Ikut kelas online, tetapi harganya murah meriah? Cuma di sini, di Kelas Jadi Istri Batch 13. Tema yang diangkat untuk batch ini adalah tentang mewujudkan visi misi keluarga. Wah, apa saja dan bagaimana caranya?
Kelas Jadi Istri adalah persembahan pembelajaran dari Masjid Nurul Ashri, Jogja. Pada kelas pertama ini menghadirkan Dewi Nur Aisyah, SKM, M.Sc, DIC, Ph.D. Mantep toh gelarnya? Nah, seperti ini pamfletnya:

Berlangsung tadi malam, Senin (28/7/2025) dimulai pukul 20.00 WIB. Kalau di tempat saya mulai pukul 21.00 WITA, karena saya tinggal di Kabupaten Bombana, Provinsi Sulwesi Tenggara.
Ada dua media yang dapat dipakai, yaitu: Zoom Meeting dan YouTube privat. Namun, jelas, saya memilih Zoom saja karena itu yang lebih utama. Lebih terasa personal dan secara daya tampung memang masih mencukupi. Belum sampai 1.000 orang peserta, kok!
Profilnya Mengagumkan
Sebelum lebih jauh mengupas tentang mewujudkan visi misi keluarga seperti yang dijanjikan dalam pamflet, boleh kamu lihat dulu profil narasumber kali ini. Jika kamu buka dari HP dan terasa kecil tulisannya, bisa kamu cubit layar agar gambarnya jadi lebih besar.

Bagaimana? Luar biasa bukan? Masih terhitung sebagai ibu muda, tetapi punya segudang pengalaman. Dan, sudah pula S3 alias sudah meraih predikat doktor. Patut menjadi contoh, nih!
Dua Pertanyaan

Visi dan misi keluarga ternyata dimulai dari dua pertanyaan dasar. Pertama, apa sih tujuan kita membentuk keluarga? Kedua, mengapa keluarga butuh visi dan misi?
Coba, kamu sendiri bisa jawab nggak? Sebelum kamu menjawab dalam hati atau melalui komentar di bawah, pernikahan yang baik itu tidak ditentukan dari acaranya yang mewah dan megah.
Pernikahan yang baik adalah yang menjadikan pelakunya menjadi semakin dekat dengan Allah. Selain itu, seberapa kuat menumbuhkan keimanan dan tolong-menolong dalam kebaikan.
Orang menikah itu pastilah dua orang, ada suami, ada istri. Makanya, untuk meraih pernikahan yang baik, butuh dukungan dua orang, tidak bisa cuma sendiri. Sebab, jika hanya sendiri, bisa terlupa, akhirnya jadi lalai dan malah nantinya bermaksiat.

Perlu diingat, semakin lama menikah, maka bebannya akan semakin bertambah. Misalnya, bertambah anak, tadinya satu, jadi dua, tiga, dan seterusnya, otomatis, amanah makin besar juga. Dan, ketika amanah, tanggung jawab, dan kesibukan makin bertambah, maka kelelahan pun akan makin sering muncul. Ini sudah berbanding lurus.
Sedangkan, yang berbanding terbalik adalah waktu istirahat, waktu luang, dan waktu me time yang semakin berkurang, ditambah dengan stamina dan kesehatan. Solusinya, semakin berat tantangan menjadi orang tua, maka harus semakin mendekat kepada Allah.
Mengapa Harus Menikah?
Dewi mengutarakan alasan orang menikah adalah karena surga perlu untuk dikejar bersama. Lalu, sebelum menikah punya cita-cita, setelah menikah, tumbuh cinta, apakah bisa disatukan? Apakah bisa disinkronkan?
Agar dapat melalukan sinkronisasi antara cita dan cinta, maka sampaikan di awal prosesnya. Kalau masing-masing sudah tahu arahnya, maka harus ada kerja sama antarpemerannya.
Meski rumah tangga tersebut terhantam badai, tetapi mesti kembali ke arah sebelumnya. Demi langgengnya pernikahan, maka kita harus sadar bahwa pasangan memang tidak sempurna. Begitu pula diri kita, juga tidak sempurna bukan? Adakah yang berani mengatakan dirinya sudah sempurna?
Ibarat kita berada di supermarket. Kita sudah menetapkan barang yang mau dibeli. Namun, ternyata, di supermarket tersebut, ada barang yang kita butuhkan, barang lain bisa jadi tidak ada. Entah karena habis atau memang sudah dijual lagi. Jadi, supermarket yang katanya paling lengkap saja, masih belum sempurna menyediakan barang-barang yang kita butuhkan.
Alasan Setiap Keluarga Harus Punya Visi

Demi mewujudkan visi misi keluarga, harus tahu mengapanya. Harus tahu alasannya di balik itu. Menurut Dewi, visi itu adalah penunjuk arah dalam keluarga tersebut. Kalau keluarga tidak ada visi, maka setiap hari akan berjalan tanpa arah, tanpa tahu tujuannya ke mana, sih, ini?

Sudah tahu definisi visi, lalu kalau misi itu apa? Misi itu adalah langkah-langkah menuju visi. Hal-hal yang dilakukan setiap hari, meskipun dari kebiasaan-kebiasaan kecil, maka itulah misi.
Tidak perlu muluk-muluk kok, cukup dengan mengaji bersama, sholat berjamaah di rumah bersama, misalnya setelah sholat berjamaah di masjid. Bisa juga dengan melibatkan keluarga dalam aktivitas sosial. Bagi-bagi sembako atau sedekah hari Jum’at.
Mewujudkan visi misi keluarga itu dilandasi oleh pemahaman bahwa hidup berkeluarga itu tidak hanya untuk sehari, tetapi untuk meraih tujuan tertinggi dan kekal.
Agar visi dan misi keluarga bisa berjalan dengan baik, memang butuh yang namanya keteladanan. Dalam poin inilah, suami harus jadi teladan utama bagi istri dan anak-anak. Suami harus punya teladan dalam ibadah, akhlak, dan adab.
Melibatkan Anak-anak

Ada memang pasangan suami istri yang sudah memiliki anak, tetapi ada juga yang belum sama sekali. Nah, anak ini jangan dianggap sebagai pewaris harta semata dari orang tuanya, tetapi sebagai pewaris perjuangan. Keluarga perlu juga membangun kebiasaan baik seperti saat di bulan Ramadan. Berikan pemahaman kepada anak alasan harus beribadah.
Menyusun Life Plan

Hidup ini jangan dibiarkan mengalir begitu saja, tetapi perlu adanya life plan. Caranya adalah dengan membangun bersama, niatkan karena Allah, jujur dan terbuka dengan rencana hidup, dan prinsip mengangkasa bersama.
Dewi mencontohkan dirinya yang ingin sekolah setinggi-tingginya. Beliau menyampaikan keinginan dengan suaminya. Konsekuensi yang diambil adalah sempat hubungan jarak jauh atau LDM, tetapi masing-masing sadar bahwa itu bagian dari life plan yang telah mereka susun.
Ada Beberapa Aturan dalam Menyusun Life Plan Ini, yaitu:
1. Ketika ada visi bersama, kadang suaminya yang mengalah atau istrinya yang mengalah
2. Membuat life plan tidak hanya untuk target dunia, tetapi juga akhirat

3. Berjalan bersama untuk meraih impian
Namanya suami dan istri, serta bersama anak-anak, impian atau visi bersama dalam keluarga diwujudkan dengan jalan bersama juga.

4. Namanya manusia memang lemah, maka menyerahkan sepenuhnya kepada Allah adalah tindakan yang mulia

5. Selalu melakukan muhasabah

6. Selalu berorientasi kepada Allah dalam motivasi

Sesi Tanya Jawab atau Diskusi

Ada beberapa pertanyaan yang masuk dan ditujukan kepada narasumber. Memang, tidak semua saya bisa tulis di sini. Pertanyaan pertama, tentang cara merawat ekspektasi dan menghindari overthinking.
Jawaban dari Dewi, ekspektasi itu wajar menjadi bagian dari harapan orang yang belum menikah. Namun, cobalah untuk ambil cermin, apa yang terlihat di situ? Itulah gambaran diri kita.
Pada dasarnya, setiap orang punya ruang tunggu. Bagi yang masih jomblo, menunggu untuk menikah. Orang yang sudah menikah, menunggu untuk punya anak, dan seterusnya.
Intinya, bukan seberapa panjang ruang tunggu, tetapi mau diisi dengan apa? Lebih baik tingkatkan kualitas, jangan berfokus kepada ekspektasi. Jika diri kita menjaga diri dan meningkatkan kapasitas, maka begitu pula calon pasangan kita.
Dewi juga membagikan kiat agar bisa berhasil dalam waktu yang singkat. Solusinya adalah dengan kerja cepat. Fokus dan tanpa distraksi. Jangan bekerja di kantor, tetapi teringat rumah dan ketika di rumah, malah ingat kerjaan di kantor.
Ada juga yang menanyakan tentang persepsi orang tua dan anak yang berbeda. Maka, jawabannya kata Dewi adalah memahami bahwa orang tua mengarahkan anaknya itu pada dasarnya adalah karena kasih sayang. Selain itu, ridha orang tua itu sangatlah penting, lalu buka ruang dialog dengan orang tua.
Terakhir, sesuai yang saya catat, bahwa Allah akan menguji kita di titik terendah kita. Justru di titik paling putus asa tersebut, Allah yang membuka jalan-Nya sendiri.
Selain itu, Allah memberikan dua mata untuk kita agar lebih banyak mengamati dan memberikan satu mulut saja untuk menghindari menghakimi. Jadi, lebih banyak mengamati daripada menghakimi.
Supaya lebih termotivasi, yuk, mari lihat lagi profil narasumber kita yang luar biasa ini!

Mari bersemangat menghadapi hidup ini, baik kamu belum menikah maupun yang sudah menikah dengan anak maupun belum. Luar biasa pertemuan tadi malam ini, semoga pertemuan berikutnya dengan pembicara lainnya lebih dahsyat lagi!


Bagaimana? Seru bukan? Membaca ringkasan ini saja sudah terasa seru, apalagi kalau mengikuti secara langsung. Tentang mewujudkan visi misi keluarga ini, kamu dan pasanganmu sudah melakukan belum? Apa saja yang telah kamu lakukan? Share dong di kolom komentar di bawah!




