Trang! Piring pecah! Ini tentu saja piring di dapur, bukan piring terbang alias UFO. Suara-suara keras bersahutan. Rupanya ada orang tua bertengkar di depan anak, otomatis terdengar oleh anak.
Nah, pernah mendengar kabar ada orang tua yang bertengkar di depan anak? Rasanya, bisa terjadi pada keluarga kita sendiri.
Saat kita menjadi anak-anak, pernah melihat orang tua kita bertengkar, pakai suara keras, bahkan ada adegan pemukulan hingga tendangan. Itu jadi mirip UFC, deh!
Ada seorang anak yang ketika sudah dewasa, sudah umur 40 tahun, tetapi masih ingat ayahnya pernah mengatakan “Goblok” kepada ibunya.
Masih teringat pula pada diri anak tersebut, ibunya sampai menangis karena dimarahi bapaknya. Padahal ibunya sedang menyuapi anak tersebut waktu kelas 3 SD.
Ini adalah salah satu dampak orang bertengkar di depan anak. Tidak hanya saat itu, tetapi bisa jauh jangka waktunya. Bisa lama, bahkan sampai seumur hidup.
Dampak Pertengkaran Orang Tua di Depan Anak

Anak-anak tentunya memiliki raga dan jiwa, termasuk dalam hal ini adalah mental. Kata “mental” ini bukan berarti bola yang memantul kembali, itu namanya mental, tetapi pengucapannya lain.
Jika ada orang tua bertengkar di depan anak, apakah yang dipikirkan oleh kedua orang tua? Salah satunya adalah jangan sampai anak-anak mendengar pertengkaran tersebut.
Kedua orang tua tersebut juga khawatir anak-anak mendengar kata-kata kasar makian dan cacian, padahal kalau cacian ini ‘kan nantinya dijemur. Weleh, apa maksudnya ini?
Dalam sebuah pernikahan, memang tidak selamanya mulus. Paha si istri mungkin mulus, sedangkan paha si suami penuh rambut yang tidak berbaris rapi, meskipun dipimpin oleh komandan upacara bendera sekalipun.
Nah, yang tidak mulus itu bisa memunculkan pertengkaran. Awalnya, sih, kecil, mirip kembang api.
Akan tetapi, karena tidak selesai, akhirnya sampai merambat ke mana-mana. Pertengkaran itu jadi membahas hal-hal lain.
Misalnya, istri memergoki suaminya selingkuh dengan perempuan lain. Ya, jelaslah, masa selingkuh dengan istri sendiri, pastilah dengan perempuan lain.
Atau, bisa juga karena suami kurang memberikan nafkah. Padahal, istri sudah menjadi tempat suami memuaskan nafsu. Antara nafsu dan nafkah, hampir mirip, sih.
Studi Ilmiah Tentang Konflik Orang Tua di Depan Anak
Ada sebuah penelitian atau studi pada tahun 2012 oleh Child Development . Ternyata, disebutkan bahwa ketika orang tua bertengkar di depan anak, ternyata memengaruhi kesehatan mental anak-anak tersebut.
Anak-anak juga bisa terkena risiko depresi dan kecemasan lebih tinggi. Selain itu, dapat menurunkan harga diri anak. Kalau harga bensin dan beras turun, lebih bagus kali ya?
Mereka, anak-anak juga dapat dirusak rasa amannya. Dan, akhirnya, akan menjadi trauma. Ini dapat terjadi pada anak usia 2-10 tahun.
Anak-anak yang sering mendengar orang tuanya bertengkar, pada diri anak yang sudah mengerti pertengkaran, dapat berpikir tentang perpisahan orang tuanya.
Apalagi misalnya dia sudah mendengar ada temannya yang orang tuanya berpisah. Nah, jangan-jangan terjadi pada kehidupannya juga.
Jika tiap hari begitu, apa tidak stres itu anak? Dia mau main di rumah tidak nyaman, mau bermain dengan orang tuanya juga tidak nyaman.
Bahkan, mau beli makanan Nyam-nyam, juga tidak nyaman. Secara harganya cukup mahal di Indomaret, kalau beli satu kontainer lagi.
Bayangkan, anak-anak yang masih lugu dan butuh asuhan orang tua itu jadi terombang-ambing dengan emosi yang sangat-sangat negatif.
Mendengar suara-suara keras dari bapaknya maupun ibunya, akhirnya membekas pada dirinya. Lalu, dilampiaskan pula pada adik-adiknya kalau memang ada.
Bisa juga, anak tersebut melampiaskan kepada barang-barang di rumahnya. Mungkin mainannya dibanting, mungkin dinding kamarnya dicorat-coret.
Atau malah, pondasi rumahnya dibongkar. Wah, yang ini, kayaknya khusus anak yang berubah jadi Hulk, deh!
Selain itu, tidak hanya di rumah, tetapi juga di sekolah. Dia akan sulit untuk berkonsentrasi dengan pelajaran, padahal sedang pelajaran kosong. Lho, gimana sih?
Pokoknya, relasi dengan teman-temannya jadi terganggu. Dia jadi pemurung, menarik diri dari pergaulan sosial, dan merasa malu, jangan sampai teman-temannya tahu kondisi kedua orang tuanya.
Lalu, bagaimana solusinya? Nah, dalam tulisan ini juga akan diungkapkan tentang solusinya. Gratis kok, cukup dengan mentraktir saya kopi, ya!
Solusi Mengatasi Dampak Orang Tua Bertengkar di Depan Anak

Ada seorang psikolog anak dan remaja yang bernama Anastasia Satriyo, M.Psi. Beliau pasti tidak mengenal saya.
Katanya, jika orang tua tidak sengaja bertengkar di depan anak, tetap pasti ada dampaknya juga. Namun, tetap bisa diatasi, kok. Diatasi bisa, dibawahi bisa juga?
Untuk mengatasinya, perlu melihat usia anak kita. Apakah kita yang berumur 45 tahun ini, lalu anak kita umur 65 tahun? Jelas ini hil yang mustahal.
Jika anak kita usia 4-5 tahun, lalu melihat orang tuanya menggunakan suara-suara tinggi dibumbui dengan ekspresi wajah marah, mungkin mereka akan bingung, ini apa yang sebenarnya terjadi?
Mereka masih belum tahu karena masih sangat konkret cara berpikirnya. Orang tua perlu mengakui yang terjadi sambil menyampaikan penjelasan sederhana.
Anak tersebut perlu diberitahu, bukan diberitahi karena bau, bahwa ayah dan ibunya menggunakan suara-suara keras untuk berkomunikasi. Anak-anak belum terlalu tahu tentang “bertengkar” itu sendiri.
Padahal, bertengkar kok sendiri? Kan keduanya, antara ayah dan ibunya.
Dan, orang tua yang bijak memang jangan lupa untuk meminta maaf dan menenangkan perasaan si anak.
Bagaimana kalau si anak sudah berusia 7-8 tahun? Ya, jelas, anak usia 7-8 tahun bukan lagi usia 4-5 tahun. Ini jelas banget bukan?
Eh, maksudnya, karena anak usia 7-8 tahun kiranya sudah mengerti tentang konsep dan fundamental “bertengkar”, wuih, fundamental, maka ayah dan ibu bisa menjelaskan sedikit lebih detail.
Orang tua harus berani mengakui bahwa memang sedang terjadi masalah. Ditambah dengan perdebatan, meskipun yang diperdebatkan bukan lagi Anies, Prabowo, dan Ganjar.
Tambahkan juga dengan minta maaf kepada si kecil dan sampaikan bahwa orang tuanya sedang berusaha menyelesaikan masalah.
Jangan sampai, orang tua malah menceritakan dengan lebih detail permasalahan yang sebenarnya terjadi. Nanti anak tambah bingung, pusing, meskipun kalau dia kencing tidak disiram, baunya memang pesing.
Jika sudah terlanjur marah, berikan jeda terlebih dahulu. Ambil napas, duduk dengan tenang, dan jangan dulu berbicara.
Hal ini mengajarkan ke anak juga bahwa seperti itu cara ketika marah. Bila sampai berkata, malah jadinya kasar, padahal kasar adalah tempat jual beli barang bukan?
Menurut siapa tadi, ah, Anastasia, cara menghadapi orang tua bertengkar di depan anak adalah dengan; mengakui, stop, and pause. Kalau sudah berbaikan, jelaskan ke anak bahwa sudah tidak ada masalah lagi.
Dalam otak maupun pikiran anak, tanamkan bahwa tiap perdebatan orang tua pasti ada penyelesaian. Dengan demikian, ini dapat membantu anak untuk tidak tumbuh dalam kecemasan tinggi dan kekhawatiran.
Jadi, apakah masih orang tua bertengkar di depan anak? Masih mau? Sebaiknya jangan, ya! Malu, ah, sudah dewasa, kok masih bertengkar.
Atau, malah orang tuanya yang masih anak-anak, sedangkan anak-anaknya sudah dewasa? Ini jelas hil yang mustahal lagi.
Sumber:
https://www.ibupedia.com/artikel/keluarga/orang-tua-bertengkar-di-depan-anak




