Kamu mungkin kelahiran 1980-an, atau bahkan 1990-an. Kalau lahir tahun segitu, maka kemungkinan besar kamu sekarang sudah jadi orang tua. Sudah jadi bapak maupun ibu. Sudah punya anak berapa? 20, ya?
Menjadi orang tua memang sebuah fase yang banyak dilewati oleh manusia. Hal ini memang menjadi bagian dari siklus kehidupan.
Awalnya, kita lahir ke dunia ini memang menjadi bayi. Begitu lahir, kita langsung menangis. Ada yang kencang, ada yang kendor. Eh, maksuanya ada yang kencang, ada yang di bawah itu.
Bayi yang lahir menangis, maka itu adalah bayi yang normal. Itu menjadi tanda bahwa dia selamat lahir ke dunia ini. Sementara, ibunya mungkin menangis, bersyukur anaknya lahir dengan selamat. Alhamdulillah.
Memang Tak Terbayangkan
Menjadi orang tua, mungkin belum pernah kita bayangkan, apalagi jika kita waktu itu masih bayi. Betul-betul tidak terbayangkan. Dan, kini kita berada di fase itu.
Ketika menikah, maka yang kita bayangkan pastilah enaknya. Dari yang tadinya haram, menjadi halal 100%. Dari yang awalnya pegangan tangan tidak boleh, sekarang jangankan pegangan tangan, pegangan siku pun silakan.
Dari hasil hubungan yang khusus halal suami istri, lahirlah anak-anak kita. Ada yang punya anak satu, dua, maupun tiga seperti saya. Ada yang lebih juga, empat, lima, dan seterusnya.
Terserah, sih, kepada masing-masing orang tua, mau punya anak berapa. Disesuaikan atau dikompromikan saja berdasarkan keinginan suami maupun istri.
Jika suaminya maunya anak tiga, sedangkan istri maunya empat, maka dikalikan saja jadi 12! Kan beres. Itu adalah tanda kesepakatan di antara kedua belah pihak. Ya ‘kan?
Nikmat Punya Anak

Anak, selain karunia dari Allah, juga amanah dari Allah. Nikmat sekaligus tanggung jawab. Jangan mau enaknya, tetapi harus berpikir juga anaknya.
Nikmat anak ini memang tidak dirasakan oleh semua orang yang sudah menikah. Ada yang sudah bertahun-tahun menikah, tetapi belum juga muncul anak. Padahal, anak kucing tetangga sudah berkali-kali lahir. Tidak pakai bidan sesama kucing lagi.
Namun, begitulah. Allah telah menetapkan takdir masing-masing. Pastilah berbeda antara satu dan yang lainnya. Dan, pastinya, semua ada hikmahnya, apalagi yang memang namanya hikmah. Ada hikmahnya, maksudnya punya istri namanya Bu Hikmah.
Bagi yang belum punya anak, bersabarlah. Soalnya, mau sabar atau tidak, ‘kan memang belum punya anak. Mau marah juga sama saja, belum juga ada anak.
Jadi, sabar adalah pilihan terbaik. Apalagi jika nama suaminya adalah Sabar. Cocok, Sabar harus diiringi dengan Hikmah. Kalau Sabar diringi yang lain, nanti Hikmahnya bisa marah.
Tapi Apa yang Kamu Pelajari Setelah Menjadi Orang Tua?

Dalam subjudul ini, memang pertanyaan yang gampang-gampang susah, susah-susah gampang, susah gampang-gampang, gampang-gampang, susah-susah, ah, pusing! Pasti pusing, karena belum banyak disiram, ya toh?
Manusia macam kita adalah makhluk Allah yang telah dibekali dengan otak. Meskipun kita datang ke warung makan Padang dan memakan otak-otak, tetapi bagi saya, itu enak.
Nah, otak adalah organ tubuh tempat berpikir. Organ yang satu ini berfungsi sebagai sarana belajar.
Setelah menjadi orang tua, ada berapa sih ilmu yang telah kamu pelajari, Bapak dan Ibu? Pastinya, dong, tiap hari ada saja yang kamu pelajari bukan?
Dalam sebuah channel Telegram, ada beberapa pendapat yang telah dipelajari setelah menjadi orang tua. Misalnya, anak banyak meniru perkataan dan perbuatan kita.
Yang pertama ini, cukup mengerikan sebenarnya, apalagi jika kita punya sifat alami suka marah-marah. Suka ngomel. Suka emosian. Kalau terus seperti itu, marah-marah kepada pasangan maupun kepada anak, maka anak akan mudah menirunya. Anak ‘kan duplikat dari orang tua.
Berikutnya, ada yang berpendapat bahwa orang tua tidak bisa memaksakan kehendak kepada anak saat anak mulai remaja, karena keadaannya memang berbeda dibandingkan waktu orang tuanya dahulu jadi remaja.
Jadi, memang anak itu ketika menjelang remaja, kalau laki-laki dan remaji kalau perempuan, maka kondisinya jauh berbeda dibandingkan jaman jadul dulu. Wih, kata-katanya, jaman jadul dulu!
Apalagi sekarang era digital, anak-anak setiap hari selalu berkutat dengan konten-konten di internet. Entah itu media sosial mereka atau punya orang lain. Segala macam konten bisa masuk ke dalam pikiran anak, entah itu disengaja maupun tidak.
Orang tua sekarang cukup berat untuk memfilter hal itu, meskipun si bapak rokoknya filter juga. Halah, hari gini masih merokok?
Anak juga dikatakan bukan orang dewasa mini. Jadi, jangan sampai orang tua berpandangan bahwa anak sudah mengerti segalanya. Anak dianggap sudah banyak tahu, meskipun fisiknya masih kecil.
Ya, nggak, dong! Orang tua yang seharusnya lebih tahu. Baru dia menerangkan ke anaknya.
Dan, tiga pendapat yang saling berkaitan adalah orang tua harus ekstra sabar menghadapi anak-anaknya. Nah, inilah yang menjadi kunci dalam mendidik anak, sabar, sabar, dan sabar.
Anak-anak itu memang cuma sekali waktunya. Mereka jadi kecil begitu tidak akan mungkin terulang lagi. Dan, sekarang baru tahu bukan, bahwa anak-anak cepat tumbuh dewasa.
Kemarin rasa-rasanya masih bayi, sekarang sudah bisa berlari. Ada jugakah bayi bisa berlari?
Orang tua merasa waktu berjalan semakin cepat. Dan, waktu si orang tua sendiri juga makin dekat untuk meninggalkan dunia ini. Lalu, apa yang bisa dipelajari setelah menjadi orang tua sampai hari ini?
Belajar Memang Tidak Mengenal Kata Berhenti

Jika dahulu orang tua waktu masih remaja, ada masa berhenti belajarnya di sekolah. Berhentinya, ya, kalau sudah pulang sekolah. Namun, di rumah, dimulai lagi. Entah itu mengerjakan PR, atau membaca untuk pelajaran esok harinya.
Rugi bila orang tua tidak mau belajar lagi, terutama parenting. Sebab, bila orang tua tidak mempunyai ilmu yang cukup, maka nanti akan kewalahan menghadapi anak-anaknya sendiri.
Orang tua yang sudah belajar saja bisa kerepotan menghadapi anak, kok, apalagi yang tidak pernah belajar. Jangan disamakan pola asuh dan pola pendidikan dia waktu masih bersama orang tuanya. Sekarang, perkembangannya sudah sangat jauh berbeda dan pantas dikatakan, sangat lebih gila.
Belajar tidak langsung menjadikan orang tuanya langsung sempurna, kok. Yang penting ada proses yang terus dijalani, tanya sana-sini, membaca buku, diskusi, menonton tayangan YouTube, dan lain sebagainya.
Setelah menjadi orang tua, apa yang telah dipelajari? Mari tanyakan ke diri masing-masing, jawabannya bisa berbeda masing-masing orang tua. Kalau kamu mau, boleh kok berbagi di kolom komentar di bawah ini, ya!




