Sejak bayi, saya tidak pernah menyangka bakalan masuk ke SMA 6 Yogyakarta. Sungguh di luar dugaan. Saya bisa masuk ke sekolah tersebut justru setelah momen wisuda bapak saya.
Sembari menjadi PNS, bapak memang kuliah lagi. Dahulu, pernah kuliah S1 di Universitas Islam Indonesia, tetapi gagal alias tidak sampai lulus. Barulah ketika kuliah mengambil Ilmu Pendidikan di Universitas PGRI, bapak bisa lulus dan betul-betul menjadi sarjana.
Saat acara wisuda, di antara 3 anaknya waktu itu, sekarang sudah empat, saya yang diajak. Ketika itu, tentu saja saya cukup senang karena bisa ikut acara bapak. Menyaksikan acara wisuda sarjana yang bagi saya memang baru pertama kalinya.
Panas, Bosan, Gerah

Ternyata, acara wisuda memang formal sekali. Dan, ternyata membosankan juga. Bete, istilahnya waktu itu. Akhirnya, saya pun memilih untuk istirahat saja di mobil. Bapak memang memiliki mobil pribadi juga, sekarang sudah tidak ada, tinggal motor.
Saya istirahat saja di mobil tersebut. Santai-santai dan rebahan pula. Namun, ketika siang hari dan cuaca terik alias panas, bapak juga ikut panas. Beliau memarahi saya. Katanya, saya ini tidak ada waktu dicari-cari.
Bukan saya yang dicari pada intinya, melainkan kamera bapak yang saya pegang. Kamera tersebut mau dipakainya buat foto-foto. Yah, namanya juga kamera, pastilah buat foto-foto, masa buat dilempar?
Selama perjalanan pulang, bapak terus mengeluh tidak bisa berfoto pada momen spesial itu. Teman-temannya sudah pulang, acaranya sudah lama selesai. Saya cuma diam dimarahi bapak. Toh, saya memang salah. Toh, saya memang lupa dengan tugas saya diajak bapak untuk membawa kamera itu.
Namun, nasi sudah menjadi dubur, eh, maksudnya nasi sudah menjadi bubur. Saya terus kena marah sampai di rumah. Hem, berat juga. Seandainya waktu bisa berputar kembali. Hem, siapa yang bisa seperti itu? Tidak ada orang yang bisa. Penjual jam atau tukang reparasi jam pun tidak akan mampu.
Konsekuensi Amarah Bapak
Sebagai “hadiah” dari keteledoran saya dan sebenarnya kebodohan saya juga, sih, saya pun akan dimasukkan ke SMA 6 Yogyakarta. Tahun 2000, SMA 6 Yogyakarta memang terkenal sekali dengan tawurannya. Seluruh Jogja sudah tahu sepak terjang SMA tersebut, dimusuhi oleh banyak sekolah lain, pokoknya buruk citranya di masyarakat, lah.
Saya pun akhirnya menerima permintaan bapak tersebut. Saya masuk mendaftar, meski dengan nada deg-degan. Waduh, masuk di sekolah yang rutin tawuran macam SMA 6 Yogyakarta begitu, bagaimana saya nanti?
Baru mendaftar saja, sudah terlihat anak-anak sekolah itu yang merokok dengan bebas. Mereka bangga sekali bisa menjadi perokok. Padahal, yang sebenarnya itu berbangga kalau punya prestasi, ya? Tapi, jelas tidak keren, kalau prestasinya bisa menghabiskan 2 bungkus rokok sehari! Prestasi macam apa itu?
Ospek yang Cukup Kejam
SMA 6 Yogyakarta rupanya menerapkan dua kali prosesi penyambutan murid baru. Pertama, MOS atau Masa Orientasi Siswa. Ini diisi oleh para guru. Kami mendapatkan pengenalan lingkungan sekolah dan materi-materi pelajaran lainnya. Cukup tenang dalam hal ini.
Kedua, ini yang lebih mengerikan, yaitu: ospek. Ah, saya lupa namanya. Ada istilahnya tiap tahun. Kami dibagikan kaos putih dengan gambar yang saya lupa juga. Celananya harus hitam. Saya ingat, mulainya di hari Rabu.
Setelah pelajaran usai, istirahat sebentar, sholat Dzuhur di musholla dekat kelas, bangunan itu ada di lantai dua, di atas ruang guru. Kami anak-anak kelas 1.1 sampai 1.7 mengenakan kaos putih itu dan celana hitam sesuai pesanan kakak kelas panitia.
Jam 2 siang katanya mau dimulai ospek tersebut. Kami sudah menunggu di depan kelas. Dalam pikiran kami, ospek ini sama dengan MOS. Rupanya, beda 180 derajat! Ketika kami memakai kaos putih itu, kakak-kakak kelas sudah senyum-senyum. Ternyata, mereka bersiap menyaksikan pemandangan menarik yang terjadi tiap tahun, di awal tahun pelajaran.
Dan, benar. Dari bawah kelas, tepatnya kelas 3, kami menyaksikan sendiri para panitia dengan kaos biru berlarian dengan semangat. Mereka berteriak-teriak, “Ayo, cepat, cepat!” Wajah mereka tampak marah dan terlihat sangat mengerikan. Apalagi ketika mereka sudah naik ke barisan kelas 1, mereka tampak lebih marah.
Tangan mereka memukul pintu, meja, menendang, apapun yang bisa bikin suara. Bahkan, kaca jendela kelas pun pecah. Saya lupa jendela kelas berapa itu? Mungkin kelas 1.4, kelas sampingku.
Anak-anak kelas satu berjalan beriringan menuju ke pojok kelas 1.1. Di sana ada tangga, lalu kami digiring menuju ke aula yang terletak di tengah sekolah.
Kami sudah benar-benar macam kambing digiring ke tempat penjagalan. Suasana berisik, teriakan, bahkan makian keluar dari mulut para panitia ospek.
Saat sudah di aula, kami diperintahkan untuk tunduk pejam mata. Ya, kepala menunduk dan memejamkan mata. Kami masih mendengar teriakan itu dan terus bergema di dalam aula. Sama sekali tidak ada guru, yang ada cuma para panitia itu yang memakai kaos biru tua, ada warna hitamnya, dan celana hitam, dengan topi juga warna hitam.
Perintah tunduk pejam mata berlangsung terus selama sepekan ospek. Entah apa maksudnya, yang jelas, kami baru diperintahkan membuka mata jika ada panitia yang menyampaikan.
Oh, ya, hukuman untuk para peserta ospek yang melanggar adalah hukuman fisik. Kami disuruh untuk push up dengan hitungan tertentu sesuai kemauan panitia. Kalau yang perempuan melakukan pull up, mirip push up, tetapi bertumpu pada lutut.
Kondisi yang cukup mengerikan semacam itu, ditambah ketakutan dan teror psikologis dari panitia, membuat cepat haus. Namun, tidak bisa langsung mengambil air minum di dalam tas karena tas ditaruh di belakang barisan.
Akhirnya, kesempatan minum pun dilakukan waktu berwudhu untuk sholat Ashar. Kami sholat berjamaah, di musholla apa, ya? Saya lupa. Atau di aula. Sepertinya memang di musholla kami sholat.
Pengalaman paling berkesan waktu kelas 1.5, sebagian besar membolos ospek. Tepatnya pada hari Senin. Saya dan teman-teman sepakat untuk membolos satu hari itu. Tinggal sebagian kecil yang tidak ikut membolos. Mereka yang tidak ikut membolos, malah kena hukuman.
Kami yang membolos baru kena hukuman keesokan harinya. Para panitia yang notabene kakak kelas itu sangat marah karena kami berani membolos.
Namun, kemarahan panitia pun reda karena hari terakhir sampai malam hari. Penutupan dilakukan setelah waktu Isya. Kakak kelas yang menjadi panitia menyalami kami yang laki-laki, sambil memukul perut kami. Yah, mirip dengan pelantikan polisi baru atau taruna baru mungkin, ya?
Kena Kasus dengan Kakak Kelas
.jpeg)
SMA 6 Yogyakarta mempunyai geng yang bernama GNB. Banyak istilah untuk mengartikan kepanjangan GNB itu. Namun, istilah yang menurutku paling tepat adalah Gerakan Namche Belakang. Yang mengungkapkan adalah kakak kelas saya bernama panggilan Oong. Saya lupa nama lengkapnya. Dia aktivitas rohis SMA 6 Yogyakarta yang dinamakan Rohis MW. Semua organisasi ekstrakurikuler memang mempunyai nama MW alias Muda Wijaya, nama untuk SMA 6 Yogyakarta.
Beberapa kali, saya bertemu dengan Muhammad Iqbal alias Iqbal, begitu saja dipanggil. Dia kelas II.1. Pakai kacamata dengan bingkai hitam agak tebal, rambut belah tengah, mirip pantat. Mukanya terlihat tua, ketus, kaku, dan terkesan kasar.
Saya beberapa kali ketemu dia dan diminta untuk membelikan rokok. Pakai uangnya, sih, tetapi saya tidak mau. Saya sudah meyakini fatwa bahwa rokok itu memang haram. Jadi, ngapain juga saya membelikan dia barang haram itu? Mending beli sendiri, lah. Manja amat.
Namun, penolakan saya itu berujung pada tindak kekerasan. Hari Kamis, saya dipanggil di sebuah warung kecil-kecilan, jualan makanan di depan SMA 6 Yogyakarta itu. Saya menghadapi trio kakak kelas nakal, selain Iqbal, ada juga Aulia Rahman dan Aditya Utama. Beberapa kakak kelas lain seperti Pino dan yang tidak saya kenal.
Adit yang matanya seperti terperosok ke dalam itu mengungkapkan kesalahan saya karena telah menolak permintaan Iqbal untuk membelikan rokok. Katanya itu adalah tradisi Namche. Adik kelas, apalagi anak baru, harus mengikuti tradisi itu. Kata Adit, malah ada anak baru yang harus membelikan rokok pakai uangnya. Wah, berarti itu pemalakan!
Tradisi semacam itu katanya sih agar lebih akrab antara adik kelas dan kakak kelas. Bagi saya, sih, omong kosong. Mau akrab bagaimana? Saya punya pendapat yang berbeda.
Mereka masih belum puas untuk memanggil saya. Mereka memberikan teror psikologis yang terlihat senyap, tetapi sebenarnya lebih mengerikan daripada saat ospek.
Puncaknya, pada besoknya, hari Jum’at, sebelum sholat Jum’at, saya tidak sempat pulang ke rumah, saya dipanggil bersama Ian, anak kelas I.2. Saya tidak tahu kesalahannya apa, yang jelas, saya dibonceng bertiga dengan dia. Paling depan, ya, si kakak kelas, tidak tahu namanya.
Rupanya, ketika sampai di salah satu bagian lembah UGM, daerah yang terlihat sepi itu, saya dipukuli oleh Adit. Awalnya, saya disuruh berdiri, lalu dia tiba-tiba memukul wajah saya.
Tidak hanya dipukul, saya dilemparkan, didorong hingga menghantam pagar besi. Bibir saya berdarah. Saya sempat kencing di celana. Baju seragam saya kotor luar biasa, termasuk celana panjang. Ketika itu, seragamnya berwarna coklat, agak mirip seragam PNS, sih. Eh, mirip tidak, ya? Lupa lagi saya.
Pemukulan tersebut berakhir menjelang jam 12 siang. Namun, saya tidak boleh langsung pulang, mampir dulu ke rumah kakak kelas. Kalau tidak salah, itu rumah Anggoro, kakak kelas juga. Berkumpullah mereka Adit, Aul, Iqbal, dan Anggoro itu. Mereka semua tidak sholat Jum’at. Santai saja meninggalkan sholat.
Batin saya betul-betul tersiksa karena tidak sholat Jum’at. Ini jelas terpaksa saya tidak sholat, karena kalau sholat, pastilah tidak sah. Celana sudah terkena najis, seragam sudah kotor seperti itu.
Pembalasan Kepada Adit dan Aul
Saat pulang atau ketika sudah sampai di rumah, ibuku menanyakanku, kenapa bajuku kotor sekali begitu? Bapak saya tiba-tiba bangun dari tidur siangnya dan melihat baju yang sama.
Aku beralasan jatuh dari sepeda motor, tetapi bapak langsung tidak percaya. Beliau langsung curiga bahwa saya habis dipukuli. Akhirnya, saya pun mengaku bahwa memang telah terjadi tindakan kekerasan. Saya menyebutkan nama-nama pelakunya.
Kesalahan Adit adalah dia menyebutkan ada rumah keluarganya satu jalan dengan rumahku. Tepatnya di Jalan Ireda. Bapak saya langsung mengajak saya ke sana dan melaporkan ke orang di sana. Bapak meminta Adit untuk datang ke rumah dan bicara baik-baik.
Kakak saya langsung mengontak teman-temannya. Mereka berkumpul di depan rumah, menunggu Adit tiba. Setelah Isya, memang tiba. Adit datang bersama Aul. Rupanya, dia takut datang sendiri.
Saya dipanggil ibu waktu saya di kamar. Kata beliau, yang dicari sudah datang. Bapak berbicara baik-baik dengan kedua orang itu. Membicarakan bahwa tidak seharusnya ada seperti itu. Apalagi ada tradisi yang tidak benar diwariskan turun-temurun di SMA 6 Yogyakarta.
Masalah pun selesai. Bapak tidak sampai menuntut kedua pelaku itu sampai ke ranah hukum. Kakak saya sudah emosi waktu mereka mau pulang. Kata bapak, kakak mengancam Adit untuk tidak mengulanginya lagi.

Yah, begitulah salah satu kejadian yang saya alami waktu bersekolah di SMA 6 Yogyakarta. Masa suram dan gelap pada sekolah yang terletak berhadapan dengan SMP 8 Yogyakarta itu.
Kini SMA 6 Yogyakarta sudah sangat bagus. GNB sudah tidak ada lagi. Sekolah itu kini sudah berprestasi. Kalau dulu prestasi buruk karena menang tawuran, sekarang sudah betul-betul meraih banyak penghargaan.
Musuh SMA 6 Yogyakarta cukup banyak, tetapi yang paling utama adalah SMA Kolese Debritto. SMA swasta tersebut isinya laki-laki semua. Dan, entah sejak kapan, sudah menjadi musuh. Ah, namanya masa lalu, sudah terjadi dan pastinya menjadi bagian dari takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala.




