Hari ini, Selasa (25/11/2025) adalah Hari Guru Nasional 2025. Sebuah peringatan untuk para guru Indonesia. Apakah kamu masih ingat jasa guru-gurumu?
Meskipun namanya Hari Guru Nasional, tetapi tidak ada yang namanya Hari Murid Nasional. Hari Anak Nasional ada, tetapi yang khusus murid atau siswa tidak ada.
Apalagi Hari Penjaga Sekolah Nasional, Hari Penjaga Kantin Sekolah, Hari Kepala Sekolah Nasional, lebih-lebih tidak ada juga. Kalau yang namanya Pak Hari, pastilah ada.
Dulu Guru Segalanya, Sekarang ChatGPT adalah Segalanya

Dalam arti bahasa Jawa, guru diartikan digugu dan ditiru. Seorang guru itu adalah orang yang diteladani karena sifatnya, akhlaknya, karakternya, kepintarannya, ilmu, dan sebagainya. Semuanya pakai akhiran “nya”, apalagi yang memang dipanggil “nyonya”.
Jaman jadul dulu, guru adalah sumber ilmu. Jika murid tidak tahu tentang sesuatu, maka dia akan bertanya kepada gurunya. Dan, sang guru pun memberikan penjelasan hingga si murid benar-benar jelas.
Baca Juga: Tragis, Kasus Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Ternyata Ada yang Lebih Tragis Lagi
Dari situlah, terjadi transfer ilmu. Yang namanya ilmu, makin disebarkan, justru makin bertambah. Kecuali mungkin ilmu hitam, makin disebarkan, makin nggak karuan.
Ada pula ilmu hitam yang biasanya menghinggapi para guru yang sudah tua, yaitu: ketika rambut dan jenggot sudah meninggalkan dunia hitam. Bisa seperti itu, pasti karena ada ilmunya, yaitu: ketika tubuh memang sudah tidak semuda sewaktu masih bayi!
Sekarang, namanya saja era digital. Era internet yang sangat luar biasa. Sekarang guru dihadapkan pada problem dalam hal sumber ilmu.
Banyak murid atau anak sekarang justru lebih percaya TikTok maupun ChatGPT. Mereka bahkan merasa enggan dan malah merasa lebih pintar daripada gurunya karena sudah mengandalkan ilmu dari media sosial.
Kalau sudah begitu, kenapa nggak si murid yang jadi guru saja? Tapi, ya, kalau muridnya semuda itu, masih kurang berwibawa. Perlu pakai kumis dan jenggot palsu. Hah, apa? Ijazah palsu?
Sampai di sini, dengan adanya era media sosial dan AI untuk tanya jawab, masihkah guru menjadi teladan? Masihkah guru menjadi sumber ilmu di era Hari Guru Nasional 2025 ini?
Tantangan dalam Momen Hari Guru Nasional 2025

Era sudah berubah. Zaman sudah berganti. Tidak mungkin kita kembali ke masa lalu. Sejam yang sudah berlalu, sama dengan 60 detik.
Metode pengajaran guru sudah berubah pula. Kalau dulu, cuma pakai papan tulis. Pakai kapur yang warna putih itu. Lalu, berganti dengan spidol nonpermanen.
Kini, metode mengajar guru bisa lebih canggih, apalagi jika sudah ada digitalisasi sekolah. Media internet dan elektronik bisa dipakai sebagai bahan ajar.
Seperti yang terjadi di sekolah Al-Wahdah Bombana di dekat rumah saya. Sudah ada televisi super besar, ukuran 75 inci, dijadikan sebagai sarana mengajar.
TV tersebut mirip banget HP Android. Pakai layar sentuh, meskipun tidak perlu pakai plastik antigores HP. Kalau pakai itu, berapa banyak mau dipasang coba? Hadeh.
Tantangan berikutnya, masih di momen Hari Guru Nasional dan guru di era digital ini adalah pengetahuan murid yang semakin bertambah, bahkan bisa meluas kemana-mana.
Apalagi jika mereka sudah punya HP sendiri, maka arus informasi itu sedemikian deras. Bahkan, saking derasnya, sampai bercucuran air liurnya. Eh, dia dapat informasi apa tuh?
Bila sudah seperti itu, maka guru tidak boleh berpangku tangan, apalagi berpangku kaki yang lebih susah. Guru harus terus update ilmu setiap hari.
Jangan mau kalah dengan muridnya. Meskipun, guru tetap bisa membuka ruang diskusi dengan para muridnya jika memang ada ilmu yang gurunya tidak tahu.
Dan, tantangan terakhir di subjudul ini adalah akhlak murid yang makin tergerus. Guru yang sekarang memang berbeda dengan guru dahulu.
Kalau guru dahulu, tiap memarahi muridnya, bahkan mungkin memukulnya, si murid tidak akan marah maupun dendam.
Malah, dulu, jika muridnya melapor ke orang tuanya karena dimarahi atau dipukuli guru, eh, malah ditambah oleh orang tuanya.
Masalah guru sekarang memang besar, tetapi tidak sebesar gajinya, apalagi guru hororer, eh, honorer.
Guru honorer memang gajinya lebih menyeramkan daripada film horor, makanya jadi hororer.
Era sekarang, guru dihadapkan pada berbagai hal yang kompleks, meskipun rumahnya tidak di tengah-tengah kompleks perumahan elit, tapi perumahan sulit.
Murid-murid sekarang sepertinya jadi punya power lebih dibandingkan gurunya. Apalagi jika si murid tersebut punya bekingan.
Punya bokong, iya, punya beking, iya. Dan, bekingan itu yang bisa membuat guru jadi celaka.
Apalagi jika si anak adalah anak pejabat, guru bisa was-was. Kadang, namanya anak pejabat, kelakuan jadi kayak penjahat. Semena-mena, akhirnya jadi anak sehina-hina.
Ketika mau ditertibkan, malah dilawan. Malah diancam balik. Eh, ini bukan balas chat, yang harus balas balik, jika tidak, rasanya hidup ini hampa. Halah.
Jika ancaman guru dikriminalisasi, maka guru bisa cuek bebek. Terserah di murid saja, mau pintar, jelas dia tidak pintar, mau bodoh, ini yang pas, terserah! Yap, sekali lagi, terserah!
Problem pada Siswa, Mencetak Generasi Lemah
Kita masih ingat kejadian yang lalu, SMA Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Seorang siswa ketahuan merokok, terus katanya ditampar oleh kepala sekolah.
Ibu si anak pun lapor polisi. Kepala sekolah itu pun kena sanksi, bahkan sekelas pejabat daerah juga turun tangan. Berarti kaki naik, ya, kalau tangannya turun?
Meskipun pada endingnya, berdamai dan ada mediasi, tetapi setidaknya ini menjadi cerminan yang kurang baik di momen Hari Guru Nasional. Memangnya, cermin itu belinya di pasar mana? Kok kurang baik?
Baca Juga: Sejak Menjadi Orang Tua, Apa yang Telah Kamu Pelajari?
Bila anak-anak sedikit saja ada masalah dengan gurunya, lalu lapor orang tua yang dalam hal ini adalah ibu atau mamanya, apakah itu bukan berarti anak mama?
Padahal “anak mama” ini kesannya memang tidak bagus, apalagi “anak meme”. Tinggal ditambahi huruf “k” di belakang, lengkap deh tidak bagusnya.
Kejadian yang viral memang tidak lepas dari peran netizen atau dalam bahasa Indonesia yang baku adalah warganet. Oleh karena mereka punya kuota internet dan tentu saja jempol, maka lidahnya diam, tetapi jempolnya kejam.
Mereka sering komentar dulu, urusan belakangan. Pokoknya, yang penting emosi dulu tersalurkan. Kadang saya pun begitu, kok. Tapi kalau pas tidur, jelas tidak bisa, ya!
Peran Guru Masih Sangat Dibutuhkan

Sebenarnya, makna dari Hari Guru Nasional 2025 ini adalah peran guru tetap tidak akan tergantikan. Bahkan, oleh AI sekalipun.
Jika hanya mengandalkan AI, data memang bisa dicari. Informasi memang bisa didapatkan, tetapi hikmah, teladan, ditambahkan dengan suri menjadi suri teladan, itu terlihat dari seorang guru.
Dalam perannya, guru ini tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga pembentuk akhlak murid-muridnya. Dia punya peran emosional, spiritual, dan sosial dibandingkan media sosial maupun AI.
Nabila, maksudnya apabila, peran guru sudah tidak terlalu dibutuhkan karena semuanya sudah tersedia di internet, maka silakan orang tuanya mendidik anaknya sendiri.
Sedikit-sedikit jika gurunya dianggap bermasalah, orang tuanya langsung lapor polisi. Kalau tempat melapornya adalah polisi tidur atau patung polisi, maka itu tidak menjadi masalah, palingan si orang tua dianggap nggak waras saja.
Guru sebagai manusia adalah orang yang paling tulus berkorban. Guru mendidik anak-anak yang bukan anaknya, keponakannya, sepupunya, cucunya, cicitnya, atau bahkan cocotnya, tetapi tetap bekerja mengajari dan mendidik bukan?
Meskipun guru banyak berkorban tenaga, waktu, biaya, dan tentu saja pikiran, tetap sebutannya sampai sekarang masih, yaitu: pahlawan tanpa tanda jasa.
Jadi, apakah dengan pengorbanan yang sedemikian besar itu langsung dihantam dengan dikriminalisasi hanya gara-gara persoalan sepele. Gara-gara si anak mama atau mami yang ingin memperkeruh suasana.
Ingatlah, guru itu juga manusia biasa, bukan malaikat hujan yang mau dikejar Gufron jika pas acaranya turun hujan deras.
Guru tetaplah manusia yang mempunyai keluarga, mempunyai pasangan, dan anak-anak juga. Kasihan jika harus berurusan dengan hukum terkait profesinya.
Sungguh tragis bila guru yang harusnya digugu menjadi digulingkan, ditiru menjadi diburu.
Guru Hebat Bukan yang Paling Sempurna, Melainkan yang Tidak Berhenti Belajar
Apa sih yang membuat guru itu jadi hebat? Salah satunya karena ilmunya yang berhasil menjadikan muridnya jadi pintar dan berakhlak.
Guru yang berhasil tidak cuma pintar untuk dirinya sendiri, tetapi berhasil menjadikan muridnya lebih pintar.
Itulah yang membuat guru jadi bangga. Gaji sebesar apapun, tetaplah besar. Maksudnya, gaji yang besar masih tidak ada apa-apanya dibandingkan mencetak generasi unggul buah dari tangan dan pikirannya.
Selamat Hari Guru Nasional 2025. Guru tetaplah sosok yang digugu dan ditiru, apapun tantangan zamannya.
Janganlah sampai guru digulingkan karena guru tidak ada kaitannya dengan bantal dan jangan pula guru terus diburu untuk dijebloskan dalam perkara hukum.
Guru, pahlawan tanpa tanda jasa. Sudah tanpa tanda jasa, eh, jasanya malah sering terlupakan pula. Betul atau benul?




