Resume Webinar Jadi Ayah: Kang Canun Kamil Ungkap Pendidikan Anak dalam Islam yang Bikin Merenung Lebih Dalam

Resume Webinar Jadi Ayah: Kang Canun Kamil Ungkap Pendidikan Anak dalam Islam yang Bikin Merenung Lebih Dalam

Awalnya, saya ogah-ogahan ikut Webinar Jadi Ayah ini, meskipun saya memang bukan Pak Ogah, cepek dong! Namun, mengikutinya dan membahas pendidikan anak dalam Islam, ternyata seru dan membuat para peserta seperti baru mengetahuinya.

Webinar Jadi Ayah ini berlangsung pada Kamis (4/12/2025) yang lalu. Pertemuan melalui Zoom Meeting ini dimulai pukul 19.45. Itu bukan tahun Indonesia merdeka, melainkan waktu jam.

Kalau di WIB berarti 19.45. Kalau di WITA berarti 20.45. Kalau di WATI, saya tidak tahu.

webinar-jadi-ayah

Yap, itulah pamflet Webinar Jadi Ayah edisi pertama ini. Judulnya “Menjadi Ayah yang Berani dan Siaga”. Tentunya, kalau mau menjadi lebih hebat lagi, jangan hanya ayah siaga, tetapi ayah penggalang, hingga ayah penegak dan pandega, dong! Betul tidak?

pendidikan-anak-dalam-islam-4

Para peserta yang hampir semuanya para ayah ini, ada yang sudah join jam 19.30. Terlalu cepat memang, tetapi itu menjadi bagian dari semangat mereka untuk hadir. Yang masalah kalau hadirnya jam 30.19, eh, itu jam berapa maksudnya, ya?

Dibuka oleh MC, Mbak Uul yang langsung bikin para peserta tidak mengantuk di awal. Hehe, begitulah.

Oke, kita mulai bahas. Kalau Bahar, nama teman saya. Pasti kamu nggak kenal.

Kondisi Fatherless Ketika Membahas Pendidikan Anak dalam Islam

pendidikan-anak-dalam-islam-5

Sudah pernah tahu tentang fatherless? Ini bukan berarti father yang berarti ayah sedang ikut less Bahasa Inggris, melainkan kondisi “kekurangan ayah” atau menurut bahasa psikologisnya adalah “lapar ayah”.

Pembicara webinar ini, Kang Canun Kamil, menyebutkan tentang kondisi fatherless itu yang dipicu oleh money oriented atau career oriented.

Semua berorientasi untuk dapat duit sebanyak-banyaknya dan karir setinggi-tingginya. Dan, sayangnya, mendidik anak sering disepelekan. Sering dipandang sebelah mata. Wah, kelilipan, dong!

Baca Juga: Maafkan Ayah, Nak, Belum Bisa Mengajakmu Jalan-jalan Ke Mana Pun Kamu Mau

Bayangkan, nih, jika ada seorang ibu yang kuliah sampai S3, lalu memilih untuk jadi ibu rumah tangga saja, kira-kira apa kata orang? Apa tanggapan tetangga? Apa tanggapan Presiden Somalia?

Mungkin muncul tanggapan, sekolah tinggi-tinggi kok cuma jadi ibu rumah tangga? Harusnya sekolah tinggi itu kerja di luar rumah, jadi dosen, kek, jadi guru besar, kek, jadi ka, kek. Wah, malah jadi kakek!

Dunia rumah tangga, apalagi seorang ibu, dianggap hanya membuang-buang uang, bukan menghasilkan uang. Persepsi tentang produktivitas itu adalah kerja di luar rumah, seperti di kantor maupun di perusahaan.

Kalau di rumah itu bukan produktivitas, melainkan hanya, yah, konsumtif semata. Padahal, kata Kang Canun, produktivitas itu adalah aktivitas yang melahirkan ridho Allah. Tujuannya adalah ridha Allah. Hayo, antara ridho dan ridha, mana yang benar?

Masih tentang pendidikan anak, ibu adalah guru pertama bagi anak, sedangkan ayah menjadi kepala sekolahnya. Wah, apalagi jika ayah memang jabatannya sebagai kepala sekolah!

Ya, kepala sekolah di sekolah, kepala sekolah di rumah. Bukan kepala rumah di sekolah.

Bila seperti itu adanya, ayah sebagai kepala sekolah di rumah, maka dia harus tahu ilmu tentang pendidikan anak. Sedangkan, si ibu atau istrinya harusnya mengetahui ilmu-ilmu teknis. Jangan disamakan dengan olahraga, ya, kalau itu namanya teknis meja.

Persepsi Tentang Belajar

pendidikan-anak-dalam-islam-10

Sebenarnya, Kang Canun semakin menambah perenungan bagi para ayah peserta webinar ini. Beliau mengatakan bahwa kita diberi amanah oleh Allah dengan adanya anak ini agar anak tersebut bermanfaat bagi orang banyak.

Lalu, kenapa sekarang ada anak yang malas belajar? Rupanya, ini yang kurang adalah persepsi tentang belajar itu sendiri. Kurangnya konsep belajar, sehingga tujuan belajar jadi tidak tahu.

Misalnya, belajar tentang biologi, itu untuk apa, selain untuk lulus sekolah? Padahal, jika tahu tentang biologi, misalnya tahu tentang bakteri-bakteri di tangan kita, maka bisa ditanamkan ke anak bahwa bakteri-bakteri tersebut akan menjadi saksi kita di hadapan Allah.

Orang tua, terutama para ayah, mesti tahu bahwa anak ini adalah tamu istimewa yang kita undang sendiri atas kehendak dan persetujuan Allah. Hal ini dikutip Kang Canun dari O. Fitriani.

Makanya, mendidik anak itu adalah suatu seni, meskipun seni biasanya cuma dibuang di kamar mandi dalam bentuk air.

Seringnya, anak jadi tidak nikmat belajar, apalagi belajar agama Islam, karena selalu ditakuti dengan siksa dan azab dari Allah.

Contohnya, “Kalau kamu tidak sholat, Nak, kamu nanti akan menjadi kafir, masuk neraka Jahannam selamanya!”

Kalimat itu ‘kan mengerikan. Anak mungkin akan sholat, tetapi karena rasa takut disiksa Allah, terlebih lagi dimarahi ayahnya.

Seharusnya, anak itu dikenalkan dengan kasih sayang Allah, cinta Allah, rahmat Allah, dan semacamnya sebelum anak baligh. Kenalkan bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun.

Jangan lupa, bahwa anak yang lahir itu bukanlah kertas kosong. Bagi kamu yang bisnis ATK, pasti tahulah kertas kosong ini. Eh, yang tidak bisnis ATK, juga tahu, kok.

Anak yang lahir ke dunia ini sudah membawa sifat-sifat kebaikan, lho! Sudah ada corak-corak kebaikannya. Misalnya, ketika ada orang tua memarahi anak sampai membentaknya.

Eh, tidak lama, anak tersebut memaafkan orang tuanya. Lalu, dengan tersenyum kembali memeluk orang tuanya dengan penuh kasih sayang. Coba, orang dewasa belum tentu bisa begitu, lho!

Selain itu, anak sudah punya bakat belajar. Sudah senang belajar pada awalnya. Contohnya, bayi itu belajar benda-benda dengan memasukkan benda-benda ke dalam mulutnya.

Makin besar anak itu, misalnya balita, maka cara belajarnya dengan banyak bertanya. Jadi, orang tua jangan bosan dan jenuh menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, ya!

Jika kamu sebagai orang tua mungkin lagi jenuh menjawab pertanyaan-pertanyaan anak, mungkin cara ini bisa membantumu. Coba kamu ke sini >> cara membantu anak belajar dengan sangat menyenangkan.

Pendidikan Anak yang Salah, Tidak Mau Anaknya Susah

pendidikan-anak-dalam-islam-11

Sekarang ini, lucu juga, ya? Ada anak yang ketahuan merokok, gurunya memarahi, lalu si anak lapor ke orang tuanya. Eh, si orang tuanya memarahi si guru.

Malah, sampai berujung ke aparat polisi juga. Benar-benar polisi, bukan polisi tidur apalagi patung polisi.

Bahkan, ada anak yang sudah dewasa dan menjadi mahasiswa. Namun, yang membuat janji ketemu dengan dosen untuk bimbingan skripsi, malah si orang tua mahasiswa. Lha, iki piye toh?

Orang tua menganggap bahwa ketika dia menjadi anak-anak, dididik oleh orang tuanya seperti VOC. Keras, bahkan cenderung kejam.

Nah, setelah punya anak, orang tua yang tadinya anak-anak itu sekarang malah mendidik anak dengan sangat permisif. Semuanya serba boleh. Padahal, itu menyimpan bahaya tersembunyi.

Baca Juga: 3 Hal yang Harus Disyukuri Ketika Kamu Menghadapi Istri yang Cerewet

Ketika anak masih kecil, dia minta permen dan selalu dituruti, bagaimana nanti ketika sudah besar? Kalau tidak dituruti, jangan sampai malah membakar rumah orang tuanya? Waduh! Subhanallah. Jangan sampai, deh!

Anak yang seperti itu jelas tidak mandiri, meskipun bapaknya nasabah BCA. Harusnya, orang tua itu berusaha agar si anak bisa mandiri karena dalam kenyataan, tidak selamanya anak akan bersama dengan orang tuanya. Betul atau tidak salah?

Kang Canun juga mengungkapkan ada sebuah fenomena yang miris pada diri anak-anak. Sebagaimana disebutkan dalam gambar di bawah ini:

pendidikan-anak-dalam-islam-3

Cukup mengerikan, ya, gambar di atas? Menurut kamu, solusinya bagaimana, sih? Coba kamu tulis di kolom komentar di bagian bawah. Kira-kira kamu ada solusinya atau siapa tahu mau sharing seperti itu juga?

Tahapan Perkembangan dan Pendidikan Anak dalam Islam

tahapan-perkembangan-anak

Ada tiga tahapan perkembangan anak dari kecil sampai jadi anak muda, yaitu:

1. Usia 7 Tahun Pertama

Disebut dengan fase pertumbuhan akar. Pada usia 7 tahun pertama, fokuskan ke anak untuk kenal dan jatuh cinta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kalau anak seperti tadi yang saya tulis di atas, belum mau sholat, itu masih dimaklumi karena memang belum baligh.

Namun, mulai saja dikenalkan dengan masjid. Yang repot itu kalau bapaknya tidak mau sholat berjamaah di masjid, maunya sholat di rumah saja kayak perempuan.

Bahkan, untuk sholat Jum’at pun malas-malasan ke masjid. Wah, kalau itu bukan laki-laki sholeh namanya, melainkan bisa jadi laki-laki sholehah!

Baca Juga: Oh, Ternyata Istri Gugat Cerai Suami Karena Alasan yang Tidak Disadari Banyak Orang

Anak yang berusia sampai 7 tahun ini perbanyaklah dialog, bukan monolog. Kurangi instruksi, perbanyak diskusi.

Kenalkan dengan aqidah, adab, kasih sayang, dan keakraban. Misalnya, tentang aqidah, kenalkan bahwa Allah yang menciptakan segalanya, langit dan bumi, termasuk orang tua dan si anak tersebut.

Tidak ada yang bisa menciptakan sebagus dan sesempurna Allah. Jadi, anak akan berpikir bahwa semua ini memang ada penciptanya.

Bukan seperti pandangan atheis, bahwa dunia ini makbedundug atau makjegagig, cling, tiba-tiba ada. Kursi dan meja saja ada pembuatnya, yaitu: tukang kayu, apalagi tukang kayunya dari Solo. Eh, kayaknya kenal, siapa itu, ya?

2. Usia 7 Tahun Kedua

Ini adalah fase pertumbuhan batang. Setelah melewati 7 tahun pertama, maka selanjutnya adalah 7 tahun kedua. Dari pertama, selanjutnya kedua bukan?

Pada fase ini, anak perlu dikenalkan dengan ibadah, kedisiplinan, ketegasan, dan tanggung jawab. Jika anak sudah baligh, maka pahala dan dosanya sudah tercatat.

Makanya, memang perlu ditegasi, jika anak tidak sholat, maka bisa dipukul. Tentunya, pukulan yang mendidik, bukan pukulan ala Hulk yang warna hijau itu. Warna hijaunya mirip dengan sirup Marjan tidak, ya?

3. Usia 7 Tahun Ketiga

Fase ketiga, disebut dengan fase pertumbuhan daun dan buah. Akar sudah jadi, batang sudah terbentuk, tinggal daun dan buah.

Anak diarahkan untuk bisa bermanfaat untuk sekitar. Mulai manfaat bagi rumahnya, tetangganya, sekolahnya, dan masyarakatnya, sampai nusa dan bangsa, serta luar angkasa juga kalau perlu.

Sesi Diskusi/Tanya Jawab

Ada yang bertanya kepada Kang Canun. Tentang seorang anak yang sudah terlanjur nakal dan susah diatur oleh orang tua. Bagaimana solusinya?

Kang Canun menjawab kalau sudah seperti itu kondisinya, maka yang dibutuhkan adalah bonding. Ini tentu saja tidak ada kaitannya dengan film yang judulnya James Bonding 007 itu.

Rehabilitasi memang lebih berat daripada preferensi. Dan, jika sudah merasa terlambat berlari, maka yang dibutuhkan selanjutnya adalah stamina yang lebih segar agar bisa mengejar.

Pada intinya, tidak ada anak yang terlahir untuk menyusahkan orang tua. Begitu pula orang tua mana yang ingin anaknya nakal?

Bonding dalam hal ini bisa dilakukan dengan membangun kemesraan bersama si anak. Bisa dimulai dengan mengajak jalan berdua, anak dengan ibunya. Jangan perbanyak nasihat terlebih dulu!

Dalam kencan berdua itu, omongan yang tidak penting sebenarnya memang penting. Namanya juga bonding. Yang penting membangun kedekatan hati antara orang tua dengan anaknya.

Pada kasus ini, anak yang seperti itu ibarat kertas kusut. Entah, ukurannya apakah F4 atau A4, yang jelas sedang kusut.

Kertas kusut, dibuka dulu kertasnya, baru jika sudah lurus lagi, bisa dituliskan nasihat-nasihat.

Bagi kamu yang ingin belajar lebih jauh bersama Kang Canun, kamu bisa ikuti media sosialnya sebagai berikut:

pendidikan-anak-dalam-islam-2

Webinar ini berakhir sekitar jam 22.30 WITA saat MC, Mbak Uul yang menutup acara dengan pembahasan pendidikan anak dalam Islam ini. Rupanya, ada tawaran diskon bagi para peserta untuk memiliki e-course parenting selanjutnya.

pendidikan-anak-dalam-islam

Dari yang harganya sekitar 400 ribu, menjadi sekitar 200 ribuan. Hem, masih pikir-pikir dulu, deh, soalnya masih ada cicilan dan tagihan. Namun, yang lebih menakutkan adalah ketika istri yang menagih, “Mana uang belanja hari ini?”

Nah, bagi kamu yang saat ini menjadi ayah, menghadapi yang begitu, janganlah menjadi payah. Soalnya, kalau ada payah, ada juga pibu. Halah.

Payah dan pibu lebih baik bekerja sama dalam mendidik anak. Saranku sih bisa ke sini >> saatnya ayah mendidik, saatnya ibu menjadi ibu.

Oke, semoga bermanfaat resume Webinar Jadi Ayah edisi pertama ini, ya! Kalau dirasa cocok dan bermanfaat, boleh kasih reaction di bawah atau di atas tulisan ini, dong!

Ditunggu juga komentar kamu dan share kamu agar orang lain yang menjadi ayah juga, bisa ikut merasakan ilmu dari Webinar Jadi Ayah ini. Oke?

Baca Juga: Cara Mempererat Hubungan Suami Istri, Ternyata Bisa Pakai Hewan Ini, Banyak Orang Tidak Menduganya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *