Jika melihat pendapatan anggota DPR dalam sebulan, rasanya memang miris, ya? Meskipun kita sama sekali tidak menyentuh miras, tetapi tetap saja miris. Bayangkan, mereka bisa mendapatkan total penghasilan sampai 100 jutaan per bulan.

Pada tabel di atas, kamu bisa lihat aneka macam penghasilan, mulai dari gaji, tunjangan istri/suami, anak, uang sidang, tunjangan jabatan, beras, hingga tunjangan pajak penghasilan.
Waow, yang terakhir ini dikritik habis-habisan oleh Tere Liye! Pajak penghasilan mereka sudah ditanggung oleh negara. Tambah waow!
Dan, yang sedang viral ini adalah anggota DPR RI yang joget-joget pada kegiatan negara yang lalu. Tampak sangat menikmati tingginya pendapatan anggota DPR dalam sebulan itu. Sedangkan rakyat menjerit setiap hari, boro-boro hari ini mau makan apa? Bisa makan apa tidak saja belum tentu.
Mewakili Rakyat

Katanya, anggota DPR itu mewakili rakyat. Namanya saja lembaga legislatif. Betulkah rakyat memang betul-betul diwakili?
Menurut Rocky Gerung, kedaulatan itu tetap ada di tangan rakyat. Pendapat yang hampir sama juga dikatakan oleh Ustaz Adi Hidayat. Tidak pernah sekalipun rakyat menyerahkan mandatnya kepada anggota DPR. Lho, jadi bagaimana dong?
Sebenarnya, adanya anggota DPR itu memang menjadi bagian dari negara demokrasi. Yah, katanya negara demokrasi, tetapi kadang bisa berubah menjadi negara democrazy.
Sangat keras politik di negeri ini, melebihi penolakan terhadap poligami. Eh, siapa itu istri yang menolak poligami? Ternyata istri saya sendiri, hehe.
Sejak awal kemerdekaan, sudah mulai ada cikal-bakal lembaga DPR ini. Lalu, lembaga DPR diturunkan pula sampai ke daerah, hingga menjadi DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota.
Tidak ada DPRD kecamatan, maupun RT dan RW. Kalau sampai tingkat desa atau kelurahan, bisanya malah jadi tempat cukur rambut. DPR menjadi punya kepanjangan Dibawah Pohon Rindang.
Sangat Sulit Menjadi Anggota DPR
Tingginya penghasilan anggota DPR dalam sebulan memang sebanding dengan kerja kerasnya untuk bisa masuk ke sana. Yang dibutuhkan bukan sekadar terkenal, melainkan juga sokongan, terutama dana umum dan kesempatan. Wuih, jadi main monopoli, nih!
Rakyat sekarang memang terang-terangan jika suaranya mau diberikan oleh anggota DPR atau siapapun yang mau masuk ke lembaga legislatif itu. Teman saya, nyata-nyata bercerita bahwa rakyat yang didatangi memang mematok sejumlah uang.
Makanya, ketika ada calon anggota legislatif yang punya visi dan misi bagus, tetap tidak laku jika tidak punya uang. Ini ‘kan jadi mengerikan untuk perkembangan demokrasi yang menjadi democrazy nanti.
Ada yang namanya baku tindis kalau di tempat saya. Mungkin ada calon anggota DPRD sebut saja si A. Betulan nama orang itu huruf depannya A, ya, jangan diganti dengan nama hewan. Dia mendatangi sekelompok masyarakat, lalu menyepakati harga sekian demi suara.
Nah, pada lain hari, ada yang datang lagi, sebut saja B, juga menyepakati sejumlah uang dengan nomimal yang berbeda. Ini B juga nama orang huruf depannya, jadi diplesetkan jadi nama makian.
Bila si B lebih besar, maka mungkin saja masyarakat akan memilih B daripada A. Namun, ini juga belum tentu, sih. Soalnya kalau sudah di bilik suara, panitia KPPS, tidak membolehkan yang mencoblos masuk ke bilik suara sambil membawa HP.
Hal itu bertujuan agar di dalam bilik suara tidak memfoto hasil coblosan, atau malah telepon, video call, hingga live di TikTok. Atau justru malah mencuci dan mandi sekalian di situ. Mumpung ada bilik tertutup, kesempatan mandi! Itu sih jadi terlalu lama, masih banyak yang mengantri.
Kalau memang setiap orang yang akan memberikan suaranya harus dihargai dengan sejumlah uang, maka berapa uang yang harus disiapkan oleh calon anggota DPR agar bisa menang atau lolos?
Yang jelas bukan belasan juta, puluhan juta, sampai ratusan juta. Yang jelas sampai miliaran rupiah! Yap, miliaran, bisa belasan miliar, ratusan, pokoknya banyak deh nolnya.
Nah, dengan modal yang sampai miliaran itu, berapa lama bisa balik modal? Kalau dengan ratusan juta perbulan, dikalikan 12, menjadi berapa? Oh, menjadi 1,2 miliar.
Itu dalam setahun, berarti kalau modalnya sampai 10 miliar, tidak akan cukup dong? Ya, begitulah. Jika secara lurus saja, pasti tidak akan bisa balik modal.
Makanya, jadi anggota DPR atau DPRD itu memang sangat-sangat berorientasi duniawi. Sejak mau mencalon, sudah dipikirkan dunia. Saat terpilih juga, dan ketika sudah tidak lagi menjabat. Pikirannya pasti mau lagi menjabat.
Sementara jabatan itu, kita tahu, adalah Aminah. Maksudnya, pastilah ada anggota DPR maupun DPRD yang bernama Aminah ‘kan? Aminah yang memegang amanah pastilah berat. Suaminya saja gendong Aminah selama satu jam, pasti berat juga.
Yang namanya amanah itu tidak pernah ringan. Sebab, bicaranya tidak hanya di dunia, tetapi di akhirat. Panjang sekali di akhirat itu. Belum pernah ada yang mengukur total waktunya.
Memang Sebuah Investasi

Lho, kok bisa mengaitkan tingginya pendapatan anggota DPR dalam sebulan dengan investasi kita? Ustaz Felix Siauw pernah mengatakan bahwa anggota DPR itu memang mewakili kita dalam segala hal.
Kita tidak perlu makan, karena makannya kita sudah diwakili oleh anggota DPR. Begitu pula rumah kita, sudah diwakili oleh mereka. Kita punya rumah yang mungkin hampir ambrol, sementara rumah mereka bagaikan istana.
Namun, ada satu hal yang dikatakan oleh beliau dan tidak banyak disadari oleh anggota DPR, yaitu: anggota DPR mewakili untuk disiksa, sementara rakyat yang diwakilinya tidak disiksa.
Hal ini berkaca pada pemahaman yang benar tentang seorang pemimpin, yaitu: lapar duluan, kenyang belakangan. Namun, anggota DPR itu tidak pernah lapar, mereka kenyang terus. Sedangkan rakyat kebanyakan, ah, tahu sendiri, lah.
Kalau sudah urusan siksa ini, memang di akhirat tidak ada yang bisa menduganya. Seberapa keras siksa akhirat, silakan yang akan mengalaminya saja.
Sama sekali tidak ada penolong. Tidak ada lembaga HAM yang akan membela. Tidak ada pengacara yang mau membantu. Dihukum siksa, ya, dihukum siksa saja.
Anggota DPR yang bermain-main dengan amanahnya, siap-siap saja nanti disiksa di akhirat. Tidak perlu jauh-jauh sampai ke neraka, di kubur saja, bisa kena, kok. Sedangkan rakyat yang tidak tahu apa-apa, tidak disiksa, karena diwakili oleh anggota DPR-nya.
Amanah menjadi barang yang sangat murah pada sekarang ini. Sangat banyak orang berburu untuk bisa menduduki jabatan, meskipun mengorbankan sangat banyak hal pula. Ketika sudah menduduki Aminah, eh, menduduki amanah, maka siap-siap bukan hanya urusan dunia, melainkan sampai di akhirat.
Mengerikan, lho, bicara tentang akhirat ini. Rakyat yang sudah menyalurkan suaranya untuk memilih anggota DPR maupun DPRD, suatu saat nanti bisa menuntut kok. Inilah yang namanya investasi sangat jangka panjang. Pahala yang berhasil diraih anggota DPR atau DPRD, diberikan kepada rakyat yang dizaliminya, kalau pahalanya masih ada, meskipun sedikit.
Kalau sudah habis, maka dosa-dosa rakyat dizaliminya diberikan kepada si anggota DPR maupun DPRD itu. Nah, lho, betapa banyak rakyat yang diwakilinya atau merasa diwakilinya?
Jadi, tingginya penghasilan anggota DPR dalam sebulan itu menjadi tidak ada apa-apanya sama sekali kalau sampai disiksa di akhirat nanti.
Dan, pikir-pikir lagi deh dengan amanah itu. Aminah memang manis, tetapi kalau amanah, bisa jadi menimbulkan efek yang miris. Meskipun tanpa miras, akan tetap merasa miris. Disambung-sambungkan saja, satunya miras, satunya miris.
Bagaimana dengan pendapat kamu sendiri? Bagaimana menurutmu dengan tingginya penghasilan anggota DPR dalam sebulan ini?




