Dalam hidup, kamu mungkin sering dilanda pertanyaan, apakah aku normal jika pakai baju ini? Apakah aku normal jika nanti makan di warung, nggak sambil cuci piringku sendiri? Eits!
Normal nggak normal, itu adalah hal yang sering sekali mampir di pikiran kita. Dan, otak kita itu selalu juga berpikir untuk berusaha mencari jawabannya? Mau itu poinnya tinggi atau tidak, jawaban itu haruslah ada.
Ketika kamu selalu bertanya, aku ini normal nggak sih kalau begini dan begini, pada dasarnya itu adalah suatu perbandingan. Ya, kamu bandingkan normal atau tidak normal itu dengan siapa?
Misalnya, kamu berpikir, normal nggak sih kalau aku makan bubur tapi tidak pakai sendok? Wah, maksudnya pakai garpu atau sumpit begitu?
Atau pertanyaan lagi deh, normal nggak sih kalau aku jilbabnya warna yang jingga? Sementara kamu sendiri cowok tulen. Wah, ini jelas nggak normal, Bro!
Tergantung Lingkungan
Suatu hal yang normal atau tidaknya itu memang tergantung kepada lingkungan, Bro. Contoh, di lingkungan masjid, deh. Ada yang normalnya pakai sarung dan celana panjang biasa, tapi ada juga yang normalnya pakai jubah dan surban kayak jamaah tabligh itu. By the way, aku pernah ikut mereka, lho!
Jadi, kondisinya pastilah sangat-sangat berbeda dan tidak cocok dibanding-bandingkan. Misalnya lagi, normal nggak sih, kalau aku makan bubur ayam tidak diaduk? Itu maksudnya bubur ayam, memang bubur yang dicampur daging ayam ‘kan? Bukan bubur untuk ayam?
Kalau di suatu lingkungan, biasanya makan bubur memang tidak diaduk, nah, itu berarti ketika kamu juga berbuat begitu, maka itu normal. Sah-sah saja. Bicara sah tidak harus di meja akad nikah. Sah juga bisa di mana saja. Termasuk teman saya, namanya Sahruddin. Kenal nggak kamu?
Stop Overthinking

Membandingkan apakah aku normal atau tidak itu memang namanya overthinking. Terlalu memikirkan sesuatu yang mengada-ada. Atau, terlalu memikirkan masa lalu maupun masa depan.
Selain itu, ini adalah bagian dari dirimu yang ingin selalu dianggap bagian dari orang lain dan tidak mau terpisah dari mereka. Namun, pandangan ini tidak mudah bagi kamu yang introvert.
Kamu mungkin yang selama ini dipasung, walah kasihan banget, atau cuma berada di dalam kamar terus, ketika berada di luar dan berhadapan dengan orang lain, kamu jadi merasa takut. Merasa khawatir. Merasa was-was. Takut salah, takut begini dan begitu.
Akhirnya, sesuatu yang remeh dan seharusnya dibiarkan berlalu begitu saja, menjadi beban pikiran. Kamu takut mendapatkan jawaban dari teman atau orang lain, bahwa kamu nggak normal. Kalau sudah begitu, maka biasanya ada efek selanjutnya. Entah itu bully atau malah digosipin waktu kamu nggak ada.
Jadi, pada dasarnya, kondisi itu cuma ada di pikiranmu saja. Itu tadi, kamu terlalu overthinking. Terlalu bergantung kepada pendapat orang lain yang belum tentu benar. Belum tentu 100%.
Mungkin juga kamu sedang dalam fase galau atau bimbang, meskipun nama kamu bukan Bambang. Lalu, takut ada yang mencap kamu aneh, tidak normal, dan sebagainya, meskipun itu cuma setengah orang. Maksudnya orangnya pendek, jadi setengah orang. Wah, ini bully juga namanya!
Nikmatilah Hidup
Sampai di sini dan si dia masih di sana, maka nikmatilah saja hidup ini. Pertanyaan aku normal atau tidak, sudah lupakan saja. Ditanyakan saja ke diri sendiri. Menurut kamu, ini cocok atau tidak? Pas atau tidak pas?
Kamu bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu kalau kamu punya pengetahuan yang cukup luas. Misalnya, karena kamu sering membaca buku atau menonton tayangan-tayangan video motivasi atau pengembangan diri yang bermanfaat.
Memang, sih, banyak orang yang bilang, jika menonton video motivasi, jadi semangat, setelah itu melempem lagi kayak kerupuk. Padahal, solusinya, kalau melempem, ya, tonton lagi saja. Jangan lupa tutup juga toplesnya! Siapa tahu, melempemnya semangat kamu berpengaruh pula ke melempemnya kerupuk bikinan emak kamu.
Ikuti saja yang pantas dan dilakukan oleh sebagian besar orang. Kan ada hal-hal yang memang wajar dilakukan oleh orang lain. Nah, kamu sesuaikan saja itu. Jangan terlalu tampil beda atau malah nyeleneh! Soalnya bikin kamu nggak nyaman dan kamu dikira manusia planet lagi.
Jika kamu seorang muslim, perkara normal dan tidaknya ini memang tergantung kepada syariat Islam. Seorang muslimah yang sudah baligh, memang normalnya pakai jilbab. Sedangkan laki-laki tidak wajib pakai jilbab. Kalau ada laki-laki yang pakai jilbab, maka itu jelas tidak normal. Begitu saja mudah ‘kan?
Nikmatilah hidupmu, mumpung kamu masih berada di atas tanah di bumi ini. Beda ceritanya kalau kamu sudah berada di bawah tanah alias terkubur. Maka, kamu akan berhenti ini normal atau tidak? Soalnya gimana mau mau bertanya, malah kamu yang ditanya.




