Wang sinawang. Begitulah peribahasa dalam bahasa Jawa yang orang Afrika pasti tidak tahu artinya. Sebuah perumpamaan tentang penilaian orang terhadap fisik orang lain yang tampak.
Begitu pula dengan saya yang cukup sering dipanggil ustaz. Sebenarnya, yang betul sesuai PUEBI memang ustaz, bukan ustadz. Padahal, menurut saya yang lebih enak itu ustadz. Tapi, ya, sudahlah, kita harus ikut aturan. Jangan sampai ditilang bukan? Lho, eh?!
Kenapa saya dipanggil ustaz? Hal ini memang karena penampilan saya sehari-hari. Saya dari dulu selalu memakai celana cingkrang alias celana di atas mata kaki. Kalau kaki punya mata, apakah punya telinga dan hidung juga? Eits!
Saya juga memelihara jenggot dari dulu. Beberapa helainya malah sudah beruban pula. Namanya uban itu pastilah putih. Meskipun kamu penyuka warna pink, tidak akan mungkin uban kamu juga warna pink!
Selain celana di atas mata kaki dan berjenggot, saya aktif pula di sebuah lembaga dakwah. Tidak perlu disebutkan di sini, ya! Yang jelas, itu adalah sebuah ormas nasional, bukan Muhammadiyah, NU, apalagi Syiah. Ih, amit-amit, deh yang terakhir ini!
Dari berbagai aktivitas saya di lembaga tersebut, Alhamdulillah sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya khutbah Jum’at maupun membawakan ceramah Ramadan.
Frekuensinya memang tidak sebanyak guru saya atau teman-teman saya di lembaga tersebut. Namun, cukup lumayan, lah. Di Bombana sini, saya memang tidak terkenal-terkenal amat, jadi tampilnya cukup sedikit amat.
Beban Berat

Ketika saya dipanggil ustaz, ada rasa beban saya yang cukup berat. Soalnya, panggilan ini memang tidak main-main, lho! Panggilan ustaz adalah sebuah bukti pengakuan dari masyarakat bahwa saya dianggap punya ilmu agama bagi mereka.
Okelah, saya harus berprasangka baik kepada mereka. Bahwa, itu juga menjadi doa bagi saya. Ketika saya dipanggil ustaz, itu adalah doa dari mereka untuk saya bahwa saya harus lebih memahami lagi ilmu agama Islam ini.
Bagi sebagian orang, panggilan ustaz, kyai, atau panggilan yang semacamnya, malah dijadikan komoditas. Malah dijadikan kesempatan untuk berbuat yang tidak-tidak, bukan yang iya-iya.
Ambil contoh kasus pelecehan para santri putri di sebuah pondok pesantren beberapa waktu yang lalu. Pimpinan pondoknya disebut dengan kyai. Tapi, apa kelakuannya? Melakukan tindakan asusila hingga cukup banyak santriwatinya yang hamil.
Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan yang orang lain dibuat tahu sesempit mungkin. Bisa jadi, awalnya memanggil santriwati tersebut untuk memijat si kyai. Lalu, mulai deh, tindakan-tindakan selanjutnya yang menguntungkan fisik si kyai.
Kasus tersebut pun mencuat dan tentu saja membuat kaget masyarakat. Selama ini ‘kan anggapan kyai itu bagus, baik, dan tidak ada cela sama sekali. Tapi, sekarang, buktinya? Lihat sendiri ‘kan? Atau mau lihat berdua?
Penyebabnya Karena Ghuluw
Kenapa bisa terjadi seperti itu? Pastilah ada penyebabnya. Pastilah ada faktor pemicunya. Kalau petasan bisa meledak, pemicunya karena dibakar sumbunya. Lho, ini kok bahas petasan, apakah ada kaitannya dengan kyai yang disebutkan sebelumnya itu suka main petasan?
Ustaz Yazid bin Abdul Qadir Jawwas rahimahullah pernah mengatakan bahwa ghuluw memang terjadi di banyak tempat, termasuk di pesantren.
Ghuluw itu berarti berlebihan-lebihan terhadap sesuatu. Misalnya: air minum ustaz atau kyainya diperebutkan oleh jamaah. Dianggap berkah.
Begitu pula salaman sambil cium tangan. Bahkan, tidak hanya santri putra yang cium tangan, tetapi juga para santri putri.
Kyai atau ustaz pastilah manusia biasa, bukan termasuk manusia luar biasa, meskipun biasa di luar. Kalau yang namanya manusia biasa, pasti juga ada nafsunya ‘kan? Pasti juga ada syahwatnya ‘kan?
Ketika seorang ustaz atau kyai dicium tangannya oleh santri putri, masa sih tidak ada getaran-getaran yang gimana itu di hati? Apalagi yang minta salaman santri putri yang cantik atau terkenal cantik lagi!
Dari situ, mungkin saja, si kyai sudah mengincar seseorang. Melihat santrinya ada yang cantik, lalu deh membuat semacam rencana. Tentu saja ini adalah rencana busuk. Namanya busuk itu pastilah tertuju kepada perempuan, kalau laki-laki namanya paksuk.
Pesantren yang mengandalkan bantuan sosial, artinya membantu secara sosial bagi para santrinya, punya tingkat ketergantungan yang lebih tinggi. Terlebih para santrinya berasal dari kalangan miskin atau yatim piatu. Bersekolah di pesantren itu berharap agar kehidupannya lebih baik.
Berharap bisa mengentaskan kemiskinan, agar yang tadinya di bawah garis kemiskinan, menjadi pas di garis kemiskinan. Hem, bukannya tetap miskin, ya?
Namun, justru nasib yang buruk menimpa diri dan kehidupan si santri, tentu saja termasuk keluarganya. Masa depannya jadi tercoreng-moreng dan malah merasa sudah tidak punya lagi masa depan.
Bagaimana tidak, ketika kehormatan yang betul-betul dihormati lahir batin, justru jebol oleh gurunya sendiri. Justru lepas oleh pengajarnya yang punya nafsu buas. Justru hancur oleh kyainya yang nafsunya sudah tidak lagi terukur.
Kalau sudah begitu, masa lalu memang tidak bisa dikembalikan lagi. Tidak ada yang namanya mesin waktu, kecuali jam dinding dan jam tangan.
Meskipun cuma ada jam tangan dan tidak ada jam kaki, tetapi mesin waktu itu memang tidak bisa membalikkan waktu. Kalau membalikkan jarumnya, pasti bisa siapapun, tidak harus penjahit bukan?
Hati-hati Ketika Melakukan Dosa Tersembunyi

Ini dia yang paling mengerikan saat saya dipanggil ustaz. Dosa yang dilakukan tersembunyi tanpa orang lain tahu itu efeknya memang sangat mengerikan. Amal-amal yang selama ini dikumpulkan bisa gugur begitu saja.
Coba kamu cari saja dalilnya, maka kamu akan dapatkan bahwa tidak sembarang seseorang dikatakan ustaz, tetapi malah melakukan dosa di tempat tertutup, hanya dia dan Allah yang tahu.
Apalagi itu tadi, persepsi sebutan ustaz adalah orang yang paham agama, paham dalil, paham pahala dan dosa. Saat melakukan dosa, apalagi tersembunyi, berarti dia belum paham. Berarti dia menganggap remeh dosa itu.
Kyai yang ketahuan tindakan asusilanya pastilah juga diawali dari dosa tersembunyi. Tidak mungkin bukan dia bikin status di medsos, “Assalamu’alaikum, Gaes, saya mau berbuat asusila terhadap santriku sendiri, nih! Mau divideokan nggak? Kalau mau, like, follow, subscribe dulu lah yauw!”
Pada akhirnya, saat sudah terkuak, lalu muncul penilaian yang berbeda dari masyarakat. Ih, kyai kok gitu? Ih, katanya ustaz pesantren, kok kelakuannya macam begitu? Dan, aneka ucapan lainnya.
Itu juga yang saya khawatirkan. Orang lain tidak tahu saya ini aslinya bagaimana? Termasuk dosa-dosa tersembunyi saya. Jangan sampai di akhirat nanti semua orang tahu bahwa ternyata saya tidak seperti yang mereka sangka. Jangan sampai aib-aib saya terbuka begitu saja.
Termasuk dalam hal ini adalah masalah salat. Saya dipanggil ustaz dianggap selalu salat khusyuk. Padahal, ketika salat, justru seringnya malah ingat perkara duniawi. Susah sekali khusyuk dari takbir sampai salam. Bahkan, sepertinya tidak pernah mencapai full khusyuk begitu.
Oh, ya, selain salat yang kurang khusyuk, juga perasaan riya. Ini perasaan yang susah sekali untuk dihilangkan. Terlebih salat berjamaah di masjid ‘kan terlihat orang, terlihat cukup banyak orang. Muncul perasaan ingin dibagus-baguskan salat saya. Muncul perasaan ingin dipuji. Like and share.
Oleh karena itu, ketika dipanggil ustaz memang konsekuensinya berat. Menjaga kepercayaan dari orang lain itu tidak mudah. Ustaz dianggap manusia hebat, banyak pahala, tidak ada dosa, dan pasti dijamin masuk surga.
Namun, sekali lagi saya dan orang-orang yang dipanggil ustaz itu memang manusia biasa. Pasti ada dosa-dosa yang dilakukan, baik itu dosa besar, kecil, maupun yang tersembunyi.
Saat saya dipanggil ustaz, saya cuma berharap itu sebuah doa. Meskipun belum bisa menjadi manusia baik seperti yang mereka sangkakan, paling tidak berusaha, meskipun pelan-pelan.




