Ayah Membenci Diri Sendiri, Refleksi Ringan Tentang Lelahnya Menjadi Ayah Melalui Permainan 3 Opsi

Ayah Membenci Diri Sendiri, Refleksi Ringan Tentang Lelahnya Menjadi Ayah Melalui Permainan 3 Opsi

Wahai, para ayah! Yuk, kita berandai-andai di malam ini.

Saya menulis ini di jam 21.01 WITA. Mungkin sama dengan jammu di sana, tapi kalau jamu brotowali atau kunir asem, itu lain lagi.

Biasanya, kita pernah menghadapi orang yang kita benci. Atau, ada orang yang kita benci sampai sekarang.

Mungkin kita membencinya karena masalah pekerjaan, karir, kurir, kalau dia memang kurir, atau karena dia kafir. Eits!

Tidak akan mungkin memang kita menyukai semua orang di dunia ini.

Dan, sebaliknya, tanpa kamu harus ikut-ikutan jungkir balik, tidak akan mungkin semua orang di dunia ini menyukai kita.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saja yang begitu mulianya dan begitu baiknya, banyak kok yang membencinya.

Orang-orang kafir Quraisy plus orang-orang munafik termasuk yang membenci kekasih Allah tersebut.

Apalagi iblis yang sudah dari sononya membenci manusia. Jadi, kalau ada manusia yang membantu iblis, maka julukan musuh manusia menjadi hilang.

Dan, kalau sudah temenan sama iblis, coba ajak dia ngopi bareng, dong! Pengen tahu, dia sukanya kopi apa, sih?

Oke, sekarang kita coba masuk ke sebuah permainan kecil. Permainannya pakai duit, tapi ini bukan judi.

Namanya adalah permainan berandai-andai. Ini jelas beda dengan lagu Ande-Ande Lumut. Beda tulisan, Bos!

Permainan 3 OpsiĀ 

Seperti yang saya tulis di awal paragraf, semoga masih ingat, walah, malam ini kita berandai-andai.

Apaan tuh? Berandai-andai punya istri lagi?

Eits, tunggu dulu! Jangan dulu berpikir nambah istri, kalau nambah belanjanya istri, nah, itu baru … berat juga! Haha.

Ada tiga pilihan alias tiga opsi. Yang dimaksud ini bukan opsi alias operasi gusi, bukan itu.

Soalnya ada Gigi Band, jangan sampai ada Gusi Band.

Yuk, lanjut! Tiga opsi kita mulai dari yang keempat. Halah, dari yang pertama dulu, lah.

Pertama, kamu dapat uang sebanyak 2 miliar, sedangkan orang yang kamu benci dapat 500 juta rupiah.

Kedua, kamu dapat 2 miliar, tetapi orang yang kamu benci tidak dapat apa-apa. Benar-benar tanpa sepeser pun uang.

Dan, opsi yang ketiga, kamu dan dia atau orang yang kamu benci itu sama-sama dapat 5 miliar.

Menurut kamu, kamu akan memilih opsi yang mana? Coba tulis di kolom komentar, ya!

Opsi Ketiga

Dalam sebuah percobaan, tanpa harus melibatkan kelinci, ada orang yang menjawab, dia memilih opsi ketiga.

Wuih, berarti dia sama orang yang dibencinya sama-sama mendapatkan 5 miliar. Keren, nih, opsinya!

Temannya, kagum dengan pilihan orang tersebut. Lalu, dia bertanya, “Wah, berarti kamu termasuk orang yang tidak pendendam. Mulia sekali sifatmu!”

Ternyata, yang memilih opsi ketiga itu tidak berpandangan seperti itu. Pandangannya pun tidak terhalang tembok, apalagi jemuran tetangga.

Dia mengatakan, “Nggak juga. Justru saya ingin dapat 10 miliar. Karena orang yang saya benci tersebut adalah diri saya sendiri.”

Apakah Seperti Itu Kenyataan Tentang Ayah yang Membenci Diri Sendiri?

ayah-membenci-diri-sendiri

Alasan yang mengagetkan bukan? Tapi juga tidak usah kaget dan lompat kayak Jokowi dulu waktu masih jadi Gubernur DKI.

Rupanya, orang yang memilih opsi ketiga itu mengakui dengan jelas bahwa orang yang dia benci justru dirinya sendiri.

Bukankan dirinya juga termasuk orang? Jadi, cocok dong kalau dia menjawab begitu.

Orang yang paling dibencinya justru tidak jauh-jauh karena terbawa dan dibawa setiap hari, yaitu: dirinya sendiri.

Sebagai seorang ayah, kira-kira apakah kamu juga punya pendapat begitu? Berpandangan bahwa kamu layak membenci diri kamu sendiri?

Mungkin kamu merasa dalam diri bahwa kamu pantas membenci diri sendiri karena merasa belum bisa membahagiakan istri dan anak-anak.

Kamu mungkin belum punya uang banyak untuk mengajak mereka jalan-jalan. Bermalam di hotel berbintang.

Jangankan berbintang, kamu malah sering minum puyer bintang tujuh. Itu bintangnya malah melebihi hotel berbintang mewah, lho!

Kamu bisa jadi berpikir tidak pantas jadi ayah yang baik karena sering marah-marah kepada istri dan anak-anakmu.

Hanya karena masalah pekerjaan di kantor, lalu kamu tumpahkan kekesalan pada orang-orang yang membersamai kamu tiap hari.

Kamu habis dimarahi bos karena kesalahan yang mungkin tidak kamu lakukan, lalu kamu mencari-cari kesalahan istri dan anak-anakmu dan membentak mereka?

Belajar Berdamai dengan Diri Sendiri Sebagai Ayah

berdamai-dengan-diri-sendiri

Atau, kamu masih saja merokok di dalam rumah? Meracuni istri dan anak-anakmu. Kamu ingin lepas dari rokok tersebut, tetapi sulitnya minta ampun.

Akhirnya, kamu jadi membenci diri sendiri. Kamu ingin tetap merasakan nikmatnya merokok, tetapi kamu mulai sadar kesehatan diri dan keluargamu.

Nah, jadi akhirnya bagaimana? Apakah memang benar dirimu sendiri adalah orang yang kamu benci tersebut?

 

Apakah kamu termasuk ayah yang belum bisa berdamai dengan diri sendiri?

Ada luka masa lalu yang masih belum sembuh benar? Atau ada luka masa depan yang belum dibikin?

Eh, yang namanya masa depan, memang belum ada, lah, yauw!

Coba kamu ceritakan di kolom komentar. Siapa tahu bisa berbagi di sini!

Dan, andai kamu menjadi orang yang memilih opsi ketiga, sebenarnya kamu beruntung juga, lho!

Dengan alasan membenci dirimu sendiri, kamu malah dapat uang 10 miliar rupiah. Wuih, banyak juga tuh!

Modal membenci diri sendiri, eh, dapat uang banyak. Bagi-bagi dong, Bos!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *