I Hate Monday. Eits, bukan saya yang bilang, lho! Ungkapan itu adalah wujud ketidaksukaan sebagian orang pada hari Senin yang katanya merusak hari libur. Ah, nyatanya hari Senin ini tidak, kok, dan seterusnya Insya Allah juga tidak.
Hari Senin (1/12/2025) menjadi semakin spesial karena hadirnya webinar Meaningful Ways lagi. Kali ini bersama Kang Novie Setiabakti, Personal Development Partner, sebagaimana yang tergambar dalam pamflet berikut:

Pada awal webinar yang benar-benar dimulai sesuai jadwal, pukul 05.30 WIB, sedangkan di tempat saya jam 06.30 WITA, Kang Novie bertanya kepada hadirin, “Siapa yang sudah berinteraksi dengan ayat-ayat Allah?”
Beliau memang “menantang” hadirin yang sempat mencapai ratusan orang itu untuk mendahulukan membaca Al-Qur’an dibandingkan aktivitas lain, apalagi aktivitas-aktivitas dunia.
Jika masih ada di antara hadirin atau kita pada umumnya yang jarang atau kurang berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka biasanya akan muncul kegalauan, kesedihan, maupun kegelisahan.
Allah, kata beliau, tidak membuat kita tersesat dan ingin membuat hidup kita tertuntun. Allah ingin merapikan kehidupan kita, melalui Al-Qur’an tersebut.
Memang, secara kenyataan, Al-Qur’an ini masih banyak yang belum mempraktekkan. Jangankan mempraktekkan, mentadabburi juga jarang,
Jangankan mentadabburi, membacanya saja apalagi, masih jarang pula.
Baca Juga: Mewujudkan Visi Misi Keluarga Bersama Dewi Nur Aisyah, Doktor Muda yang Selalu Haus Ilmu
Membaca Al-Qur’an cuma banyak dilakukan di bulan suci Ramadan, berburu khatam sebanyak mungkin. Selebihnya, cuma disimpan dan akhirnya menjadi debu.
Padahal, Al-Qur’an ini adalah pemberi ketenangan saat gelisah, terutama dengan dengan masa depan.
Gelisahnya jangankan tentang tahun depan, di siang hari nanti saja atau waktu yang berikutnya saja, kita tidak tahu, kok. Ya ‘kan?
Sejatinya, kita butuh ketenangan dan hal itu bisa didapatkan dari Al-Qur’an.
Ayat Random
Kang Novie mengambil ayat Al-Qur’an secara random atau acak. Dan, didapati Surah Al-Maidah ayat ke-35 dengan bunyi sebagai berikut:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (https://tafsirweb.com/1919-surat-al-maidah-ayat-35.html)
Jika hari ini kamu merasa jenuh, khawatir, ketakutan, maka itu semuanya sinyal dari Allah. Hal yang perlu dilakukan adalah kembali banyak mengobrol dengan Allah.
Baca Juga: Review MHJA Series Bersama Babe Jamil Azzaini: Ketika Harta Berkurang atau Pergi, Apa yang Allah Ajarkan?
Mungkin sudah lama kita tidak mengobrol dengan Allah melalui Al-Qur’an atau bahkan Allah yang sedang tidak mau mengobrol dengan kita. Naudzubillah min dzalik. Ngeri kalau yang terakhir ini.
Kang Novie memberikan pesan yang makjleb banget, “Ingatlah Allah dengan cara yang kita sukai. Jangan sampai Allah memaksa kita mengingat-Nya dengan cara yang tidak kita sukai!” Nah, tuh!
Apa contohnya dengan cara yang tidak kita sukai itu? Ya, misalnya ketika kita sakit, jenuh, gelisah, galau, dan dilanda perasaan negatif lainnya.
Siapa yang senang dihinggapi kondisi-kondisi seperti itu? Secara manusiawi sih tidak, lah yauw!
Masih tentang ayat ke-35 dari Surah Al-Maidah. Untuk urusan jalan di dunia saja, kita biasa menyerahkannya kepada Google Maps.
Setelah diserahkan ke aplikasi itu, eh, ternyata perasaan kita jadi lebih tenang. Aplikasi tersebut bisa memberikan petunjuk tentang tujuan kita, arahnya, jaraknya, dan keterangan-keterangan lainnya.
Kalau untuk urusan jalan kita menyerahkan kepada suatu aplikasi, lalu mengapa untuk urusan jalan hidup tidak diserahkan kepada ahlinya, yaitu: Allah Subhanahu Wa Ta’ala?
Itulah yang dimaksud dengan tawakkal. Menyerahkan urusan ini kepada Allah, bukan kepada makhluk yang lemah.
Memperbaiki Niat dan Tujuan Hidup

Tentang merawat niat dan merapikan hidup, kenapa sih niat dan arah hidup ini perlu dirawat? Kang Novie bertanya kepada zoomiyin (para peserta laki-laki) dan zoomiyat (para peserta perempuan), dan macam-macam jawabannya.
Ada yang menjawab agar tetap bisa fokus, agar bisa istiqamah, agar tidak sesat, agar hati manusia itu tidak terbolak-balik.
Berikutnya, Kang Novie menyadarkan kita bahwa kita memang sering lupa bahwa perjalanan hidup kita ini pastinya akan kembali kepada Allah.
Kita merasa hidup ini akan abadi selamanya. Padahal, dalam Surah Al-Hasyr ayat ke-18, beliau mengungkapkan bahwa di akhirat, waktunya tidak terbatas.
Ayat yang dimaksud sebagai berikut:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (https://tafsirweb.com/10816-surat-al-hasyr-ayat-18.html)

Dari slide di atas, ada tiga alasan niat dan arah hidup kita memang sangat perlu untuk dirawat.
Ini tentu saja tidak hanya bagi kamu yang saat ini berprofesi sebagai perawat, tetapi yang masih rawat jalan juga perlu. Maksudnya, merawat jalan hidup kita.
Baca Juga: 7 Cara Menghadapi Istri Cerewet Tanpa Harus Bikin Kepala Jadi Konslet
Alasan yang pertama, hidup tanpa kesadaran niat berpotensi menjadi rutinitas kosong. Mungkin kita selama ini sibuk luar biasa, tetapi ternyata semua itu cuma rutinitas belaka. Dan, seakan-akan itu kita lakukan hanya untuk urusan dunia.
Kedua, niat yang jelas membentuk identitas, arah hidup, dan kualitas amal. Pertanyaan seperti: siapa aku, darimana aku, dan ke mana aku akan kembali, hendaknya ada dalam hati dan pikiran kita.
Meluruskan niat untuk kebaikan menjadi kehidupan yang dipenuhi dengan potensi amal kebaikan. Jangan sampai kita tidak berbuat kebaikan karena dari awal tidak ada niat untuk itu.
Action (aksi) bisa muncul karena intention (niat). Dua hal ini memang tidak terpisahkan satu sama lain.
Baca Juga: Oh, Ternyata Istri Gugat Cerai Suami Karena Alasan yang Tidak Disadari Banyak Orang
Dan, alasan yang ketiga adalah hidup yang bermakna memberikan ketenangan, energi, fokus, dan keberlanjutan. Pertanyaan seperti: untuk apa, untuk siapa, karena apa, juga jangan dilupakan.
Jika kita melakukan sesuatu dengan niat karena ingin dipuji orang lain, maka itu akan membuat hati kita tidak tenang, apalagi jika niat tersebut malah tidak jadi didapatkan.
Dalam hidup kita, Allah sudah merencanakannya secara detail. Sumber daya amal yang ada pada kita itu namanya rezeki.
Ada rezeki berupa napas, kekuatan, kesehatan, dan lain sebagainya, semuanya diberikan agar hidup kita menjadi tenang.
Sibuk Versus Produktif

Kang Novie melihat para peserta webinarnya kali ini memang banyak yang sibuk. Ada yang sambil masak, mempersiapkan diri mengantar anak sekolah, mempersiapkan diri untuk berangkat kerja, maupun pekerjaan lainnya.
Mudah-mudahan semuanya berazam untuk selalu berada dalam kebaikan. Namun, ternyata, saking sibuknya kita, justru kesibukan tersebut terbawa sampai ke dalam sholat! Waduh!
Saat sholat, kita masih ingat bisnis, pekerjaan, lembur, rapat, dan urusan dunia lainnya, padahal seharusnya ‘kan ditinggalkan sebelum mulai sholat.
Menariknya, antara sibuk dan produktif, orang yang produktif itu pasti sibuk. Sedangkan yang sibuk itu belum tentu produktif. Kok bisa?
Alasannya, belum tentu sibuk itu berbuah kebermanfaatan. Sementara produktif itu penuh dengan kebermanfaatan, Insya Allah.
Oleh karena itu, mulai sekarang, hendaknya harus dipilih, mana yang membuat kita cuma sibuk dan mana yang membuat kita jadi produktif?
Misalnya, kita bertemu dengan teman. Untuk apa ketemu? Apa yang dilakukan ketika ketemu?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bisa melahirkan jawaban, kita sibuk atau bisa tetap menjadi produktif?
Makna Menjaga Niat dan Merapikan Hidup

Menjaga niat dan merapikan hidup, apa makna yang bisa kita dapatkan? Kang Novie mengungkapkan bahwa segala amal atau perbuatan tidak hanya dinilai dari banyaknya, tetapi juga dari niat tulus yang mengiringinya.

Kalau niatnya memang untuk dipuji dan dipuja manusia, maka niat tersebut pada nantinya akan sampai juga, kok. Kang Novie mengungkapkan hadits tentang niat yang lengkapnya saya ambil dari internet sebagai berikut:
Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim) [HR. Bukhari, no. 1 dan Muslim, no. 1907]
Dan, ditambah dengan Surah Adz Dzariyat ayat ke-56:
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (https://tafsirweb.com/9952-surat-az-zariyat-ayat-56.html)
Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Dan, segala ibadah kita memang tidak sebanding dengan semua rezeki yang diberikan oleh Allah.
Makna menjaga niat, agar kita selaras dengan Allah.

Usahakan saat kita bekerja di kantor, bisa bermanfaat untuk orang lain. Caranya dengan melayani orang lain secara baik, membantu orang lain, berbuat yang terbaik untuk kantor maupun organisasi kita.
Ciri-Ciri Orang yang Ikhlas Hidupnya
Pengertian ikhlas apakah kamu tahu? Berikut adalah penjelasannya:

Ikhlas itu artinya murni, bersih, bening, dan tuntas. Orang yang ikhlas itu semata-mata mengharap ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tidak peduli dengan dunia maupun pujian manusia lainnya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Hamil, Tapi Perlu Dipikirkan Kehamilan yang Sehat itu Seperti Apa?
Dasarnya untuk kita berbuat ikhlas itu di bawah ini, yaitu dalam Surah Al-Bayyinah ayat ke-5 dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam riwayat An-Nasa’i:

Lalu, apa ciri-cirinya? Mulai dari tidak tergantung pujian atau kritik, hati terasa tenang saat berbuat baik, tanpa perlu diumumkan.
Mengutamakan ridha Allah daripada penilaian manusia. Tetap beramal, meski orang lain melupakan atau bahkan tidak membalas sama sekali.
Kemudian, merasa cukup diketahui Allah tanpa perlu diketahui orang banyak. Dan, yang terakhir adalah tidak merasa lebih baik daripada orang lain atau merasa paling berjasa di dunia ini.

Mindset dalam Menjaga Niat dan Berbuat Ikhlas

Ada tiga hal yang perlu dilakukan kaitannya dengan menjaga niat dan berbuat ikhlas, yaitu:
- Ubah mindset dengan kita menyadari bahwa sebenarnya hidup kita ini adalah amanah dan perjalanan menuju Allah.
- Menyatukan niat, nilai, dan tindakan agar tidak saling berseberangan atau bertentangan.
- Kita melakukan amal bukan hanya sebagai aktivitas, tetapi memang berupa persembahan kepada Allah.
3 Usaha Menjaga Niat dan Merapikan Hidup
Berikutnya, agar terus bisa menjaga niat dan merapikan hidup, maka tiga usaha yang bisa kita lakukan:
1. Melakukan Aktivitas Sesuai Peran

Dalam satu hari, pasti kita dihadapkan dengan berbagai macam peran. Ada peran sebagai kepala keluarga di rumah, mungkin staf di kantor, atau manajer di perusahaan, kepala lingkungan, dan peran-peran lainnya.
Tuliskan saja aktivitas yang akan kita lakukan pada hari ini dan urai sesuai perannya masing-masing.

Perlu kita melakukan muhasabah atau perenungan, apakah aktivitas kita benar-benar untuk Allah atau selama ini hanya untuk menjalankan rutinitas?
Dan, motivasi atau niat kita melakukan itu semua untuk apa? Apakah hanya untuk urusan dunia? Hanya untuk mencari uang misalnya?

Tiga hal dalam urusan hidup, yaitu: penting untuk dilakukan, ini termasuk amanah dan kewajiban. Kedua adalah perlu untuk dilakukan, ini adalah pembiasaan dan pengembangan diri.
Ketiga adalah yang ingin dilakukan, termasuk dalam hal ini adalah hobi, urusan sosial, dan kontribusi kepada masyarakat.
Cara membedakan aktivitas kita dalam sehari, apakah termasuk penting, mendesak, dan di bawahnya lagi adalah dengan memakai diagram berikut:

Jika ada pekerjaan yang penting dan mendesak, maka lakukan sekarang, jangan ditunda-tunda. Adapun untuk rencana aktivitas yang penting, tetapi tidak mendesak, maka itu bisa dilakukan nanti atau buat jadwal khusus.
Bila itu sesuatu yang tidak penting, tetapi mendesak, seperti menerima notifikasi HP, maka bisa didelegasikan kepada orang lain yang terpercaya.
Dan, yang terakhir dan sekaligus mirisnya adalah sesuatu yang tidak penting dan tidak mendesak, hapus saja aktivitas ini, meskipun kita sering alias berkali-kali terjebak di sini.
Hanya untuk Allah
Sebagai penutup, yang diharapkan oleh Kang Novie dan kita adalah bahwa yang kita lakukan bisa bermakna dan menjadi persembahan yang terbaik untuk Allah.

Sekian, semoga bermanfaat rangkuman webinar bersama Kang Novie ini dengan mengambil tajuk merawat niat dan merapikan hidup.
Apabila kamu merasa ini bermanfaat, boleh share, ya, ke orang lain, klik tombol share di bawah! Syukron.




