Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak pernah salah? Bahkan, yang namanya Sarah pun bisa salah, jika yang mengucapkan nama itu adalah orang yang cadel.
Begitu juga dalam dunia rumah tangga. Ini jelas bukan rumah yang isinya cuma tangga, wah, minimalis banget!
Dalam dunia rumah tangga, kesalahan wajar terjadi. Antara suami dan istri, ayah dan ibu, kesalahan bisa terjadi tiap hari.
Mungkin suaminya yang banyak salah, mungkin pula istrinya yang sedikit salahnya. Lho, kok tetap lebih unggul istrinya?
Ego Suami dalam Rumah Tangga
Kalau melihat dari posisi, suami adalah kepala keluarga. Awalnya, dia memimpin istrinya, tetapi ketika punya anak, tambah banyak yang dipimpinnya.
Meskipun jadi kepala keluarga tidak harus dilantik seperti kepala dinas, tetapi tanggung jawabnya tetap sama, sama-sama jadi pemimpin.
Nah, berkaitan dengan posisi itu, jati diri seorang suami atau ayah mestinya memang dihormati.
Suami atau ayah memang bukan bendera Merah Putih yang dihormati tiap apel atau upacara, tetapi bisa saja badannya suami sudah seperti tiang bendera saking banyak pengorbanannya, wuih salut!
Apalagi suami yang telah menjadi ayah, mempunyai tanggungan yang lebih besar. Otomatis, membutuhkan uang yang lebih banyak pula. Mau cetak uang sendiri, jelas tidak mungkin, kecuali uang monopoli.
Dan, kebutuhan tersebut sering membuat seorang ayah jadi mudah lelah, bahkan mudah marah.
Tiap datang ke rumah, mungkin wajah istrinya sudah membuatnya jengkel, padahal wajah istrinya tidak mirip jengkol.
Atau polah istri yang membuat si suami tersebut mudah tersulut emosinya.
Hanya karena perkara sepele, jadi urusan yang panjang dan ujungnya meneketehe.
Jika istri sering membuat marah suami, maka dianggapnya istri sudah tidak menghormati lagi.
Akhirnya, posisi suami atau ayah jadi pemimpin mudah goyang, deh, tanpa harus goyang dangdut, apalagi pakai sabun colek merek “Dangdut”.
Suami Lelah Secara Emosional
Ketika suami atau ayah jadi kepala keluarga, secara kemampuan finansial belum tentu yang paling unggul.
Hal ini terjadi bila istri bekerja di luar rumah, dan ternyata hasilnya atau penghasilannya melebihi pendapatan suami.
Misalnya, suaminya jadi tukang ojek yang pendapatan sehari-hari tidak menentu. Kadang 1 miliar, kadang 2 miliar. Eh, ini tukang ojek pakai mobil presiden?
Saat istri juga punya penghasilan sendiri, dia bisa merasa lebih berkuasa juga. Mungkin sampai merendahkan suami, sampai kaki suami terbenam sebagian di dalam tanah saking direndahkannya.
Kalau sudah begitu, jelas perasaan suami yang terluka. Pernah ada berita, banyak istri menggugat cerai suaminya setelah mereka diangkat jadi P3K.
Merasa sudah punya penghasilan sendiri, akhirnya malah lupa dengan jasa-jasa suami. Mungkin lupa bahwa si istri dikuliahkan juga dengan uang suami.
Termasuk kesalahan besar bukan? Apakah masih mau dimaafkan?
Padahal lebaran masih lama. Selain lebaran, ada juga panjangan dan tinggian. Lebar dikali panjang dikali tinggi sama dengan luas bukan?
Sudahlah, Maafkanlah Istrimu!

Menjadi suami memang dituntut untuk berjiwa besar. Berlapang dada, meskipun di bawahnya juga seperti lapangan saking buncitnya.
Jika karena berbagai kesalahan istri, lalu suami jadi marah dan mengamuk, hem, ini alamat rumah tangga tersebut akan retak.
Ada, lho, seorang suami yang marah sampai menceraikan istrinya karena tidak disiapkan makan siang.
Sudah waktu siang, tetapi makan siang tidak juga terhidang. Makan siang saja tidak ada, apalagi makan nasi.
Ternyata, istrinya memang bekerja sebagai guru. Jadi, pulangnya, ya, di siang hari.
Mana sempat menyiapkan makan siang bagi suaminya tercinta?
Lho, kok suaminya tidak pilih makan di warung saja? Rupanya, dia merasa gengsi dan malu.
Ketahuan sering makan di warung, berarti anggapan orang, dia tidak diurus istrinya.
Hem, kalau sudah begini, konflik bisa makin besar. Konflik memang lebih mengerikan daripada nonton Netflix.
Kalau sudah seperti itu, atau konflik terus tiap hari, kembali ke yang tadi, maafkanlah istrimu saja.
Kamu sebagai suami tidak menjadi hina karena sering memaafkan istrimu, kok!
Justru, kamu menjadi mulia, suami yang mulia, tanpa kamu harus pakai logam.
Harapannya, sih, ketika kamu semakin sering memaafkan istrimu, maka semoga Allah memaafkanmu.
Bukankah kamu ingin dosa-dosamu diampuni Allah juga? Atau tidak mau diampuni dosa-dosamu?
Masih banyak dosa, mana mungkin masuk surga? Setitik dosa saja tidak bisa kok masuk ke dalam surga.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan bahwa perempuan itu seperti tulang rusuk.
Kalau diluruskan, dia akan patah. Kalau dibiarkan, tetap akan bengkok.
Oleh karena perempuan itu tulang rusuk, makanya janganlah kamu ke istri suka ngamuk, nanti tidurmu jadi sering digigit nyamuk.
Memang tidak nyambung, tetapi yang lebih bagus kalau datang nyumbang. Begitulah, Bambang!
Sebelum aku menutup tulisan ini tanpa acara penutupan dari bupati, coba kamu renungkan:
Kadang yang paling butuh dimaafkan bukan istri, melainkan ego kita sendiri sebagai suami.
Setuju?




