Selalu menjelang tanggal 25 Desember, ada saja pro dan kontra debat tentang boleh dan tidaknya mengucapkan Selamat Natal kepada umat Nasrani.
Pro dan kontra itu bisa berwujud dalam konten-konten yang muncul di media sosial.
Semua orang memang bebas mengemukakan pendapatnya, meskipun mukanya berjerawat. Kalau sudah mukanya berjerawat, kira-kira jerapah akan jera atau tidak, ya?
Perayaan Natal Bagi Umat Nasrani

Natal merupakan hari raya bagi umat Nasrani. Ini tentu saja sudah kita ketahui bersama sejak kecil, saat masih sekolah, saat belum punya istri dan cucu.
Sebagai pelajar yang pernah menelan pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), meskipun bukunya tidak ikut ditelan, kita diajarkan untuk toleransi.
Meskipun kita suka juga dengan telor asin, tetapi toleransi ini menjadi tonggak penting kerukunan antarumat beragama.
Salah satu bentuk kerukunan itu adalah tidak mengganggu ibadah agama lain.
Biarkanlah agama lain merayakan hari rayanya. Kita pun sebagai umat Islam, pastinya tidak suka dong jika diganggu saat Idul Fitri dan Idul Adha.
Namun, kerukunan antarumat beragama itu bisa rusak jika ada tindakan yang menyerang umat agama lain.
Misalnya, dengan teror bom maupun serangan kekerasan ke agama lain.
Ini sebenarnya buat apa, sih? Bukankah kekerasan itu pada dasarnya hanya diperlukan oleh istri?
Kalau tidak ada kekerasan, tidak bakal jadi bukan? Eh, ini malah bahas apalagi?
Jika toh melakukan kekerasan dan teror ke agama lain, apakah agama lain akan langsung ikut masuk ke agama si pelaku teror itu?
Tentu saja tidak bukan? Yang ada malah semakin benci dengan agama si pelaku teror.
Dan, yang paling penting adalah tidak ada satupun agama yang memberikan perintah untuk melakukan teror itu.
Yang bisa betul-betul melakukan teror secara legal dan tidak melanggar hukum adalah saat kamu menjadi teroris di permainan game Counter Strike.
Kamu bisa menjadi teroris di situ tanpa harus takut ditangkap oleh polisi di polsek maupun polres.
Oh, ya, masih ada kaitannya dengan polres, SIM kamu aman? Jangan sampai SIM terlambat perpanjang, kalau terlambat perpanjang, jangan sampai pula jadi semakin pendek. Halah.
Jadi Umat Beragama Memang Harus Fanatik
Ada seorang tokoh agama mengatakan bahwa menjadi pemeluk agama itu memang harus fanatik. Sebenarnya, bukan fanatik, sih, melainkan kuat dan kokoh memeluk agama, begitu.
Kalau tidak kuat dan kokoh seperti semen Tiga Roda itu, maka akan sangat mudah berpindah ke agama lain.
Contohnya, saat hari Jum’at, menjadi Islam dan ikut sholat Jum’at.
Ketika hari Sabtu, masuk agama Yahudi dan langsung berdoa di depan tembok ratapan. Kalau toh tidak sampai ke sana, di depan tembok tetangga dan berlubang lagi. Eits, ada janda di sebelah.
Lalu, ketika hari Minggu, ikut ke gereja. Beribadah dan berdoa mengikuti orang Nasrani.
Wah, agama macam apa itu? Semua agama mau diikuti.
Termasuk jika ketemu Kera Sakti, Patkai, Wuching, dan Biksu Tong yang sedang mampir minum kopi sambil istirahat mencari kitab suci ke barat, mau ikut juga.
Jelas, hal itu akan sangat membingungkan. Terutama mencetak KTP-nya.
Orang di Dinas Dukcapil pun akan bingung. Apalagi ini hari libur, tanggal merah, masa disuruh masuk kantor demi mengubah KTP?
Yang benar adalah yakin seyakin-yakinnya dengan agama kita sendiri. Kalau Islam, ya, Islam. Semua hal dalam kehidupan dikaitkan dengan aturan Islam.
Jangan mau berpikir untuk pindah agama. Sebab, orang Islam pasti yakin masuk surga. Agama lain pun yakin dengan surganya juga.
Puncak Perenunganku di Momen Hari Natal Ini

Nah, ketika Hari Raya Natal ini, aku pun merenung. Bukan, bukan di WC, lah, merenungnya.
Merenung itu memang lebih enak dengan berbaring, menatap langit-langit ruangan. Tidak mungkin ‘kan di WC begituan?
Aku merenung begini, kalau memang di Hari Raya Natal ini, umat Nasrani merayakan ibadahnya, tetapi dengan umat Islam sendiri kok terasa aneh, ya?
Maksudnya begini, okelah KTPnya Islam, dia pun mengaku agama Islam, tetapi untuk sholat kok setengah mati, ya?
Aku lihat teman-temanku ada yang seperti itu. Tiba waktu sholat, mereka cuek bebek.
Santai-santai saja meninggalkan sholat. Bahkan, ketika sholat Jum’at, mereka juga nyaman saja tanpa melaksanakannya sama sekali.
Ini yang membuat aku jadi semakin berpikir, sebenarnya mereka ini agamanya apa, sih?
Kalau memang Islam, kenapa jadi alergi dengan ajaran agamanya sendiri?
Kalau memang Islam, kenapa tidak mau melaksanakan ibadahnya sendiri yang notabene sholat adalah ibadah utamanya?
Atau karena di situ notabene, bukan nota toko?
Aku pun jadi semakin berpikir, jika memang ajaran Islam ini terasa berat, kenapa juga nggak berpikir untuk pindah agama saja?
Karena toh, memilih agama itu ‘kan bebas. Bahkan dijamin undang-undang di negara ini.
Sholat yang merupakan ibadah tidak lama, tidak sampai 10 menit, masih berat, padahal itu ibadah yang tidak membutuhkan biaya.
Gerakannya pun itu-itu saja, tidak ada tambahan gerakan, meskipun imamnya seorang habib dan penggemar Habibie.
Jika memang sholat itu dirasa berat, wah, bagaimana dengan ibadah yang lain?
Puasa misalnya. Menahan diri untuk tidak makan, minum, berhubungan suami istri, dan merokok dari subuh sampai dengan maghrib.
Atau infaq maupun zakat yang jelas mengeluarkan uang.
Makanya, di momen Hari Natal ini, cobalah lihat, mereka kaum Nasrani meramaikan gereja-gereja. Sampai aparat kepolisian pun menjaga mereka.
Sedangkan umat Islam punya tempat ibadah sendiri, punya masjid. Namun, untuk meramaikan tiap lima waktu, beratnya seperti mengangkat bongkahan besar batu.
Tapi, ah, kalau dikasih tahu, mungkin mereka akan mengatakan, agama ini ‘kan urusan masing-masing.
Termasuk dengan ibadah sholat ini, urusan pribadi.
Iya, sih, urusan pribadi. Namun, surga itu terlalu luas jika dimasuki sendiri, Bos.
Sholat cuma di dunia ini, kok! Tidak melakukan lagi sholat di dalam surga.
Masa orang sekarang memilih tidak sholat saja, memangnya di sini surganya, ya?
Aduh, jangan bayangkan ini surga, deh! Orang akan kesulitan cari bidadari di sini.
Bidadari di dunia ini kalau kencing pesing dan kalau kentut bau.
Untuk Para Ayah
Menghadapi debat pro dan kontra tentang boleh tidaknya mengucapkan Selamat Natal, maka ini tentu saja tidak akan pernah selesai.
Namun, bagi kita orang Islam, apakah kita yang mengaku beriman ini sudah benar-benar jujur dan jalankan?
Apalagi para ayah adalah kepala keluarga, menjadi contoh bagi istri dan anak-anaknya.
Jangan sampai kita sampai meninggalkan sholat dan baru menyesal ketika kesempatan itu sudah tidak ada.
Ayah yang rajin sholat, maka akan jadi teladan buat keluarga.
Soalnya, jika ayahnya tidak sholat, jangan sampai keluarganya sholat bareng-bareng si ayah, tetapi itu adalah sholat jenazah.
Eh, si ayah sholat bareng-bareng keluarganya saat sholat jenazahnya? Hidup lagi atau memang belum mati?




