Hari ini, tanggal 10 November 2025, adalah Hari Pahlawan. Sebuah hari bersejarah saat warga Surabaya bertempur habis-habisan melawan Belanda yang datang lagi di Indonesia.
Momen Hari Pahlawan selalu diperingati dengan upacara bendera. Entah itu di kantor-kantor pemerintah, maupun di sekolah-sekolah. Ada juga sih yang tidak upacara, dengan kondisi dan alasan tertentu. Masih bayi, misalnya.
Meskipun dikatakan sebagai hari nasional, tetapi bukanlah hari libur nasional. Jadi, memang masuk seperti biasa, hanya memang diawali dengan upacara. Makanya, jika ada pegawai yang tidak masuk dan ikut upacara dengan alasan yang tidak jelas, fiks, dia pahlawan juga, tetapi pahlawan kesiangan!
Tema yang diangkat dalam Peringatan Hari Pahlawan 2025 ini adalah Pahlawanku Teladanku, Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan’. Sebenarnya, dari tema-tema yang diusung dalam peringatan hari nasional memang luar biasa, semoga tidak hanya sebatas tema, tetapi pengejawantahan nilai-nilai. Pengejawantahan tidak butuh bantahan.
Apakah Cuma Hari Ini?
Namanya saja Hari Pahlawan 2025, jelas hari ini, tanggal ini, 10 November 2025. Ada yang ulang tahun hari ini juga? Wah, bisa ulang tahun juga, ya?
Pahlawan yang kita peringati hari ini adalah para pahlawan yang telah mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertempuran Surabaya berlangsung di tanggal 10 November 1945.
Meskipun demikian, ada begitu banyak definisi tentang pahlawan. Ada pahlawan bertopeng, pahlawannya Shincan. Ada pahlawan kesiangan, seperti yang tadi saya sebut di atas.
Dia bangun siang, tetapi merasa hebat juga. Bangun lebih awal katanya. Bangun jam setengah tujuh, biasanya bangun jam tujuh pagi! Lebih awal bangunnya bukan?
Ada pula yang mengaku tiba-tiba menjadi pahlawan bagi cewek yang disukainya. Misalnya, membelikan makanan, minuman, sampai paket data. Yah, namanya lagi jatuh cinta, pastilah berjuta rasanya. Coba sebutkan rasa apa saja itu kok sampai berjuta-juta?
Ini Dia Pahlawan Terkecil Itu
Ada begitu banyak definisi pahlawan dan tergantung masing-masing orang, tetapi dalam hal ini, pahlawan yang sebenarnya, dalam kapasitas terkecil itu adalah pahlawan keluarga. Yap, siapa lagi kalau bukan kepala keluarga?
Apakah memang pantas disebut pahlawan? Oh, jelas sangat pantas. Kepala keluarga adalah orang yang bertanggung jawab terhadap nafkah untuk anggota keluarganya. Biasanya ini diemban oleh kaum ayah. Kaum laki-laki.
Kondisi ekonomi sekarang katanya sedang susah, sedang seret, dan sedang tidak baik-baik saja. Namun, para ayah sebagai pahlawan keluarga itu terus berusaha untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya.
Bahkan, mirisnya, ada yang sampai melakukan kejahatan demi mendapatkan uang untuk membeli susu anaknya. Ini memang miris, tetapi itu mungkin sudah kondisi terjepit, mentok, dan tidak tahu mau berbuat apa atau ke siapa?
Saya sendiri merasakan, ketika butuh uang dan mau meminjam, memang tidak semua bisa. Padahal pernah butuh uang 5 juta rupiah. Teman saya yang biasanya menjadi tempat meminjam uang, kini sudah tidak pernah berkomunikasi lagi. Hem, sedih, deh!
Untukmu, Para Pahlawan Keluarga
Hari Pahlawan menjadi momen yang sakral bagi bangsa dan negara ini. Namun, perjuangan para pahlawan keluarga juga sakral bagi keluarga itu sendiri, tidak hanya sakral, juga saklar lampu. Kalau token listrik tidak dibelikan, bagaimana saklar lampu mau menyala, ya ‘kan?
Memang berat menjadi pahlawan keluarga dan pejuang keluarga itu. Sudah berusaha keras, tetapi hasil yang didapat mungkin tidak seperti yang dibayangkan. Namun, itulah ketentuan Allah. Selalu saja ada hikmah di baliknya. Tugas kita cuma berprasangka baik terus-menerus.
Hal yang lebih berat lagi bagi pahlawan keluarga bukan hanya sekadar nafkah, tetapi juga menyelamatkan keluarganya dari api neraka. Ini yang sangat berat. Diri sendiri saja belum tentu selamat, apalagi ini seluruh anggota keluarga. Apa tidak galau itu?
Namun, ya, sudah begitu, perjuangan para pahlawan keluarga. Hari Pahlawan 2025 cuma diperingati sekali di tahun ini, tetapi kalau pahlawan keluarga, tiap hari harus berjuang, harus mempertahankan, dan harus sabar. Ketiganya berat, tetapi jaminannya tidak kalah berat. Surga menantimu.




