Tahun ini, bulan suci Ramadan bersamaan tanggalnya dengan kalender Masehi. Pemerintah telah mengumumkan 1 Ramadan tepat pada tanggal 1 Maret. Meskipun namanya bulan suci, tetapi telah dinodai oleh kemarahan besar dari seorang atasan pejabat. Atasan Ridwan, gara-gara Ridwan tidak bisa memenuhi permintaan bosnya tersebut.
Ridwan memang bertugas untuk memproses pengadaan barang dan jasa di kantor itu. Secara pengalaman, sudah banyak pengadaan barang dan jasa yang berhasil diproses oleh Ridwan. Tidak ada masalah hukum yang berarti.
Namun, kali ini, Ridwan dihadapkan pada sebuah pengadaan barang yang kurang masuk akal di pikirannya. Ridwan diminta oleh Pak Udin, atasannya, untuk mengadakan buku. Ya, buku yang isinya evaluasi pekerjaan-pekerjaan di kantor itu.
Kalau cuma buku sih tidak masalah, yang menjadi masalah adalah hargaya yang sangat tidak wajar. Buku yang diperkirakan setebal 250 halaman, dihargai Rp370.000,00 oleh sebuah penerbit di kota itu. Dan, Pak Udin mengatakan bahwa harus penerbit itu. Tidak boleh yang lainnya. Pak Udin juga mengatakan buku tersebut harus pakai ISBN. Sementara, Ridwan tahu, mengurus ISBN untuk tahun ini tidak semudah dan semurah tahun-tahun lalu. ISBN bisa sampai sebulan lebih, itupun belum tentu selesai.
Anggaran kantor akan segera ditarik di pusat. Pak Udin tidak mau tahu. Pokoknya, pengadaan itu harus sudah beres sebelum penarikan anggaran.
Panggilan di Ruangan Bos
Beberapa kali Ridwan dipanggil oleh Pak Udin sejak sebelum bulan puasa. Berkali-kali pula Pak Udin menanyakan, “Bagaimana pengadaan buku itu, Ridwan? Sudah sampai tahap mana?”
“Begini, Pak, anu, Pak, sementara masih dalam proses,” jawab Ridwan dengan nada yang ragu-ragu.
“Buku semacam itu diadakan saja. Toh, tidak akan jadi masalah. Kalaupun ada temuan, jumlahnya paling hanya sepuluh juta.”
Ridwan berpikir lagi, cuma sepuluh juta, Pak? Itu termasuk jumlah yang lumayan juga. Sedangkan honornya sebagai pejabat tidak sampai sebesar itu.
“Saya mempercayakan ke kamu, ya, Ridwan! Segera proses! Ingat, kamu pasti bisa!” Ada kedipan sebelah mata Pak Udin.
Laki-laki yang sudah punya anak beberapa itu makin dilanda kegalauan. Dia jadi makin ragu untuk memproses barang itu dan menuruti perintah atasannya. Apa dia mundur saja jadi pejabat? Ah, rasanya juga tidak mungkin, karena cuma dia yang senior. Pegawai lain mana mau menggantikan? Mereka takut dengan resiko dan konsekuensi hukum.
Berkali-kali pikiran Ridwan makin kalut. Dia terus berpikir, ini diproses apa tidak? Kalau diproses, apakah nanti tidak bermasalah? Kalau sampai bermasalah hukum, dia memikirkan nasib istri dan anak-anaknya yang masih kecil.
Jika Ridwan memproses pengadaan senilai hampir dua ratus juta rupiah itu, sementara anggaran akan segera ditarik, bagaimana solusinya? Hal yang dikhawatirkan, barang belum datang 100%, tetapi harus sudah dibayar sebelum anggarannya diambil.
Biasanya, dalam setiap pengadaan barang maupun jasa, Ridwan sering mendapatkan fee dari Pak Udin. Namun, hati kecilnya, berkata lain. Ini bulan suci Ramadan. Masa dia mau makan uang haram lagi? Masa dia mau bermain jahiliyah lagi?
Dan, itulah yang terus mengganggu dirinya. Merongrong imannya. Jabatan memang cuma sementara. Akan tetapi, resikonya bisa sampai akhirat nanti. Apalagi, Ridwan sudah sering seperti itu. Uang haram memang terasa nikmat, tetapi ini bulan Ramadan, ingat, bulan Ramadan!
Pada akhirnya, Ridwan memilih untuk tidak mengadakan barang yang dimaksud. Dia memutuskan untuk mengamankan dirinya sendiri. Dia berpikir jauh ke depan, bahwa pengadaan barang dan jasa yang sudah benar saja, bisa jadi salah di mata pemeriksa keuangan, apalagi ini jelas-jelas salah. Tambah salah kuadrat itu.
Menemukan yang Ditakutkan
“Ridwan, bagaimana pengadaan buku yang kemarin? Sudah sejauh mana kamu proses?” Tanya Pak Udin lagi.
Ridwan merasa cukup ketakutan kali ini. Sebab, raut muka Pak Udin sudah terlihat sangat serius. Sepertinya, dia sudah memendam kesabaran sejak lama, terkait dengan pengadaan buku ini.
“Saya belum bisa proses, Pak. Saya ragu-ragu dan belum bisa melangkah lebih jauh.” Jawab Ridwan dengan nada selembut mungkin.
“Apa kamu bilang? Kamu belum bisa memprosesnya?” Muntab benar Pak Udin. Dia bangkit dari kursi empuknya, membanting barang-barang yang ada di atas mejanya. Dokumen-dokumen penting juga dilemparkan ke wajah Ridwan, membuat laki-laki itu meringis kesakitan. Pak Udin berdiri di depan Ridwan. Tangannya mencengkeram leher kemeja Ridwan.
“Aku sudah cukup sabar menghadapimu, Ridwan! Kamu pikir aku bisa terus sabar begitu, ya? Kamu tahu nggak, itu Profesor Nandar yang punya penerbit terus menunggu kabar dari kamu. Kamu pikir mereka pihak penerbit nggak banyak kerjaan apa? Kamu pikir mereka pengangguran semua?”
Ridwan makin ketakutan. Dia betul-betul tidak menyangka diperlakukan begitu oleh atasannya sendiri. Selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Namun, kali ini, Ridwan diperlakukan dengan begitu kasar. Terlihat watak asli dari Pak Udin. Bos yang tampak berwibawa setiap hari, kini tercerabut begitu saja hanya gara-gara buku!
Suasana ribut di ruangan Pak Udin, memancing perhatian dari para pegawai lainnya. Mereka tiba-tiba masuk ke situ untuk melihat yang sedang terjadi. Dilihat beberapa orang stafnya sendiri, Pak Udin melepaskan cengkeramannya.
“Keluar kalian semua! Tidak ada yang penting bagi kalian!” Pak Udin mengusir para staf tersebut.
Ridwan masih terdiam. Dia makin deg-degan. Menelan air liur yang sudah terasa pahit. Dia tidak bisa membalas apa-apa. Selain karena ini bulan puasa, dia juga tidak punya keberanian sama sekali.
Dikira sudah selesai, Pak Udin menggebrak meja!
“Kamu tahu, Ridwan, kamu orang yang tidak tahu berterima kasih. Aku sudah menyisihkan banyak fee untuk kamu. Harusnya itu jatahku semuanya, tapi aku membaginya dengan kamu! Sekarang kamu membalasnya dengan begini. Kamu tidak mau proses, padahal itu adalah harapanku satu-satunya sebelum aku dipindahkan dari sini.”
Ridwan masih terdiam. Dia masih bingung, mau bicara apa?
“Ingat kamu, Ridwan. Sebentar lagi, surat mutasiku akan tiba. Dan, nantinya kalau aku sudah pindah, akan kubuat hidupmu tidak akan tenang lagi. Sekarang kamu keluar! Aku tidak mau melihatmu lagi!”
Cukup cepat berdiri, Ridwan keluar dari ruangan ber-AC itu. Begitu dia keluar, teman-temannya melihatnya. Namun, Ridwan tersenyum sambil berkata pelan kepada dirinya sendiri, “Rezeki sudah ada yang mengatur. Aku tinggal berdoa banyak-banyak saja di bulan Ramadan ini. Yang penting, aku tidak melaksanakan pengadaan bodoh itu!”
Seto, teman akrab Ridwan, mendekatinya sambil mengatakan, “Kalau aku tadi sudah bertengkar tuh! Biar dia bosku, aku nggak akan takut!”
Ridwan menepuk bahu Seto, “Ini bulan suci Ramadan, Set. Bulan yang penuh dengan keajaiban. Setan memang dibelenggu, kecuali setan yang di ruangan tadi itu.”
Seto dan Ridwan tertawa bersama.
Ditulis Oleh: Rizky Kurnia Rahman, Ramadan 1446 Hijriyah



