Dampak Psikologis Langkanya Tabung Gas Elpiji 3 Kilogram di Aceh

Dampak Psikologis Langkanya Tabung Gas Elpiji 3 Kilogram di Aceh

Sudah jatuh, tertimpa tangga. Kalau kamu mungkin yang saat ini tidak kena bencana, mungkin kamu hanya tertimpa ular tangga. Pas main itu, jadi tidak terasa sedih maupun susah.

Pagi ini, saya membaca koran digital langganan saya, kompas.id. Membaca sebuah berita yang cukup miris untuk saya rasakan.

Ini tentang kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram di Aceh. Namanya adalah Ibu Khaerani, warga Lambaro, Kabupaten Aceh Besar. Ibu ini datang untuk mengantre barang berwarna hijau itu di kawasan Lampineung, Banda Aceh.

Namun, tabung gas Hulk, hijaunya sama, meskipun Hulk tidak pernah mengantre tabung gas 3 kilogram ini, yang langka membuat Khairani antre sampai 7 jam.

Bayangkan lelahnya dia. Sampai kehujanan tiga kali, terlewati waktu makan dan sholat, demi semata-mata mengantre dan agar antreannya tidak diserobot.

Selalu terbayang anak-anaknya makan apa hari ini? Hem, kondisi psikologis ini tentu saja berpengaruh pada diri seorang ibu.

Akses Terputus

Kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram itu terjadi karena banyak akses jalan dan jembatan yang terputus karena banjir. Jadi, putusnya akses ini lebih parah daripada putus kontakmu dengan si mantan.

Meskipun kamu telah diblokir di WA, ternyata putusmu itu masih tidak ada apa-apanya dibandingkan putus akses hingga langka tabung gas elpiji 3 kilogram.

Saya membayangkan, seorang ibu bernama Khairani ini rela mengantre sampai 7 jam untuk mencukupi kebutuhan suami dan anak-anaknya. Memasak biasanya merupakan tugas seorang ibu.

Lah, kalau yang menjadi bahan bakar untuk memasak tidak ada, apa yang mau diharapkan? Dalam berita tersebut, Khairani sempat membeli makanan jadi selama 3 hari.

Akan tetapi, masalahnya juga tidak selesai di situ. Sebab, harga makanan pun sudah naik berlipat. Kalau mengandalkan kayu bakar, tempatnya agak jauh dan biayanya malah lebih tinggi daripada pakai tabung gas hijau melon itu.

Butuh Penanganan Cepat

Membaca atau menonton di media sosial tentang kondisi para korban bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, memang tidak bisa selesai penanganan dalam satu hari saja, apalagi satu jam.

Mungkin butuh waktu sampai berbulan-bulan. Sedangkan tidak lama lagi akan masuk bulan puasa Ramadan.

Bulan yang seharusnya disambut dengan gembira, menjadi kegamangan tersendiri bagi para korban. Sementara rumah sudah hanyut, harta benda ikut larut, dan kondisi anggota keluarga mungkin tidak utuh lagi.

Jika tabung gas 3 kilogram ini langka, kok tidak sebanding dengan kampanye Prabowo-Gibran yang lalu, ya? Oke gas, oke gas! Sekarang mana tabung gasnya?

Kok bisa sampai terjadi kelangkaan tabung gas 3 kilogram ini hingga sekarang? Kasihan Khairani dan ibu-ibu lainnya. Apakah tidak ada perasaan mereka yang di atas, ya? Lil, Lil?

Sumber: https://www.kompas.id/artikel/jeritan-hati-khairani-potret-dampak-memilukan-bencana-di-aceh?open_from=Section_Tematik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *