Selamat Tahun Baru 2026 Bagi Seorang Ayah, Tidak Perlu Resolusi, Cukup Jadi Solusi

Selamat Tahun Baru 2026 Bagi Seorang Ayah, Tidak Perlu Resolusi, Cukup Jadi Solusi

Alhamdulillah, tahun 2025 sudah terlewati. Dan, sekarang saya dan kamu sudah masuk di tahun 2026.
Yang namanya pergantian tahun, memang selalu berurutan. Yang tadinya 2025, maka pastinya menjadi tahun 2026.

Dan, momen pergantian tahun itu ditandai di jam 12 malam. Memang begitulah perhitungan secara Masehi.

Beda dengan kalender Hijriyah, pergantiannya di waktu Maghrib. Makanya, berbuka puasa itu di waktu Maghrib.

Berbuka dengan yang manis, meskipun istri kamu mungkin terlihat kurang manis, tetapi mungkin bisa ditambah kadar gula darahnya. Eh.

Momen Tahun Baru 2026

Tahun 2025 yang lalu, tepatnya di akhir tahun, kita mendapatkan informasi yang sangat tidak mengenakkan.

Bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Namanya, banjir bandang, pastilah besar. Sedangkan ikan bandeng, belum tentu besar.

Musibah tersebut menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit. Ada yang meninggal dunia. Ada yang kehilangan harta, ada yang kehilangan pekerjaan, dan lain sebagainya.

Musibah memang selalu menyimpan dua sisi. Yang satunya adalah kesabaran bagi para korban. Yang satunya adalah kepedulian dari kita yang tidak terkena bencana itu.

Bagi kita yang tidak terkena bencana, maka yang diutamakan adalah memberikan bantuan. Kamu memang tidak dipanggil “tuan”, tetapi kamu tetap bisa memberikan bantuan.

Bentuk bantuan bisa apa saja. Yang lalu, JNE sampai memberikan kesempatan kirim gratis pakaian pantas pakai.

Kalau di tempat saya, malah sampai membludak pakaian-pakaian jenis tersebut. Sampai ditutup donasinya dan masih menerima bantuan yang lain, misalnya popok bayi.

Agar lebih tepat, sih, bisa dengan uang saja. Sebab, saya pernah menonton video, bahwa banyak kepala keluarga kehilangan mata pencahariannya.

Ladang mereka rusak. Kebun mereka habis dilumat banjir. Ternak-ternak mereka mati massal. Itu semua mengganggu siklus pendapatan mereka.

Seorang ayah yang kehilangan mata pencaharian sehari-harinya sebenarnya juga akan kehilangan harga dirinya. Sosoknya sebagai pencari nafkah dan pemberi kepada keluarga bisa tergerus jika pekerjaannya tidak ada.

Inilah bukti bahwa seorang ayah itu adalah pejuang keluarga. Di pundak para ayah, tersimpan semangat kerja keras agar istri dan anak-anaknya bisa makan, juga bisa minum. Makan tidak minum, seret, lah.

Namun, ketika dalam kondisi tidak punya pekerjaan atau belum ada pekerjaan yang baru, itu memukul harga dirinya. Dia pastinya akan merasa sangat sedih, kecewa, bahkan bisa menangis diam-diam.

Melihat istri dan anak-anaknya kelaparan, dia jadi merasa lebih lapar. Dia ingin mengenyangkan istri dan anak-anaknya, tetapi apa daya, belum ada pendapatan. Belum ada pemasukan.

Yang masuk justru rasa sedih, kecewa, bahkan marah, dengan kondisi yang ada. Pikiran pun jadi makin ruwet. Bagaimana mengatasi itu semua? Otaknya terus berpikir, pikirannya terus berotak.

Tahun Baru 2026 Tidak Butuh Banyak Resolusi, Cukuplah Menjadi Solusi

Biasanya tuh, ada yang suka membuat resolusi. Pada tahun baru 2026 ini, resolusinya mau nikah, mau bisnis, mau menulis buku, dan lain sebagainya.

Namun, seiring berjalannya waktu, apakah resolusi itu terwujud semua? Biasanya, sih, tidak.

Hari berganti, dari tanggal 1 Januari, 2 Januari, Hingga 32, eh, 31 Januari. Terus Februari, dan seterusnya.

Eh, tahu-tahu, sudah tanggal 31 Desember lagi. Dan, melewati lagi tahun baru selanjutnya.

Itu terus yang terjadi bertahun-tahun bukan? Resolusi ternyata bukan menjadi sebuah solusi, apalagi polusi.

Resolusi hanya sebatas ditulis di kertas, Lebih enak malah makan resoles, harganya murah, bikin kenyang lagi.

Terus, apa yang bisa menjadi solusi bagi para ayah? Atau bagaimana cara para ayah bisa menjadi solusi?

Yang jelas, kamu sebagai ayah mestinya memang selalu hadir dalam keluarga kamu sendiri. Ini betul-betul hadir, bukan secara fisik, melainkan secara jiwa juga.

Hadir menemani tumbuh kembang anak. Hadir mendengarkan curhatan istri. Hadir untuk membantu pekerjaan istri, misalnya: membersihkan genteng. Walah, repot banget!

Kalau di rumah hanya hadir secara fisik, tetapi sibuk main HP, hem, itu masih hadir yang sangat kurang.

Meskipun di rumah memang tidak ada daftar absen tertulis seperti di kantor, tetapi absennya di hati istri dan anak-anak.

Mengisi absen dalam jiwa mereka, bahwa ayahnya akan selalu ada untuk mereka, selama hidup di dunia ini, meskipun kadang jarak memisahkan.

Bukannya jarak itu nama sejenis burung? Oh, itu nama burung kalau diucapkan oleh orang cadel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *