Ustaz Wijayanto pernah mengatakan bahwa di Al-Qur’an, surah terpanjang dan ayat terpanjang bukan membahas tentang tauhid, sholat, dan ibadah lainnya, tetapi justru tentang utang.
Utang-piutang memang menjadi masalah yang mungkin sering menghinggapi kita selama ini. Betapa banyak orang yang berutang, betapa hutangnya juga cukup banyak.
Dalam pembahasan MHJA pada Sabtu (15/11/2025) lalu yang dimulai pukul 07.00 WITA bersama Jamil Azzaini, dihadirkan seorang tokoh yang sudah malang-melintang, meskipun bukan berasal dari Malang, di dunia bisnis online.
Dia adalah Kang Dewa Eka Prayoga. Kita singkat saja dengan DEP, ya! Kalau sudah DEP, jangan disingkat lagi, oke! Mau jadi apa nanti disingkat lagi. Tapi, kalau pas sedang hujan, mau solusi yang singkat, CUMA DI SINI.
Pada awal penyampaiannya, Dewa menyebutkan bahwa dia pernah berutang 7,7 miliar dan berhadapan dengan 645 investor. Waktu itu, dia berumur 21 tahun dan terkena investasi bodong.
Meskipun Dewa bukan investor aslinya, tetapi orang-orang yang diajaknya bergabung menuntut kepada dia. Alhamdulillah, hanya dalam waktu 5 tahun, dia bisa tahu cara keluar dari jerat hutang.
Inilah kisah orang yang punya hutang besar. Lalu, bagaimana pengalaman melunasi hutang dari Kang Dewa? Yuk, kita belajar dari yang pernah terlilit hutang macam Kang Dewa itu.
3 Penyebab Orang Berutang
DEP menyebutkan bahwa ketika orang berutang pastilah ada penyebabnya. Pastilah ada faktor yang mendorongnya. Ada juga sih faktor yang ada di sawah, pakai mesin lagi! Eh, itu namanya kalkulator!
1. Under Earning

Ada tiga penyebab orang berutang menurut DEP. Pertama, under earning. Wah, ini Bahasa Inggris! Bayi yang baru lahir pasti tidak tahu artinya ini.
Under earning artinya penghasilannya memang kecil alias miskin. Nah, miskin ini bukan berarti orang yang menelepon, tetapi pas mau diangkat, dimatikan. Wah, itu miskol, tetapi juga bisa karena miskin.
Baca Juga: Menanggapi Tingginya Pendapatan Anggota DPR dalam Sebulan, Sebenarnya Itu Investasi Buat Kita
Jika seseorang punya penghasilan kecil, secara nominal memang tidak bisa memenuhi kebutuhan atau memang kurang. Penghasilannya cuma seratus ribu sebulan, tetapi ingin beli Rolls Royce, pastilah susah. Kalau beli Royco, lebih gampang.
DEP mengajarkan bahwa kaya adalah mentalitas, sedangkan tidak punya uang adalah kondisi sementara.
Jangan salah, orang kaya itu bisa terasa sempit jika pelit. Dan, orang miskin bisa terasa lapang jika dia dermawan.
2. Over Spending
Kedua, alias penyebab kedua orang berutang adalah over spending. Kalau tadi yang pertama kurang penghasilan, ini malah terlalu banyak pengeluaran alias boros.
Orang menjadi boros bisa karena memang banyak gaya. Zaman 80-90an, anak kecil pun bisa suka boros, apalagi yang disukai itu Mario Boros. Permainan jaman jadul, sih.
Jangan menjadi orang yang banyak gaya, tetapi jadilah orang yang luar biasa karya dan manfaatnya. Oke? Atau eko?
3. Unexpected Event
Penyebab yang ketiga ini berkaitan dengan hal-hal yang gaib. Bukan bahas jin, pocong, maupun kuntilanak. Bukan itu, melainkan tentang ujian, cobaan, maupun azab.
Bikin panas memang kalau sedang ada ujian, ya, mungkin ini BISA MEMBANTU KAMU.
Nah, ada orang yang sampai berutang karena memang sedang diuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Berarti kalau begitu, kita harus ingat dengan yang namanya rukun iman. Ada berapa, Anak-anak? Yak, betul, ada enam rukun iman!
Salah satunya adalah percaya kepada qada dan qadar Allah. Segala sesuatu di dunia ini sudah ditentukan, takdir sudah ditetapkan oleh Allah. Kita tinggal menjalani saja, tetap dengan selalu berprasangka baik, dong!
Perasaan Ketika Ada Utang

Apakah orang yang berhutang itu punya perasaan bahagia, senang, gembira? Hore, utangku banyak, nih! Makin banyak, makin senang hatiku.
Adakah orang yang seperti itu? Kalau memang ada, biasanya orang yang seperti itu termasuk ODGJ alias sakit jiwa. Orang yang punya utang, apalagi yang utangnya banyak, pastilah dilanda perasaan negatif.
Perasaan seperti bingung, sedih, lemah, malas, pengecut, pelit, stres, frustasi, gila, tertekan, emosional, terlantar, dan aneka perasaan negatif lainnya.
Pastinya tidak nyaman, oleh karena itu butuh yang lebih bikin nyaman. Tidak harus keluar dana yang banyak, cukup dengan doa. Dan, ini dia doanya:

10 Langkah-langkah atau Cara Melunasi Hutang Menumpuk

Bagaimana cara mengatasi hutang tanpa pinjaman dengan cara yang sederhana? Jawabannya adalah dengan dibayar! Yap, itulah cara utama untuk mengatasi utang, dengan cara dibayar!
Ya, semua orang sudah tahu bahwa utang itu bisa hilang kalau dibayar lunas. Namun, bagaimana langkah-langkahnya? Nah, berikut ada beberapa langkah tersebut.
1. Berani Menghadapi Kenyataan
Ini adalah realitas dunia, bukan mimpi. Kalau ini dianggap mimpi, maka coba cubit pipi sendiri. Coba cubit pipi kiri, kanan, lalu tengah. Kalau sakit, berarti ini bukan mimpi.
Jujur kepada diri sendiri memang bisa terbilang berat. Apalagi jika dengan tegas menyebutkan berapa jumlahnya, ke siapa saja, ke mana saja, dan yang paling utama adalah KAPAN TARGET LUNASNYA?
2. Mengakui Diri Sendiri Telah Salah
Pada dasarnya, jika normal-normal saja, tidak perlu berutang bukan? Kecuali, ya, istrimu, itu pasti berutang tiap hari. Eh, itu ‘kan pakaian dalam khusus perempuan.
Jika sekarang berutang, maka pasti ada yang salah. Pasti ada yang berjalan tidak normal. Nah, tugas kita untuk mengakui salah, dosa, lalu minta ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dewa Eka Prayoga benar-benar menyebut rezeki SERET. Ini bukan seperti kata “diseret”, melainkan rezeki yang mampet, tidak lancar.
Nah, SERET ini saya tulis dengan huruf besar, meskipun tidak sebesar utangmu, karena memang ada artinya, ada kepanjangannya.
S yang pertama adalah Syirik Terselubung. Lalu E yang pertama adalah Emosi negatif.
R huruf ketiga berarti Riba dan turunan-turunannya, misalnya seperti pinjol dan lain sebagainya.
Lanjut, E yang kedua adalah Ego yang besar. Dan yang terakhir adalah Takabur dan tidak bersyukur.
SERET yang bikin gelisah juga karena lapar, coba temukan solusinya yang SATU INI.
3. Yakin Pasti Bakal Selesai
Pada poin ini adalah kita diajak untuk kembali mengungkapkan sejarah. Bukan berarti kamu harus kembali ke SD kamu dahulu, terus duduk di bangku yang sama, melainkan memang membaca kisah orang-orang terdahulu.
Kita lihat kisah Hajar dan anaknya, Ismail. Ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalam di padang pasir yang panas dan tidak ada orang lain.
Hajar menerima keadaan tersebut karena memang itu perintah Allah. Lalu, perempuan mulia itu berlarian ke sana ke mari di antara bukit Shofa dan Marwa, sampai akhirnya air muncul dari dekat Ismail.
Baca Juga: Punya Penghasilan Tanpa Meninggalkan Anak Ternyata Bisa, Begini Kata Muri Handayani
Begitu pula kisah Nabi Musa alaihissalam. Nabi yang bisa berbicara langsung dengan Allah itu awalnya memang tidak tahu tongkatnya bakal membelah lautan dan membuatnya jadi jalan.
Beliau yakin saja karena itu perintah Allah. Pada akhirnya, beliau dan Bani Israil selamat dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya. Memang, tentaranya membuat bala atau musibah, sih.
Nah, mungkin sering kita punya optimisme bahwa pertolongan Allah itu pasti akan datang. Pasti Allah akan membantu kita melunasi utang-utang kita.
Akan tetapi, pesimisme justru datang dari pasangan kita sendiri. Setannya justru dari pasangan sendiri. Ini yang berat, karena setan tersebut berwujud manusia dan tiap hari bersama kita.
4. Atur Sumber Pemasukan
Bagaimana sih, cara keluar dari hutang tanpa gali lubang tutup lubang? Ada dua cara yang disarankan oleh Dewa Eka Prayoga dalam poin ini, yaitu: perbesar pipa penghasilan. Yang ini butuh waktu.
Sedangkan yang kedua adalah perbanyak pipa penghasilan. Ini butuh ilmu, misalnya: public speaking atau kemampuan membuat menulis atau membuat video.
Nantinya, akan muncul sumber pemasukan baru seperti: gaji, fee, royalti, profit, dividen, dan lain sebagainya.
5. Rajin Menolong Orang

Lho, lho, lho, kita saja sudah susah terbelit utang banyak ini, kok malah diminta menolong orang lain? Kita yang mencari cara mengatasi utang banyak ini, malah harus membantu orang lain, ini pigimana?
Begini, kata Dewa Eka Prayoga, bantu orang lain dahulu, maka akan dibantu Allah kemudian.
Pada intinya, menolong orang itu tidak harus pakai duit, kok. Tahulah, jika uang kita makin menipis, meskipun aslinya bentuk uang itu memang tipis.
Menolong orang itu bisa dengan pikiran, tenaga, ilmu, dan bentuk-bentuk lainnya. Sharing tentang dakwah juga bisa, yang penting meringankan beban orang lain.
6. Libatkan Allah dalam Segala Hal
Berikutnya, solusi mengatasi hutang banyak pada poin ini, jelas selalu libatkan Allah. Berdoa kepada Allah agar cepat lunas utang, dimudahkan pembayarannya.
Dan, memang ada doa khusus untuk kita agar bisa mengatasi utang banyak. Berikut doanya:
7. Urutkan Prioritas
Utang banyak memang begitulah adanya. Di sana-sini ada. Namun, perlu diurutkan dulu, mana yang mau dibayar nih?
Kang Dewa memberikan tips yang harus didahulukan adalah yang nominalnya kecil. Kedua, adalah utang kepada orang yang tetap suprot, halah, support atau dukung kita.
Jadi, ketika dia membayar utang ke orang tersebut, tetap dia akan mendukung kita agar bisa cepat selesai utang semuanya.
8. Negosiasi Ulang
Sama seperti utang kereta cepat Whoss ‘kan, utang kamu juga seharusnya bisa dinegosiasikan ulang. Ada dua yang perlu dinegosiasikan, pertama adalah jumlahnya. Mungkin bisa dikurangi.
Kedua, waktu pembayarannya. Kalau orang yang memberi utang ke kamu tidak mau nominalnya berkurang, coba minta lebih lama dibayar. Kalau membayarnya agak longgar, kamu bisa lebih bebas dalam mencari uangnya.
9. Alokasikan Pengeluaran
Meskipun kamu ada pemasukan dan di satu sisi masih banyak utang, kamu tetap harus mengalokasikan pengeluaran kamu. Jangan semuanya buat bayar utang, nanti kamu malah dimarahi istri. Ya, istri sendiri, ya, istrinya orang. Eh!
Kamu perlu memilah pengeluaran kamu menjadi untuk bayar utang, kehidupan sehari-hari, tabungan, investasi, dan sedekah. Nah, kelimanya itu perlu dicukupi, jangan sampai nol sama sekali, ya! Ini ‘kan bukan mau mengisi bensin di Pertamina, harus nol dulu.
10. Sederhanakan Hidup
Sudah banyak utang, masa mau bergaya kayak artis? Kan tidak cocok sama sekali. Makanya itu, dalam kiat kesepuluh ini, jadikan hidup sederhana saja.
Mau tetap sederhana, tapi tetap nyaman, boleh KE SINI DULU.
Yang harus diperbesar itu sebenarnya adalah manfaat kita. Ya, jadikan kita bermanfaat sehebat mungkin bagi orang lain.
Dan, ingat, manfaat positif, bukan manfaat negatif. Kalau positif itu berarti siap tambah anak lagi, sedangkan kalau negatif itu pikiran karena sampai sekarang masih belum punya anak. Eh, ini malah ngomong apa, sih?
Jangan Lakukan 6 Hal Ini Saat Punya Utang
Sudah cukup paham, ya, cara mengatasi utang banyak? Ada lagi ini tentang larangan sebanyak 6 larangan saat kamu berutang, apalagi utangnya pas lagi banyak.
1. Jangan Pernah Asal Janji

Sebagai pembelajaran, kamu bukanlah politisi, jangan asal berjanji. Sebelum berutang, jangan janji ke orang lain mau mengembalikan jika kamu tidak sanggup mengembalikan utang itu.
Misalnya, pinjam uang ke tetangga, katamu mau beli kaplingan laut. Memangnya, harus, ya, kamu pinjam uang? Dan, kaplingan laut? Apakah laut yang dikapling itu tempat tinggal putri duyung?
2. Jangan Bayar Utang dengan Utang
Ini kita kenal dengan gali lubang, tutup lubang. Ingat, kamu bukan petugas PLN yang harus menggali jalan demi memasang kabel.
Atau, kamu juga Jokowi yang harus masuk gorong-gorong sebelum menjabat jadi presiden. Eh, ini, sih, bicara masa lalu.
3. Jangan Cari Cara untuk Tidak Bayar Utang
Tidak boleh seorang muslim itu berbohong, apalagi mengingkari janji. Sebab, itu adalah tandanya orang munafik.
Jika terlanjur punya utang, ya, berusaha agar utang itu bisa dibayar. Utang ini memang urusan dunia, tetapi bisa saja berujung sampai di akhirat kalau di dunia belum lunas.
4. Jangan Pernah Tergoda untuk Minta Sedekah
Mengemis, pas saya menulis ini bukan hari Kamis, jangan dilakukan untuk melunasi utang. Kan sekarang ada banyak cara mengemis modern.
Contohnya, dengan live joget-joget di TikTok. Atau pakai kostum aneh, potongan rambut mirip Upin Ipin, dan bergaya tidak jelas di pinggir jalan.
Selain hal itu bisa bikin malu, kita ‘kan masing-masing punya kemaluan. Jadi, tidak kita tidak punya malu, maka nanti cuma tinggal kean, hilang malunya. Ya toh?
Agar tidak malu juga di depan orang lain, saya menyarankan kamu BEGINI.
5. Jangan Kabur dan Menghindar dari Masalah

Mirip dengan poin sebelumnya, utang ini selamanya akan menjadi utang kalau tidak dibayar, kecuali orang yang memberi utang mengikhlaskan atau merelakan saja uangnya dimiliki kita.
Mari hadapi dengan kepala dingin, bahwa utang ini Insya Allah pasti bisa diselesaikan, berapapun besarnya. Cara mengatasi utang menumpuk harus dipikirkan matang-matang. Kalau perlu, sambil makan mie instan dengan telur setengah matang.
6. Jangan Sampai Kehilangan Iman Kepada Allah
Pondasi dari larangan saat berutang adalah di sini, poin terakhir ini. Bagaimanapun, kita boleh kehilangan harta, kedudukan, jabatan, teman, sahabat, keluarga, tetapi jangan sampai kehilangan iman kepada Allah.
Kalau iman sudah hilang, maka apalagi yang bisa diharapkan? Jika iman sudah tidak ada, maka jangan sampai malah menjadi orang yang kafir.
Jelas, orang yang kafir itu menderita dunia, apalagi di akhirat. Masuk neraka selama-lamanya, tanpa ada peluang untuk masuk surga.
Andaikan punya utang setumpuk bumi, itu masih lebih baik daripada masuk neraka biar cuma sedetik. Betul atau tidak? Keprok atuh!
Nah, sekian saja membahas cara melunasi hutang menumpuk dan banyak. Semoga yang punya utang cepat lunas dan beres. Terus, selanjutnya, ya, utang lagi. Walah.




