Meskipun awalnya menikah dengan orang yang sangat dicintai, tetapi belum tentu dalam perjalanannya akan selalu bahagia. Bisa jadi, muncul yang namanya lelahnya suami istri dalam menjalani biduk rumah tangganya.
Yang namanya lelah itu memang wajar, namanya juga manusia, apalagi namanya memang Lela, pastilah juga lelah. Walah. Manusia punya rasa lelah karena pada dasarnya dia memang lemah. Butuh istirahat, sang suami juga butuh istrirahat, istirahat dari istri yang jahat?
Menyusuri Waktu
Setiap orang juga tahu bahwa waktu ini memang terus berjalan. Meskipun jam dinding itu tetap di tempatnya, dan jam tangan di tanganmu juga tetap ditempatnya, kecuali dicopet, maka waktu di dalamnya memang tidak pernah berhenti.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari, pekan, bulan, dan tahun, tidak bisa dihentikan. Adakah orang yang bisa menghentikan waktu? Tukang reparasi jam bisa, tetapi di situ jam, bukan waktu. Meskipun mantan pemeran pahlawan super, nyatanya ketika jadi orang biasa, waktu tetaplah berjalan.
Salah satu tanda bahwa waktu itu terus berjalan adalah tidak terasa. Ya, inilah tanda yang paling terlihat. Kalau sudah tidak terasa begitu, maka yang dikatakan adalah “tahu-tahu”. Bukan tahu-tahu digoreng dadakan, melainkan tahu-tahu sudah besar, tahu-tahu anaknya sudah SMP, sudah SMA, dan tahu-tahu sudah menikah dan punya anak. Perasaan baru kemarin digendong waktu masih bayi.
Tidak hanya kamu, saya sendiri pun merasakan. Anak sudah tiga dan tidak ada yang bayi. Laki-laki semua. Padahal, saya rasa baru beberapa hari yang lalu menggendong anak sulung pergi ke Jakarta. Namun, begitu cepatnya waktu berlalu, hingga sekarang ini.
Memang, nasihat yang sering diutarakan para penceramah adalah isi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat dan positif. Namun, menyikapi hal-hal yang bermanfaat dan positif itu, setiap orang beda-beda.
Bagi penikmat film porno, menikmati sajian film biru dirasa bermanfaat, bahkan positif juga. Itu sudah menjadi hobinya, kebiasaannya, kalau tidak begitu, rasanya masih ada yang kurang. Habis menonton, terus terangsang, terus ke kamar mandi. Itu masih mending, meskipun tetap negatif juga. Bagaimana jika pelampiasannya melalui tindakan asusila?
Cukup banyak kita temukan anak-anak kecil yang menjadi objek pemuasan nafsu karena pengaruh film porno itu. Anak-anak kecil yang tidak tahu apa-apa, dia tidak bisa mengerjakan soal algoritma, integral diferensial, dan teori Phytagoras. Yang kayak begitu kok diserang toh? Inilah problem kalau tidak ada yang halal. Mau cari yang haram, rupanya membayar juga.
Nah, waktu yang terus berjalan tersebut membuat seseorang yang menikah dengan pasangannya, lalu punya anak beberapa ekor, tidak luput dari yang namanya terkena kondisi lelahnya suami istri.
Traktor, Eh, Faktor Penyebab Lelahnya Suami Istri\

Permasalahan dalam kehidupan suami istri itu memang akan selalu ada. Masalah bagi suaminya, karena laki-laki, dan mbakalah bagi istrinya, karena perempuan, selalu muncul setiap saat.
Mungkin masalah tersebut karena anak. Misalnya anak tantrum. Ini seperti nama artis, ya? Ariel Tantrum?
Bisa juga muncul karena faktor ekonomi. Meskipun suami atau istrinya Sarjana Ekonomi, tetap masalah ekonomi akan selalu ada. Apalagi kondisi sekarang, hampir semua orang mengeluh. Subhanallah.
Begitu sulitnya mencari uang kata banyak orang. Pengangguran makin banyak. Yang sudah ada pekerjaannya, merasa tidak cukup dengan penghasilannya karena kebutuhan makin meningkat. Kok negeri ini jadi terasa seret rezekinya, ya?
Belum lagi tekanan dari keluarga yang lain. Misalnya, ada anggota keluarga lain yang butuh dibiayai. Ini tambah menjadi berat dan beban. Mau angkat beban ternyata tidak harus ke tempat fitness, tetapi beban rumah tangga saja sudah berat diangkat. Apalagi kalau ke tempat fitness itu hati-hati dengan fitnah. Karena fitnah lebih kejam daripada fitness!
Solusi yang “Dirasa” Normatif

Bagi para penceramah atau da’i atau ustaz, memang solusi yang ditawarkan adalah berdoa, bertaubat, dan kembali kepada Allah. Dan, memang itulah solusi yang paling utama. Mungkin mengalami kondisi yang tidak menyenangkan karena dosa-dosanya sendiri di masa lampau. Jadi, Allah memberikan ujian agar orang itu mau kembali kepada-Nya.
Namun, betapa banyak orang yang tidak bisa memahami solusi tersebut. Mereka maunya cepat ada solusi, cepat ada penyelesaian, cepat masalahnya kelar. Kalau mau kelar, coba nyalakan lampu, karena di situ ada sakelar. Nah, kelar bukan? Soalnya ada sakelar. Memang, sih, tidak nyambung!
Bagi yang tidak bisa memahami solusi itu, maka jalan pintas bisa mereka ambil. Binih duru misalnya. Eh, maksudnya bunuh diri. Memilih mati demi menghindari masalah, tanpa sadar bahwa setelah mati, justru menghadapi banyak masalah baru.
Saya pernah mengetahui ada satu berita di Majalah Hidayatullah, seorang ibu bunuh diri mengajak empat anaknya yang masih kecil-kecil. Problem utamanya karena kemiskinan. Ini yang sangat miris dirasakan, betul-betul sangat miris. Miskin di dunia, bunuh diri, bukankah nanti akan jadi miskin pula di akhirat? Bahkan, disiksa di neraka itu adalah kondisi yang lebih daripada miskin. Betapa menyedihkan kehidupannya.
Namun, urusan perut ini memang kadang tidak bisa ditunda. Lapar, haus, haus dan lapar, menjadi faktor yang memicu seseorang untuk berbuat nekat. Mencelakai orang lain, merampok, membegal, bahkan sampai membunuh orang, itu karena faktor ekonomi tadi. Butuh makan, minum, dan kebutuhan pokok lainnya membuat orang jadi gelap mata. Jangan salahkan PLN kalau gelap mata, lho, ya, kalau gelap rumahmu, nah, baru ke PLN.
Kembali Duduk Bersama

Kalau lelahnya suami istri sudah semakin merajalela, maka solusi yang bisa diambil adalah kembali duduk berdua, duduk bersama. Sama ketika dahulu menikah, saat di pelaminan, ‘kan duduk berdua.
Meskipun ada sih, yang walimah syar’i, duduknya bersama, tetapi dipisah. Mempelai laki-laki duduk bersama ayah kandungnya dan ayah mertuanya, begitu pula mempelai perempuan bersama ibu kandung dan ibu mertuanya, tetapi nanti ketika para tamu sudah pulang, kembali duduk bersama, kok.
Nah, malamnya, baru tidur bersama. Capek seharian menghadapi para tamu, salaman sana-sini, duduk berjam-jam, duduk berdiri, duduk berdiri, menyaksikan para tamu menyantap aneka makanan serta minuman, sementara kedua mempelai, belum bisa makan.
Lelahnya suami istri ketika acara pernikahan selesai, memang menyenangkan. Beban dirasakan bersama. Dalam kamar pengantin, bebas mau apa saja, yang penting positif. Namanya bebas, bukan berarti istri dipukuli suami ‘kan?
Dari situ, mungkin sejak hubungan intim pertama kali, mulai dirancang rencana rumah tangga ke depannya. Mau anak berapa, kapan mau punya anak, bagaimana dengan aktivitas masing-masing suami istri, apa yang disukai dan apa yang tidak disukai. Semuanya bisa dibicarakan dengan terbuka. Maksudnya terbuka karena tidak pakai baju sama sekali. Tidak majalah, toh sudah suami istri, sudah halalan thoyyiban.
Hal yang harus dipahami, diingat, dan dimengerti oleh masing-masing suami istri adalah lelahnya suami istri dalam persoalan rumah tangga apapun jangan sampai memecah mereka. Jangan sampai menyebabkan mereka bercerai. Jangan sampai membuat tali pernikahan itu terputus. Sebab, itu yang paling diinginkan oleh iblis. Entah iblis ini ada istrinya atau tidak, atau istrinya ada berapa, tetapi dia paling suka jika pasangan suami istri muslim bisa bercerai satu sama lain.
Selamat menjalani kehidupan rumah tangga yang menyenangkan. Ingat, lelahnya suami istri itu hal yang wajar. Hal yang biasa saja, kok. Dan, akan menjadi luar biasa jika ketika lelahnya suami istri muncul, biasakan di luar. Misalnya makan bersama di luar atau duduk bersama di tepi pantai. Itu baru luar biasa karena biasa di luar.




