“Tik, tok, tik, tok, tik, tok!”
Suara jam beker tua masih senantiasa bernapas di ruang tamu. Jam beker itu adalah milik Bu Nabila, orang tua dari kakak beradik, Hasan dan Nayla. Meskipun sekarang era digital, tetapi Bu Nabila masih setia dengan jam berwarna biru tua itu. Katanya, itu adalah peninggalan suaminya. Jam beker itu dahulu selalu membangunkan mereka berdua untuk salat Tahajjud.
Namun, detik demi detik muncul dengan nada yang berbeda pada jantung Hasan dan Nayla. Mereka berdua sedang dilanda dilema yang meremas-remas organ pemompa darah di dada tersebut. Percakapan mereka dari tadi cukup serius, cukup dalam.
“Mas, yakinkah dengan pilihanmu itu?” Nayla mengusap-usap telapak tangannya. Rasa galau dan cemas masih menari-nari di pikirannya.
“Ya, mau bagaimana lagi, Dik? Kita ‘kan sudah berusaha. Toh nyatanya kita tidak bisa bukan?”
“Tapi, Mas,” Nayla menggenggam tangan kakaknya, “Beliau itu ibu kita. Masa kita mau tega berbuat begitu?”
“Aku tahu, Dik, dia itu ibu kita. Siapa yang bilang dia itu ibunya orang lain?”
“Coba, dipikirkan ulang, Mas. Soalnya, keputusan ini menyangkut keluarga kita, keluarga besar kita juga.”
“Ah, mau tahu apa mereka, Dik? Mereka jauh dari sini. Mereka sudah punya urusan masing-masing. Om Rudi, Pakde Jono, Tante Winda, Paklik Jupri, semuanya sudah punya urusan sendiri-sendiri. Dan, urusan kita juga sendiri. Mengurus ibu itu nggak gampang, lho, Dik. Camkan itu!”
“Ya, Mas. Ibu makin lama makin tua. Makin rewel memang kalau terus di sini.”
“Nah, itu, kamu mulai setuju bukan? Di rumah Mas juga nggak bisa selamanya, Dik. Ada istri Mas, ada anak-anaknya Mas, lima ekor. Malah, istri Mas sudah hamil lagi. Ibu akan terganggu di rumahku, Dik. Dan, anak-anakku sepertinya juga akan terganggu.”
“Begitu pula aku, Mas. Aku kost sendirian, jauh dari sini, di luar kota lagi. Jadwal kuliahku sedang padat-padatnya, Mas.”
“Insya Allah, ini pilihan yang terbaik, Dik. Ibu tidak bisa kita tinggalkan sendirian di sini. Nanti kalau ada apa-apa bagaimana? Aku dan kamu tidak bisa merawat ibu dalam kondisi sekarang. Sudah, lebih baik kita masukkan ibu saja ke Panti Jompo ‘Bahagia’, ada di pinggiran kota ini, Dik.”
***
Keputusan itu bulat diambil mereka berdua. Bu Nabila telah diberitahu bahwa mereka berdua tidak sanggup untuk membiarkan ibunya hidup sendiri. Namun, lebih tidak sanggup lagi tinggal dengan salah satu dari mereka.
“Kalian sudah sepakat begitu, Nak?” raut Bu Nabila memang terlihat sangat sedih. Penyakit tuanya memang mulai menyelimuti. Dia ingin dirawat oleh salah satu dari anaknya, tetapi tidak ada yang mau. Bu Nabila jelas merasa bahwa ini adalah pembuangan. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Itu sudah hasil keputusan kedua anaknya.
“Kemana kalian akan membawaku, Nak?” mata Bu Nabila tampak berkaca-kaca. Melihat ibunya begitu, batin Nayla serba tidak karuan. Satu sisi, ingin bersama ibunya. Satu sisi, berat juga menghadapi orang tua yang sudah jompo.
“Ke Panti Jompo ‘Bahagia’, Bu. Tempatnya bagus, kok, bersih, rapi, pelayanannya juga memuaskan. Asri, jauh dari keramaian. Ibu pasti akan bahagia di sana, sesuai dengan nama pantinya, bahagia,” beda dengan Nayla, Hasan tidak ada efek apa-apa melihat ibunya yang sempat berkaca-kaca tadi. Dia sudah mantap sejak awal, ibunya harus dibawa ke panti jompo.
“Baiklah, Nak, Ibu akan menuruti kemauan kalian.”
Mendengar kalimat ibunya baru saja itu, batin Nayla jadi semakin tercabik-cabik. Lebih tidak karuan lagi, ketika ibunya benar-benar diserahkan ke pantai jompo. Seorang perawat bernama Hasnia menerima Hasan dan adiknya.
“Jadi, Kakak berdua, yakin ibunya mau ditempatkan di sini?”
Hasan mengangguk dengan mantap. Sedangkan Nayla, mengangguk juga, tetapi sedikit patah-patah.
“Kalau ibunya di sini, maka tidak akan ada kabar lagi untuk Kakak berdua. Mau ibunya meninggal di sini, Kakak berdua tidak akan dikabari.”
“Begitu ya, Mbak?” tanya Nayla sambil mengusap telapak tangannya.
“Iya, memang begitu, Kakak, peraturan di panti jompo ini. Kalau orang tuanya sudah di sini, maka terputus dengan keluarganya. Bagaimana?”
Butuh beberapa saat hingga Nayla benar-benar menyetujui. Sementara itu, ketika akan meninggalkan panti, Hasan dan Nayla menyalami ibunya. Melambaikan tangan. Setelah mereka berdua pergi, Bu Nabila menangis tersedu-sedu sambil memeluk jam bekernya. Hasnia memeluknya sambil berkata, “Sabar ya, Bu, semoga masih ada harapan selama di sini.”
***
Kegiatan di panti ternyata cukup menyenangkan. Bu Nabila bisa berkumpul dengan lansia lainnya. Ada yang cuma bisa duduk di kursi roda. Ada yang pakai tongkat untuk berjalan. Bu Nabila sendiri mampu berjalan pendek-pendek, tetapi harus duduk lagi, istirahat. Batinnya masih senantiasa bergemuruh. Batin itu masih belum bisa istirahat dengan baik.
Saat sedang berjalan-jalan di taman, Bu Nabila menyaksikan Hasnia sedang joget-joget di depan HP layar sentuh. Bu Nabila teringat bahwa dua anaknya memiliki benda itu, bahkan kata mereka, harganya di atas 10 juta rupiah, jelas merek terkenal. Bu Nabila mendekati Hasnia, ingin tahu, perawatnya itu sedang apa?
“Oh, ini namanya TikTok, Bu. Media sosial yang isinya video semua. Asyik-asyik, lho, videonya! Nggak cuma kita bisa joget-joget, kita juga bisa dapat duit dari sini.”
Mata Bu Nabila membesar, “Dapat duit? Kok bisa? Caranya bagaimana itu, Mbak?”
“Ini kalau Ibu lihat ada yang videonya promosi barang. Misalnya, barangnya begini, bagus, murah, mutunya bagus, pokoknya semuanya bagus, lah. Nah, kalau terjual, maka yang bikin video itu dapat duit.”
Bu Nabila ternyata makin tertarik. “Coba, ajarkan Ibu, Mbak!”
“Wah, Ibu mau bikin juga video TikTok?”
“Iya, Mbak, hitung-hitung mengurangi kesepian dan kerinduan ke anak.”
Akhir kalimat itu yang membuat getir. Hasnia tahu perasaan Bu Nabila yang ditinggalkan oleh kedua anaknya sendiri. Begitu juga para lansia lainnya, sebagian besar begitu. Orang lanjut usia yang dianggap sudah hampir mati, tidak ada lagi harapan, lebih baik meninggalkan dunia ini saja. Namun, Bu Nabila ini berbeda. Dia justru minta diajari cara main TikTok! Bahkan, minta juga diajari cara bikin video jualan lagi. Hasnia jadi geleng-geleng.
Bu Nabila diberikan HP Android bekas oleh Hasnia. Kebetulan, dia baru saja dibelikan HP baru oleh ketua yayasan yang menaungi panti atas dedikasinya selama ini merawat para lansia. Bu Nabila menonton cukup banyak video promosi produk. Meski matanya rabun dan badannya sering pegal kalau duduk lama, tetapi minatnya cukup serius terhadap video-video TikTok semacam itu.
Setelah dirasa cukup, Bu Nabila pun memulai video pertamanya. Akunnya cuma bernama “Bu Nabila”. Sederhana bukan? Dia memulai dengan produk sandal kesehatan. Sandal yang ada tonjolan-tonjolannya itu, lho! Setelah dicek, ternyata memang ada di TikTok.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh, warga TikTok semuanya. Perkenalkan saya Bu Nabila. Usia 65 tahun, masih terhitung muda, lah!” Bu Nabila tertawa sendiri.
“Yah, namanya orang tua, sudah lansia, pastilah muncul penyakit-penyakit. Kayak Ibu ini, nggak bisa jalan jauh. Baru jalan sedikit, udah pegal-pegal, kesemutan. Tapi, sejak pakai sandal ini, kaki Ibu jadi berkurang pegalnya. Kamu perlu coba, lho, mau tua atau muda. Linknya ada di keranjang kuning, di kiri bawah, ya!”
Bahasa-bahasa promosi yang dipakai oleh Bu Nabila memang sangat sederhana. Hanya menceritakan tentang keseharian sedikit, manfaat produk, sedikit spesifikasi, dan selalu diakhiri dengan “klik keranjang kuning”.
Awalnya, penontonnya biasa-biasa saja. Biasalah, namanya juga affiliator pemula. Apalagi ini lansia yang jelas sudah tidak cantik lagi. Namun, siapa sangka, ketika Bu Nabila berkata seperti ini, “Hadiahkan sandal kesehatan ini untuk orang tua kamu, ya! Sayangi mereka berdua. Jaga kesehatan mereka dengan memakai sandal kesehatan ini. Sabar menghadapi mereka sebagaimana sabarnya mereka menghadapi kamu di waktu kecil. Jangan biarkan mereka di panti jompo karena mereka berdua adalah pintu surgamu yang paling tengah!”
Tanpa terasa, keluar air matanya. Dia tampak mengelap dan mencegah air mata tersebut turun dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang HP. Bu Nabila berbicara seperti itu di depan papan nama “Panti Jompo Bahagia”. Papan nama yang mulai lapuk, tetapi masih memperlihatkan tulisannya dengan jelas. Panti Jompo “Bahagia”. Meskipun memakai nama “Bahagia”, tetapi apakah para penghuni di dalamnya betul-betul bahagia?
Rasa rindu yang membuncah kepada kedua anaknya, perasaan tercampakkan, tidak lagi dianggap sebagai orang tua, justru dianggap sebagai beban, sakit hati yang bertubi-tubi, tetapi mencegah diri untuk mendoakan keburukan bagi buah hatinya, justru membuat video itu, ya, video itu seakan-akan mempunyai kekuatan sihir.
Perasaan Bu Nabila yang tidak bisa dilukiskan dengan tulisan, cukup dengan kata-kata yang diucapkan di depan layar HP, ditambah dengan air mata sebagai wujud kerinduan dan rasa cinta kepada anak-anaknya yang tidak pernah hilang, membuat video itu cepat sekali melesat. Emosi tertahan, tangis, sedih, terharu, trenyuh, bercampur semua menjadi satu.
Orang yang menontonnya seakan-akan ditampar, sangat ditampar dengan keadaan seperti itu. Orang tua yang dicampakkan, anak-anak merasa sangat berat mengurus orang tua, lupa bahwa dulunya mereka diasuh sejak kecil. Orang tua dahulu mengasuh anak berharap anaknya selalu sehat dan bisa menjadi orang dewasa yang berguna. Namun, ketika anak mengasuh orang tua, justru berharap orang tuanya agar cepat mati, dapat warisan, dan terbebas dari tanggung jawab mengasuh lagi. Makanya, memilih cara praktis, memasukkan orang tua saja ke panti jompo. Beres! Lepas tanggung jawab. Akan tetapi, apakah seperti itu yang benar?
Video itu beredar dari satu HP ke HP lainnya, dari satu layar ke layar lainnya. TikTok memang punya algoritma menakjubkan. Tidak butuh followers, tidak butuh caption yang aneh-aneh, yang katanya copywriting dan malah bikin keriting, tidak butuh efek-efek jedag-jedug atau joget-joget viral yang tidak jelas, video Bu Nabila terbawa ke mana-mana. Like yang dalam hal ini tombol LOVE warna merah terus bertambah, yang menyimpan, membagikan, dan tentu saja, yang berkomentar, pun makin tidak terbendung.
“Anak durhaka, menyiakan-nyiakan orang tua. Taruh orang tua di panti jompo, anak macam apa itu?!”
“Orang tua sudah mendidik dari kecil, sekarang nggak mau lagi mengasuh. Dasar anak zaman sekarang!”
“Saya mau borong sandal kesehatannya, Bu. Mau saya bagi-bagikan ke tetangga dan orang-orang sekitar, biar mereka tahu bakti kepada orang tua.”
“Sandalnya murah, tua muda bisa pakai. Beli, ah. Kebetulan ada rezeki banyak bulan ini.”
Komentar-komentar datang, sebagian besar membully anak Bu Nabila. Sebagian lagi mendoakan kesehatan Bu Nabila dan para lansia di panti jompo tersebut. Dan, tentu saja, tidak kalah pentingnya, banyak yang membeli sandal kesehatan tersebut. Bu Nabila benar-benar viral, FYP, dan menjadi affiliator yang pendapatannya makin meningkat. Apalagi ditambah live, Bu Nabila jadi makin viral.
Tidak hanya sandal kesehatan, rupanya warganet juga merambah ke produk-produk lain di etalase Bu Nabila. Alat pijat, produk herbal, minyak kayu putih, koyo kaki, dan produk-produk lain, khas untuk para lansia. Warganet yang membeli pun banyak yang masih muda. Mereka mulai sadar dengan kesehatannya sendiri. Masa memikirkan kesehatan harus menunggu tua? Masa harus menunggu sakit-sakitan dulu?
Pada akhirnya, yang namanya FYP itu masuk ke ranah-ranah yang tidak terduga sebelumnya. Video-video Bu Nabila masuk juga ke akun TikTok keluarga besarnya. Mereka sangat kaget bin terkejut ketika melihat Bu Nabila ada di panti jompo. Terlebih, saat video dengan latar belakang Panti Jompo “Bahagia”. Mereka pun membanjiri Whatsapp Hasan dan Nayla.
“Subhanallah, kalian berdua! Kenapa kalian biarkan ibu kalian ada di panti jompo?!” itu kata Om Rudi. Dia menelepon dua kakak beradik itu melalui Whatsapp. Agar lebih irit katanya. Terlebih Om Rudi menelepon Hasan dan Nayla di kafe dekat rumahnya. Sambil ngopi, sambil menelepon. WiFi gratis, kopinya yang bayar!
“Mau jadi anak durhaka, ya, kalian berdua ini?!” kalau yang ini tanggapan dari Pakde Jono yang tinggal di Pontianak.
Komentar hampir sama juga dari Tante Winda. Namun, tanggapan yang berbeda datang dari Paklik Jupri, seorang manager bank swasta.
“Kalian harus temui ibu kalian. Minta dia pulang, lalu kalian minta duitnya. Dia sudah banyak duit itu. Aku tahu penghasilan dari affiliate TikTok itu memang lumayan besar. Bilang saja, kalian butuh duit. Masa orang tua begitu nggak mau bantu kalian, sih?”
Hasan dan Nayla dilanda kegalauan yang luar biasa. Mereka yang awalnya “membuang” ibu mereka ke panti jompo agar lebih hemat, sekarang disuruh menemuinya lagi karena dorongan dari keluarga besar. Tidak cukup sampai di situ, juga komentar dari warganet yang mencela Hasan dan Nayla di sana-sini. Pikiran mereka berdua jadi terasa tambah berat.
“Bagaimana ini, Mas? Apakah kita harus menemui Ibu lagi?”
“Ya, mau bagaimana lagi, Dik? Makin kita biarkan Ibu di sana, kita akan makin dibully!”
Akhirnya, mereka pun sepakat untuk menemui ibunya. Jelas, segala perasaan bercampur. Bertemu dengan Hasnia, penjaga panti. Gadis manis itu mempersilakan Hasan dan Nayla untuk menemui ibunya.
“Kenapa kalian ke sini lagi?”
Antara Hasan dan Nayla tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Mereka terdiam. Perasaan di hati mereka campur aduk. Ingin mengajak pulang ibunya kembali karena didorong oleh keluarga besar, tetapi rasanya sungkan. Bagaikan menelan kembali ludah yang sudah keluar dan jatuh di lantai.
“Kalau tidak ada yang perlu kalian bicarakan, lebih baik kalian pulang saja! Aku merasa lebih nyaman, kok, tinggal di sini.”
Suara Hasan dan Nayla bagaikan tercekat. Hati mereka penuh dengan dilema yang berat. Bagaimana nanti tanggapan keluarga besar jika tidak bisa mengajak ibunya pulang kembali ke rumah? Apalagi kata Paklik Jupri bahwa ibunya sekarang sudah banyak duitnya karena jadi affiliator TikTok. Hasan dan Nayla ‘kan tergiur juga.
Namun, Bu Nabila tetap kokoh pada pendiriannya. Dia tidak marah, mengamuk, apalagi sampai berkata-kata kasar kepada kedua anaknya.
Bukankah hidup itu memang pilihan? Dan, ketika menentukan pilihan itu membutuhkan perasaan? Bu Nabila menumpahkan perasaan dan pilihan itu melalui live TikToknya.
“Dulu, Ibu takut waktu berjalan, takut ditinggal. Tapi, Ibu sekarang belajar, waktu memang meninggalkan kita semua. Dan, Ibu tidak mau lagi ketinggalan.”
“Tik, tok, tik, tok, tik, tok!” Jam beker kesayangan Bu Nabila ternyata masih bernapas.
Bombana, 8 Juli 2025




