Hari Ibu tahun ini jatuh pada tanggal 22 Desember. Sama sekali tidak ada perubahan dengan tahun lalu. Yang berubah mungkin malah si ibunya.
Dia bisa berubah tahun ini menjadi lebih gemuk atau malah lebih kurus.
Itu tetap perlu disyukuri, yang sangat masalah jika berubah jenis kelamin!
Oke, apa saja sih makna hari ibu bagi seorang ayah? Mari kita simak poin-poin di bawah ini.
Ingat, ini cuma poin, tidak perlu bawa bidak catur yang lain, ya!
Makna Hari Ibu Bagi Ayah, Apa Saja, sih?
1. Hari Ibu: Hari Ketika Ayah Sadar Bahwa Istri Itu Pernah Jadi Anak Juga

Seorang ibu memang dulunya pernah jadi anak-anak. Ya, anak-anak yang lucu, menggemaskan, dan disayang betul sama orang tuanya, terutama ayahnya.
Ketika dahulunya masih menjadi anak-anak, dia juga pernah capek, pernah takut, mungkin dikerjain sama teman-temannya.
Ada teman-temannya yang menakut-nakuti dengan setan pocong yang dalam bahasa Jawa disebut dengan “pocongan”.
Lah, ternyata, setelah jadi besar, malah suka pocongan, apalagi kalau pocongan harga.
Suaminya sekarang yang juga menjadi seorang ayah mungkin sering lupa bahwa istrinya pernah kecil, pernah sangat dimanja sekali oleh bapaknya.
Kini, suaminya itu tetap memanjakan, tetapi mungkin kadarnya sudah tidak sampai waktu jadi pengantin baru.
Yah, namanya pengantin baru bukan berarti keduanya masih diplastiki, karena sesuatu yang baru tidak harus pakai dibungkus plastik, memangnya jok mobil, bukan jok oli. Eh!
Atau bahkan perlakuan si suami terhadap istrinya beda jauh dengan ayahnya dahulu. Mungkin suaminya sekarang suka kasar, marah, bahkan suka memukul.
Tentu saja, hal itu tidak dibenarkan. Istrinya bukan samsak, segendut apapun dia.
2. Hari Ibu: Memang Bukan Tentang Bunga, Melainkan Tentang Ayah yang Mau Diam dan Mendengarkan Istrinya

Seringnya, momen Hari Ibu adalah momen memberikan bunga yang spesial dari anak kepada ibunya.
Macam-macam bunganya. Bisa bunga mawar, melati, asal jangan bunga sedap malam. Kurang ajar itu namanya, ibunya belum meninggal, lho.
Bunga adalah simbol cinta, kasih sayang, ketulusan, dan kefulusan juga, sih, apalagi jika bunga bank.
Sebenarnya, bunga itu memang bukan solusi. Bunga hanya sebatas retorika. Reto itu saya tidak kenal, kalau Rika pernah tahu nama ini.
Yang dibutuhkan oleh seorang istri adalah suami yang mau mendengarkan. Bukan sebatas mendengar, melainkan mendengarkan. Ditambah kata “kan”.
Menurut konten-konten media sosial, ayah sering tidak bisa membela diri. Kalau dia salah atau disalahkan oleh istrinya, dia tidak bisa berbuat banyak.
Kalau membalas, jangan sampai ujung-ujungnya jadi KDRT. Kita tahu bahwa KD alias Krisdayanti tidak pernah menjadi Ketua RT di tempatmu bukan?
Nah, jadi seorang ayah ketika istrinya nyerocos wae, dia cuma bisa mendengarkan, tanpa sanggup memotong.
Dia berusaha menjaga kadar perasaan dan emosional istrinya.
Begitu pun ketika istriku bercerita ke sana ke mari, panjang lebar. Aku cuma diam saja, sesekali menanggapi.
Masih bersyukur, sih, masih punya telinga, yang lama belum dibersihkan, nih!
3. Hari Ibu: Momen Ayah Mengingat Bahwa Istri Bukanlah Asisten Rumah Tangga
Dahulunya, sebelum jadi seorang ayah seperti sekarang, laki-laki mendambakan istri yang bisa masak, mengatur rumah tangga, pokoknya perfect, lah!
Tiga tempat yang menjadi fokus perempuan, yaitu: dapur, sumur, dan kasur.
Itu maksudnya jelas tidak akan menempatkan dalam satu tempat atau dalam satu ruangan bukan?
Nah, bukan lalu menjadi nanah. Mendambakan istri yang bisa sempurna, bisa jadi ujungnya jadi cuma pembantu saja. Jadi cuma asisten rumah tangga.
Seorang ayah pulang dari kantor, merasa paling capek sedunia, lalu ingin istrinya melayani sepenuh hati.
Ingin kaos kaki suaminya dilepaskan. Eh, kaos kaki atau sepatu, mana sih yang dilepaskan duluan?
Oh, rupanya suaminya ingin lepas tangan dan menyerahkannya kepada istrinya.
Dan, pekerjaan istrinya memang seabrek di rumah. Apalagi menghadapi tingkah polah anak-anak, laki-laki semua pula.
Wuih, kepala terasa seperti mau pecah! Lem korea pun pasti tidak akan sanggup menyambungnya kembali.
Seperti anakku juga, tiga-tiganya laki-laki. Tetap harus bersyukur pula, dong, ketika masih banyak pasutri yang belum ada anaknya.
Sabar, ya, pasutri yang belum punya anak. Tunggu waktunya saja. Kalau sebelumnya pasutri, nanti jadinya pasufor hingga pasufive.
Oke, ayah perlu mengerti bahwa istri bukanlah mesin. Memang, dia sering berkutat dengan mesin cuci, tetapi hati dan perasaannya bisa saja kotor melebihi pakaian kotor jika suaminya cuek.
Sosok ayah juga bisa, kok, membantu istrinya di rumah. Ini bukan tabu, karena suaminya tidak buta, padahal tinggal dibolak-balik saja “tabu” dan “buta”.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun mengajarkan hal itu. Bahkan, beliau nabi dan rasul paling luar biasa, tetapi tetap mau membantu istri-istrinya.
Lha, kalau ada ayah yang tidak mau bantu istrinya, dia nabi, bukan, rasul juga bukan. Apa dong? Ya, masih ayah dong. Tinggal tambahi huruf “p” di depannya.
4. Ayah, Kalau Anakmu Menghormati Ibunya Hari Ini, Itu Karena Cerminan Sikapmu Selama Ini
Seorang anak pastilah peniru ulung. Dia juga peniru ulang.
Sikap maupun perbuatan anak selama ini adalah cerminan dari orang tuanya, terutama ayahnya sendiri.
Apabila ayahnya sering membentak ibunya, sering berteriak keras kepada ibunya, maka itulah yang dicontoh oleh si anak.
Ayah sering tidak sadar perannya. Anak-anak tidak cuma belajar dari kata-kata, tetapi dari sikap gigi, eh, bukan, sikap dan perbuatan ayah.
Jadi, peran ayah dalam menghormati ibu ini sangatlah penting. Kalau ayah menghormati ibu, maka anak-anak juga biasanya akan begitu.
Dan, menghormati ibu mesti setiap waktu, tidak hanya pas menghormati bendera di tiang bendera.
Sebab, kalau bendera bisa berkibar, tetapi kalau di rumah yang berkibar adalah rambut panjang ibu dan dasternya yang robek sana-sini. Katanya, makin robek, makin nyaman dipakai. Halah.
Bukan saya yang bilang, lho, karena saya tidak pernah pakai daster!
5. Hari Ibu dan Luka Ayah: Ketika Ayah Tidak Pandai Mengekspresikan Rasa Sayang

Romantisme memang tidak dimiliki oleh setiap laki-laki atau setiap ayah.
Kenapa bisa terjadi hal seperti itu? Ada apa gorengan, eh, ada apa gerangan?
Ayah yang dahulunya adalah laki-laki kecil, lalu menjadi remaja, bisa jadi memang dibesarkan dengan keras.
Sering dipukul oleh bapaknya. Sering dicambuk dengan ikat pinggang.
Saya pernah melihat ada keluarga yang begitu. Saat marah dengan anaknya, lalu melepaskan ikat pinggang, terus anaknya dicambuki.
Ini tentu saja menyakitkan, tetapi masih banyak anak laki-laki yang tumbuh seperti itu.
Saat menangis tidak boleh lama-lama dan keras. Dibentak kalau nangis, pasti dibilang laki-laki cengeng.
Menangis hanya boleh untuk anak perempuan. Padahal, antara anak laki-laki dan perempuan, keduanya punya kantong air mata yang sama.
Apakah laki-laki itu kantong air matanya ada di kantong celananya? Jadi, tidak boleh mengalir lewat mata?
Eh, kalau mengalir di celana, nanti dikira ngompol lagi.
Jadi laki-laki sering tidak diajari bicara perasaan. Akhirnya, ketika dia sudah menjadi dewasa, dia pun bingung mencintai dengan sehat.
Merasa begini, para ayah?
6. Ayah Tidak Perlu Jadi Romantis di Hari Ibu, Cukuplah Jadi Manusia Biasa
Ayah memang tidak perlu jadi romantis di momen Hari Ibu ini. Tidak perlu sampai memberikan bunga yang berlebihan, apalagi yang diberikan bunga Raflesia Arnoldi.
Itu ‘kan gedhe dan baunya sangat busuk lagi. Mau pakai parfum laundry juga tidak mempan. Apalagi botolnya sudah tidak ada isinya, tambah tidak mempan.
Ayah juga tidak perlu membuat puisi khusus untuk istrinya. Jangan berlagak seperti Rangga, kalau mukanya memang jauh dengan Nicholas Saputra.
Cukuplah berhenti menyakiti perasaan istri, itu baru ayah yang romantis!
Simpel ‘kan?
7. Hari Ibu: Momen Ayah Berdamai dengan Dirinya Sendiri

Ayah juga pernah salah, itu sudah pasti. Apalagi salahnya kepada istrinya, itu sudah pasti berkali-kali.
Tanpa harus pakai tabel perkalian, sudah berkali-kali memang.
Ayah mungkin pernah berteriak keras sekali kepada istrinya, meskipun teriakan itu tidak sekeras sound horeg yang bikin muntah itu, horeg, eh, hoek!
Meskipun kesalahan ayah terhadap istrinya sangat banyak, tetap masih ada kesempatan untuk memperbaiki.
Masih ada waktu untuk berubah. Kamu memang tidak bisa berubah seperti Power Ranger, walaupun kamu sering salah meletakkan hanger.
Apa Cuma di Hari Ibu?
Hari Ibu sudah ditentukan tiap tahunnya tanggal 22 Desember. Hem, terhitung tanggal tua sih, mungkin setua istri kamu, ya? Haha..
Namun, momen ini bisa menjadi refleksi ayah di Hari Ibu.
Dan, semoga ini tidak cuma sekali setahun saja sikap ayah yang positif kepada ibu.
Cukuplah ayah yang positif, jangan dulu ibu, soalnya kalau positif lagi, nantinya jadi hamil lagi.
Selamat Hari Ibu! Selamat juga untuk para ayah yang masih tetap bertahan dengan istrinya.
Semoga masih selalu ada makna Hari Ibu bagi ayah.
Istrinya memang bukan monster. Akan tetapi, paling tidak, dia pernah pakai sampo Dove yang di iklan, “seperempatnya adalah monster”.
Eh, maksudnya “seperempatnya adalah moisturizer!”




