Review MHJA Series Bersama Babe Jamil Azzaini: Ketika Harta Berkurang atau Pergi, Apa yang Allah Ajarkan?

Review MHJA Series Bersama Babe Jamil Azzaini: Ketika Harta Berkurang atau Pergi, Apa yang Allah Ajarkan?

Namanya harta, ada saatnya datang, ada saatnya pergi. Bagaimana kalau pergi terus tanpa pamit? Dan, jika harta pergi, apa yang bisa pelajari? Apa yang Allah ajarkan kepada kita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin sering mampir di pikiran kita. Sering kita pikirkan, kok selama ini harta yang ada jarang yang menetap lama, ya?

Apa harta tersebut memang kurang kerasan dengan diri kita? Apakah kita ini memang tidak layak untuk menjadi tuan rumah bagi harta tersebut?

Dalam momen MHJA (Mengasah Hati Bersama Jamil Azzaini) Series tentu saja bersama trainer dan motivator terkenal Indonesia, Jamil Azzaini, dibahas tentang hal ini. Tentang harta yang pergi dan hubungannya dengan ilmu dari Allah.

Acara ini pada Sabtu yang lalu (22/11/2025) dimulai jam 06.00 WIB atau pukul 07.00 WITA. Ini WITA, bukan WATI, ya!

Perasaan Ketika Harta Berkurang atau Bahkan Hilang

saat-harta-hilang

Sebagai manusia biasa dan kadang disebut pula manusia luar biasa alias biasa di luar, mungkin diusir istri, ya, walah, secara umum ada perasaan-perasaan tertentu ketika harta kita hilang.

Yah, minimal berkurang, lah. Dari yang tadinya mungkin 2 juta kok jadi 1 juta atau kurang dari itu. Kalau yang tadinya setengah juta, berkurang jadi 500 ribu, maka itu sama saja, lah.

saat-harta-berkurang-1

Jamil Azzaini (JA) menyebut ada empat perasaan yang bisa menghinggapi kita ketika harta hilang atau berkurang, yaitu:

  1. Kecemasan yang membuncah. Ini cemas yang bertubi-tubi. Cemas di atas cemas, cemas kuadrat. Meskipun namanya cemas, bukan berarti ada cembak, lho, ya!
  2. Harga diri yang dirasa runtuh. Tentunya, runtuh bukan karena ikut-ikutan ada durian runtuh, tetapi memang harga diri yang tiba-tiba jatuh dari tempatnya semula.
  3. Tidak punya pegangan yang kuat. Bukan berarti juga berada di pinggir sungai karena buang hajat, lalu mau tercebur. Ini cukup mengerikan jika memang tidak punya WC sendiri, apalagi WC seperti di hotel mewah itu.
  4. Merasa “siapa saya” menjadi kabur. Identitas diri jadi tidak jelas. Merasa bukan lagi diri kita, sehingga rasa percaya diri pun jadi lenyap.

Kalau kita memang dilanda empat perasaan di atas itu, maka pertanyaan selanjutnya timbul, tidak ada hubungannya dengan Timbul Srimulat, apakah kita memang mulai mempunyai tuhan kecil?

saat-harta-berkurang-2

Apakah selama ini kita menjadikan uang dan saldo di rekening adalah segala-galanya? Apakah kalau sudah ada uang jutaan rupiah di rekening juga, kita jadi lebih tenang?

Apakah ada uang di dompet membuat kita jadi bahagia selama-lamanya? Apakah jika kita punya lembaran-lembaran uang merah, kita jadi tidak mudah marah, padahal nilai raport kita dulu kebanyakan merah? Wah, malah buka rahasia masa lalu!

Baca Juga: 5 Hal yang Perlu Buat Kamu Saat Menulis di Pagi Hari agar Mood Lebih Tenang dan Bahagia

Tanpa sadar, kita menjadi dilanda syirik kecil. Syirik yang halus banget, lebih halus daripada pipi Syahrini. Saya tidak pernah pegang, lho!

Bisa saja, harta kita berkurang karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala cemburu. Kita merasa lebih bergantung kepada uang, saldo rekening, maupun saldo di e-wallet kita daripada bergantung kepada Allah.

Jadi, ketika kita dilanda ujian kehilangan harta maupun rezeki menipis, maka itu tentu saja ada tanda-tanda dari Allah Ta’ala.

ketika-rezeki-terasa-sempit

Apa yang Harus Dilakukan Ketika Harta Berkurang atau Allah Mengambilnya dari Kita?

JA memberikan 3 kiat untuk menjawab pertanyaan subjudul di atas. Apa saja itu? Itu apa saja? Tinggal dibolak-balik doang, sih, dua pertanyaan barusan.

1. Menyadarkan Hakikat Harta

kenapa-rezeki-seret

Siapa sih orang di dunia ini yang mendapatkan harta dan dipegang selamanya? Tidak ada bukan? Pasti suatu saat harta itu bisa hilang juga atau beralih ke orang lain.

Hakikat harta itu pada dasarnya memang titipan dari Allah. Harta itu bukanlah termasuk identitas diri, karena sifatnya memang sementara.

Misalnya, ada orang kaya yang kehilangan mobil roda empat. Hem, mana ada mobil roda dua setengah?

Katakanlah, coba katakan sekarang, mobil itu bermerek Alphard. Ini jelas bukan berarti tanda butuh makan, karena Alphard, bukan itu.

Jika mobil tersebut hilang dari garasi, maka siapa yang paling kehilangan? Apakah pembantunya? Apakah tukang kebunnya? Apakah kebunnya?

Tentu saja, yang paling kehilangan adalah si pemilik mobil. Para pembantunya yang mungkin salah satunya bernama Inem itu tidak merasa kehilangan karena memang tidak pernah memiliki atau tidak merasa memiliki.

Apabila sudah begitu keadaannya, bahwa harta itu semuanya adalah titipan Allah, maka berkurang atau lenyap sekalian, tidak perlu membuat kita resah bin gelisah. Kalau perempuan, ya, resah binti gelisah. Biar adil toh.

Yang menjadi milik kita itu adalah yang dimakan, dipakai, dan disedekahkan. Begitulah.

Menurut JA, harta yang menyelamatkan adalah harta yang dialirkan. Maka, itulah harta yang menyuburkan. Tumbuh subur, makin banyak, makin berkah. Mantap bukan?

2. Mengubah Reaktif Menjadi Reflektif

ketika-harta-berkurang-2

Hal yang dibahas di sini tidak ada kaitannya dengan nuklir, karena cuma menyebutkan reaktif, bukan reaktor. Jauh banget juga, sih, kedua kata itu.

Sifat reaktif muncul saat kita kekurangan harta atau harta tersebut sudah tidak lagi milik kita. JA menceritakan ada seorang pengusaha.

Si pengusaha tersebut yang tentu saja tidak mengenal saya, memang awalnya usahanya tumbuh dan berkembang baik. Namun, suatu hari, dia punya utang yang banyak.

Dia lalu datang kepada seorang ustaz. Mengeluh tentang keadaan diri dan bisnisnya.

Kepada sang ustaz, pengusaha tersebut bercerita bahwa usahanya tidak pernah aneh-aneh. Mengaku bisnisnya bagus dan tidak bergerak di sektor yang haram.

Bahkan, perusahaannya disebut dengan spiritual company. Namun, kenapa bisa terjadi si pengusaha utangnya jadi banyak?

Ternyata, setelah diusut, modal bisnisnya berasal dari surat tanah orang tuanya yang digadaikan tanpa izin. Nah, ini dia penyebabnya! Tanpa sepengetahuan orang tuanya, sertifikat tersebut digadaikan.

Kalau cuma sertifikat lomba menggambar dan mewarnai waktu TK, sih, tidak masalah digadaikan. Toh, siapa juga yang mau terima, ya ‘kan?

Akan tetapi, karena bicara surat tanah yang bisa jadi nilainya ratusan juta hingga miliaran, maka ini jelas bukan perkara sepele. Apakah ini Pele dari Brazil itu? Wah, beda jauh!

Baca Juga: Cara Melunasi Hutang Menumpuk: Belajar dari yang Pernah Berutang Jauh Lebih Banyak dan Parah

Akhirnya, begitu tahu hal tersebut, pengusaha tadi mengambil kembali surat tanah orang tuanya dan mengembalikannya. Bisnisnya pun lancar kembali.

Jadi, kondisi kekurangan harta atau uang tersebut, pada dasarnya adalah kondisi yang sementara.

Tidak perlu terlalu dirisaukan, toh, Allah pasti menunjukkan jalan yang lebih baik, jalan yang lebih mulia lagi. Coba katakan, “Aamiin”! Yak, mantap!

3. Memprioritaskan Amalan Pengundang Rezeki

kenapa-uang-cepat-habis

Rezeki memang sudah dijamin oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Akan tetapi, bagaimana cara mengundangnya agar lebih dekat dan cepat menghampiri kita?

Ada tujuh amalan yang bisa mengundang rezeki. Pertama, berbuat yang terbaik. Allah menyuruh manusia untuk berbuat yang terbaik, apapun yang dilakukan si manusia tersebut.

Jika memang yang dilakukannya positif, maka berbuat yang terbaik itu sangat perlu agar hasilnya juga terbaik.

Kedua adalah bertaubat. Ini adalah perbuatan yang cukup berat dilakukan apalagi jika hati kita selalu cenderungnya kepada dosa. Mau berbuat dosa, kok, kayak dimudahkan dan gampang banget gitu, lho! Astaqfirullah.

Ketiga, menjalin silaturahmi. Merunut dari arti katanya, silaturahmi ini kepada keluarga, kerabat dekat, maupun kerabat jauh.

Keempat, bersyukur. Nah, ini yang mungkin sering kita lupa juga. Terlalu banyak nikmat yang kita terima dari Allah, akhirnya malah membuat kita tidak sempat bersyukur.

Nikmat-nikmat tersebut sudah kita terima tiap hari, tiap saat, jadi dirasa tidak ada yang istimewa, makanya bersyukurnya jadi kurang pula.

Kelima, bangun pagi. Usahakan bangun pagi sebelum Subuh, sebelum ayam berkokok.

Ayam tidak perlu alarm atau HP sendiri untuk membangunkan dirinya. Dia sudah punya alarm alami.

Sementara kita, kadang sudah pasang 5 alarm di HP. Terbangun, sih, tetapi langsung mematikan alarm tersebut. Walah.

Keenam, berbakti kepada kedua orang tua. Alhamdulillah jika masih ada dua-duanya. Ini kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.

Jika salah satunya sudah meninggal dunia, maka dunia ini rasanya tidak lagi sama. Betulan, lho! Tanyakan kepada orang yang sudah pernah mengalami.

JA memberikan tips dan kiat. Jadikan orang tua kita seperti raja, maka rezeki kita pun akan seperti raja.

Namun, apabila kita memperlakukan orang tua kita seperti pembantu, maka rezeki kita juga akan seperti pembantu.

Ketujuh atau amalan pengundang rezeki terakhir disebutkan di bagian ini adalah bersedekah. Ada begitu banyak sekali tempat bersedekah. Namun, yang paling disarankan dalam forum ini adalah bersedekah di bawah ini:

saat-harta-berkurang-3

Sesi Diskusi atau Tanya Jawab

Sebelum MHJA ini ditutup, ada sesi diskusi. Dipersilakan bagi peserta yang ingin bertanya kepada JA. Tentu saja, pertanyaan tersebut gratis, meskipun paket internet atau WiFinya tetaplah bayar, lah yauw!

Pertanyaan pertama kaitannya dengan resign orang yang sudah ikut dengan kita. Misalnya, kita punya usaha, lalu ada orang yang menjadi tim atau karyawan begitu, terus dia resign. Apa yang harus diperbuat?

JA menjawab bahwa untuk menghindari orang resign adalah dengan menanamkan bahwa kita bekerja itu bukan cuma tentang uang, melainkan juga hal-hal yang bersifat sosial, misalnya: memudahkan urusan orang lain, menuntun banyak orang, dan lain sebagainya.

Ada 5P menurut Babe Jamil, yaitu: Profit (keuntungan), People (tentu saja orang), Planet (misalnya keberlangsungan lingkungan dan harga barang bisa turun), Purpose (bisnis yang kita banget nih), dan Paradise (berharap surga dari usaha kita ini).

Kemudian, saat ada orang yang mau melamar pekerjaan kepada kita, tanyakan apa motivasinya? Jika kita simpulkan, bahwa dia 5 tahun mau resign, maka kita bantu sebisanya supaya pas 5 tahun, dia bisa sukses.

Jadi, meskipun orang tersebut sudah keluar karena sudah resign tadi, tetap ada hubungan baik.

Dalam berbuat baik ini, ada tiga hal yang perlu dipertanyaan. Pertama, apakah meningkatkan kualitas kita? Kedua, apakah bermanfaat untuk orang lain?

Dan, yang ketiga adalah apakah semakin dicintai oleh Allah?

Pukul 08.00 WITA lebih, di tempat saya, acara MHJA ini berakhir. Dan, sebagaimana biasa, setelah acara, saya lanjut mencuci. Atau bisa pula membilas cucian, atau bisa pula menjemur.

Apakah saya ini bisa termasuk suami teladan karena rajin mencuci? Tidak juga. Mencuci adalah hobi saya juga sebenarnya.

Namun, ada hal yang lebih penting lagi daripada sekadar mencuci pakaian, yaitu: mencuci hati istri saya. Dia pasti akan merasa sangat terbantu jika pakaian-pakaian kotornya ikut dicuci.

Kalau hatinya sudah bersih dan jernih, maka peluangnya untuk ngomel ke saya akan jauh berkurang. Eh, apa iya, sih?

Baca Juga: Mewujudkan Visi Misi Keluarga Bersama Dewi Nur Aisyah, Doktor Muda yang Selalu Haus Ilmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *