Resume Webinar Bersama Ustaz Nur Jabir, Menemukan Tuhan di Dalam Diri Dibandingkan dengan Menemukan Isi Dompet yang Hilang

Resume Webinar Bersama Ustaz Nur Jabir, Menemukan Tuhan di Dalam Diri Dibandingkan dengan Menemukan Isi Dompet yang Hilang

Menemukan. Sebuah kata yang sering muncul dalam kehidupan kita sebagai manusia. Seperti teman saya yang pernah berusaha menemukan isi dompet yang hilang. Dan, tulisan ini juga membahas menemukan Tuhan di dalam diri. Apa ada hubungannya?

Menemukan berasal dari sesuatu yang pernah kita miliki. Sesuatu itu berusaha untuk ditemukan karena mungkin hilang, lenyap, atau terluput dari perhatian kita.

Teman saya pernah mengalami suatu musibah sebagaimana dijelaskan di awal tulisan dan di judul. Masih ingat ‘kan? Soalnya kalau sudah lupa tuh, mungkin habis minum Panadol.

Suatu ketika, dia mengambil uang di ATM. Tidak sampai triliyunan, sih, apalagi milyaran. Sekitar 2 atau 3 juta rupiah saja.

Antara kantornya dengan si ATM itu memang berada dalam satu pandangan lurus. Artinya, dari halaman kantornya, cukup terlihat jelas ATM tersebut. Mungkin sekitar 100 meter saja.

Setelah mengambil uang di ATM, dia lalu mengendarai motor maticnya dan memarkir motor tersebut di halaman kantor.

Otomatis, motor itu tidak dibawa masuk ke dalam kantor, karena sepertinya motornya tidak mau juga. Mungkin malu. Halah.

Ada sekitar hampir satu jam, dia masuk, saat kembali ke motornya, Innalilahi, dompetnya tergeletak lemas di dekat pagar kantornya.

Hal yang membuat miris, jauhi miras, isi dompet itu sudah tidak ada!

Artinya, uang yang ada di dompet senilai 2 atau 3 juta rupiah itu hilang seketika tanpa tahu rimbanya, tanpa tahu hutannya.

Memang sudah banyak hutan yang rusak di Sumatera, hadeh.

Tentu saja, sebagai manusia dan seperti kita juga, ada perasaan sedih, marah, jengkel, kecewa, pokoknya campur aduk jadi satu, padahal dia tidak membawa mixer dan blender ke kantor.

Namun, ketika mau sedih berkepanjangan, dia lupa bahwa dia sebenarnya memang teledor. Dor! Dia lupa bahwa tadi dia menaruh kunci motornya di laci bawah stangnya.

Mungkin sudah menjadi kebiasaannya selama ini. Merasa aman-aman saja tinggal di daerah tersebut.

Baca Juga: Review MHJA Series Bersama Babe Jamil Azzaini: Ketika Harta Berkurang atau Pergi, Apa yang Allah Ajarkan?

Wah, wah, wah! Alhasil, kunci tersebut dipakai oleh si pencuri untuk membuka jok motor dan mengambil isi dompet yang tersimpan di bawah jok itu.

Alamak! Bukan alamat emak. Teman-temannya memang menyayangkan kejadian itu karena mengira tangan si pencuri berhasil menyusup di bawah jok motor dan mengambil dompet.

Ternyata, kuncinya sudah disediakan. Itu sama saja dengan mengatakan, “Silakan ambil, pencuri yang terhormat. Kuncinya sudah ada di sini. Siap dipakai.”

Tentang Menemukan Tuhan di Dalam Diri

Webinar Meaningful Ways pada pagi Rabu (3/12/2025), sangat mengesankan. Dari tema yang diangkat, yaitu: Menemukan Tuhan dalam Diri.

Lho, selama ini Tuhan ke mana? Selama ini Tuhan menghilang? Atau kita sendiri yang menghilang dan tidak menemukan Tuhan itu?

Dalam tulisan yang entah berapa hurufnya ini, apalagi jumlah huruf a-nya, saya menyebut Tuhan dengan Allah saja. Sebab, yang namanya Tuhan itu bisa bermacam-macam.

Ada yang menuhankan uangnya. Ada yang menuhankan jabatannya.

Ada yang menuhankan atasannya. Ada yang menuhankan junjungannya. Wah, buzzer nih, ye!

Sebelum kita terlahir di dunia ini dan menjadi manusia cakep, misalnya seperti saya dan kamu juga, kita pernah melewati fase dalam alam ruh.

Sebelum kita menjadi janin di dalam rahim ibu kita, maka kita diberikan ruh oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dari penciptaan tersebut sampai sekarang, yang tersisa adalah fitrah.

Fitrah ini bukan merujuk pada nama seseorang, jadi jangan GR dulu yang punya nama ini, ya!

GR ternyata bisa terjadi juga karena kebanyakan makan permen, artinya adalah Gigi Rusak!

Baca Juga: Webinar Bersama Dokter Gustafianza: Makan Itu Ilmu, Bukan Nafsu

Pada dasarnya, kata narasumber kita, Ustaz Nur Jabir, hidup ini adalah berjalan menuju Allah. Jelas, tiap saat, tiap detik, kita makin mendekati kematian.

Fase kematian itu adalah jalan menuju Allah. Tidak ada orang yang tidak menuju Allah. Sebejat apapun dia, nantinya juga akan ketemu dengan Allah.

Jika merujuk pada menemukan Tuhan di dalam diri, atau mencari Allah dalam diri kita, tentunya yang dimaksud ini adalah kekuasaan Allah, kemahacintaan Allah, kenikmatan dari Allah, dan semacamnya, maka harus kita sadari siapa diri kita.

Dan, sebenarnya kita hidup di dunia, apa yang kita cari? Mungkin yang satu ini akan bisa membantumu.

menemukan-tuhan-dalam-diri

Dekatnya Hamba dengan Tuhannya

Mungkin kita pernah tahu sebuah dalil bahwa Allah itu lebih dekat dengan kita melebihi urat leher kita sendiri. Dalam Surah Qaf ayat 16 sebagaimana tercantum berikut ini:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِۦ نَفْسُهُۥ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ ٱلْوَرِيدِ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (https://tafsirweb.com/9822-surat-qaf-ayat-16.html)

3 Penyebab Jauh dari Allah Padahal Allah Lebih Dekat daripada Urat Leher Kita

Nah, dari dekatnya kita dengan Allah, kok masih terasa jauh? Ternyata, ada tiga penyebabnya.

1. Hidup dalam kebisingan batin

Sekarang ini eranya memang bising sekali. Bising di luar rumah, bising di dalam rumah.

Salah satu yang sangat membuat bising adalah notifikasi di HP kita.

Ada begitu banyak informasi yang datang silih berganti. Masing-masing membawa pesan tersendiri.

Dari berbagai hal yang mampir ke pikiran kita itu, salah satu hal yang sangat mengganggu adalah overthinking. Terlalu banyak pikiran, bahkan di saat menjelang tidur.

makna-menemukan-tuhan

Kalau ada orang yang mau tidur, dia masih bolak-balik badan, mau memejamkan mata sangat susah.

Tidur di kasur masih belum bisa masuk ke alam mimpi, akhirnya pindah ke kamar lain.

Baca Juga: Maafkan Ayah, Nak, Belum Bisa Mengajakmu Jalan-jalan Ke Mana Pun Kamu Mau

Masih sama juga. Pindah ke ruang tamu. Lama-lama, pindah di teras itu.

Jika kita mau tidur, sedemikian susah karena banyak pikiran, itu berarti kita tidak menguasai pikiran kita sendiri.

2. Identifikasi ego yang berlebihan

Ego adalah bagian dari diri kita. Sedangkan Egi adalah nama tukang percetakan yang ada di tempat saya.

Jangan pesan sama dia, karena satu meter dihargainya sama dengan 100 sentimeter.

Kalau ego wajar-wajar saja, maka itu masih dikatakan bagus. Namun, jika sudah berlebihan, akhirnya yang muncul adalah kesombongan.

Ditambah dengan merasa diri lebih baik daripada orang lain.

3. Lupa perjanjian primordial

Kita mungkin sering lupa dengan perjanjian antara kita dengan Allah sebelum kita dilahirkan di muka bumi ini.

Dalil tentang perjanjian primordial ini ada dalam Surah Al’A’raf ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). (https://tafsirweb.com/2626-surat-al-araf-ayat-172.html)

Perjalanan Pulang

Kita berasal dari Allah dan nantinya akan kembali kepada Allah. Berarti itu adalah perjalanan pulang kita kepada-Nya.

Pada intinya, perjalanan ruhiyah yang kita alami sekarang bukan mencari, melainkan mengingat.

Ada dua bentuk mengingat, yaitu: dalam sholat dan yang kedua adalah ingat Allah sebanyak-banyaknya melalui dzikir.

Sebelum kita benar-benar pulang, mari renungkan bahwa menemukan Tuhan dalam diri itu memang lebih mudah daripada menemukan isi dompet teman saya yang sampai sekarang masih hilang.

Ketika kita bersalah dan berbuat dosa, minta ampun kepada Allah itu lebih gampang daripada manusia.

Kita bisa meminta ampun sambil duduk, berdiri, atau bahkan berbaring.

Bahkan, dalam kondisi misalnya buka baju atas bagi laki-laki karena cuaca sedang panas, kita masih bisa beristiqfar.

Coba bandingkan meminta maaf kepada orang lain.

Kita harus dalam posisi yang terlihat menyenangkan baginya dan jika buka baju atas bagi laki-laki begitu, kira-kira akan dimaafkan apa tidak? Mungkin tidak.

Dalam urusan meminta kepada Allah juga lebih gampang. Kita bisa minta kepada Allah setiap saat. Beda dengan meminta kepada manusia.

Bahkan meminta kepada orang kaya sekalipun, lama-lama dia akan marah jika terus datang meminta bantuan kepadanya.

Seberapa kayanya dia, tetap nantinya dia akan jengkel, padahal dia juga suka jengkol.

Dan, sebagai penutup dalam tulisan ini, kita akan merasa “pulang” kepada Allah jika dunia ini tidak lagi terlalu nikmat.

Celakanya, ada pula orang yang begitu, tetapi malah memilih bunuh diri.

menata-hati-dan-jiwa

Orang yang seperti itu sedang mengalami kegelapan dalam hidupnya, tetapi dia tidak tahu apa itu. Jadi, bunuh diri saja. Malah mengurangi jumlah penduduk, ya? Walah.

Menemukan Tuhan dalam diri itu sejatinya tidak terlalu jauh, karena Allah memang lebih dekat dengan kita daripada urat leher kita sendiri.

Meskipun kita memiliki urat yang sehat karena olahraga maupun asam urat karena penyakit, tetap Allah lebih dekat daripada urat-urat tersebut.

Kedekatan tersebut bukan secara fisik, melainkan kedekatan eksistensial. Kalau tidak dekat secara eksistensial, berarti memang sedang sial.

Mari kita selalu ingat nikmat juga. Hal ini sebagai wujud mengingat Allah, karena semua nikmat dari Allah.

cara-menemukan-tuhan-di-dalam-diri

Kita mungkin sering merasa bahwa nikmat itu dalam bentuk fisik, seperti rumah, mobil, HP, istri, apalagi kalau dia cantik, ya ‘kan?

Namun, nikmat yang sederhana atau sering sekali kita terima seperti napas maupun kita masih bisa berbicara lancar, mungkin jarang kita syukuri.

Begitu juga dengan sajian kopi maupun teh di pagi hari. Kita cuma melihat bahwa kopi atau teh itu sudah ada di depan mata, sudah terhidang oleh istri kita tercinta.

Dia hidangkan kita dengan teh pagi ini, mungkin sajian kopi ketika kemarin, tetapi mungkin besok dia campur antara teh dengan kopi karena kita belum ngasih uang ke dia, halah.

Kopi atau teh tersebut kita syukuri karena keduanya menempuh perjalanan yang cukup jauh.

Mulai dari petani, pengolah, dan orang-orang selanjutnya, sampai pedagang di warung yang mungkin belum kita bayar utang kita di sana, keduanya bisa tersaji dengan nikmat dan sedap.

Apalagi memandang wajah istri kita yang cantik, wuih, rasanya tambah nikmat. Namun, jika sedang minum teh atau kopi, sedang nikmat-nikmatnya, lalu tiba-tiba dia bertanya, “Mana uang belanja hari ini!”

Kita akan tiba-tiba tersembur karena mungkin sebelumnya kita lembur, tetapi uangnya dari bos belum benar-benar terjulur. Yah, tetap harus bersyukur.

Jadi, selamat menemukan Tuhan di dalam diri. Insya Allah, ini akan menjadi perjalanan yang sangat indah di dunia ini, terlebih nanti kita petik hasilnya di akhirat kelak.

Baca Juga: Cara Mempererat Hubungan Suami Istri, Ternyata Bisa Pakai Hewan Ini, Banyak Orang Tidak Menduganya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *