Resume Webinar Bersama Ustaz Indra Firmansyah: Meluruskan Persepsi Tentang Sabar dan Syukur

Resume Webinar Bersama Ustaz Indra Firmansyah: Meluruskan Persepsi Tentang Sabar dan Syukur

Kalau bicara tentang sabar, saya teringat dengan seorang teman. Dia memang selalu sabar setiap hari, setiap saat.

Herannya, dia ini termasuk perokok cukup berat. Rokoknya biasa, bukan knalpot, jadi perokok cukup berat di situ bukan karena bobotnya, melainkan frekuensi.

Dari dulu, dia dikenal sebagai orang sabar. Bahkan, sebelum tahu makna sabar pun, dia sudah sabar.

Dan, memang dia tidak hanya sabar, tetapi juga udin. Sampai sekarang, dia masih menyandang nama Sabarudin. Selalu sabar, selalu udin.

Antara Sabar dan Syukur

Sedangkan jika membahas syukur, maka saya kaitkan dengan rambut. Yap, syukur memang bisa diplesetkan menjadi syukur rambut.

Memang benar, kok, setelah cukur rambut, saya jadi merasa bersyukur kepada Allah. Kepala jadi lebih ringan, rambut cambang yang tidak rapi menjadi lebih rapi tanpa harus dikomandoi oleh pemimpin pasukan paskibraka.

Sekarang, antara kata “sabar” dan “syukur” dibahas lebih dalam webinar Meaningful Ways di pagi Selasa (2/12/2025). Tanggal muda, sudah gajian ‘kan?

Menurut narasumber webinar ini, Ustaz Indra Firmansyah, manusia sering mengaitkan sabar dan syukur berdasarkan logika. Jika sabar berkaitan dengan barang, maka ucapannya, “Yang sabar, ya, barang hilang nanti Insya Allah akan dapat yang lebih baik.”

Atau, jika punya istri yang cerewet misalnya, bisa saja dikatakan, “Yang sabar, ya, nanti Insya Allah juga akan dapat yang lebih baik.” Maksudnya, cerewetnya lebih baik tidak usah dihiraukan. Mungkin begitu.

Baca Juga: 7 Cara Menghadapi Istri Cerewet Tanpa Harus Bikin Kepala Jadi Konslet

Kalau dilihat secara logika juga, apa sih batas dari sabar dan syukur? Menurut kamu, ada atau tidak batasnya?

Rupanya ada, kok! Bahkan antara sabar dan syukur, batasnya dua hal. Iya, benar, dua hal saja yang menjadi batas sabar dan syukur.

Dua hal tersebut adalah huruf s dan r. Coba dilihat sekali lagi, benar bukan? Tepat bukan? Batas depan dan batas belakang. Cocok?

Penuh dengan Tadabbur Al-Qur’an

Harus saya akui, kapasitas keilmuan Ustaz Indra memang sangat luar biasa. Hafal berbagai macam dalil Al-Qur’an yang berkaitan dengan sabar dan syukur ini.

Beliau hafal dengan nomor ayatnya, plus nomor suratnya. Begitulah jika orang sudah akrab dengan Al-Qur’an sedari dulu, bandingkan dengan era sekarang, orang lebih akrab dengan HP-nya.

Tidak semua orang bisa seperti Ustaz Indra. Sekarang memang lebih banyak orang yang hafal Al-Qur’an daripada hafal Iqra 1-6. Benar bukan?

Dari pembahasan yang saya ikuti sampai selesai, sabar itu adalah dalam rangka mencari ridha Allah. Tidak boleh ketika kita sabar, ada tapinya, ada syaratnya, ada meskipunnya.

Harus murni sabar dan yang lebih berat lagi adalah membalas keburukan dengan kebaikan.

Secara manusiawi, manusia yang suka sayur sawi, kalau ada orang yang berbuat keburukan kepada kita, maka harus kita balas. Kalau perlu balam dendas, eh, salah, balas dendam.

Apalagi kita yang berada di posisi yang lebih kuat, lebih punya posisi, dan lebih unggul. Jika sudah membalas, rasanya kok puas begitu. Dia berbuat buruk, maka harus ada keburukan yang setimpal.

Namun, Ustaz Indra mengajarkan bahwa keburukan itu tetap dibalas dengan kebaikan. Seperti sejarah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sampai beribadah di depan Kabah, dilempari kotoran unta.

Coba, jika hal itu terjadi pada kita, siapa yang mau kita salahkan? Orang yang membuang kotoran unta atau untanya yang kita salahkan karena sudah terlanjur buang kotoran?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memang punya akhlak yang luar biasa. Kata Ustaz Firanda, akhlak beliau memang termasuk mukjizat. Jadi, tidak semua orang bisa berakhlak begitu.

Sedangkan, syukur itu juga mesti dilakukan tanpa syarat, tanpa tapi, dan tanpa meskipun. Tidak boleh kita mengatakan, “Alhamdulillah, sampai juga di sini, meskipun tadi di bus, berdesak-desakan.”

Bila berdesak-desakan di dalam bus atau kereta misalnya, siapa yang mau kita salahkan? Apakah KAI? Apakah penumpang yang lain? Ataukah si pemilik tumbler yang ketinggalan? Lah, malah bahas tumbler di sini.

Syukur itu dasarnya adalah ketakwaan. Sabar dan syukur, semuanya adalah ujian dari Allah sebagaimana dijelaskan dalam Q.S (Qur’an Surah) 29 ayat 2. Tujuannya adalah Q.S Al-Mulk ayat 2.

Jadi, antara sabar dan syukur memang bisa seiring sejalan dalam kehidupan kita. Keduanya tentu saja adalah kebaikan yang luar biasa banyak.

Dalam Segala Kondisi

Sabar ketika ditimpa sesuatu yang kita pandang tidak menyenangkan, apa contohnya? Ya, contohnya saat sedang sakit. Ini yang dimaksud adalah sakit keras, bukan sakit panu, ya!

Mengeluh ketika sakit, itu bukti orangnya tidak sabar. Padahal, orang yang sakit, ya, minum obat.

Ada kok makhluk Allah yang tidak sakit, tetapi malah mengonsumsi obat. Makhluk tersebut adalah nyamuk! Ada yang bakar, ada yang semprot.

Justru ketika kita sakit terus minum obat, malah jadi lebih fit. Justru jadi lebih bisa istrirahat, kalau seorang istri, dan suamirahat, kalau seorang suami.

Begitu pula saat banyak utang. Ini juga harus disyukuri, karena membuat doa kita jadi lebih panjang.

Biasanya, doa cuma 2 menit, buru-buru mengakhiri doa karena ingin segera kentut. Kini setelah ada utang yang dikoleksi, cieh, utang dikoleksi, doanya bisa jadi 2 jam.

Mengeluh, menangis, berharap kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar Dia bisa membantu kita dalam membayar utang-utang kita. Terus, yang memberi utang, doanya apa, ya, kira-kira?

Saat dalam kondisi yang orang lain memandangnya tidak baik, sementara kita baik-baik saja, lalu kita berdoa dan belum dikabulkan Allah, bagaimana perasaan kita?

Baca Juga: Sejak Menjadi Orang Tua, Apa yang Telah Kamu Pelajari?

Rupanya, hal itu bisa terjadi karena Allah memandang kita belum siap. Misalnya, kita minta mobil baru yang rodanya empat.

Terus, Allah belum memberikan mobil tersebut. Ternyata, hal itu terjadi karena kita belum siap dengan biaya-biayanya.

Bukankah mobil sendiri lebih mahal daripada mobil sewa? Memiliki rumah sendiri, maka akan tergoda untuk perbaikan sana-sini, beda dengan menjadi kontraktor alias rumah masih ngontrak.

Webinar pagi ini betul-betul mengajarkan atau mengajak para peserta untuk merasa plong, lega, enak, nyaman, dan tenang dalam menjalani hidup ini.

Sabar mengharap ridha Allah dan syukur atas dasar ketakwaan kepada Allah. Dan, tentu saja yang paling utama adalah selalu berprasangka baik kepada Allah.

Sesuai dengan namanya, Allah itu Maha Rahman dan Maha Rahim. Tidak mungkin Allah mau menzalimi hamba-hamba-Nya.

Bila Allah belum memberikan yang kita mau, bukan berarti selamanya tidak akan pernah diberikan. Terserah Allah mau memberikannya kapan. Ya toh?

Ketika ada hamba yang diberikan ujian, maka itu tujuannya adalah hamba tersebut naik kelas. Bukan berarti, naik ke genteng kelas, melainkan agar meningkat kadar hidupnya di hadapan Allah.

Bukankah ujian antara mahasiswa S1, S2, dan S3 pasti berbeda? Tidak mungkin disamakan. Yang penting, dari dasar S1, ijazahnya harus jelas. Eh, malah bahas ijazah!

Yang terakhir, Ustaz Indra memberikan kiat saat kita menghadapi ujian atau musibah juga bisa. Apapun itu yang bentuknya ujian atau musibah, ada 3 kiatnya.

Pertama, tidak usah terlalu banyak berpikir atau bertanya. Ucapkan saja Alhamdulillah. Dalilnya ada pada Surah ke-5 ayat 101-102.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَسْـَٔلُوا۟ عَنْ أَشْيَآءَ إِن تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِن تَسْـَٔلُوا۟ عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ ٱلْقُرْءَانُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا ٱللَّهُ عَنْهَا ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (https://tafsirweb.com/1985-surat-al-maidah-ayat-101.html)

قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِّن قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا۟ بِهَا كَٰفِرِينَ

Artinya: Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya. (https://tafsirweb.com/1986-surat-al-maidah-ayat-102.html)

Kedua, jangan selalu tunjukkan pandangan kepada orang lain. Dalilnya Surah ke-20 ayat 131.

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Artinya: Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal. (https://tafsirweb.com/5373-surat-thaha-ayat-131.html)

Ketiga, jangan terlalu banyak mendengarkan orang lain karena kebanyakan mereka tersesat. Dalilnya Surah ke-6 ayat 116:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Artinya: Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). (https://tafsirweb.com/2240-surat-al-anam-ayat-116.html)

Oke, begitu saja resume webinar bersama Ustaz Indra Firmansyah kali ini. Semoga bermanfaat.

Dan, semoga kita diberikan selalu sabar dan syukur. Meskipun nama kita bukan Sabar maupun Syukur, tetapi sabar dan syukur itu bisa dimiliki oleh semua orang.

Jadi, jangan salah persepsi lagi tentang sabar dan syukur. Sebab, kalau sudah salah persepsi, apalagi persepsi pernikahan, bisa bikin malu.

Undangannya yang mana, yang dihadirinya yang mana?

Baca Juga: Oh, Ternyata Istri Gugat Cerai Suami Karena Alasan yang Tidak Disadari Banyak Orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *