7 Hal yang Bikin Merenung Bagi Seorang Ayah Tentang Anak SD Bunuh Diri di NTT

7 Hal yang Bikin Merenung Bagi Seorang Ayah Tentang Anak SD Bunuh Diri di NTT

Ini memang sungguh berita yang sangat memiriskan hati siapa saja. Berita tentang anak SD yang bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tidak bisa membeli buku tulis dan pena.

Sebuah surat ditemukan sebelum korban yang berinisial YBR (10) gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Anak itu kelas 4 SD di kecamatan tersebut.

anak-bunuh-diri-di-NTT-karena-tidak-bisa-membeli-buku-tulis-dan-pena-1

Kertas atau surat yang ditinggalkan oleh korban tersebut berbunyi seperti ini:

KERTAS TII MAMA RETI

MAMA GALO ZEE

MAMA MOLO JA’O

GALO MATA MAE RITA EE MAMA

MAMA JAO GALO MATA

MAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE

MOLO MAMA

Artinya:

SURAT BUAT MAMA RETI

MAMA SAYA PERGI DULU

MAMA RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL)

JANGAN MENANGIS YA MAMA

MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL)

TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA

Buku tulis dan pena yang harganya kurang dari Rp10.000,00 ternyata tidak bisa dibeli oleh ibu YBR ini, MGT (47). Ibunya menjawab bahwa mereka tidak punya uang.

Padahal, kalau kita sendiri, uang sejumlah itu mungkin mudah diraih. Bahkan berasal dari sisa-sisa belanja.

Kadang nyelip di saku celanamu, akhirnya menjadi uang sial. Ya, sial karena ditemukan oleh istri kamu waktu dia nyuci celanamu.

Namun, bagi keluarga MGT ini, uang Rp10.000,00 memang termasuk besar dan berat. Mungkin seperti kita yang ingin Rp10.000.000,00, cukup berat bukan?

Harus jual rumah tetangga dulu, baru bisa dapat itu. Hah, jual rumah tetangga? Yang bener aja!

Ibu dari YBR ini adalah janda yang harus menghidupi 5 anak. Pekerjaannya sebagai petani dan buruh serabutan.

Kenyataannya, untuk mengurangi beban MGT, korban atau si anak ini diminta untuk tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun di sebuah pondok.

Nah, tidak jauh dari pondok itulah korban mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Tempatnya di dahan pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026).

Innalilahi wa inna ilaihi rojiun.

Kemiskinan Ekstrem

anak-sd-bunuh-diri-di-NTT-karena-tidak-bisa-beli-buku-tulis-1

Menurut sumber yang saya dapatkan dari Kompas, dosen filsafat pada Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, RD Leonardus Mali, Selasa (3/2/2026), berpendapat tentang kemiskinan ekstrem.

“Kemiskinan ekstrem seringkali membunuh lebih awal imajinasi anak-anak untuk bahagia dan bergembira dalam hidup. Anak-anak dari keluarga miskin ekstrem itu tidak tahu tujuan hidup mereka.”

Itu yang mengerikan. Anak sekecil itu menerima kenyataan yang sangat pahit tentang kondisi keluarga mereka. Miskin di bawah miskin. Betul-betul miskin hingga uang sejumlah itu sulit sekali didapatkan.

Kini, pemerintah pun dibuat kalang-kabut. Kritikan tajam tertuju kepada pemerintah. Bahkan, itu dianggap kegagalan dari negara.

Namun, dalam tulisan ini, akan saya bahas tentang 7 hal berkaitan dengan keayahan.

7 Hal Bagi Ayah Tentang Kasus Anak Bunuh Diri Ini

1. Masalahnya Bukan Semata-mata Tentang Buku Tulis

anak-sd-bunuh-diri-di-NTT-karena-tidak-bisa-beli-buku-tulis-2

Kalau melihat dari beritanya, penyebab anak tersebut bunuh diri karena tidak bisa dibelikan buku tulis. Mungkin ada yang berkata, “Ah, masa dia bunuh diri gara-gara buku tulis doang?”

Padahal, jika ditelisik lebih jauh, sejauh yang paling jauh, orang dewasa yang melihat “hanya buku tulis”, tetapi beda bagi seorang anak.

Buku tulis bagi anak SD adalah tiket agar dia tidak dimarahi gurunya. Termasuk juga tanda bahwa dia adalah “anak normal” seperti teman-temannya.

Selain itu, juga syarat agar dia tidak dipermalukan di depan kelas, sekaligus sebagai simbol bahwa si anak dan orang tuanya memang siap untuk menempuh pendidikan di situ.

Lebih dalam dipikir bagi seorang anak SD, tidak punya buku tulis itu berarti dia merasa gagal dalam hidupnya. Dia merasa hidupnya sudah tidak lagi berguna, mungkin seperti itu.

Padahal dia hanyalah anak-anak. Ya, sekali lagi, dia cuma anak-anak.

2. Bukan Karena Miskin, Melainkan Karena Malu

Yang namanya kemiskinan itu memang menyakitkan hati. Jelas kalau ini, tidak bisa dipungkiri, apalagi dipungkanan, tengah, dan atas.

Namun, hal yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika kemiskinan itu berubah menjadi rasa malu.

Yang dimaksud malu di sini adalah karena disuruh beli buku, tetapi orang tuanya sangat tidak punya uang.

Teman-temannya membawa perlengkapan sekolah yang cukup lengkap, dia tidak bawa.

Gurunya bisa saja bertanya ke si anak itu, “Kenapa kamu tidak siap?”

Lalu, si anak tersebut tidak bisa menjawab apa-apa. Begitu juga ketika pulang sekolah ketemu ibunya, sang ibu juga bingung. Kemana lagi harus mencari uang?

Anak tersebut mungkin tidak menemukan jalan keluar lagi. Segalanya terasa tertutup dan buntu, lebih buntu daripada usus. Dia merasa hidupnya memalukan.

Dan, ketika itulah, tragedi menyedihkan ini mulai bekerja pelan-pelan, sedikit demi sedikit.

3. Ini Bukan Soal Anak Lemah

Sebagai orang dewasa, mungkin kamu dan saya, atau yang lainnya mencoba jadi orang bijak, “Anak sekarang mentalnya lemah-lemah.”

Eits, ini praduga yang bisa jadi salah. Tidak. Bukan begitu. Yang lemah itu sebenarnya bukan anaknya, melainkan kita sebagai orang dewasa.

Lho, kok kita, Mas? Iya, begini. Kita bisa merasa lemah jika:

  • Menjadikan pendidikan di Indonesia ini tetap mahal.
  • Membiarkan saja tekanan sekolah dalam kondisi tidak manusiawi, beda dengan manusiasawi, kalau itu berarti suka makan sayuran.
  • Membiarkan saja orang miskin dihina, direndahkan, dihina, dan terus direndahkan, seakan-akan orang kaya adalah yang paling mulia di dunia ini.
  • Membiarkan anak yang masih kecil menanggung beban yang seharusnya beban ini menjadi tanggungan negara, lebih khususnya adalah pemerintah yang sudah dipilih oleh rakyat.

Dan, anak yang bunuh diri ini tidak bukan lemah, sama sekali bukan. Dia hanya merasa sendirian. Dia merasa tidak ada lagi pegangan.

4. Ayah Sering Tidak Sadar Bahwa Anak Memendam Lebih Dalam

anak-sd-bunuh-diri-di-NTT-karena-tidak-bisa-beli-buku-tulis-3

Okelah, YBR ini memang sudah tidak punya lagi ayah, hanya punya ibu yang menanggung beban sangat berat.

Namun, sebagai ayah, mungkin saya dan kamu merasa bahwa anak-anak kita baik-baik saja karena:

Dia tidak pernah mengeluh.

Dia tetap berangkat sekolah seperti biasanya.

Dia tetap tertawa, senang, dan bercanda dengan teman-temannya.

Dia terlihat tenang, tidak pernah bicara maupun cerita tentang masalahnya.

Padahal, dilihat dari ilmu psikologi, tanpa harus kuliah di sana karena biasanya kebanyakan cewek, banyak anak yang tidak curhat itu bukan karena tidak punya masalah.

Tapi, karena mereka takut, khawatir, cemas, jangan sampai itu membuat ayahnya jadi tambah stres. Mungkin dia memendam keinginannya, padahal sangat perlu, “Kalau aku bilang ke ayahku, kalau aku butuh buku tulis, jangan sampai ayah jadi tambah sedih karena memang lagi nggak punya uang.”

Dan, akhirnya anak memilih untuk diam. Namun, di situlah perlu disadari, bahwa diamnya memang berbahaya.

5. Kadang Pendidikan Tidak Lagi Mendidik, Tetapi Menekan

Esensi pendidikan itu apa, sih? Kamu tahu tidak? Kok saya malah lupa, ya?

Begini, harusnya sekolah itu menjadi tempat untuk bertumbuh anak didik. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan banyak anak miskin yang sekolah di situ.

Sekolah jadi terasa tempat pengadilan. Salah seragam? Dihukum. Salah buku? Dimarahi. Tidak punya uang kas? Eh, dipermalukan guru dan teman-temannya.

Tidak semua anak kuat mentalnya. Tidak semua anak kuat jiwanya. Bagi anak yang jiwanya rapuh, itu seperti palu Thor yang menghantam hatinya berulang kali.

Dan, apakah kamu heran kenapa mereka bisa patah?

6. Kalau Ayah Punya Uang, Bantu, Kalau Tidak, Minimal Jangan Menghakimi

Ustaz Firanda pernah mengatakan bahwa yang hadir mungkin ada yang kaya, tetapi yang kaya sekali sampai triliunan memang jarang sekali.

Kebanyakan dari kita memang status ekonominya menengah, kalau bukan menengah ke samping, ya, menengah ke bawah. Malah lebih banyak yang ke bawah.

Seorang ayah mungkin pernah merasa, bukan orang kaya, pernah juga bingung bagaimana cara menambah uang belanja. Sementara kebutuhan hidup tidak bisa ditunda jika memang sangat penting.

Setelah membaca berita anak bunuh diri karena buku tulis itu, saya menjadi sadar bahwa yang dibutuhkan seorang anak itu sebenarnya tidak selalu uang banyak, apalagi sampai jutaan.

Namun, satu kalimat kecil, “Anakku, jika kamu belum punya buku tulis seperti teman-temanmu, bilang Ayah, ya! Kita sama-sama cari cara untuk membelinya.”

Anak butuh dimengerti bahwa masih ada harapan di dunia ini, meskipun bukan sebuah solusi yang sempurna.

7. Ajakan Halus Tanpa Menggurui

Jika kamu nanti ketemu anak-anakmu, coba kamu kamu lakukan ini:

  • Coba kamu cek tasnya sesekali.
  • Tanyakan kabar sekolahnya, teman-temannya, gurunya, suasananya, dengan cukup serius.
  • Kalau bisa jangan hanya tanya nilai ujian, tugas, maupun ulangan, tetapi tanyakan pula perasaannya.
  • Sebagai ayah, coba dengarkan anakmu bercerita, tanpa disela terlebih dahulu.
  • Ingat, jangan meremehkan masalah kecilnya, mungkin bagi kamu kecil, tetapi belum tentu untuk dia.

Buku tulis memang benda sederhana dan murah, tetapi bagi seorang anak sekolah, itu adalah simbol harga diri. Kadang, harga diri anak bisa lebih rapuh daripada yang kita kira, lho!

Mari Coba Renungkan Para Ayah!

anak-sd-bunuh-diri-di-NTT-karena-tidak-bisa-beli-buku-tulis-4

Dalam berita anak yang bunuh diri tersebut, bisa dirasakan bahwa bukan semata-mata karena buku tulis. Namun, dia merasa tidak ada tempatnya pulang.

Gejolak di hatinya begitu bergemuruh, lebih gemuruh daripada sound horeg yang bikin gendang telinga seakan-akan mau pensiun itu.

Saya dan kamu bisa merasa takut, jangan-jangan bisa melanda anak yang lain.

Faktor pemicunya bukan karena buku tulis, melainkan karena merasa tidak ada orang dewasa yang mempedulikannya lagi.

Bila kamu sebagai ayah sedang stres dan tertekan, coba minum kopi. Setelah perasaanmu agak tenang, coba peluk anakmu.

Paling tidak, itu lebih menenteramkannya ketika dia merasa tidak tahu mau curhat dengan siapa.

Jangan sampai kita semua terlambat, menyadari bahwa anak-anak kita sudah mulai rapuh sejak lama.

Sementara kita sendiri masih sibuk berkutat dengan hal-hal yang lebih besar, padahal kondisi hati dan jiwa anak-anak kita membutuhkan perhatian yang tidak kalah besarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *