ngobrol
Apa sih yang terjadi jika pasangan suami istri jarang ngobrol? Apa efek negatifnya? Rupanya, efek tersebut bisa kamu lihat di bawah ini:

Hal yang perlu dipahami adalah jangan juga asal ngobrol, tetapi ngobrol yang asal dan tanpa ilmu justru bisa menimbulkan efek berikutnya, yaitu: rumah tangga jadi renggang.
Komunikasi yang tanpa ilmu itu akan berujung pada menyakiti pasangan. Ada pula yang tidak mau saling mengobrol karena jika ngobrol nanti ujungnya jadi berantem. Masing-masing pihak saling membela diri.
Jangan sampai berantem antara suami dan istri. Suami harus lebih sadar untuk memperlakukan istrinya dengan lebih lemah lembut. Hal ini tercantum dalam Al-Qur’an, bisa dicek langsung:

Ngobrol yang Berhasil Itu Bagaimana sih?
Tadi sudah disebutkan tentang ngobrol yang gagal atau yang menimbulkan masalah, lalu sekarang bagaimana yang berhasil itu? Apa contohnya?

Jadi ada beberapa indikator ngobrol itu bisa berhasil, yaitu: antara suami dan istri bisa makin dekat, tidak hanya fisik, tetapi yang lebih penting lagi adalah ikatan emosional. Lalu, bisa menyampaikan perasaan tulus kepada pasangannya tanpa harus merasa takut diremehkan atau direndahkan.
Dan, yang terakhir adalah bisa membuat tenang hati dan pikiran pada diri masing-masing. Kalau sudah begitu, ‘kan enak? Ya toh?

Masih mengacu lagi dan terkait dengan mengeluarkan 20.000 kata setiap hari pada perempuan atau istri, sebenarnya dibalik itu apa, sih? Oh, rupanya, pada diri perempuan tersimpan sesuatu yang mengakibatkan dia mudah sekali ngomong atau ngobrol dengan pasangannya.
Faktornya antara lain istri itu sangat senang diperhatikan suaminya, dia juga jelas percaya kepada pasangannya, kebutuhan-kebutuhan istri yang belum dipenuhi oleh suami, ada beban mental, mungkin di masa lalu yang tidak tersampaikan, dan keinginan untuk divalidasi.
Contoh kebutuhan untuk divalidasi ini, misalnya: istri mengeluh capek dan lelah seharian mengurus anak-anak. Nah, suami jangan langsung bilang, “Halah, gitu aja capek!” Atau seperti ini, “Manja banget sih jadi ibu? Yang kuat dong!”
Itu namanya tidak divalidasi. Yang benar, suami bisa mengatakan, “Capek ya, Sayang? Ya, sudah, istirahat dulu, ya! Nanti aku yang cuci piring dan membereskan pekerjaan rumah lainnya.”

Jika Tidak Sesuai Ekspektasi
Mungkin banyak di antara kita yang punya ekspektasi ketika dahulu belum menikah. Misalnya, kita ingin punya pasangan yang begini dan begitu. Intinya, mengharapkan pasangan yang sempurna, lahir dan batin. Apakah ada yang seperti itu?
Pada dasarnya, ekspektasi itu harus dikelola. Banyak terjadi ekspektasi berlebihan setelah menikah. Berharap pasangan sesuai ekspektasi kita, ternyat tidak sesuai. Bisa jadi hari ini bilang sayang, besoknya marah. Hari ini menebar janji, eh, besoknya mengingkari.
Tujuan mengelola ekspektasi itu agar tidak kecewa. Selain itu, mengelola ekspektasi itu untuk memperbaiki mindset. Banyak orang yang terbuai dalam pernikahan. Berharap pasangannya bisa romantis, tetapi tidak selalu begitu.
Pertanyaannya sekarang, menikah itu untuk apa sih? Mengikuti Kelas Jadi Istri ini untuk apa sih? Kan tidak ada rumah tangga yang tidak diuji. Jika ada sebuah rumah tangga yang tampak baik-baik saja, bisa jadi ujiannya memang sedang disembunyikan.
Tujuan pernikahan itu disebutkan di dalam Al-Qur’an dalam Surah Ar-Rum ayat 21. Bisa kamu baca di sini ya:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Jika tadi ada kisah nyata menikah baru 3 bulan tidak tumbuh cinta, maka itu memang masih masuk waktu saling mengenal, Apa saja yang dikenali? Ya, bisa pola hidup, latar belakang, dan sebagainya.
Bedanya Laki-laki dan Perempuan

Dalam gambar di atas, tampak jelas bukan perbedaan laki-laki dan perempuan dalam komunikasi? Perempuan pakai perasaan, sedangkan laki-laki pakai logika. Perempuan ingin masalahnya cepat selesai, kalau bisa 10 menit selesai. Sedangkan laki-laki tidak bisa seperti itu. Dia butuh berpikir yang kadang butuh waktu lama.
Perempuan itu yang penting curhat terlebih dahulu, solusinya atau pemecahannya belakangan. Sementara laki-laki berpikir dulu solusinya bagaimana? Jadi, dia tidak ujug-ujug langsung mau curhat.
Dan, yang terakhir, perempuan memang lebih ekspresif dalam mengungkapkan perasaan. Perempuan terbiasa menangis dan itu wajar dalam persepsi masyarakat kita. Kalau laki-laki, tidak wajar dia menangis. Jika dia menangis, sering ada yang komentar, “Laki-laki kok menangis?”
Tanpa sadar, hal itu yang membuat laki-laki tidak bisa mengungkapkan perasaan secara utuh. Lebih banyak ditahan, disembunyikan, dan cuma dia sendiri dan Allah yang tahu.
Jadikan Ngobrol dengan Pasangan Kita Bisa Berhasil

Ada tiga bentuk pola komunikasi yang membangun seperti pada gambar di atas. Pertama adalah komunikasi afirmatif. Kita bisa memuji maupun menyatakan cinta kepada pasangan dengan baik. Contoh memujinya bisa dengan memuji kecantikan, sifat, baju yang dipakai, senyum manis pada saat itu, dan lain sebagainya. Atau bisa ditambah dengan, “Perasaanku kepadamu tidak banyak berubah sejak awal menikah.”
Komunikasi yang kedua adalah menyampaikan kebutuhan kepada pasangan secara baik tanpa harus pakai menyindir. Dan, yang ketiga adalah komunikasi reflektif, ini mendengarkan tanpa menghakimi yang berbicara. Jadi, selain bisa mengungkapkan perasaan lewat bicara, juga harus bisa mendengarkan secara baik pula.

Semua bentuk komunikasi itu harus dilatih. Jika ngobrol sudah baik, maka yang terjadi nantinya adalah ngobrol bertumbuh. Ini bisa menyelamatkan pernikahan. Ngobrol seperti itu agar tidak sampai melupakan amanah masing-masing.
Selamatkan diri dan pasangan dari rusaknya pernikahan akibat komunikasi yang buruk.

Supaya terhindar dari kesalahan komunikasi dalam rumah tangga, salah satunya adalah dengan menghindari membahas masalah penting lewat chat. Ngomong langsung itu lebih bagus daripada chat karena bisa melihat bahasa tubuh.
Jika cuma chat terus, maka bisa berantem antara suami dan istri. Kalimat chat itu bisa salah dipahami oleh pasangan. Demikian pula, bahasa tubuh memegang peranan penting saat taaruf. Perhatikan bahasa tubuh orang yang mau kita nikahi.
Kalau yang kita dapat hanya berupa jawaban saat kita bertanya, maka itu bisa diperindah. Namun, bahasa tubuh itu 100% tidak bisa dibohongi. Lihat wajahnya atau tangannya. Apakah tangan itu terbuka atau keringatan? Bahasa tubuh memang lebih berbicara daripada kata-kata.
Contoh masalah yang terjadi jika cuma chat, ada di dua gambar di bawah ini:


Bisa dibedakan sendiri bukan? Mana yang bagus dan mana yang tidak? Dan, sebelum sesi diskusi, mari kita renungkan yang berikut:

Bagaimana? Kamu sendiri ngobrol dengan pasanganmu sudah tercapai yang seperti itu belum?
Sesi Diskusi atau Tanya Jawab

Sesi tanya jawab telah dimulai. Pertanyaan pertama berkaitan dengan kiat agar pasangan selalu menerima kita? Jawaban dari Ayu Momalula adalah pastikan kita dan pasangan bisa nyambung sebelum menikah.
Tumbuhkan rasa menyayangi dan penghormatan kepada pasangan. Kenali value dirinya dan jadikan itu alasan untuk menghormati. Value inilah yang membuat bertahan.
Komunikasi yang nyambung itu harus mengerti kesukaan pasangan. Contohnya, waktu Ayu dengan suaminya yang suka sepakbola. Ayu pura-pura bertanya tentang nama pemain, dari tim mana, dan sebagainya.
Penanya kedua tentang LDM atau Long Distance Marriage, bisa juga diartikan LDR. Kiat dari Ayu yang juga sedang LDM tersebut adalah memang harus dibahas suami dan istri. Jangan tidak ada kesepakatan apa-apa.
Ajak pasangan bicara, misalnya mau video call jam berapa. Selain itu, bisa kirim video reels atau TikTok pribadi agar tercukupi kebutuhan batin. Lakukan semua berupa chat, voice note, video call, reels. Tentukan waktunya. Ingatkan hak dan kewajiban masing-masing. Memang sih ini ribet, tetapi itulah cara berkomunikasi ketika suami dan istri LDM.
Ayu juga memberikan panduan bagi pasangan suami istri untuk mengobrol terkait pola asuh orang tua masing-masing. Antara suami dan istri jangan pendam masalah sendiri. Cari waktulah untuk curhat kepada pasangan.
Waktu yang paling bagus menurutnya adalah sebelum tidur. Bisa dimulai obrolan dari yang ringan dulu. Mungkin tidak butuh ngobrol, tetapi hanya butuh dipeluk atau dipijat. Sampaikan juga jika kita tidak bisa mengucapkan cinta. Kalau jadi istri, suaminya bilang “I love you”, maka mau tak mau, bilang juga, “I love you too”.
Bisa jadi, ada pasangan yang mempunyai rasa ketergantungan terhadap orang tua. Maka tanyakan ke dia tentang memilih tempat kuliah. Apakah dia pilih sendiri atau dipilihkan orang tua? Jika pasangan ternyata masih tergantung kepada orang tuanya, maka sampaikan bahwa keputusan ini memang baiknya antara suami dan istri saja.
Bagaimana? Sudah dibaca sampai di sini? Menurut kamu sendiri bagaimana? Apakah tiap hari memang sampai mengeluarkan sampai 20.000 kata? Atau justru suaminya yang lebih cerewet? Hehe…
Share di kolom komentar, ya, setelah kamu baca artikel ini. Share juga tulisan ini ke orang-orang yang kamu sayangi. Semoga bermanfaat dan menginspirasi yang lain.
Sumber Referensi:
https://tafsirweb.com/7385-surat-ar-rum-ayat-21.html




