Bayangkan, kamu sudah punya 600 tulisan lebih, sudah berjalan selama 6 tahun, pernah menang beberapa lomba, tetapi hilang semua? Nah, itulah yang terjadi pada blog saya ini.
Blog ini memang saya bikin pada tahun 2018. Ketika itu, awalnya memang iseng. Saya suka menulis sejak kelas 5 SD. Saya rasa, asyik juga kalau punya blog sendiri.
Langsung pilih yang berbayar. Menggunakan Niagahoster sebagai penyedia domain dan hosting. Langsung juga memakai domain rizkykurniarahman.com. Memang, sih, sebenarnya kepanjangan, tetapi itu nama lengkap pemberian orang tua, terutama bapak saya. Dan, sekarang mulai aktif lagi kembali menulis di blog ini.
Begitu Banyak Kisah

Saya menggunakan blog ini memang untuk mencatat berbagai hal. Ada yang berupa curhat pribadi, ada pula yang serius, terutama dikaitkan dengan lomba blog yang Alhamdulillah, pernah menang juga dan mendapatkan hadiah menarik.
Lewat blog ini juga, saya pernah mengalahkan salah satu blogger terkenal di Indonesia dalam salah satu lomba blog. Hal itu jelas membanggakan dan syukur yang luar biasa. Secara pengalaman, saya pastinya kalah jauh, tetapi bisa juga menarik minat juri untuk menempatkan saya di juara kedua.
Dalam perjalanan blog ini, saya juga mengikuti sebuah kelas bersama para guru. Saya memang pernah menjadi guru, mengajar di SMA IT Al-Wahdah Bombana. Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang saya ampu ketika itu.
Kelas tersebut setiap pekannya mengulas suatu materi. Narasumbernya pun termasuk cukup hebat. Dari 20 pertemuan, bisa dibuat dalam satu buku. Tiap pertemuan, membuat tulisan di blog masing-masing. Kan, 20 tulisan, jadi buku juga, ya toh?
Saya mengikuti sampai selesai, tetapi tidak sampai menjadi buku. Cuma menjadi penikmat materi saja. Berada satu grup dengan guru terkenal, yaitu: Wijaya Kusumah. Dia ini sukanya sebar spam link websitenya atau website tempatnya nebeng, seperti Kompasiana. Oleh karena sering menerima spamnya, sempat saya blokir juga.
Kok Kembali Menulis di Blog Ini, Memangnya Masih Tertarik Menulis?

Pertanyaan ini memang menarik, kenapa saya masih tertarik untuk menulis? Bukankah sekarang eranya audio visual? Bukankah sekarang eranya video-video pendek? Bukankah orang sudah tidak terlalu tertarik lagi pada tulisan?
Memang, sih, hal-hal semacam itu yang mengganggu pikiran saya setiap hari. Hampir semua orang suka mengonsumsi video-video pendek yang termuat di TikTok maupun Instagram Reels. Terlalu sering mengonsumsi video-video semacam itu, pada akhirnya fokusnya benar-benar berkurang. Hanya mampu fokus beberapa detik, seterusnya scroll terus sampai lupa waktu!
Saya memilih tulisan karena ini adalah passion saya sejak kecil. Hampir setiap hari, ketika masih tinggal di rumah orang tua, selalu berkutat dengan tulisan.
Dahulu, saya menulis di buku gambar. Hampir satu halaman itu saya isi dengan tulisan-tulisan. Belum ada laptop sendiri, makanya menulis saja pakai pulpen dan buku gambar itu.
Bapak saya pernah melihat saya begitu. Beliau tidak berkomentar apapun. Sampai pada akhirnya, saya pernah menjuarai lomba menulis. Satu lomba esai yang diadakan oleh Koperasi “Kopma” UGM. Satunya lagi lomba resensi buku yang diadakan oleh Penerbit Pro-U Media, Jogja.
Dari menang lomba itu, saya selalu bersemangat untuk menulis. Bagi saya, menulis adalah jalan sunyi yang cukup baik. Menyendiri untuk menuangkan segala rasa yang berkecamuk ke dalam tulisan. Mau dibaca orang atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting, menulis terlebih dahulu.
Orang boleh berlomba-lomba bikin konten video pendek. Orang boleh juga cari rezeki melalui video-video semacam itu. Namun, jalan yang saya tempuh ini memang sedikit berbeda. Melalui tulisan, saya juga berharap ada rezeki lebih di sini. Meskipun, secara nominal jelas berbeda, tetapi yang penting kepuasan hati. Kepuasan jiwa dalam menulis.
Lebih Bebas Pakai Blog Pribadi

Menulis memang bisa di manapun, apalagi di era digital seperti sekarang ini. Ada begitu banyak website yang menyediakan tempat menulis. Namun, karena milik orang lain, tentu saja harus mengikuti aturan mereka. Jika tidak sesuai, ya, tulisan kita tidak akan pernah ditayangkan. Tulisan kita mungkin akan dianggap sampah saja.
Namun, berbeda halnya dengan blog pribadi. Dan, ini yang saya lakukan. Blog ini coba untuk saya susun ulang, dari pertama kali. Yah, meskipun ada rasa kecewa karena kehilangan blog ini dan waktu selama 6 tahun, tetapi itu adalah qadarullah juga, ‘kan?
Aturan dalam blog pribadi ini jelas disesuaikan dengan keinginan saya. Orang lain boleh saran, boleh komentar, atau bahkan mengkritik, tetapi pengambilan keputusan tetap di tangan saya.
Selain lebih bebas, blog pribadi juga mendatangkan konsekuensi lain, sih. Blog ini berbayar tiap bulan. Saat ini saya pakai sistem bulanan saja dalam memperpanjang hosting.
Tiap bulannya sekitar 144 ribu rupiah. Yah, masih terhitung murah untuk hitungan satu bulan. Kalau setahun, maka nilainya sekitar 1,5 juta rupiah. Lumayan juga biayanya. Dan, biaya itu selalu rutin kalau blog pribadiku ini mau terus eksis.
Hal yang sangat berbeda jika orang main di media sosial. Media tersebut gratis pemakaiannya, kita cuma butuh kuota internet. Namun, ya, itu tadi, seperti yang saya tulis, aturan media sosial tergantung yang punya media.
Sudah banyak orang yang tidak sesuai aturan dengan media tersebut, kena dampaknya. Kena batunya. Akunnya dibanned, dihapus, atau bahkan diblokir. Itu sudah konsekuensi pada orang yang numpang duduk di rumah orang lain.
Rencana ke depan setelah kembali menulis di blog ini, saya ingin mengikuti lomba blog lagi. Selain itu, membagikan ilmu dan pengalaman kepada begitu banyak orang dengan jangkauan internet ini.
Ada harapan juga bisa mendapatkan uang dari blog ini. Selain dari hadiah lomba blog, juga dari jualan online melalui media ini. Doakan, ya, semoga bisa lancar dan sukses. Aamiin ya rabbal ‘alamin.



