Hari Ahad, biasanya saya olahraga bersepeda. Namun, pada Ahad ini, rasanya, ada sesuatu yang tidak boleh kulewatkan, makanya kutunda saja olahraga. Kuganti dengan olah jiwa dan pikiran melalui webinar.
Ini memang bukan lagi era corona alias covid-19. Kalau tahun 2025 ini, berarti judulnya covid-25. Namun, webinar yang dahulu ngetren di zaman covid, ternyata kini memang masih berguna.
Media manalagi selain Zoom Meeting? Yap, pada Ahad ini (30/11/2025), saya dan ratusan peserta lainnya belajar tentang “Mencari Damai Jiwa”. Narasumbernya adalah Kang Harri Firmansyah.
Seperti itulah di pamflet yang gambarnya menjadi kaver tulisan ini. Dibuka pagi ini oleh MC, yaitu: Mas Reza.

Begitu Sulitnya Kondisi Sekarang
Kalau ada subjudul seperti itu, kamu setuju atau tidak? Kira-kira, menurut kamu, sekarang itu sudah sesulit apa, sih?
Apakah betul-betul sulit? Bagaimana dengan Sulis? Kamu kenal? Lho, malah bahas nama orang.
Kang Harri mengambil judul yang memang pas di hari Ahad yang cerah ini. Semoga kamu juga cerah, ya? Cerah itu memang selalu ada, biasanya ada di kemeja, terutama kemeja batik. Betul apa tidak?

Kang Harri mengatakan bahwa mencari damai jiwa atau ketenangan jiwa itu ada pada tiga hal, yaitu: praktis, terukur, dan berakar.
Beliau lebih menekankan ke bagian yang terakhir, yaitu: berakar. Seperti itulah ilmu, ujungnya atau akarnya memang berasal dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pesan untuk hadirin dan kita semua adalah jadilah manusia yang akarnya kuat, batangnya kuat, jadi tidak mudah runtuh atau ditebang oleh orang lain.
Baca Juga: Review MHJA Series Bersama Babe Jamil Azzaini: Ketika Harta Berkurang atau Pergi, Apa yang Allah Ajarkan?
Jika batang kuat, rantingnya juga kuat sampai daun-daunnya pun rindang.
Kalau teringat akar, batang, ranting, dan daun, menyambungnya ke bencana banjir bandang di Aceh dan Sumatera Utara. Luar biasa kerusakan yang terjadi di sana.
Hutan sudah sangat gundul. Tidak hanya manusia yang menderita, tetapi para hewan, harimau, bahkan termasuk orang utan pun bingung mau di mana lagi karena rumahnya sudah hancur berantakan.
Sungguh zalim memang orang yang serakah. Dunia ini sebenarnya cukup untuk seluruh manusia, tetapi tidak akan pernah cukup untuk seorang manusia yang serakah. Betul apa tidak? Keprok atuh!
Kembali ke webinar ini. Tujuan sesi ini ada dua, yaitu:
- Memahami kedamaian batin menurut Islam.
- Menguasai teknik regulasi diri yang sejalan dengan ajaran Islam.
Moment of Peace

Pada slide di atas, coba kamu ungkapkan di kolom komentar di bawah, momen apa yang paling damai dalam hidupmu? Banyak peserta webinar yang menjawab.
Ada yang menjawab setelah sholat malam. Ada juga yang merasa momen tersebut saat di depan Kabah. Saat di Masjid Nabawi. Ketika kumpul bersama keluarga.
Saat dipeluk orang tua. Saat mendapati ridho suami tiap hari. Banyak ujian, tetapi lisan tetap bisa berdzikir.
Bagaimana dengan yang sedang dilanda bencana atau ujian yang berat? Jika sedang dilanda bencana, maka Kang Harri menyarankan untuk jangan suudzon dengan alam, apalagi dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Itu memang penting, sih. Soalnya, ketika kondisi negatif seperti terkena bencana alam itu, Setan sangat mudah sekali masuk dan menggoda manusia. Eh, tapi bukannya yang merusak hutan itu adalah setan berbentuk manusia?
Sekarang, setelah bencana alam, bumi ini memang sedang memperbaiki atau memperbaharui diri.
Dari membahas tentang bumi, langsung disasar tentang keluarga. Ada sebuah hal yang menarik untuk kita renungkan, yaitu: semua anggota keluarga boleh sakit, kecuali ibu.
Coba, kamu renungkan baik-baik. Tidak perlu, sih, sampai mencari hutan yang sepi atau pinggir pantai yang tidak ada orang sama sekali untuk merenung. Nanti, repot kalau tidak ada sinyal internet, ya ‘kan?
Ibu adalah sosok dalam sebuah keluarga yang posisinya sangat penting. Akan sangat merepotkan jika ibu sampai sakit karena hampir semua pekerjaan rumah tangga akan terbengkalai. Betul atau benul? Bener dan betul?
Lalu, ketika mau mencari ketenangan jiwa, di mana dapatnya? Rupanya, mata, telinga, kulit yang merasa, kedamaian itu justru ada di sekitar kita, kok.
Kang Harri menyebutkan perkataan dari Ustaz Hanan Attaki. Katanya, belajarlah dari makhluk Allah yang paling tulus, yaitu: tanaman-tanaman.
Mereka tenang, tidak pernah julid, memberikan lebih daripada yang kita berikan. Luar biasa.
Definisi Damai dalam Islam

Mencari kedamaian batin menurut Islam itu ada beberapa langkah, yaitu:
- Segi internal. Orang yang jiwanya damai itu terlihat dari dalam dirinya. Misalnya: bisa dilihat dari intonasi suaranya, body language atau bahasa tubuh, perkataannya pun qalbun mutmainah.
- Segi eksternal. Ada harmonisasi dengan orang lain, salah satu tandanya adalah sering memberikan salam.
- Ayat kunci. Surah Ar Rad ayat ke-28:ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Referensi: https://tafsirweb.com/3988-surat-ar-rad-ayat-28.html
Guru Kang Harri, yaitu: Pak Bagus, pernah memberikan empat hal yang saling terkait. Pertama, diri. Ini menyangkut kebeningan hati atau jiwa.
Kedua, menyangkut manusia yang diperlakukan setara. Semua manusia pada dasarnya sama di hadapan Allah, kecuali ketakwaannya.
Jika manusia dianggap setara, maka tidak ada inferior, yaitu: merasa kecil sebagai diri sendiri, maupun superior alias merasa lebih daripada orang lain.
Ketiga, nilai. Maksudnya adalah menjaga agama, menjaga keturunan. Dan, yang keempat adalah material. Ini sebagai pembantu atau pendukung saja.
Pada material ini, tidak harus tambah terus. Kalau fokusnya di material, maka nilainya akan turun. Berkebalikan dalam diagram pada gambar di atas bukan?
Hambatan dalam Mencari Damai Jiwa

Ada mitos yang salah di kalangan masyarakat kita bahwa orang yang damai itu bukan berarti bebas dari ujian atau masalah kehidupannya.
Sebab, pada dasarnya ujian itu punya tujuan agar kita naik kelas. Jika gagal, maka kita yang akan turun kelas.
Kang Harri mengatakan bahwa jangan lalai menjaga hati agar damai kita tidak hilang.
Nah, hambatan dalam mencari damai jiwa ini adalah termasuk pula dengan selalu membandingkan diri dengan orang lain.
Baca Juga: Dampak Orang Tua Bertengkar di Depan Anak, Hati-hati Bisa Jangka Panjang, Lho!
Kalau sudah membandingkan, maka yang kita punya menjadi tidak bernilai apa-apa.
Maka, solusinya adalah muhasabah, sabar, syukur, dan dzikir kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Ketika Science Bertemu dengan Sunnah

Dari gambar yang tampak dicorat-coret di atas, Kang Herri mengajarkan makna bahwa Allah itu ingin kita ke dalam dulu dengan memberikan ujian.
Lebih memperkuat akar dulu. Mungkin kita ingin dilihat orang, seperti pohon yang tinggi menjulang itu, tetapi sebenarnya kita belum siap.
Sedangkan napas berfungsi sebagai regulator sistem saraf. Ada saraf simpatik yang biasanya berkaitan dengan emosi dan ada pula saraf parasimpatik yang lebih tenang dan stabil.

Hal yang menarik dan baru saya ketahui adalah teknik grounding itu. Selama ini, yang saya tahu, itu adalah teknik dalam urusan kelistrikan. Rupanya, dipakai juga untuk usaha mencari damai jiwa.

3 C seperti gambar di atas memang cocok sekali dengan kehidupan sekarang yang tampak tidak normal ini. Ketika muncul pikiran negatif, maka catch alias tangkap saja. Bukan catch yang artinya kucing, lho, ya.
Setelah itu, check ke dalam jiwa kita. Tidak perlu check sampai ke bank, buat apa juga.
Dan, yang terakhir adalah change. Ubah sesuai dengan ajaran Islam yang kita kenal selama ini.

Pada dasarnya, emosi seperti sebel, marah, sedih, dan takut itu wajar saja. Namun, jangan sampai dicampur dengan pikiran sehingga mempengaruhi perasaan.
Saya agak bingung kalau yang itu, hehe.
Jangan sampai kamu ikutan bingung, apalagi tentang amarah ini, apakah dilepaskan atau dilampiaskan? Boleh kamu simak yang satu ini dari Kang Harri Firmansyah:
Kalau sudah kamu tonton video di atas dan kamu masih serius ingin mencari damai jiwa atau ingin mendapatkan ketenangan jiwa, maka kamu bisa praktekkan roadmap 30 hari kehidupan Islami seperti di bawah ini:

Sebagai penutup, Kang Harri Firmansyah menyampaikan bahwa Islam itu praktis, sederhana, dan terukur. Segala sesuatunya pasti ada dari Allah dan Rasul-Nya.

Begitu saja review atau rangkuman yang saya catat dari webinar Meaningful Ways oleh Kang Harri Firmansyah ini. Mengambil tema yang menarik “Mencari Damai Jiwa”.
Selama ini, itulah yang sedang kita cari. Kita ingin agar jiwa ini selalu damai dan tenang, meskipun, yah, bukan berarti bebas dari masalah.
Seperti umumnya masalah pada tanggal tua dan belum gajian, tahu sendiri bukan?
Kalau mau tahu lebih jauh, kamu boleh simak lebih lengkapnya di video beliau di bawah ini, ya, tentang obat capek:




