Mungkin kamu pernah diajak oleh anak-anakmu jalan-jalan. Sementara, masalah klasik yang sering menghinggapi orang tua macam kamu adalah tidak punya uang alias lagi bokek. Bagaimana solusinya?
Masalah tidak punya uang ini memang problem yang dirasakan oleh banyak orang tua. Jangankan uang asli, uang palsu saja tidak punya, kok, saking bokeknya.
Padahal. kamu sudah luar biasa bekerja dan sudah dalam mode perjuangan ayah mencari nafkah. Namun, yang namanya kisah sedih ayah, pastilah selalu ada.

Bisa jadi, kamu memang sudah ada gaji tiap bulan. Mungkin malah kamu adalah pegawai teladan, meskipun belum pernah mendapatkan penghargaan dari presiden, Somalia, hehe.
Kamu sudah punya penghasilan tetap, tetapi di satu sisi, kamu juga banyak kebutuhan. Banyak tagihan. Banyak utang. Dan, semuanya butuh untuk dibayar.

Sampai akhirnya, uangmu pun semakin menipis. Pada dasarnya ‘kan satu lembar uang memang tipis. Asal jangan tipis sembarangan, ya, bau pesing soalnya!
Hasrat Orang Tua Ingin Membahagiakan Anak
Siapa sih orang tua yang tidak ingin membahagiakan anak? Tentunya hampir semua orang tua begitu.
Lho, kok hampir? Ya, karena kebetulan lewat depan rumahmu, makanya hampir. Hem, ini beda kata lagi.
Sejak si anak dalam kandungan atau dalam rahim, orang tua sudah berpikir tentang kehidupan anak tersebut. Si bapak berusaha bekerja keras, peras keringat, banting tulang, jangan dibalik, demi si calon buah hati.
Itulah bentuk perjuangan ayah mencari nafkah yang sudah menjadi kewajibannya sebagai kepala keluarga.

Begitu pula sang ibu. Berusaha untuk mendapatkan nutrisi-nutrisi terbaik. Mungkin dengan susu khusus atau susu juga yang diminum setelah lahir.
Kalau biasanya susu sapi, eh, ternyata sapi sudah tidak pernah minum susu lagi. Makanya, diganti dengan susu kambing, yang ternyata malah efektif banget buat ibu menyusui, kalau tidak percaya, cek langsung di sini.
Setelah anak tersebut lahir, maka orang tua pun makin senang. Apalagi anak tersebut tumbuh sehat dan kuat.
Ditambah dengan tidak gampang sakit. Soalnya, orang yang sakit itu biasanya tidak sakti. Tinggal dibolak-balik saja, sih, kayak mangtabrak telur.
Akan tetapi, hasrat untuk membahagiakan anak tersebut memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi telapak tangannya kapalan, tambah berat lagi dibalikkan.
Hanya Sekadar Ingin Jalan-jalan

Anak-anak sekarang memang banyak terpaku pada layar. Mereka bisa berjam-jam menonton video maupun menikmati sesuai dari layar HP, tablet, laptop, tetapi pasti tidak tahu tentang layar tjancap. Pakai ejaan lama lagi.
Ketika ada tayangan seperti jalan-jalan di suatu tempat wisata atau di hotel-hotel berbintang, yang sebenarnya mahal, tetapi bisa lebih murah dengan diskon klik di TikTok, pikiran orang tua jadi terpentok.
Dalam hati orang tua, pastilah ingin memenuhi keinginan tersebut. Mengajak jalan-jalan, demi memenuhi keinginan si anak.
Namun, orang tua cuma bisa mengatakan, “Ayah minta maaf, Nak.”
Atau jika kamu sebagai ayah dipanggil “Abi” oleh anakmu, seperti panggilan anak saya ke saya, maka hanya bisa menjawab, “Maafkan, Abi, Nak, dompet Abi sedang puasa, dan entah kapan berbukanya?”
Ingin rasanya memukuli tembok atau orang lain yang mukanya tembok juga. Merasa jadi orang tua yang gagal karena tidak bisa memenuhi keinginan anak yang satu itu.
Hanya bisa berjanji, lain kali, Insya Allah, lain waktu, tetapi kapannya itu jadinya kapan-kapan. Bulan Mei, ternyata lengkapnya Meibe yes, Meibe no.
Sedih memang. Tragis memang. Kalau ada tragis, berarti ada juga janda, dong! Huss, ini bukan bahas status perempuan.
Kenyataan Pahit Orang Tua Belum Bisa Mengajak Anak Jalan-jalan
Memang kenyataan pahit, tetapi siapa sih yang mencampur brotowali dan pare dengan kenyataan. Akhirnya jadi kenyataan pahit banget.
Ekonomi memang sedang sulit sekarang ini. Sebenarnya, tidak boleh mengatakan “ekonomi sulit”, nanti dikira orang yang pesimis.
Harus optimis, dong! Optimus saja optimis menghadapi Decepticon, masa kita pesimis seperti ikan busuk yang berbau amis.
Makanya itu, sering kita lihat orang tua kita dahulu, terutama bapak, sering menyendiri. Mungkin sambil merokok, duduk agak jauh dari teras berita, eh, teras rumah.
Sebal, sebul, asap rokok pun berkelana mencari mangsa, yang mau dirusak paru-parunya. Namun, tindakan seperti ini jangan dicontoh, ya!
Soalnya, kalau berpikir kok cuma mengandalkan sebatang rokok, rasa-rasanya otak jadi ukurannya cuma segitu.
Pilihan Alternatif Menjawab Pertanyaan Anak Ingin Jalan-jalan
Jika kamu punya iman yang tebal dan yakin dengan segala takdir Allah, maka ada beberapa alternatif ketika anakmu ingin jalan-jalan, sedangkan kamu pas tidak punya banyak uang.
Tanamkan Persepsi Bahwa Ada Tempat Dekat untuk Lebih daripada Sekadar Jalan-jalan
Okelah, jalan-jalan ke luar kota, luar provinsi, atau bahkan ke luar negeri memang sangatlah asyik. Apalagi jika bisa menggunakan transportasi publik semacam pesawat.
Meskipun kita cuma jadi penumpang pesawat tersebut, rasanya sudah sangat bahagia. Lha, terus, kalau penumpang dianggap “cuma”, terus maunya jadi apa? Jadi koper bagasi?
Membayangkan bisa naik kapal pesiar mewah dan berkeliling dunia, pasti rasanya bikin ngiler. Meskipun nanti pas mau masuk kapal, mungkin dites ngilernya. Walah, gimana coba?
Kapal pesiar sebagai sarana mewah untuk jalan-jalan ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti subjudul sebelumnya. Apa itu, Mas?
Yap, kapal pesiar tidak punya label halalnya. Jadi, jika naik kapal pesiar bersama turis-turis atau orang asing, ‘kan mereka makanannya babi juga.
Ternyata, di kapal pesiar itu, peralatan masaknya dicampur. Jadi, setelah memasak daging babi, ya, tidak dicuci dengan benar. Cuma dengan air dan sabun biasa.
Padahal, babi ini sebenarnya lebih berat najisnya dibandingkan anjing bukan?
Kalau di dalam kapal pesiar ternyata memang bercampur alat masaknya, wuih, ini jelas-jelas sangat mengerikan! Untunglah saya belum pernah baik kapal pesiar. Kapalan di tangan saja yang pernah.
Masih membahas tentang jalan-jalan, ada kok tempat yang bisa dijadikan jalan-jalan, tetapi efeknya, manfaatnya, dahsyatnya, luar biasa sangat!
Tempat tersebut adalah masjid. Yap, masjid dekat rumah, bisa sebagai tempat jalan-jalan bagi anak. Bagi anak terhitung jalan-jalan, bagi orang tuanya jelas ibadah, lah.
Menanamkan persepsi bahwa masjid lebih daripada sekadar tempat jalan-jalan, tetapi tempat yang dimuliakan Allah.
Meskipun anak-anak tersebut bermain-main di masjid, lari-larian, tidak terlalu masalah, asalkan dijaga saja. Yang menjadi masalah adalah bapaknya yang main lari-larian di masjid!
Tanamkan Bahwa Orang Tua Belum Bisa Membahagiakan Anak di Dunia Ini, Tetapi Insya Allah di Surga Nanti
Saya teringat sebuah video TikTok yang isinya adalah suara dari Ustaz Firanda. Beliau mengatakan bahwa kondisi orang di dunia ini belum tentu sama dengan di akhirat.
Orang yang hobinya jalan-jalan ke luar negeri, sehari bisa 24 jam, ya, iyalah, belum tentu akan kaya juga di akhirat.
Mungkin dia banyak harta di dunia ini. Banyak perusahaannya, sementara kita juga punya banyak perusahaan, tetapi belum dibangun saja.
Belum tentu orang kaya tersebut akan bahagia juga di akhirat. Bisa jadi, dia akan menjadi sangat miskin di akhirat.
Bisa jadi, perusahaannya banyak yang pakai sistem riba. Selama ini dia kaya dari hasil riba maupun bisnis-bisnis haram lainnya.
Kalau sudah begitu, apa yang mau diirikan? Iri pada orang yang akan disiksa Allah nanti? Nggak, lah.
Jadi, anak-anak perlu diberikan pemahaman bahwa kekayaan yang sesungguhnya nanti di surga.
Kaya di surga berarti kaya selamanya, kaya yang abadi. Bila masih di dunia, pastinya akan sirna juga. Dan, akan ditinggalkan juga.
Oleh karena itu, anak-anak yang belum bisa kita ajak jalan-jalan, bilang saja, “Nanti Insya Allah, jalan-jalannya di surga saja, ya, Nak.”
Namun, jangan sampai, anak bertanya balik, “Berarti harus mati dulu, dong? Yah, nggak seru.”
Hem, hem, dan hem.
Tanamkan Singkong, Eh, Salah, Tanamkan Bahwa Tidak Semua Keinginan di Dunia Ini Harus Dipenuhi
Jelas, kalau dilihat dari kenyataan, dunia ini berbeda dengan surga. Kalau di surga, apapun memang bisa didapatkan.
Mau cari buah, semuanya enak. Bahkan, tanpa harus diucapkan, cukup keinginan dalam hati, buah-buah itu sudah mendekat.
Ketika masuk surga, kita menjadi raja yang dilayani banyak sekali pelayan.
Beda dengan di dunia ini, justru kita yang malah jadi pelayan buat orang lain, hadeh.
Nah, ketika anak ditanamkan persepsi bahwa tidak semua keinginan di dunia ini terpenuhi atau tidak bisa terpenuhi, maka dia nanti akan berpikir.
Bapaknya saja yang sudah bekerja keras, melebihi kerasnya es batu yang baru keluar dari freezer, tetap belum bisa beli mobil, apalagi jalan-jalan ke luar negeri.
Sudah lembur sampai tidak tidur. Kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala sampai dilakukan, nyatanya gaji begitu-begitu saja. Sangat sulit untuk naik sembarangan.
Gaji memang sudah dipatok oleh negara atau kepala perusahaan, makanya tidak bisa sembarang minta naik. Kalau minta turun, malah langsung dipenuhi, deh.
Kesedihan Ayah Karena Masalah Keuangan

Biaya hidup yang makin naik, beras yang makin mahal, entah sekarang per butirnya berapa, sementara gaji tetap, ini memang membuat pusing kepala. Namanya pusing memang di kepala, masa di ginjal?
Sedangkan cicilan yang tidak pernah ikut puasa, selalu saja menghantui melebihi Valak. Padahal, cicilan itu lebih galak daripada Valak. Enaknya sih makan valak, pondoh.
Ayah yang merasa kurang, ingin membahagiakan anak-anak dan istrinya juga, bukan istri tetangga, serta ayah yang kadang menangis dalam diam, tetapi berusaha tegar dan kuat di hadapan keluarganya.
Perjuangan ayah memang berat di era sekarang. Sering mengatakan ke anak, “Ayah sedang berjuang, Nak” atau kalimat lain, “Kalau sekarang belum bisa, bukan berarti selamanya tidak bisa, ya.”
Atau dengan kalimat yang mungkin berbau humor, “Maafkan Ayah, Nak, dompet Ayah masih lemas hari ini.” Atau dengan kalimat, “Ke mana pun kamu mau, Nak, Ayah mau mengajak, cuma ongkosnya yang tidak mau.”
Miris, menyedihkan, dan memang bikin perih di hati. Sosok ayah yang selama ini pejuang keluarga, ternyata masih belum bisa menaklukkan keinginan anak yang satu itu.
Tenang saja, para ayah, kondisi seperti itu Insya Allah cuma sementara kok. Mungkin kondisi kekurangan uang, atau bahkan dikeluarkan dari pekerjaan, bisa dianggap musibah.
Namun, jika dihitung lebih detail tanpa harus pakai rumus Matematika yang rumit dan tentu saja saya dan kamu tidak tahu, masih lebih banyak nikmat dari Allah, kok.
Dari sebelum lahir, lahir, menjadi bayi, anak-anak, remaja, hingga dewasa sekarang ini, nikmat Allah jauh dan jauh lebih banyak daripada musibah maupun cobaan yang kita terima. Ya ‘kan?
Oleh karena itu, sungguh wajar tetap bersyukur kepada Allah. Kekurangan uang yang ada sekarang juga perlu disyukuri karena masih ada yang lebih kurang uangnya lagi daripada kamu.
Perkara jalan-jalan dengan anak yang belum bisa dilakukan sekarang, semoga tidak membuat para ayah kecil hati atau rendah diri, apalagi jika memang punya tubuh yang rendah. Tambah rendah lagi deh.
Insya Allah, pasti ada jalan untuk bisa jalan-jalan. Terus berdoa kepada Allah. Masa, Allah saja yang menguasai langit dan bumi, kekayaan-Nya tidak pernah berkurang dan habis sampai sekarang, tidak memberikan sedikit rezeki-Nya untuk kamu, sih?
Memang perlu bersabar. Memang semuanya butuh waktu. Allah mungkin tidak memberikan sekarang karena ada waktu di kemudian hari yang lebih pas.
Kapan? Ya, entahlah. Yang jelas, anak-anak belum bisa jalan-jalan sekarang, tetapi mereka masih memiliki kamu, sosok Ayah yang terus berjuang hingga sekarang.
Perjuangan ayah mencari nafkah memang tidak akan berhenti, selama kebahagiaan belum bisa diraih di dunia ini. Tapi, kebahagiaan yang seperti apa, sih?




